NovelToon NovelToon
LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Misteri / Psikopat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."

Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.

Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.

Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.

Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.

Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 ANATOMI SUBLEVEL 4 DAN REUNI SANG PEMBANTAI

[08:02 AM] LIFT PRIBADI MENUJU SUBLEVEL 4

Suara jeritan dan amuk massa dari lantai atas perlahan memudar seiring dengan turunnya kabin lift baja yang diakses Saraswati. Di dalam ruang sempit yang hanya diterangi lampu darurat berwarna merah itu, keheningan terasa sangat pekat, nyaris memiliki massa yang menekan gendang telinganya. Ini bukan sekadar penurunan secara spasial menuju empat puluh meter di bawah permukaan tanah; ini adalah sebuah kejatuhan vertikal menuju dasar palung alam bawah sadarnya.

Dalam kerangka psikoanalisis Sigmund Freud, perjalanan Saraswati menuruni lorong gelap ini adalah sebuah perwujudan fisik dari katabasis—perjalanan menuju dunia bawah untuk menghadapi Id yang paling primitif dan mengerikan. Fenomena Das Unheimliche ('Yang Ganjil' atau 'Yang Menakutkan') merayap di sekujur kulitnya. Teror yang ia rasakan saat ini bukanlah ketakutan pada hal yang asing, melainkan ketakutan pada sesuatu yang sangat ia kenal, yang selama dua puluh tahun telah ia kubur hidup-hidup di dalam pikirannya, dan kini bangkit kembali menuntut pelunasan. Pria dengan luka bakar dan palu godam itu bukan lagi sekadar memori. Ia bermanifestasi menjadi daging dan darah di bawah kakinya.

Saraswati memeriksa magasin Glock 19 di tangannya. Tiga peluru tersisa. Di tangan kirinya, ia menggenggam erat tongkat kejut listrik yang memercikkan bunga api biru.

Ting.

Kabin lift berhenti. Pintu baja ganda terbuka dengan desisan hidrolik yang halus.

Saraswati melangkah keluar, memasuki lorong Sublevel 4. Aristoteles mendalilkan bahwa arsitektur adalah cerminan dari tujuan (telos) pembuatnya. Jika lantai atas fasilitas ini dirancang sebagai Panopticon—penjara di mana penguasa mengawasi kaum buangan—maka Sublevel 4 dirancang sebagai kebalikannya. Lorong ini dilapisi marmer putih tanpa cela, dengan panel dinding kayu mahoni dan pencahayaan temaram yang hangat. Tempat ini adalah bungker VIP, sebuah rahim artifisial yang diciptakan oleh kaum borjuis untuk melindungi diri mereka dari konsekuensi kejahatan mereka sendiri.

Dalam kacamata Karl Marx, ruang ini adalah monumen tertinggi dari keterasingan (alienation). Para elit metropolis—para menteri, direktur bank, dan hakim agung—telah mengumpulkan begitu banyak kekayaan dari hasil mengisap darah dan keringat rakyat pekerja, namun kekayaan itu pada akhirnya mengasingkan mereka dari dunia luar. Mereka tidak lagi bisa hidup di bawah sinar matahari karena takut pada kemarahan massa. Modal yang mereka tumpuk telah bermutasi menjadi penjara berlapis emas. Mereka mengunci diri di bawah tanah, teralienasi dari realitas kemanusiaan, menunggu hingga badai revolusi di atas reda.

Namun, lantai marmer putih di depan Saraswati tidak lagi bersih.

Jejak darah segar yang diseret memanjang dari depan pintu lift menuju sebuah pintu ganda berbahan kayu ek di ujung lorong.

Saraswati mengambil napas dalam-dalam, menekan detak jantungnya agar selaras dengan ritme langkah taktisnya. Ia bukan lagi gadis kecil berusia tujuh tahun yang menggigil di dalam lemari. Filsuf eksistensialis Simone de Beauvoir menegaskan bahwa manusia tidak memiliki esensi yang baku sejak lahir; manusia menjadi sesuatu melalui tindakan dan pilihannya. Malam dua puluh tahun lalu, pria itu mencoba mendefinisikan Saraswati sebagai korban, sebagai objek pasif (Sang Liyan) yang nasibnya ditentukan oleh ayunan palu.

Hari ini, Saraswati menolak definisi itu. Ia mengafirmasi kebebasan radikalnya. Ia adalah Subjek yang datang membawa senjatanya sendiri.

[08:10 AM] RUANG PERLINDUNGAN VIP

Saraswati menendang pintu kayu ek itu hingga terbuka lebar, melangkah masuk dengan senjata terhunus dan postur siap menembak.

