Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
"Tumben nih villa sepi banget, mana gelap lagi, si Sazi apa lupa terbangun lampu." ucapnya pelan sambil matanya melihat ke sekeliling area luar villa saat baru saja sampai."
"Sazi pasti sudah tidur, langsung ke kamar mnya saja deh, namun ia sempat melihat mangkok bekas mie yang lupa Sazi cuci semenjak ia ikut pulang bersama ayahnya."
Saat hendak menuju lantai dua, ia membelokkan arah kakinya menuju dapur, Fadli begitu merasa bersalah karena saat ia cek ke setiap lemari maupun kulkas tidak ada stok makanan maupun masakan sama sekali.
Dan Fadli juga baru ingat jika Sazi tidak memiliki nomer rekening. "Astaga lupa aku, yaa Allah kenapa aku ceroboh banget sih sebagai suami,..biarin bini gue sendiri kelaperan, enggak salah kalo si ayah marah sampai segitunya." ucap Fadli yang langsung lemas melihat mangkok yang berisikan kuah yang tinggal sedikit yang sudah dingin itu.
Ia pun langsung berlari menuju kamarnya, namun tak ada batang hidungnya, membuka lemari dan mencari koper Sazi tidak ia temukan.
Hingga ia berlari ke berbagai ruangan di villa itu, hati Fadli semakin berkecamuk saat itu. Di sisi lain merasa bersalah namun sisi lain ia malah semakin khawatir pada istrinya.
"Zi, kamu kemana sih Zi, kenapa kalau marah enggak omelin aku aja sih Zi, sekarang malah pergi gitu aja, Saziii elo dimana Saziii jangan bikin Abang khawatir sama kamu!."
Ia mencari ke area kolam renang pun tak juga ia temukan, tak lama terlintas untuk menghubunginya namun ponsel Sazi saat itu dalam kondisi lowbat kelupaan di charge.
"Enggak aktif lagi nomernya."
"Ayah,.yah pasti bisa jadi Sazi sama ayah?."
Fadli langsung menghubungi ayahnya saat itu.
Tut,..tuuuutt,..
Tersambung tapi belum dijawab, hingga ke tiga kali barulah ia mendapatkan jawaban dari ujung sana.
"Hallo assalamualaikum Yah, ayah sama Sazi enggak?, Apa Sazi ikut Ayah?."
"Ya, Sazi sama ayah, kamu tidak usah temui istrimu lagi lebih baik istrimu ayah nikahkan saja dengan kakak sepupumu dia jauh lebih baik dibanding kamu Fadli anak ayah sendiri tapi kelakuan memalukan."
"Yah, Sazi istri saya, ayah enggak berhak ikut campur sama rumah tangga kami yah, fadli sudah dewasa, Fadli tau mana yang baik dan tidak, dan Fadli benggak suka ayah terlalu segitunya sama Sazi, kenapa ayah lebih belain Sazi dibanding anak ayah sendiri!."
"Fadli jaga mulutmu, ayah tidak mau berdebat sama kamu, jika kamu masih anggap Sazi istrimu, cepat pulang kebandung sekarang!." ucapan sang ayah membuat Fadli mengeratkan tangannya pada ponsel yang ia pegang dan satu tangannya ia tinju ke arah dinding saking kesalnya.
Sudah keputusan telak ayahnya yang super kelewat tegas, pada akhirnya Fadli langsung pergi hari itu juga menyusul istrinya.
Nadia, menghubungi berkali kali pun sengaja ia abaikan demi memperbaiki kesalahannya pada Sazi saat itu.
Disepanjang perjalanan, Fadli menghubungi Sazi kembali. Dan kali ini langsung dijawab oleh Sazi.
"Hallo Assalamualaikum bang."
"Wassalamu'alaikum, Zi, kamu sekarang dimana?, Kamu kok enggak bilang ke Abang kalo mau pergi duluan, ayah bawa kamu ke rumah kita atau kerumah ayah?." tanya Fadli sedikit protes.
