NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menenangkan Diri

Setiap tempat membalikkan kenangan sewaktu menjadi Fred Tucker. Tadi melewati taman yang biasa Fred Tucker kunjungi dengan buku tebal kedokterannya. Orang bilang, seorang kutu buku. Pemandangannya langsung mengarahkan ke menara Eiffel. Fred membaca buku di kurai taman dan sesekali memandang menara. Itu kehidupan dulu. Kehidupan Fred Tucker.

Kini orang gempal itu tenggelam. Kehidupan Fred Tucker ditarik dalam satu hari dan memaksa dirinya harus menjadi seorang pemburu. Dari target menjadi pemburu.

Kilas balik itu memberikan ketenangan di hati. Mengubah ketegangan menjadi senyum. Ketegangan seorang pemula.

Taksi melaju. Lampu kota memantul di kaca. Rick menatap pantulan dirinya sendiri: Wajah kacamata hitam, rahang tegas, setelan jas, rokok yang belum ia nyalakan.

Rick Nolan.

Ia mengulang namanya dalam kepala seperti mantra agar Fred Tucker tidak muncul dengan rasa bersalah yang baru.

Taksi berhenti di depan sebuah kafe, kafe kecil yang pernah ia datangi dulu, saat kuliah kedokteran masih jadi dunia yang sederhana: ujian, stase, kopi pahit, tawa teman-teman.

Rick turun. Angin malam menusuk pipinya. Ia melangkah beberapa meter, lalu berhenti di tempat sampah dekat sudut jalan.

Ia melepas topi koboi itu.

Topi itu sudah menjalankan tugasnya. Sekarang topi itu hanya bukti.

Rick menatapnya sebentar—bukan karena sentimental, tapi karena ia sadar betapa cepat hidupnya berubah: dari mahasiswa jadi orang yang membuang identitas seperti membuang barang.

Ia memasukkan topi itu ke dalam tempat sampah, menekannya sampai tidak terlihat, lalu menutup tutupnya pelan.

Selesai.

Ia berjalan ke area smoking kafe, duduk di kursi luar yang menghadap jalan. Lampu neon kafe memantulkan warna hangat di trotoar basah. Ada dua orang lain di ujung sana, tertawa pelan. Bau kopi dan rokok bercampur.

Rick menyalakan rokok.

Asapnya masuk ke paru-paru seperti sesuatu yang seharusnya menenangkan, tapi malam ini asap terasa seperti pengakuan.

Ia duduk diam.

Bukan untuk bertemu siapa pun.

Hanya untuk menenangkan jantung.

Hanya untuk menunggu apa yang terjadi setelah jam lima.

Setiap kali sirene ambulans melintas jauh, dada Rick menegang. Meski ia tidak melihat apa pun, pikirannya langsung menulis skenario: itu untuk dia. itu karena aku.

Dan bahkan ketika sirene itu menghilang, rasa tertuduh tetap tinggal.

Rick menunduk, memandangi ujung rokok yang menyala merah.

“Aku…” ia hampir berbisik, tapi kata-kata terasa kotor di mulut.

Ia menghembuskan asap pelan, menahan diri agar tidak tremor. Mercer selalu berkata: yang paling berbahaya bukan musuhmu. Yang paling berbahaya adalah tanganmu sendiri ketika kamu sudah tidak percaya pada dirimu.

Rick menatap jalan.

Lampu mobil lewat. Orang lewat. Dunia terus bergerak.

Dan tanpa Rick sadari, kursi di seberang mejanya sudah terisi.

Dua gadis duduk di sana.

Tadi tidak ada.

Rick baru sadar ketika salah satu dari mereka tertawa kecil, seperti sengaja memberi tanda bahwa mereka sedang melihatnya.

Rick mengangkat mata pelan.

Gadis itu menatapnya dengan gaya yang terlalu akrab untuk orang asing, tatapan menggoda yang dulu sering ia lihat di kampus, saat ada teman yang ingin bercanda atau mencoba dekati teman yang tampan, bukan Fred Tucker, tapi yang berkharisma di kampus

Jantung Rick tersentak. Bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih aneh:

ia mengenal gadis itu.

Teman kampus.