Ruangan di baliknya menyerupai sebuah lounge eksklusif di hotel bintang lima. Terdapat sofa-sofa kulit impor, rak buku klasik, meja biliar, dan bar minuman keras mahal. Namun, segala kemewahan Apollonian yang terstruktur itu telah dihancurkan oleh kebrutalan Dionysian yang absolut.

Lima orang pria paruh baya dengan pakaian mahal yang acak-acakan—para elit kota yang bersembunyi di sini—terkapar di berbagai sudut ruangan. Mereka tidak ditembak. Mereka dihabisi dengan cara yang jauh lebih purba dan mekanis. Tulang-tulang mereka diremukkan. Wajah mereka nyaris tidak bisa dikenali. Genangan darah menodai karpet Persia seharga ratusan juta rupiah, membuktikan bahwa pada akhirnya, di hadapan maut, darah seorang tiran memiliki warna yang sama dengan darah kaum proletar yang mereka tindas.

Di tengah ruangan, membelakangi Saraswati, berdirilah Sang Pembantai.

Pria tua itu mengenakan seragam perawat putih yang kini telah berubah warna menjadi merah pekat. Ia sedang membersihkan noda darah dari sebuah palu godam baja bergagang pendek menggunakan saputangan sutra yang ia ambil dari saku salah satu mayat.

"Logika sebab-akibat dari Aristoteles selalu membuatku takjub, Saras," ucap pria tua itu tanpa menoleh. Suaranya serak dan berat, terdengar seperti gesekan batu gerinda. "Para tikus kaya ini membangun bungker terkuat di dunia untuk bersembunyi dari amuk massa di lantai atas. Mereka berpikir pintu baja setebal setengah meter adalah Sebab Material yang akan melindungi nyawa mereka (Sebab Final). Tapi mereka lupa, satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dalam kotak kedap udara adalah dengan membawa dokter pribadi mereka ke dalam."

Pria itu menjatuhkan saputangan sutra berlumuran darah ke lantai, lalu berbalik perlahan.

Bekas luka bakar yang mengerikan menutupi separuh wajah kirinya, menarik kelopak matanya ke bawah sehingga ia tampak selalu menyeringai. Ini adalah wajah monster yang telah menghantui mimpi-mimpi Saraswati selama lebih dari tujuh ribu malam. Kompulsi pengulangan itu kini berdiri sempurna di hadapannya.

"Dan karena mereka sangat takut mati," lanjut pria itu, menatap Saraswati dengan mata kanannya yang kelabu, "mereka memberikan akses tak terbatas kepadaku, sang perawat. Mereka mengundang kematian mereka sendiri ke dalam rahim perlindungan ini."

Tangan Saraswati tidak bergetar. Ia menatap lurus ke dalam mata sang monster.

"Siapa kau?" desis Saraswati, jari telunjuknya menegang di pelatuk. "Siapa namamu, dan apa hubunganmu dengan Kala?!"

Pria tua itu terkekeh. Ia melangkah melewati mayat seorang hakim agung, menyeret palu godamnya di atas lantai marmer, menciptakan suara decitan ngilu yang mengiris saraf.

"Namaku Abimanyu. Tapi nama hanyalah label yang diberikan masyarakat untuk menciptakan ilusi keteraturan. Sama seperti hukum dan moralitas yang kau puja," ujar Abimanyu, memposisikan dirinya di luar batas-batas etika manusia, mengadopsi kesombongan sang Übermensch Nietzschean. "Kau bertanya tentang Kala? Ah, pemuda yang malang itu. Dia memanggil dirinya Sang Pembebas, bukan? Dia pikir dia sedang menghancurkan sistem dengan retorika Marxisnya. Tapi dia tidak sadar bahwa dia hanyalah anjing pemburu yang kulepas dari rantainya."

Pernyataan itu menghantam struktur kognitif Saraswati. Jika Kala bukanlah arsitek utama dari skenario apokaliptik ini, melainkan hanya instrumen yang dimanipulasi, maka skala konspirasi ini jauh melampaui perhitungan logisnya.

"Kau membunuh keluargaku dua puluh tahun lalu," Saraswati mempertahankan fokusnya, menolak ditarik ke dalam disorientasi Hayra. "Kau menghancurkan panti asuhan itu. Dan sekarang kau membunuh para elit yang mempekerjakanmu. Apa tujuanmu sebenarnya?!"

Abimanyu menghentikan langkahnya sekitar enam meter dari Saraswati. Ia memiringkan kepalanya, menatap detektif itu layaknya seorang seniman yang mengagumi karya patungnya.

