Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: FONDASI TERSEMBUNYI
Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar reot Namgung Jin, menciptakan garis-garis emas di lantai kayu. Udara segar membawa aroma dedaunan basah—semalam hujan turun sebentar, membersihkan debu-debu yang menempel.
Namgung Jin duduk bersila di atas tikar usangnya, kedua tangan bertumpu di lutut, mata terpejam. Napasnya teratur—tarik, tahan, hembus—dalam ritme yang sama selama ribuan tahun. Di dalam tubuhnya, energi mengalir perlahan, membersihkan meridian keenam yang hampir terbuka sempurna.
"Lima tahun naegong..." gumamnya dalam hati. "Masih terlalu kecil. Tapi cukup."
Cukup untuk apa? Cukup untuk menggunakan jurus-jurus dasar Kitab Sembilan Jurang. Cukup untuk bertahan hidup jika diserang mendadak. Cukup untuk... memulai.
Pintu kamar diketuk pelan. Tiga ketukan pendek, satu panjang—kode Tetua Pyo.
"Masuk."
Tetua Pyo melangkah masuk dengan wajah serius. Pria tua itu membawa gulungan kertas di tangannya—laporan, seperti biasa.
"Ada kabar baru, Jin-ah."
"Duduk."
Tetua Pyo duduk di kursi kayu reot—satu-satunya kursi di kamar itu. Usianya membuat lututnya tidak cocok untuk duduk bersila di lantai.
"Delapan Sekte mengadakan pertemuan besar di Shaolin tiga hari lalu. Hasilnya: mereka akan membentuk aliansi penyelidik khusus—tim gabungan dari semua sekte besar untuk memburu jejak Magyo."
"Sudah kuduga."
"Tapi ada yang tidak kuduga." Tetua Pyo menatapnya tajam. "Mereka juga membahas tentang 'utusan iblis'. Dan mereka percaya bahwa utusan itu ada di wilayah kita."
Namgung Jin tidak bergeming. "Lanjutkan."
"Mereka mengirim tim ke sini. Tim yang lebih besar—bukan hanya dua orang seperti kemarin. Mereka akan tiba dalam seminggu."
"Tim sebesar apa?"
"Lima orang. Masing-masing dari sekte berbeda. Termasuk satu dari Shaolin, satu dari Wudang, satu dari Sekte Bunga Mekar, dan..." Tetua Pyo berhenti. "...dua dari Sekte Pedang Langit."
Sekte Pedang Langit. Sekte tempat Seok Cheon-myung berasal—pemuda yang ia kalahkan dalam duel. Mereka pasti datang dengan dendam.
"Kepala klan tahu?"
"Sudah. Ia memanggil semua tetua untuk rapat malam ini. Dan ia minta kau hadir."
Namgung Jin mengangguk. "Aku akan datang."
Tetua Pyo menatapnya ragu. "Jin-ah... apa yang sebenarnya terjadi? Serangan-serangan Magyo ini... aku tahu kau terlibat. Tapi bagaimana?"
"Kau tidak ingin tahu, Tetua."
"Mungkin. Tapi aku perlu tahu agar bisa melindungimu."
Namgung Jin menatap pria tua itu lama. Tetua Pyo—satu-satunya orang di klan ini yang benar-benar peduli tanpa pamrih. Mungkin sudah saatnya memberi sedikit kepercayaan.
"Aku punya koneksi dengan Magyo."
Tetua Pyo terkejut, tapi tidak terlalu—seperti sudah menduga.
"Koneksi bagaimana?"
"Mereka menganggapku... berguna."
"Berguna?"
"Aku memberi mereka saran. Dan mereka... membantu kita."
Tetua Pyo menghela napas panjang. *"Jadi serangan terhadap musuh-musuh kita—"
"Adalah strategiku."
Pria tua itu terdiam lama. Lalu ia tertawa—tawa getir, campuran kagum dan takut.
"Kau benar-benar iblis, Namgung Jin. Tapi..." Ia menatapnya serius. *"...permainan ini berbahaya. Jika Delapan Sekte tahu—"
"Mereka tidak akan tahu."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Karena aku yang mengendalikan semua informasi." Namgung Jin tersenyum tipis. "Magyo berpikir aku pion mereka. Delapan Sekte berpikir aku bocah ajaib. Klan ini berpikir aku pelindung. Dan kenyataannya... aku adalah semua itu sekaligus."
