Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
...****************...
Lampu apartemen Alicia redup. Hanya cahaya lima monitor yang menyala di hadapannya.
Alicia menarik napas pelan. Headset pengubah suara terpasang. Jemarinya menari di atas keyboard.
Identitasnya aktif.
"Mr A is online."
Tak lama kemudian, sebuah panggilan terenkripsi masuk.
Alicia menekan tombol terima.
Suara berat dengan efek distorsi terdengar.
“Mr A.”
Alicia menjawab dengan suara datar, dingin, sepenuhnya berbeda dari suara aslinya.
“Aku tidak menerima panggilan tanpa kontrak resmi. Siapa ini?”
“Asisten pemimpin organisasi Red Devils” jawab pria itu. “Kami butuh jasamu.”
Alicia tersenyum tipis.
'Rafael Vance." debutnya dalam hati
Anggota keamanan organisasi Red Devils, organisasi pembunuh bayaran yang disewa Miranda. Orang yang ia lihat di gedung pelelangan yang menjadi salah satu target pemantauannya.
“Detail pekerjaan?” tanya Alicia.
“Kami ingin melacak seseorang. Hacker. Dia menanam sesuatu di sistem kami.”
Alicia pura-pura terdiam beberapa detik.
“Menarik. Dan kalian pikir aku mau memburu sesama hacker?”
“Kami bayar tiga kali lipat tarifmu.”Tawarnya langsung.
“Bukan soal uang.”sangah Alicia.
“Lima kali lipat.”
Alicia mengetuk meja pelan.
“Identitas target?”jawab Alicia seolah tertarik dengan tawaran itu.
“Belum diketahui. Tapi dia menembus firewall internal kami dua malam lalu.”
Alicia menahan tawa kecil di dalam hati. " Tentunya aku sudah tau dari awal, bodoh !"
Dia sedang disewa untuk memburu dirinya sendiri.
“Baik,” jawabnya akhirnya. “Kirimkan log aktivitas. Aku akan analisis.”
“Kami ingin hasil cepat.”
“Aku selalu cepat.”
Panggilan terputus.
Ruangan kembali sunyi.
Alicia melepas headset perlahan.
“Bodoh,” gumamnya lirih. “Kalian bahkan tidak sadar siapa yang duduk di depan kalian.”
Beberapa jam kemudian.
Seseorang mengetuk pintu apartemennya.
Alicia langsung siaga. Ia menutup seluruh sistem dalam satu perintah otomatis.
“Siapa?” tanyanya tenang.
“Kurir, Nona Liona.”jawab orang tersebut dari balik pintu.
Alicia membuka sedikit pintu. Seorang pria mengenakan topi dan masker menyerahkan amplop tanpa logo.
“Tidak ada nama pengirim?”tanya langsung Alicia dengan lirikannya.
“Tidak ada.”
Pria itu pergi begitu saja tanpa penjelasan.
Alicia menutup pintu dan membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada satu kartu hitam dengan tulisan merah:
( WE ARE WATCHING YOU. )
Tatapan Alicia berubah tajam.
“Terlalu cepat, siapa yang melacak ku.” bisiknya.
Ponselnya bergetar.
Tertera nomor tak dikenal di layar handphonenya..
Ia menjawab tanpa suara hanya deru nafas yang terdengar bertahap.
Lalu suara pria lain terdengar lebih muda, santai.
“Mr A ternyata wanita ya?" ucap orang itu secara tiba-tiba.
Tubuh Alicia membeku, tapi wajahnya tetap tenang.
“Kau salah sambung." dengan emosi yang lebih tenang Alicia menjawab tanpa kepanikan.
“Benarkah? Atau aku harus menyebutmu, Alicia? "
Hening beberapa detik.
" Siapa ini..?"
Alicia berjalan ke meja, membuka laptop kedua, mulai melacak sinyal panggilan secara diam-diam.
“Kau ingin apa?” tanyanya datar.
“Aku hanya penasaran. Hacker legendaris ternyata punya wajah secantik itu.”
“Kau tidak tahu apa-apa.”
“Tentu saja tahu. Red Devils mulai panik. Mereka bahkan menyewa Mr A untuk memburu Mr A.” Pria itu tertawa kecil. “Ironis, bukan?”
Alicia berhasil menemukan titik pantulan sinyal. Panggilan itu dipantulkan dari lima server berbeda.
Orang ini ahli.
“Jika kau tahu identitasku,” kata Alicia pelan, “kenapa belum menyerahkanku pada mereka?”
"Karena aku bukan musuhmu.”
“Lalu apa?”
“Calon sekutu..., atau lebih mungkin ”
Alicia terdiam.
“Namaku tidak penting,” lanjut pria itu. “Tapi aku juga punya urusan dengan Red Devils.”
Jantung Alicia berdetak lebih keras.
“Kau bermasalah dengan kelompok mafia Red Devils, itu berarti kau dari kubu yang berkerja di bidang yang sama?" tebakan Alicia seakan tepat sasaran.
“Kau juga bagian dari kelompok mafia lain kan .”
Hening tidak ada sahutan dan semua itu sudah menjawab, ucapan Alicia memang kenyataan.
“Kita bisa saling menghancurkan,” kata pria itu pelan.
"Atau kita bisa bekerja sama." sangah nya.
“Aku tidak pernah bekerja sama,” jawab Alicia dingin.
“Kau sudah sendirian dua puluh tahun, Alicia." sahut penelpon misterius itu seakan tau semua kondisi yang pernah dilaluinya.
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari ancaman mana pun.
Alicia menutup matanya sejenak.
“Kau terlalu banyak tahu,” katanya akhirnya.
“Aku tidak akan membocorkan identitasmu. Aku justru ingin membantumu menjatuhkan mereka.”
“Kenapa aku harus percaya?" Alicia kembali bertanya.
“Karena jika aku musuhmu, Red Devils sudah mengetuk pintumu sekarang.”
Alicia membuka mata.
“Beri aku satu alasan kuat.”
Pria itu menjawab pelan,
“Karena kecelakaan dua puluh tahun lalu bukan hanya bibi mu dan organisasi Red Devils yang terlibat, tapi masih ada satu Monster yang akan sulit kau hadapi."
Napas Alicia tercekat.
" Aku tau Melinda Stone membayar jasa Red Devils untuk membunuh kedua orangtua mu dan kamu kan."
Ruangan terasa semakin dingin.
“Aku mengawasi mu selama bertahun-tahun,” lanjut pria itu. “Dan akhirnya aku menemukanmu Mr A.”
Alicia menggenggam ponsel lebih erat.
“Jika kau berbohong, kau akan tau akibatnya”
“Aku tidak cukup bodoh untuk membohongi wanita paling berbahaya di dunia digital.”
Alicia terdiam lama, seakan memikirkan semuanya dengan keputusan yang matang.
" Kalau begitu mari kita bertemu.., tuan misterius."
“Kita akan bicara lagi,” jawab pria itu.
Panggilan terputus.
Alicia berdiri di tengah ruangan gelap.
Di satu sisi, Red Devils mulai mencurigainya.
" Jadi Red Devils juga mulai melacak identitas Mr A. Licik sekali.."
"Di sisi lain, seseorang misterius mengetahui identitas ku, dan apa yang dikatakannya mengenai Monster yang tidak akan sanggup aku lawan..?"
...****************...