"Kau masih mencari rasionalitas di tempat di mana akal tidak berlaku, Dokter," ucap Abimanyu pelan. "Kau meminjam filosofi Ibnu Arabi, bukan? Kau paham konsep Tanzih. Para elit ini... Kusuma, Wibowo, dan babi-babi di lantai ini... mereka memposisikan diri mereka layaknya dewa yang transenden. Mereka duduk di menara gading mereka, tak tersentuh, mengatur nasib ribuan anak panti asuhan tanpa pernah mengotori tangan mereka sendiri. Mereka adalah tuhan-tuhan palsu yang mengklaim kesucian."

Abimanyu mengangkat palunya yang meneteskan darah.

"Tapi aku adalah Tashbih. Aku adalah kebrutalan yang imanen. Aku adalah tangan yang menggorok leher ibumu. Aku adalah palu yang mendobrak lemarimu. Dan aku adalah algojo yang mengakhiri para elit ini," suara Abimanyu meninggi, dipenuhi kefanatikan yang mengerikan. "Dua puluh tahun lalu, aku dibayar oleh mereka untuk 'membersihkan' keluargamu karena ayahmu, sang jurnalis investigasi yang naif itu, menemukan bukti tentang bisnis perdagangan anak di Panti Asuhan Tunas Abadi. Tapi setelah aku melakukan pekerjaan kotorku, babi-babi ini mencoba membakarku hidup-hidup di dalam mobilku agar tidak ada saksi yang tersisa!"

Abimanyu menunjuk ke arah wajahnya yang hancur.

"Mereka merampas kemanusiaanku. Karl Marx berkata bahwa kelas pekerja teralienasi dari hasil kerjanya. Tapi tahukah kau rasanya teralienasi dari dirimu sendiri? Menjadi monster yang tak memiliki wajah di mata dunia?"

Abimanyu mencengkeram dadanya, mengekspresikan dendam eksistensialis yang telah membatu. "Aku bertahan hidup di dalam gorong-gorong kota ini. Aku menyusup kembali ke dalam sistem mereka sebagai perawat medis tingkat rendah. Selama dua puluh tahun aku mengawasi kalian dari dalam bayang-bayang. Aku mengamati Kala tumbuh menjadi pemuda yang dipenuhi amarah. Aku yang secara diam-diam menanamkan buku harian ayahmu ke tangannya, memicu psikosanya, dan membiarkannya meyakini bahwa ia adalah revolusioner yang akan menghancurkan kota ini. Kala adalah peluru yang kutembakkan untuk meruntuhkan pertahanan polisi, sehingga aku bisa masuk ke ruangan ini tanpa gangguan."

Saraswati menyerap setiap kata itu. Labirin ini akhirnya memiliki titik pusat. Kausalitasnya sempurna, namun dibangun di atas dasar kejahatan yang tidak bisa dimaafkan.

"Kala hanyalah bonekamu," bisik Saraswati, merasakan empati yang aneh terhadap pemuda yang nyaris membunuhnya di ruang server itu. Kala, yang merasa dirinya sebagai subjek bebas yang melampaui moralitas, ternyata hanyalah objek manipulasi dari monster yang lebih tua.

"Dan bagaimana denganmu, Saras?" Abimanyu menyeringai. "Saat aku mendobrak pintu lemarimu malam itu, aku melihat mata seorang gadis kecil yang otaknya terlalu cerdas untuk menjadi korban. Aku sengaja membiarkanmu hidup. Aku ingin melihat apakah kau akan menjadi gila seperti Kala, atau apakah kau akan menjadi mesin logika yang dingin. Kau menjadi Superego kota ini. Tapi lihatlah dirimu sekarang. Berdiri bertelanjang kaki, berlumuran darah, memegang senjata yang kau curi. Tatanan Apollonian-mu telah hancur. Selamat datang di dunia Dionysian, anakku."

Abimanyu merogoh saku kemeja perawatnya dan mengeluarkan sebuah gembok berkarat—gembok asli dari lemari pakaian Saraswati—beserta sebuah kunci kuno berbahan kuningan. Ia melemparkan kedua benda itu ke lantai marmer di antara mereka. Benda itu berdenting dengan suara yang memicu gelombang kejut di amigdala Saraswati.

"Di dalam saku jas hakim yang tergeletak di dekat kakimu itu, ada dokumen fisik yang merinci seluruh identitas anak-anak yang diperdagangkan dari panti asuhan kita, termasuk anak-anak yang saat ini masih disekap di pelabuhan rahasia mereka," ujar Abimanyu. "Ambil dokumen itu. Tapi untuk melewatinya, kau harus mengalahkanku."