Tetua Pyo menggeleng. "Aku tidak tahu harus kagum atau takut."
"Keduanya boleh."
---
Malam harinya, rapat tetua berlangsung di paviliun utama.
Semua tetua hadir—Tetua Kang dengan alis putihnya yang tebal, Tetua Pyo yang pendiam, dan tiga tetua lain yang jarang bicara. Namgung Cheon duduk di kursi kepala, wajahnya tegang. Di sampingnya, Nyonya Kim duduk dengan ekspresi rumit—masih canggung setelah insiden dengan Magyo.
Namgung Jin duduk di kursi paling ujung—posisi yang menunjukkan statusnya yang masih rendah, tapi setidaknya ia diundang.
"Kalian sudah tahu situasinya." Namgung Cheon memulai. "Delapan Sekte mengirim tim penyelidik ke sini. Mereka akan tiba lima hari lagi. Kita harus siap menyambut mereka... dan menjawab pertanyaan mereka."
Tetua Kang langsung angkat bicara. "Kita tidak punya apa-apa untuk disembunyikan! Biarkan mereka datang! Kita akan tunjukkan bahwa Klan Namgung tidak bersalah!"
"Masalahnya," potong Tetua Pyo halus, "...kita mungkin punya sesuatu yang bisa mencurigakan."
"Apa itu?"
"Bocah ini." Tetua Pyo menunjuk Namgung Jin. "Dia terlalu menonjol. Mengalahkan pendekar Sekte Pedang Langit. Muncul tiba-tiba setelah percobaan pembunuhan. Jika mereka menyelidiki, mereka akan curiga."
Tetua Kang mengerutkan kening. "Kau bilang bocah ini masalah?"
"Aku bilang dia bisa jadi sasaran."
Namgung Cheon mengangguk. "Tetua Pyo benar. Mereka akan fokus pada Jin-ah. Dan jika mereka menggali terlalu dalam..."
"Biarkan mereka menggali."
Semua mata tertuju pada Namgung Jin. Ia berbicara dengan tenang, seolah membahas cuaca.
"Apa yang kau katakan?"
"Biarkan mereka menyelidikiku. Semakin dalam mereka menyelidiki, semakin banyak yang mereka temukan. Dan yang mereka temukan..." Ia tersenyum. "...adalah bocah biasa yang beruntung. Tidak ada hubungan dengan Magyo. Tidak ada konspirasi. Hanya kebetulan."
"Kau yakin?" Namgung Cheon menatapnya ragu.
"Aku yakin."
Keheningan. Para tetua saling pandang.
Tetua Kang—yang biasanya paling cepat marah—justru mengangguk. "Anehnya, aku percaya padanya. Bocah ini mungkin menyebalkan, tapi dia pintar."
Kompromi dari musuh lama. Namgung Jin tersenyum dalam hati.
"Baiklah." Namgung Cheon menghela napas. *"Kita akan ikuti rencanamu, Jin-ah. Tapi hati-hati. Jika mereka menemukan sesuatu—"
"Mereka tidak akan menemukan."
---
Rapat usai. Para tetua keluar satu per satu. Namgung Jin berjalan terakhir, tapi Namgung Cheon memanggilnya.
"Tunggu."
Ia berhenti.
"Ada sesuatu yang harus kau tahu." Namgung Cheon menutup pintu, memastikan mereka berdua saja. "Tim penyelidik ini... dipimpin oleh seseorang yang kau kenal."
"Siapa?"
"Pendekar Seok Cheon-myung."
Namgung Jin mengerutkan kening. Pemuda arogan yang ia kalahkan? Itu bisa jadi masalah. Orang yang kalah biasanya menyimpan dendam.
"Dia yang memimpin?"
"Bukan secara resmi. Tapi dia anggota tim, dan dia punya pengaruh. Ayahnya adalah tetua senior di Sekte Pedang Langit."
"Jadi dia datang balas dendam."