Salah satu yang pernah duduk satu kelas dengannya, pernah tertawa di kantin, pernah mengeluh soal dosen yang galak.

Tapi gadis itu… tidak mengenal dia.

Tidak mengenal Rick Nolan sebagai Fred Tucker.

Bagaimana bisa?

Rick baru sadar: penampilannya benar-benar berubah. Wajahnya lebih tajam, tubuhnya lebih atletis, gaya pakaiannya berbeda total. Dan nama… nama itu memutus semuanya. Kini Rick Nolan adalah orang yang berkharisma dan layak untuk di goda.

Gadis itu menyandarkan dagu di tangan, menatap Rick seolah ia menemukan sesuatu yang menarik.

“Tu viens souvent ici?” tanyanya ringan, dengan senyum yang menggoda.

Rick menahan refleks untuk menjawab seperti Fred. Ia membiarkan jeda sedikit, lalu menjawab singkat, nada datar, agak “jual mahal” seperti pria yang tidak mudah didekati.

“Pas souvent.”

Gadis itu tertawa kecil, tidak menyerah. Temannya ikut tertawa, lalu saling pandang, seperti menilai: dia menarik.

Rick tidak memutar badan. Tidak mencondongkan diri. Ia hanya menyesap rokok, membiarkan mereka mengisi udara dengan obrolan ringan.

Dalam kepalanya, ada dua suara bertabrakan:

Satu suara berkata: ini kesempatan normal. Ini pengingat hidupmu dulu.

Suara lain berkata: normal itu bahaya. Orang bisa jadi siapa saja.

Rick menahan diri agar tidak curiga berlebihan. Mereka teman kampus. Tapi… sudah berkali-kali ia hampir mati karena “orang yang tampak biasa.”

Gadis itu mencoba lagi, lebih berani. “Tu es… britannique?” Ia menebak dari gaya Rick.

Rick mengangkat bahu, setengah senyum. “Peut-être.”

Itu cukup untuk membuat gadis itu semakin penasaran.

Beberapa menit berlalu seperti permainan kecil yang terasa absurd: Rick Nolan, pembunuh bayaran pemula, sedang dirayu di area smoking kafe kampus lama, sementara pikirannya masih mendengar pintu lift menutup dan jeritan yang tertahan di dalam.

Akhirnya gadis itu berdiri.

Ia menatap Rick dengan senyum yang menyimpan niat: aku akan kembali.

“Bon,” katanya. “Kalau kamu berubah pikiran…”

Ia meletakkan sesuatu di meja—selembar kertas kecil yang dilipat cepat.

Nomor telepon.

Lalu ia berjalan pergi bersama temannya, tertawa pelan, melambaikan tangan kecil seolah mereka baru saja melakukan hal biasa.

Rick menatap kertas itu sebentar.

Lalu ia tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Lebih seperti senyum getir, senyum seseorang yang baru sadar betapa jauhnya ia sudah berjalan dari hidup lamanya.

Ia tidak mengambil kertas itu langsung. Ia membiarkannya di meja beberapa detik, menatapnya seperti menatap simbol dunia normal yang menawarkan pintu, pintu yang mungkin tidak aman untuk dimasuki lagi.

Akhirnya ia mengambilnya, melipat, memasukkan ke saku—bukan karena ia akan menelepon, tapi karena ia tidak suka meninggalkan jejak yang bisa diambil orang lain.

Rick mematikan rokok, menekan puntungnya di asbak.

Napasnya lebih stabil sekarang.

Hatinya—setidaknya—tidak lagi bergetar seperti tadi.

Ia berdiri, merapikan jas, dan melangkah pergi dari kafe itu.

Malam masih panjang.

Dan ia harus kembali ke stasiun.

Ia harus kembali ke jalurnya.

Karena “misi” belum selesai. Dan setelah lift tadi, Rick tahu: jaringan itu tidak akan membiarkannya pulang dengan hati tenang.

Di dalam saku, kertas nomor telepon itu terasa hangat seperti rahasia kecil.

Rick berjalan cepat menuju jalan utama, menenggelamkan diri di antara orang-orang yang tertawa.

Dan di balik lampu kota, jauh dari kafe yang nyaman, sesuatu pasti sudah bergerak mengejar konsekuensi dari jam lima.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!