Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Suara di Balik Hening
Zerya turun dari mobil Javian tepat di depan gerbang mansion Omerly. Kehangatan pai apel dan pelukan Clarisse masih terasa di pori-porinya, namun aroma itu seketika memudar digantikan oleh bau aspal basah dan wangi parfum mahal yang artifisial.
"Terima kasih untuk hari ini," bisik Zerya. Matanya masih sedikit sembab, namun ia sudah kembali mengenakan raut wajah datarnya.
Javian menatap pintu mansion yang menjulang angkuh di depan mereka. Ia tidak mematikan mesin mobilnya. "Jika suasana di dalam sana menjadi terlalu berisik, hubungi saya."
Zerya tersenyum miris. "Di dalam sana tidak pernah berisik, Javian. Justru sunyi yang akan membunuh saya."
Zerya melangkah masuk. Begitu pintu besar itu tertutup di belakangnya, ia disambut oleh kegelapan. Hanya ada satu lampu sudut yang menyala di ruang tengah, menyinari Aldric yang sedang duduk tenang sambil membaca laporan bisnis di tabletnya.
Zerya mematung. Ia tidak segera naik ke atas, karena ia tahu Aldric sedang menunggunya.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Aldric tidak menoleh, tidak bertanya, bahkan tidak menghela napas. Dia membiarkan Zerya berdiri di sana, merasa diadili oleh sunyi. Ini adalah hukuman favorit Aldric: membuat lawannya merasa tidak ada.
"Duduk," ucap Aldric akhirnya. Suaranya sangat rendah, hampir seperti bisikan, namun membawa otoritas yang membuat bulu kuduk berdiri.
Zerya duduk di kursi di hadapan ayahnya.
"Jam sebelas malam," Aldric meletakkan tabletnya perlahan. Ia menatap Zerya dengan mata yang tidak memancarkan amarah, melainkan kekecewaan yang sangat dingin. "Papih tidak tahu bahwa didikan moral yang Papih berikan selama dua puluh tahun ini bisa luntur hanya dalam satu hari proyek lapangan."
"Zerya tadi mampir ke rumah keluarga Talandra atas ajakan Javian, Pih. Kami membahas—"
"Papih tidak bertanya alasanmu," potong Aldric tenang. "Papih hanya melihat hasilnya. Kamu pulang terlambat, dengan mata sembab, dan membiarkan seorang pria asing melihat titik lemahmu. Kamu pikir Javian Talandra mengajakmu makan malam karena dia peduli?"
Aldric terkekeh, suara yang lebih dingin dari es.
"Dia pengusaha, Zerya. Dia sedang membedahmu untuk mencari celah kelemahan Omerly. Dan kamu? Kamu memberikannya secara cuma-cuma hanya karena sedikit keramahan palsu."
Dada Zerya sesak. Kebahagiaan kecil yang ia rasakan di rumah Talandra tadi seolah dikuliti satu per satu oleh kata-kata Aldric.
"Mulai besok, pengawal akan menjemputmu tepat waktu setelah jam kantor selesai. Dan mengenai kontrak CSR itu..." Aldric berdiri, memperbaiki letak kacamata mahalnya. "Jika Papih mendengar namamu dikaitkan dengan rumor murahan tentang hubungan pribadi dengan Javian, Papih tidak akan ragu untuk mengirimmu ke Singapura minggu depan. Kamu akan menikah dengan putra kolega Papih di sana dan tidak perlu lagi mengurusi bisnis."
Zerya mendongak, matanya bergetar. "Tapi proyek itu sedang berjalan baik, Pih..."
"Proyek itu berjalan karena Papih izinkan," Aldric berjalan melewati Zerya, namun ia berhenti sejenak di samping putrinya. "Ingat, Zerya. Di dunia ini, satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatimu adalah keluargamu. Dan satu-satunya cara keluarga tidak mengkhianatimu adalah dengan memastikan kamu tetap berguna."
Langkah kaki Aldric menjauh, menghilang di balik pintu kamarnya.
Zerya tetap duduk di sana, di tengah kegelapan ruang tengah yang luas.
Kehangatan pai apel tadi kini terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh. Ia merogoh ponselnya, melihat nama Javian di daftar panggilan terakhir.
Ia ingin menekan tombol panggil. Ia ingin berteriak. Namun ia teringat kata-kata Aldric: keramahan palsu.
Zerya mematikan ponselnya. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah terseret, menyadari bahwa setiap kali ia mencoba terbang sedikit lebih tinggi, Aldric selalu punya cara untuk mematahkan sayapnya lebih dalam lagi.