Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Luka yang Tak Kasat Mata
Lorong rumah sakit yang dingin terasa semakin mencekam saat Umi dan Abi Arlan datang dengan langkah tergesa. Wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang luar biasa karena berita fitnah itu telah sampai ke telinga mereka, disusul kabar bahwa menantu mereka jatuh pingsan di butik.
Tak lama, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dokter keluar dengan gurat wajah yang tenang namun menyimpan sedikit keraguan.
"Keluarga Ibu Hana?" panggil dokter. Arlan, Abi, dan kedua ibu itu segera mendekat.
"Secara medis, tidak ada kondisi fisik yang mengkhawatirkan. Tekanan darahnya memang sedikit rendah karena kelelahan, tapi selebihnya normal. Ibu Hana boleh pulang setelah kesadarannya pulih sepenuhnya."
Mendengar itu, ada embusan napas lega yang terdengar, namun tidak bagi Arlan. Tatapannya masih terpaku pada pintu ruangan tempat Hana terbaring.
Mereka semua masuk ke dalam ruangan. Di sana, Hana tampak begitu kecil di atas ranjang putih yang lebar. Wajahnya pucat pasi, kontras dengan kerudung instan yang dipasangkan seadanya oleh sang Mama tadi. Mama Hana tak kuasa membendung air matanya, ia terisak di samping ranjang putri tunggalnya.
Umi Arlan segera merangkul pundak besannya itu.
"Bu Diana, tenang ya. Hana anak yang kuat, dia akan baik-baik saja," bisik Umi mencoba menyalurkan kekuatan.
Mama Hana mengangguk lemah.
"Hana pasti sadar, Bu... tapi berita itu... fitnah itu benar-benar menghancurkan hatinya," ucapnya terputus oleh tangis.
"Tenang, Bu Diana. Kami tidak akan tinggal diam," kali ini Abi yang bersuara dengan nada berwibawa namun tegas.
"Kita akan cari tahu siapa dalang di balik penyebaran gosip ini. Jika perlu, kita akan bawa ini ke ranah hukum. Harga diri Hana adalah harga diri keluarga kami juga."
Arlan hanya diam membisu. Ia duduk di kursi samping ranjang, jemarinya menggenggam tangan Hana yang dingin. Matanya tak lepas menatap kelopak mata Hana yang masih terpejam rapat. Ia merasa gagal. Janjinya pada Inggit untuk menjaga Hana seolah runtuh dalam sekejap.
Tiba-tiba, jemari Hana bergerak pelan. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan.
"Mama... Umi... Abi..." suaranya begitu tipis, nyaris tak terdengar.
Hana menoleh ke sisi kanan, mendapati Arlan yang menatapnya dengan sorot mata penuh luka.
"Mas Arlan..." lirihnya sembari mencoba memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.
"Ini di mana?"
"Kamu di rumah sakit, sayang," Mama Hana segera meraih tangan putrinya yang lain.
Namun, alih-alih merasa tenang, wajah Hana tiba-tiba berubah tegang. Ia meringis kesakitan, tangannya mencengkeram dada kirinya dengan kuat.
"Ma... sakit... di sini sakit sekali," keluhnya dengan napas yang mulai memburu.
Hana kembali menangis. Bukan tangis biasa, melainkan tangis histeris yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Seluruh anggota keluarga panik. Bagaimana mungkin dokter bilang tidak ada masalah medis jika Hana tampak sangat kesakitan seperti itu?
Umi dan Mama Hana segera memeluk tubuh Hana yang bergetar hebat.
"Sabar, Nak... Istighfar, Hana..."
"Umi... Mama... sakit... Hana bukan orang jahat... Hana bukan..." suaranya semakin lirih di tengah isak tangisnya yang mulai mereda karena kehabisan tenaga.
Hana kembali memejamkan mata dalam dekapan mereka, namun rintihan "sakit" itu terus keluar dari bibirnya yang memucat.
Arlan tidak sanggup lagi melihat pemandangan itu. Dengan rahang yang mengeras, ia keluar dari ruangan dan langsung menuju ruang dokter. Ia butuh jawaban yang pasti.
Di dalam ruang konsultasi, dokter menghela napas panjang saat melihat Arlan.
"Pak Arlan, seperti yang saya katakan, organ tubuhnya baik-baik saja. Namun, rasa sakit yang dirasakan Ibu Hana itu nyata. Namanya psikosomatis."
Arlan tertegun.
"Maksud Dokter?"
"Tubuhnya tidak luka, Pak, tapi mentalnya yang hancur. Tekanan psikologis yang hebat seringkali dimanifestasikan oleh otak menjadi rasa sakit fisik yang nyata di dada atau kepala. Jiwanya sedang terguncang hebat," jelas dokter pelan.
Mendengar itu, Arlan merasa seolah ada belati yang menghantam tepat di dadanya. Dunianya serasa berputar. Ia membayangkan betapa rapuhnya Hana menghadapi ribuan telunjuk yang menghakiminya sendirian di dunia maya tadi.
"Hana... kamu seterluka itu karena saya?" lirih Arlan saat ia sudah berdiri di depan jendela koridor rumah sakit.
Rasa bersalah itu kini bertumpuk dengan dendam yang membara. Arlan mengeluarkan ponselnya, menelepon orang kepercayaannya kembali.
"Saya tidak mau menunggu sampai besok. Malam ini, saya mau tahu siapa orang pertama yang mengunggah foto itu. Dan siapkan pengacara terbaik. Saya akan buat mereka menyesal karena telah menyentuh istri saya."