NovelToon NovelToon
Belaian Kakak Iparku

Belaian Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: syizha

Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alana

Mataku perlahan terbuka.

Sebetulnya aku masih begitu ngantuk. Tapi matahari pagi sudah menyelinap masuk ke celah-celah ventilasi di kamar ini.

Aku mengedarkan pandangan. Liliana duduk di kursi meja riasnya. Sibuk mempercantik wajahnya. Penampilannya sudah sempurna. Mengenakan dress casual berbahan rayon, setinggi di atas lutut. Dipadukan dengan sepatu kets bewarna putih susu.

Penampilannya terlampau menarik untuk hari weekend seperti sekarang ini.

Aku terduduk dan mengerjapkan mataku untuk menghilangkan rasa kantukku.

"Kau sudah bangun?" sapa Liliana. Ia melihatku dari pantulan cermin.

"Ya. Apa sekarang udah terlalu siang?"

"Belum. Masih jam sembilan lebih sedikit."

"Kamu mau ke mana?"

tanyaku.

Liliana tak langsung menjawab. Ia serius mengenakan maskara di bulu matanya.

"Aku ada acara," tuturnya kemudian.

"Ke mana?" Aku mengulangi pertanyaanku.

"Jadi kamu sudah mulai ikut campur urusanku?" Jawaban dia malah seperti itu.

"Aku bukannya mau ikut campur, Liliana. Tapi aku itu suamimu. Aku berhak tau."

"Aku mau kumpul-kumpul sama teman." Dia akhirnya menjawab. Tapi aku tahu, dia hanya asal memberikan jawaban.

"Mau pulang jam berapa?"

tanyaku lagi, sambil menghela nafas.

"Belum tau. Bisa siang, bisa sore, bisa juga malam."

Aku diam. Bibirku sulit untuk berkata-kata. Harusnya aku marah. Tapi sikap Liliana yang begitu santai dan menganggap enteng apa yang sedang kupertanyakan, membuatku ragu untuk meluapkan kemarahanku.

Ting ... Tong ....

Bel pintu berbunyi. Setidaknya sedikit mencairkan suasana yang baru saja.

"Tolong dong, Mas, bukain pintunya. Aku lagi repot!" Liliana sibuk mengoles lipstik di bibirnya.

Aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah almari.

Mengambil kaos secara acak, untuk menutupi tubuh bagian atasku yang tak berbalut apa-apa. Karena memang hampir setiap malam aku memang terbiasa tidur dalam keadaan seperti ini.

Aku keluar dari kamar. Aku berjalan ke depan. Membukakan pintu untuk seorang tamu yang menurutku masih terlalu dini untuk mengusik pagiku.

Seorang gadis muda berdiri di hadapanku. Usianya mungkin sekitar delapan belas tahunan. Bisa kurang bisa lebih. Tapi penampilannya layaknya gadis yang usianya jauh di atasnya. Ia mengenakan kaos ketat putih polos, berpadu celana jeans model boyfriend bewarna biru muda. Ia membawa dua koper besar yang ia taruh di samping pijakan kakinya.

Yang begitu mencolok dari gadis tersebut adalah riasan yang melekat di wajahnya. Makeup nya terlalu tebal dan terlalu berani untuk gadis seusianya. Aku menduga, dia bukan gadis remaja biasa.

"Hai, Mas Juna." Dia menyapa.

Aku terkejut, dia tahu namaku. Apakah kami saling mengenal? Tapi sosoknya begitu asing di mataku.

"Kamu siapa?" Aku pun menanyakannya.

"Dia Alana, Mas. Masak kamu lupa." Liliana muncul di belakangku. Ia malah yang menjawab pertanyaanku.

"Alana?" Aku serasa tak percaya.

"Iya, Alana."

"Tapi dulukan dia___" Aku tak meneruskan kata-kataku.

"Aku kenapa, Mas? Dulu aku masih kecil ya, dan sekarang aku udah gede, gitu?" sahut ga_dis di hadapanku yang ternyata Alana, adik Liliana.

"Iya. Maaf, Mas jadi pangling," gumamku. Alana pun tertawa kecil.

"Ayo masuk!" perintah Liliana ke adik perempuannya.

"Iya, Mbak." Alana masuk ke ruang tamu. Ia segera duduk di sofa yang bertengger di tengah ruangan. Aku ikut duduk, begitu pun dengan Liliana.

"Apa-apaan penampilan kamu itu?" cibir Liliana.

"Emang kenapa? Ada yang salah kah?" timpal Alana.

"Penampilan kamu tuh berlebihan. Nggak sopan. Kamu malah kayak Tante-tante."

"Masak?" Alana tertawa.

"Tapi aku cantik kan, Mbak?" celetuknya. Liliana pun mendengus sebal menanggapinya.

"Kamu mau minum apa?"

tanya Liliana.

"Air putih aja, Mbak. Tapi yang dingin."

Liliana berdiri. Ia masuk ke dalam ruangan yang lain. Pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.

Kini hanya ada aku dan Alana di ruang tamu ini. Aku canggung. Aku tak tahu harus mengajak ngobrol apa. Kalau dulu, aku bisa sedikit santai, bisa membuat obrolan apapun, karena di mataku Alana masih begitu kecil. Tetapi kalau sekarang, Alana sudah besar, bahkan sosoknya bak wanita dewasa.

"Mas Juna masih kaya dulu ya ternyata." Akhirnya Alana yang lebih dulu berbicara.

"Kayak dulu gimana?" Aku belum begitu mengerti maksud dia.

"Masih pendiam. Tak banyak bicara."

"Oh itu." Aku hanya menimpalinya seperti itu. Aku bingung harus menganggapinya dengan berkata apa.

"Dan satu lagi,"

1
Anna leticia
baru mampir Thor, penasaran banget semoga aja ceritanya seru dan berkesan sampai keakhiir🌹🌹❤️😊
Anna leticia
penasaran mampir, penasaran banget, cuma kata plakor,itu merusak mata, cerita cinta dimulai dari kesalahan 🌹🌹🤔😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!