"Mungkin. Tapi tidak hanya dia. Ada satu lagi yang mungkin lebih berbahaya." Namgung Cheon menatap putranya serius. "Biksu Myeongjin—yang kemarin datang—juga ikut. Dan dia membawa seseorang."
"Siapa?"
"Seorang biksu tua dari Shaolin. Konon, dia ahli dalam... membaca jiwa."
Namgung Jin terdiam. Membaca jiwa? Itu teknik langka—mungkin hanya dimiliki satu atau dua orang di seluruh Murim. Teknik yang bisa mendeteksi keanehan dalam diri seseorang.
Jika teknik itu benar-benar ada, dan digunakan padanya...
Simma di dadanya berdenyut. Itu bisa jadi ancaman serius.
"Kapan mereka tiba?"
"Lima hari lagi. Tapi mungkin lebih cepat."
Namgung Jin mengangguk. "Aku akan siap."
---
Malam itu, ia tidak bisa tidur.
Ia duduk di atap paviliun, menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip. Pikirannya sibuk menyusun strategi.
Biksu pembaca jiwa. Itu masalah. Jika ia membaca jiwanya, ia akan menemukan dua jiwa dalam satu tubuh—jiwa Cheon Ma-ryong dan Simma Namgung Jin. Itu akan menimbulkan pertanyaan. Dan pertanyaan akan mengarah pada penyelidikan lebih dalam.
"Harus ada cara untuk mengelabui."
Tapi bagaimana cara mengelabui pembaca jiwa? Ia tidak tahu teknik itu. Ia hanya tahu dari cerita.
"Mungkin aku bisa..."
Pikirannya terputus. Dari bayangan, sesosok muncul—Pemburu Kwon.
"Tuan Muda, maaf mengganggu."
"Ada apa?"
"Utusan dari Magyo datang. Roh Perang minta bertemu. Urgent."
Namgung Jin menghela napas. Tidak pernah ada waktu tenang.
"Di mana?"
"Gudang belakang."
---
Di gudang belakang, Roh Perang menunggu dengan wajah tegang. Pria itu jelas gelisah—jarang terjadi pada seorang pembunuh dingin seperti dia.
"Akhirnya kau datang."
"Apa yang terjadi?"
"Masalah." Roh Perang berjalan mondar-mandir. "Delapan Sekte mengirim tim penyelidik. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya... mereka membawa seseorang."
"Biksu pembaca jiwa?"
Roh Perang terkejut. "Kau tahu?"
"Kepala klan memberitahuku."
"Bagus. Jadi kau tahu bahayanya." Roh Perang berhenti, menatapnya. *"Jika biksu itu membaca jiwamu, dia akan tahu hubunganmu dengan Magyo. Dan jika dia tahu—"
"Dia tidak akan tahu."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Karena aku punya rencana."
Roh Perang mengerutkan kening. "Rencana apa?"
Namgung Jin tersenyum. "Kau tahu, dalam Kitab Sembilan Jurang, ada teknik untuk menyembunyikan jiwa. Teknik itu disebut Eunshim—Hati Tersembunyi."
"Aku tidak pernah dengar."
"Tentu tidak. Itu teknik rahasia tingkat tertinggi. Hanya Iblis Murim sendiri yang tahu."
Roh Perang menatapnya tidak percaya. "Kau tahu teknik itu?"
"Aku tahu."
*"Tapi—"
"Tidak perlu tanya bagaimana. Yang perlu kau tahu, aku bisa menggunakannya. Dan saat biksu itu mencoba membaca jiwaku, yang akan ia lihat hanyalah bocah biasa dengan trauma masa kecil."
Roh Perang terdiam lama. Lalu ia menggeleng.
"Kau benar-benar monster, Namgung Jin."
"Terima kasih."
"Tapi ada satu lagi." Roh Perang menghela napas. "Cheon Wu-gun minta kau datang ke Geumseong. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Sesuatu tentang... masa lalu."
Masa lalu. Kata itu membuat Namgung Jin waspada.
"Kapan?"
"Dua hari lagi. Kau bisa?"
"Aku bisa mengatur."
---
Dua hari kemudian, Namgung Jin kembali ke Geumseong—markas Magyo.
Kali ini, ia tidak ditemani Heuksim. Ia datang sendiri, dengan peta yang diberikan Roh Perang. Perjalanan lebih cepat—ia sudah hafal jalan.