"Oh tadi ayah Abang sempat datang ke Villa bang, Sazi aja kaget tau bang, terus ya gitu deh ajak Sazi pulang bareng." ucap Sazi yang masih memakai nada biasa saja seperti tidak terjadi apa apa. Hanya saja ada sedikit perbedaan kali ini ia nampak menjawab seperlunya tidak mengomel tidak protes.
Membuat Fadli sempat terdiam sejenak, ada rasa sesak didadanya merasa tak enak hati dan rasa bersalah pada Sazi saat itu.
"Yasudah, abang lagi dijalan otw kesana, mau dibawain apa sama Abang, maaf ya Abang lupa kasih kamu uang Abang salah, kamu pasti marah sama Abang, iya kan?."
"Enggak kok bang, Sazi faham Abang pasti sibuk, woles santai aja bang." ucapan Sazi yang begitu tenang semakin membuatnya merasa tak enak hati saat itu, sedangkan dibalik itu Sazi menggerutu didalam kamar sambil ponselnya ia jauhkan sedikit, dan ia nonaktifkan suara agar Fadli tidak mendengar apa yang ia gerutukan.
"Sazi maafin Abang Abang salah, preett berapa kali elo minta maaf bang, kita liat aja nanti dasar laki sama Bae, haish, preett dutlah, ikhhh kesel banget sama nih orang, untung si om bapak mertua gue Bae, kenyang kan gue sekarang haish." begitulah celotehan Sazi dibalik telpon.
Padahal saat itu Fadli sedang nyerocos menunggu jawabannya. "Zi, Sazii helooo kamu denger Abang enggak sih, sayaaang?."
"Hilih sayang sayang pale lu peyang, untungnya gue belum naksir berat sama elu bang, jadi bodo amat sekarang elo mau gimana juga kelakuan, gue mah enjoy aja, ilang satu opa jungkuk berdatangan ke Sazi kalo sazi mau, CK!, kok jadi ngayal mode on sih haha."
"Iya bang, Sazi denger, udah dulu ya bang Sazi ngantuk."
"Yasudah tunggu Abang ya bentar juga sampai, kamu tidur duluan saja, tapinkamu sudah makan belum zi?."
"Sudah bang tadi dibeliin banyak banget makanan sama ayah." ucap Sazi dengan nada mode kalem padahal hati mah dongkol.
"Yasudah kalau gitu dah Zi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
panggilan pun berakhir, Sazi membuka jendela kamarnya sekedar menghirup udara malam, melihat lampu lampu yang berkelip diantara banyaknya rumah rumah bertingkat kawasan ligar.
udara di bandung sama saja seperti dipuncak saat itu, dinginnya luar biasa. Sazi yang tidak kuat udara dingin sesekali memukul betisnya. Dan tak lupa kaos kaki ia pakai meski berada didalam kamar.
"Gila dingin banget sih disini, mager mandi kalo gini mah." ucap Sazi sambil memeluk dirinya sendiri.
"Keren banget rumah rumah disini, pengen banget ajak si mama yang lain liburan kesini, enggak kalah bagus dari puncak pemandangannya.
"Disana lagi pada ngapain ya, telpon si Seza ah gabut banget gue."
Sazi pun kembali menekan tombol di kontak ponselnya.
"SEZA." Itulah nama yang ia klik saat itu.
Tuuuut,
"Hallooo SEZAAA ILU IMU INU WAHAI KAKANDAKU MY BIG SISTER OH KEMBARANKU, BAGAIMANA KABARMU, TIDAKKAH ENGKAU MERINDUKAN ADIKMU YANG SEDANG BERADA DI NEGRI RANTAU INI WAHAI KAKAKKU YANG TERSAYANG."
"Preeeet, Anjay, lebay amat si lu Zi, ada apa tumben lu telpon gue, mau kasih kabar apakah gerangan, udah ada calon ponakan gue enggak?." jawab Seza sambil tertawa senang saat adiknya menelpon.
Begitulah keduanya kalau sudah dekat, pasti hobahnya kelewat.
"Hilih, malah nanyain itu, bukannya jawab, ini adikmu kangen ini, kalian enggak kangen apa sama sazi?." protes Sazi.
"Iya iya, gue kangen kok."
namun ada yang sedikit beda pada diri Sazi yang membuat Seza tanda tanya.
*Zi, are you okey?."