NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Malam Pertama

Pintu jati kamar itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagi Dinara, suara itu terdengar seperti vonis penjara. Kamar masa kecil Dimas di Blitar ini cukup luas, beraroma kayu cendana dan buku lama, sangat maskulin sekaligus asing. Di sudut ruangan, tumpukan kado pernikahan masih menggunung, kontras dengan suasana hatinya yang sedatar garis cakrawala.

Dinara berdiri mematung di sisi tempat tidur yang sudah dihias dengan sprei sutra putih dan taburan kelopak mawar. Gaun pengantinnya sudah berganti dengan gamis tidur katun yang tertutup rapat, namun ia tetap merasa telanjang di bawah tatapan dinding-dinding kamar ini.

Dimas masuk belakangan setelah mengunci pintu rumah. Ia melepas kopiahnya, meletakkannya di atas meja kerja yang penuh dengan draf tulisan. Ia melirik istrinya yang tampak seperti patung lilin—cantik, namun pucat dan kaku.

"Dek," panggil Dimas pelan.

Dinara sedikit berjengit. "Nggih, Mas?"

"Wudhu dulu sana. Kita shalat sunnah dua rakaat dulu sebelum istirahat. Biar syetan-syetan yang mau nggodain niat kita pada lari," ujar Dimas sambil tersenyum tenang. Ia mencoba bersikap sealami mungkin, seolah mereka sudah terbiasa berada dalam satu ruang privat yang sama.

Dinara mengangguk, lalu bergegas ke kamar mandi dalam seolah sedang melarikan diri. Di bawah kucuran air wudhu, ia berkali-kali menghirup napas dalam. Sakinah, mawaddah, warahmah, batinnya mengulang doa yang dibacakan penghulu tadi pagi. Namun, membayangkan ia harus berbagi tempat tidur dengan pria yang baru dikenalnya beberapa minggu ini membuat tangannya gemetar.

Selesai shalat berjamaah, suasana justru semakin canggung. Dimas melipat sajadahnya dengan rapi, sementara Dinara masih bersimpuh, berpura-pura memperpanjang dzikirnya agar tidak perlu segera beranjak ke ranjang.

"Dek Dinara," Dimas duduk di pinggiran ranjang, memerhatikan punggung istrinya. "Mas tahu apa yang ada di pikiranmu. Mas ini memang penulis fiksi, tapi Mas nggak mau maksa kamu masuk ke skenario romantis yang belum siap kamu jalani."

Dinara menoleh perlahan, matanya yang besar tampak waspada. "Maksud Mas?"

Dimas berdiri, berjalan menuju lemari besar di sudut kamar. Ia mengeluarkan sebuah selimut tebal dan dua buah bantal sofa yang empuk. Tanpa banyak bicara, ia menggelar karpet bulu di lantai, tepat di samping tempat tidur.

"Malam ini Mas tidur di bawah. Kamu di atas. Ranjang ini luas, tapi Mas tahu jarak di hati kita masih lebih luas lagi. Mas nggak mau jadi suami yang menang menang sendiri," ucap Dimas sambil merebahkan diri di lantai, meletakkan lengannya di bawah kepala sebagai bantal tambahan.

"Mas... tapi ini kan kamar Mas. Masa Mas tidur di lantai? Nanti kalau Ibu lihat gimana?" suara Dinara mencicit, merasa bersalah sekaligus lega yang luar biasa.

"Halah, gampang iku. Kalau Ibu tanya, bilang saja Mas lagi hobi meditasi lantai biar dapat inspirasi novel horor," seloroh Dimas. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba menutupi rasa pegal di punggungnya yang sebenarnya sudah terasa. "Lagian, Mas ini aslinya wong Surabaya, Dek. Terbiasa mandiri, terbiasa keras. Tidur di lantai itu anggap saja latihan kalau nanti kafe Mas bangkrut dan kita harus tidur di emperan toko."

Dinara tak tahan untuk tidak tersenyum. "Mas jangan ngomong gitu, doa itu."

"Nah, gitu dong. Senyum. Biar kamar ini nggak terasa kayak ruang otopsi," Dimas memiringkan badannya menghadap ke arah ranjang. "Sudah, naik sana. Tidur. Besok pagi kita harus bangun pagi-pagi sekali buat shalat Subuh berjamaah lagi sama Bapak. Kamu tahu sendiri kan, Bapak kalau urusan disiplin itu sudah kayak komandan peleton."

Dinara perlahan naik ke atas ranjang. Ia menyelimuti dirinya hingga sebatas dada, memunggungi Dimas yang ada di lantai. Matanya terjaga, menatap kegelapan. Ia bisa mendengar deru napas teratur Dimas di bawah sana. Kamar ini perlahan tidak lagi terasa asing, meski tetap belum terasa seperti rumah.

"Mas?" bisik Dinara setelah hening beberapa menit.

"Dalem, Sayang? Belum bisa tidur?"

Dinara tersipu mendengar panggilan itu, meski Dimas tidak melihatnya. "Terima kasih, Mas. Untuk... semuanya."

"Sama-sama. Tapi jangan sering-sering ya, nanti punggung Mas encok. Kalau sudah siap, bilang ya? Biar Mas bisa pensiun jadi penghuni lantai," canda Dimas dengan nada suara yang mulai memberat karena kantuk.

Hening kembali menyapa. Dinara merasakan kehangatan yang aneh menjalar di dadanya. Pria di bawah sana, yang sedang mengorbankan kenyamanannya demi rasa aman istrinya, adalah pria yang sama yang tadi siang menjahilinya soal kambing guling. Dinara menyadari bahwa Dimas tidak sedang mencoba menguasainya, melainkan sedang mencoba memahaminya.

Di tengah kesunyian malam Blitar, Dinara akhirnya memejamkan mata. Ia tertidur dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Sementara di lantai bawah, Dimas sebenarnya sedang menahan dingin yang merasuk ke tulangnya, namun ia tersenyum. Baginya, melihat Dinara bisa tidur tanpa rasa takut adalah royalti paling mahal yang pernah ia terima seumur hidupnya.

"Sakinah itu ternyata mulai dari lantai, bukan dari pelaminan," gumam Dimas pelan sebelum akhirnya terlelap, ditemani suara jangkrik yang bersahutan di balik jendela jati.

Keesokan harinya, cahaya matahari yang menembus ventilasi menyadarkan mereka bahwa babak baru benar-benar telah dimulai. Tidak ada adegan romantis ala sinetron, hanya ada dua pasang mata yang saling berserobok dalam kecanggungan pagi, dan sebuah janji tak terucap bahwa mereka akan melewati ini semua, selangkah demi selangkah.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!