Abimanyu mengangkat palu godamnya dengan kedua tangan, mengubah kuda-kudanya menjadi posisi menyerang yang brutal. Otot-otot tuanya menegang, siap melepaskan kekuatan destruktif yang lahir dari dua dekade kebencian murni.

"Selesaikan kompulsi pengulanganmu, Saras. Tembak aku. Buktikan bahwa kau adalah monster sepertiku!" teriaknya.

[08:20 AM] DIALEKTIKA KEKERASAN

Di dalam sepersekian detik itu, Saraswati dihadapkan pada pilihan eksistensial tertinggi.

Jika ia menuruti amarah Id-nya dan menembak pria ini di kepala, ia akan mengonfirmasi teori Abimanyu. Ia akan membiarkan sang monster mendefinisikan esensinya. Ia akan jatuh ke dalam lubang yang sama dengan Kala, menjadi objek dari siklus kekerasan tanpa akhir.

Namun, mengutip Simone de Beauvoir, seorang perempuan harus secara sadar menolak objektivikasi dan bertindak berdasarkan otonomi rasionalnya sendiri. Ia bukan hewan yang dikendalikan oleh insting traumatis. Ia adalah Dr. Saraswati, sang penakluk Hayra.

Saraswati tidak membidik kepala atau dada Abimanyu. Ia membidik marmer di bawah kaki pria itu.

DOR! DOR!

Dua tembakan kilat memecahkan lantai marmer berkilap itu, mengirimkan serpihan batu tajam ke arah wajah dan kaki Abimanyu.

Pria tua itu menggeram, secara refleks menyilangkan lengannya untuk melindungi matanya.

Keterkejutan sesaat itu adalah semua yang dibutuhkan Saraswati. Mengabaikan rasa sakit di bahu dan paru-parunya, ia menerjang maju dengan kecepatan metronomik. Ia tidak menggunakan pistolnya lagi. Di dunia Barzakh di mana logam dan daging bertemu, ia memilih perlawanan jarak dekat.

Saat Abimanyu menurunkan lengannya dan mengayunkan palu godam itu dalam lintasan horizontal yang bisa menghancurkan tulang rusuk, Saraswati meluncur ke bawah, membiarkan angin dari ayunan palu itu menyapu rambutnya.

Dari posisi berjongkok, tangan kirinya menusukkan tongkat kejut listrik dengan kekuatan penuh tepat ke pangkal paha Abimanyu.

BZZZT!

Arus listrik puluhan ribu volt merobek sistem saraf pusat sang pembantai. Abimanyu menjerit parau, otot-ototnya mengejang kaku, dan palu godam itu terlepas dari genggamannya, berdebum keras di atas karpet Persia.

Namun, dua puluh tahun bertahan di selokan membuat Abimanyu memiliki toleransi rasa sakit yang abnormal. Di tengah kejangnya, pria tua itu mengayunkan tinju kanannya, menghantam rahang Saraswati dengan telak.

Saraswati terpelanting ke belakang, rasa manis darah langsung memenuhi mulutnya. Ia berguling di atas genangan darah, berusaha mempertahankan kesadarannya. Saat ia mendongak, Abimanyu telah melangkah maju, kakinya yang pincang mengangkat palu godam itu kembali, bersiap menghancurkan tengkorak Saraswati.

"Kau terlalu lemah, Saras! Kau masih terikat pada moralitas budakmu!" raung Abimanyu, ayunan mematikan itu meluncur turun.

Di saat krisis ini, Saraswati menolak panik. Ia memeluk kekacauan itu dan mengubahnya menjadi tatanan baru. Ia meraba lantai di sisinya, tangannya menemukan kunci kuno kuningan yang tadi dilemparkan Abimanyu.

Dengan gerakan memutar yang ditenagai oleh insting Eros (dorongan untuk hidup), Saraswati berguling ke samping menghindari ayunan palu yang menghancurkan ubin marmer tepat di tempat kepalanya berada sedetik lalu. Ia bangkit bertumpu pada satu lutut, dan mengayunkan kepalan tangannya yang memegang kunci kuningan itu lurus ke depan.

Ujung kunci kuningan yang bergerigi dan tajam itu menancap dalam tepat di bola mata kanan Abimanyu yang kelabu.

Jeritan yang keluar dari mulut pria itu kali ini bukanlah jeritan kemarahan, melainkan lengkingan rasa sakit yang absolut. Alam bawah sadar sang monster akhirnya runtuh. Abimanyu menjatuhkan palunya, mundur sempoyongan sambil memegangi wajahnya yang kini mengucurkan darah segar.