Di gerbang, para penjaga membiarkannya lewat tanpa bertanya. Namanya sudah dikenal.
Cheon Wu-gun menunggunya di ruangan yang sama—ruangan dengan kursi tinggi dan lilin-lilin hitam. Tapi kali ini, ia sendirian. Tidak ada Roh Perang atau Roh Rahasia.
"Duduk."
Namgung Jin duduk di kursi tamu.
Cheon Wu-gun membuka topengnya—untuk pertama kalinya. Wajahnya... biasa saja. Tidak menakutkan. Pria paruh baya dengan rambut sedikit beruban dan mata lelah. Mata seseorang yang memikul beban terlalu berat.
"Kau tahu, selama bertahun-tahun aku memimpin Magyo, aku selalu bertanya-tanya: apakah yang kulakukan ini benar? Apakah aku meneruskan warisan yang tepat?"
Namgung Jin diam.
"Ayahku—Cheon Mu-gi—adalah pengkhianat. Ia membunuh gurunya sendiri. Tapi ia juga pendiri Magyo versi baru. Jadi mana yang benar? Mengikuti jejaknya, atau mengutuknya?"
"Kenapa kau bertanya padaku?"
"Karena kau berbeda." Cheon Wu-gun menatapnya. "Kau tahu hal-hal yang seharusnya tidak kau tahu. Kau berbicara seperti seseorang yang hidup ribuan tahun. Dan kau..." Ia ragu. "...kau mengingatkanku pada lukisan kuno Iblis Murim."
Jantung Namgung Jin berdetak kencang. Tapi wajahnya tetap datar.
"Mungkin karena mimpi-mimpiku."
"Mungkin." Cheon Wu-gun tersenyum tipis. "Atau mungkin kau lebih dari sekadar penerima mimpi."
Keheningan.
Cheon Wu-gun berdiri, berjalan ke dinding. Ia menekan sesuatu, dan sebuah panel rahasia terbuka. Di dalam, sebuah kotak kayu hitam.
Ia membawa kotak itu ke meja, membukanya.
Di dalam, sebuah gulungan kuno—sangat tua, hampir hancur.
"Ini adalah peninggalan terakhir dari Iblis Murim. Tulisan tangannya sendiri."
Namgung Jin menatap gulungan itu. Ia mengenalnya. Itu adalah catatan kecil yang ia tulis tiga ribu tahun lalu—tentang teknik Hwasin, yang ia sempurnakan sebelum mati.
"Aku tidak bisa membaca ini. Bahasanya terlalu kuno." Cheon Wu-gun menatapnya. "Tapi aku dengar kau bisa membaca bahasa kuno. Mungkin kau bisa membantuku."
Ujian lagi. Tapi kali ini berbeda.
Namgung Jin mengambil gulungan itu, membukanya perlahan. Tulisannya samar, tapi matanya yang terlatih bisa membaca.
"Ini tentang Hwasin. Teknik pemisahan jiwa."
Cheon Wu-gun tersentak. "Kau bisa membacanya?"
"Ya."
"Apa isinya?"
Namgung Jin diam sejenak. Ia bisa berbohong, memberikan terjemahan palsu. Tapi itu berisiko. Jika suatu hari Cheon Wu-gun menemukan terjemahan lain, kebohongannya akan terbongkar.
Lebih baik setengah jujur.
"Isinya tentang cara memisahkan jiwa dari raga. Tapi tidak lengkap. Hanya setengah."
"Setengah?"
"Separuh lainnya hilang. Mungkin ada di tempat lain."
Cheon Wu-gun menghela napas. "Sudah kuduga."
Ia mengambil gulungan itu kembali, menyimpannya.
"Terima kasih, Namgung Jin. Kau benar-benar berharga."
"Aku senang bisa membantu."
"Tapi ada satu lagi." Cheon Wu-gun menatapnya tajam. "Tim penyelidik Delapan Sekte... aku dengar mereka punya pembaca jiwa."
"Benar."
"Kau bisa mengatasinya?"
"Sudah kurencanakan."
Cheon Wu-gun mengangguk puas. "Bagus. Karena jika kau gagal, kita semua dalam bahaya."
