Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Di Ajak Ngobrol Cewek Lagi
“Awas saja kalau lu berani menjejakkan kaki ke rumah gue!” Suara Naya terdengar tajam sebelum dia berbalik. Tanpa menunggu jawaban, gadis itu langsung berjalan pergi meninggalkan Ge di dekat gudang olahraga. Langkahnya cepat dan tegas, seolah tidak ingin menghabiskan satu detik lagi di dekat Ge.
Sementara itu Ge masih berdiri di tempatnya. Dia menatap punggung Naya yang semakin menjauh. Beberapa detik kemudian dia mendecak pelan.
“Galak banget,” gumamnya.
Ge menggaruk belakang kepalanya dengan kesal. Biasanya kalau digituin orang, dia akan langsung membalas dengan kata-kata yang lebih pedas. Tapi kali ini dia menahan diri.
Bukan karena takut, tapi karena kepalanya sedang penuh. Tentang Arif, Romy Armansyah, dan tes DNA yang sedang diproses.
Ge menghembuskan napas panjang. “Astaga…”
Dia menatap tanah sambil memasukkan tangan ke saku celana. Entah kenapa dia malah berharap sesuatu yang aneh.
“Semoga aja hasilnya negatif,” ucapnya. Kalau hasil tes menunjukkan dia bukan anak Tarno dan Marni, berarti cerita Arif benar.
Ge menyeringai kecil. “Baru gue bikin perhitungan.”
Dia teringat kata-kata Arif tentang keluarga itu. Tentang istri baru Romy yang berselingkuh, dan juga tentang wasiat yang mengubah semuanya.
Kalau cerita itu benar, berarti posisi Naya dan ibunya tidak sekuat yang mereka kira. Ge mengangkat bahu santai. “Kalau gue beneran pewaris…”
Dia terkekeh kecil. “…gue ajarin tuh cewek cara ngomong yang sopan.”
Setelah itu Ge berjalan kembali ke halaman belakang sekolah. Di sana Bimo dan Taufik masih menyapu dengan malas. Begitu melihat Ge datang, kedua temannya langsung berhenti.
Bimo menyeringai lebar. “Woy!”
Taufik langsung ikut mendekat. “Lama banget lu!”
Ge mengambil sapu lagi tanpa menjawab.
Namun Bimo sudah berdiri di depan wajahnya. “Ngapain lu berdua tadi?”
Taufik menyikut bahu Bimo sambil tertawa nakal. “Iya, iya. Ngapain di belakang gudang?”
Ge memutar bola mata jengah. “Ngobrol.”
Bimo langsung tertawa keras. “NGOBROL KATANYA!”
Taufik ikut menimpali. “Empat mata pula!”
Bimo menepuk pundak Ge. “Ngaku aja lah.”
Taufik mencondongkan badan. “Lu ciuman ya? Atau remas-remasan gitu?"
Ge langsung menyapu kaki Taufik dengan sapunya. “Bacot!"
Taufik meloncat mundur sambil tertawa.
Bimo masih belum berhenti. “Serius, Ge. Itu cewek cantik banget. Masa cuma ngobrol?”
Ge mulai menyapu lagi dengan malas. “Lu berdua otaknya mesum banget sih.”
Taufik menunjuk Ge dengan wajah curiga. “Berarti ada sesuatu.”
Bimo mengangguk setuju. “Iya. Pasti ada.”
Ge menghela napas. “Sumpah cuma ngobrol. Gue emang badung, tapi gue nggak mesum kayak kalian!" tukasnya.
Taufik mengangkat alis. “Cih! Masa? Gue yakin kalau lu lihat cewek telanjang pasti mesum kan?"
"Sialan lu! Ya iyalah!" balas Ge. Dia dan kedua temannya lantas tergelak. Karena Ge tak membantah ucapan Taufik.
"Terus lu tadi ngobrol apa sama Naya?" tanya Bimo.
Ge berkata singkat, “Masalah keluarga.”
Bimo dan Taufik saling pandang. Beberapa detik kemudian mereka tertawa lagi.
“HALAH!”
Bimo mengibaskan tangan. “Alasan klasik! Emang Naya keluarga lu?"
Taufik ikut menimpali. “‘Masalah keluarga’ katanya.”
Bimo menunjuk Ge sambil tertawa. “Padahal pasti digodain habis-habisan tuh Naya.”
Ge hanya menggeleng sambil menyapu daun-daun kering. Namun belum lama mereka bekerja, langkah kaki lain terdengar mendekat.
Bimo berhenti duluan. “Eh?”
Taufik ikut menoleh. Seorang gadis berdiri di pinggir halaman. Dia memakai seragam yang sama seperti mereka. Semua orang di sekolah mengenal cewek itu. Dia tak lain adalah Tantri, bagian dari anggota pemegang kasta tertinggi di sekolah, yaitu geng Bintang.
Tantri menatap langsung ke arah Ge. “Ge,” panggilnya.
Ge mengangkat kepala. “Ya?”
Gadis itu berjalan mendekat beberapa langkah. “Gue mau ngobrol sama lu.”
Bimo langsung membuka mulut lebar. Taufik memegang kepala.
“ANJIR!”
Ge mengerutkan kening. “Sekarang?”
Tantri mengangguk. “Berdua aja.”
Bimo langsung menepuk dada Ge. “Bro!”
Taufik tertawa keras.
“Lu pake susuk apa sih?!” Bimo menambahkan sambil menahan tawa.
“Baru aja satu cewek ngajak empat mata… sekarang nambah lagi!”
Taufik menunjuk Ge dengan dramatis. “Ini bukan manusia biasa.”
Bimo mengangguk serius pura-pura. “Ini dukun pengasihan," komentarnya.
Ge memutar mata dengan kesal. "Bacot kalian berdua! Udah, kalian selesaikan semua ini. Gue sibuk!" ujarnya.
"Dih! Sok ganteng lu, Ge!" cibir Bimo.