Saraswati berdiri perlahan. Ia mengambil pistolnya dari lantai, melangkah mendekati pria yang sedang berlutut dan meraung kesakitan itu.

Sang detektif menempelkan laras Glock 19 yang kini panas ke pelipis Abimanyu.

"Kau salah tentang satu hal, Abimanyu," ucap Saraswati, napasnya memburu namun suaranya memancarkan keagungan yang mematikan. "Membiarkanmu hidup dua puluh tahun lalu bukanlah takdir yang kau ciptakan untukku. Itu adalah kesalahan fatalmu."

Saraswati tidak menarik pelatuknya. Ia menarik gagang pistol itu dan menghantamkannya dengan brutal ke pelipis kiri Abimanyu.

Brak!

Pria tua itu ambruk ke lantai, kehilangan kesadarannya sepenuhnya, namun jantungnya masih berdetak.

Saraswati berdiri di tengah ruangan VIP yang kini benar-benar senyap. Ia menatap gembok berkarat di lantai, dan kunci yang kini tertancap di mata sang pembantai. Teori kompulsi pengulangannya telah patah. Ia telah kembali ke dalam lemari, menghadapi monsternya, dan alih-alih menjadi korban, ia keluar sebagai penakluk.

Ia mempraktikkan ajaran Beauvoir dengan purna: ia tidak membunuh Abimanyu, karena membunuh berarti ia dikendalikan oleh dendam (objek). Menghukum pria ini dengan menyerahkannya kepada keadilan rakyat—kepada para pasien yang sedang mengamuk di atas—atau kepada penyiksaan penjara seumur hidup, adalah pilihan rasional dari seorang Subjek yang berdaulat.

Saraswati berjalan mendekati mayat sang hakim agung. Ia merogoh saku jas pria itu dan menarik keluar sebuah diska lepas (flash drive) berwarna perak yang berlumuran noda merah. Ini adalah dokumen transaksi anak-anak panti asuhan, bukti absolut dari dosa institusional para elit metropolis, Sebab Material yang akan meruntuhkan seluruh struktur kekuasaan Inspektur Bramantyo dan negara korup ini dari akarnya.

Ia mengantongi diska lepas itu.

Tiba-tiba, suara derap langkah berat dan teriakan dari arah lorong Sublevel 4 memecah kesunyian.

"Tim Alpha, amankan sektor VIP! Tembak mati siapa saja yang bukan dari pihak kita!" Suara bariton Inspektur Bramantyo menggema menembus pintu kayu yang terbuka. Pasukan unit taktis kepolisian telah berhasil memadamkan kerusuhan di lantai atas dan kini turun untuk membersihkan sisa-sisa konspirasi.

Saraswati menyadari bahwa pertarungan ideologisnya dengan Kala dan Abimanyu telah selesai, tetapi perang politiknya dengan negara baru saja mencapai puncaknya.

Ia tidak bisa keluar melalui pintu utama. Menggunakan mata elangnya, ia memindai arsitektur ruangan tersebut. Di balik meja bar berbahan kayu jati, terdapat sebuah panel ventilasi raksasa yang terhubung langsung dengan sistem sirkulasi udara tebing benteng pulau ini.

Saraswati merobek sedikit kain dari kemeja salah satu mayat untuk membalut luka di lengannya. Ia memanjat ke atas meja bar, menendang jeruji ventilasi itu hingga jebol, dan merangkak masuk ke dalam kegelapan lorong logam yang sempit.

Saat pasukan taktis bersenjata lengkap yang dipimpin oleh Inspektur Bramantyo menyerbu masuk ke dalam ruang VIP, mereka hanya menemukan mayat-mayat para elit kota, sang perawat tua yang mengerang kesakitan dengan mata tertusuk kunci, dan sebuah ruangan yang kosong dari keberadaan Sang Pembebas.

Di dalam saluran ventilasi yang dingin dan berdebu, bergerak merayap menuju kebebasan di tebing luar pulau, dr. Saraswati tersenyum dalam gelap.

Kala telah memulai revolusi dengan mencoba membakar dunia luar. Namun Saraswati akan mengakhirinya dengan cara yang jauh lebih sunyi dan mematikan. Ia akan menyebarkan kebenaran dari dalam bayang-bayang. Labirin ego telah berhasil ia dekonstruksi. Sang detektif perempuan itu tidak lagi mencari keadilan; kini, ia adalah keadilan itu sendiri.

Batas antara sang pemburu dan yang diburu kini telah sepenuhnya musnah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!