Ia berjalan ke kursinya, duduk.
"Kau boleh pergi. Tapi ingat, Namgung Jin. Aku mengawasimu. Jika kau berkhianat..."
"Aku tahu konsekuensinya."
Namgung Jin berdiri, berbalik pergi.
Tapi sebelum keluar, Cheon Wu-gun berkata lagi.
"Oh ya. Ada satu hal lagi. Tim penyelidik itu... mereka membawa sesuatu. Sesuatu yang mungkin kau kenal."
"Apa?"
"Pedang Iblis.Mawanggeom. Pedang yang dulu digunakan Cheon Ma-ryong. Sekarang disimpan di Shaolin, dan mereka membawanya sebagai... jimat."
Namgung Jin berhenti.
Mawanggeom. Pedangnya. Pedang yang ia tempa dengan darah dan air mata, yang ia gunakan untuk menaklukkan separuh Murim. Pedang itu masih ada.
Simma di dadanya berdenyut—bukan hangat, tapi panas. Seperti api.
"Kenapa mereka membawanya?"
"Konon, pedang itu bisa merespons keberadaan Iblis Murim. Jika ia mendekat, pedang itu akan bersinar."
Bahaya. Jika pedang itu merespons padanya...
"Terima kasih infonya."
Ia pergi, meninggalkan Cheon Wu-gun sendirian.
---
Di perjalanan pulang, Namgung Jin merenung.
Mawanggeom. Pedangnya sendiri. Sekarang menjadi alat untuk mencarinya.
Ini ironi yang pahit.
"Jika pedang itu merespons, semua akan terbongkar."
Tapi bagaimana cara mencegahnya? Ia tidak bisa menghancurkan pedang itu—terlalu kuat, terlalu dijaga. Ia juga tidak bisa menghindar—tim penyelidik akan datang, dan ia harus bertemu mereka.
"Atau mungkin..."
Mungkin ia bisa menggunakan pedang itu. Mengendalikannya dari jarak jauh. Bagaimanapun, ia adalah pemilik sahnya.
Tapi untuk itu, ia harus dekat. Sangat dekat.
"Ini berisiko. Tapi tidak ada pilihan lain."
Ia mempercepat langkah.
---
Kembali di Klan Namgung, ia langsung menemui Tetua Pyo.
"Aku butuh informasi tentang pedang Mawanggeom."
Tetua Pyo terkejut. "Pedang Iblis? Itu peninggalan berbahaya. Kenapa kau tanya?"
"Tim penyelidik membawanya."
Wajah Tetua Pyo berubah. "Apa? Itu... itu gila! Pedang itu bisa membawa malapetaka!"
"Atau bisa jadi alat." Namgung Jin tersenyum. "Tergantung siapa yang menggunakan."
"Kau punya rencana gila lagi?"
"Mungkin."
Tetua Pyo menghela napas panjang. "Aku tidak tahu harus bilang apa. Tapi... hati-hati, Jin-ah. Pedang itu bukan mainan."
"Aku tahu. Aku lebih tahu dari siapa pun."
---
Dua hari tersisa.
Namgung Jin duduk di kamarnya, mempersiapkan teknik Eunshim—Hati Tersembunyi. Ini adalah teknik yang ia ciptakan ribuan tahun lalu, untuk bersembunyi dari musuh yang bisa membaca pikiran. Belum pernah ia gunakan, tapi teorinya masih hafal.
Ia memejamkan mata, merasakan aliran gi di tubuhnya. Perlahan, ia mulai memisahkan lapisan-lapisan jiwanya—menciptakan topeng palsu di permukaan, sementara jiwa asli bersembunyi di kedalaman.
Proses ini menyakitkan. Seperti menguliti diri sendiri dari dalam. Tapi ia tahan.
Dua jam kemudian, ia membuka mata.
"Selesai."
Sekarang, siapa pun yang membaca jiwanya hanya akan melihat Namgung Jin asli—bocah trauma yang ditinggal ayahnya, yang hidup dalam ketakutan, yang hanya ingin melindungi ibunya.
Jiwa Cheon Ma-ryong tersembunyi rapat di bawah.
"Biarkan mereka datang."
---