Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh — Kamar Pintu Berwarna Putih
Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka yaa..
Ia mengintip sedikit di bolongan kecil lubang kunci, dan di sana, dalam kamar pintu putih, ia melihat sosok kanihu melangkah memutar-mutar seluruh ruangan. Jantung Arsya berdebar dan ia menahan nafas. Dengan segera ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa namun tak bersuara.
Arsya hampir terpeleset di anak tangga terakhir. “Niki… Jay…” suaranya tertahan, tapi nafasnya memburu. Semua langsung menoleh.
Jay menatapnya dengan berbisik cepat, “ada apa?” Arsya menunjuk ke atas. “Kamar pintu putih… di ujung lorong lantai dua.” wajahnya pucat. “Ada Kanihu di dalam.”
Sunyi.
“Tidak liar,” lanjutnya cepat. “Dia hanya.. Berjalan memutar. Seperti mengitari ruangan.” Niki langsung menenteng tas Arsya, “Terkunci?” Arsya mengangguk, “ya, Dari luar.”
Jay mematung, ia mengingat bahwa kamar pintu putih adalah kamar milik kakak perempuannya. Kenangan kecil—bau parfum lembut, meja rias, buku-buku lama–semuanya terbayang di pikirannya.
Tapi saat ini kamar itu ada sosok menyeramkan di dalamnya. Bukan lagi bagian dari masa lalu yang aman.
Lalu Jay menoleh pada Arsya dan Niki, sorot matanya tegas. “Ayo, kita siap-siap, disini memang tidak aman.”
Arsya membaca sesuatu di wajahnya–bukan takut, tapi keputusan. “Ibuku berada di kota Abadi.” lanjut Jay cepat, suaranya kembali stabil. “Dari sini berjarak lima jam. Tapi dengan adanya bekal, kita bisa melewatinya.” jelas Jay.
Nama itu menggantung di udara. Kota Abadi, lebih jauh dari Kota Sejuk, lebih jauh dari zona yang sedang mereka masuki. Arsya langsung mengangguk dan segera bersiap, memegang tongkat baseball miliknya.
Yang lain menangkap perubahan atmosfer itu. Tidak ada lagi opsi menetap, tidak ada lagi rasa aman palsu. Niki segera membantu membagikan pakaian bersih yang Jay keluarkan dari lemari–kaos, jaket tipis, celana yang masih layak.
“Asa, ganti yang itu. Terlalu mencolok.” gumam Niki. Regan mengganti jaketnya cepat. Domi mengikat ulang tali sepatu. Lyno menerima jaket bersih dari Arsya. “Kak…”
“Kita lanjut lagi,” jawab Arsya lembut, tapi tegas.
Arsya mengencangkan tali ranselnya. Tas itu kini lebih berat—berisi bekal yang sudah disiapkan ibu Jay. Roti kemasan, makanan kering, air, beberapa kaleng kecil. Harapan dalam bentuk sederhana.
“Kita sekarang akan ke mana? Lewat mana?” tanya Arsya pelan, matanya tetap waspada ke arah jendela belakang. Jay menjawab cepat, tanpa ragu. “Di rumahku ada ruang bawah tanah. Kita lewat bawah lagi. Tujuannya Kota Abadi.”
Niki langsung mengangguk. “Oke. Tunjukan.”
Tanpa membuang waktu, Jay memimpin mereka ke ruang penyimpanan kecil di dekat dapur. Lemari kayu tua berdiri menempel ke dinding. Ia menariknya sedikit ke samping, dibaliknya, ada sebuah pintu besi kecil setinggi dada.
Regan mengangkat alis. “Keluargamu memang suka jalur rahasia, ya?”
Jay tidak tersenyum. “Ayahku selalu berkata, satu pintu keluar tidak pernah cukup.” ia membuka kunci tersembunyi di balik rak perkakas. Pintu besi itu berderit pelan saat di buka. Tangga sempit turun ke bawah.
Udara di dalamnya lebih dingin, lebih kering. “Formasi sama seperti tadi,” ujar Jay. “Jarak tetap. Jangan menyentuh dinding terlalu sering.”
Satu persatu mereka turun. Ruang bawah tanah itu lebih rapi daripada bunker hutan. Ada rak kosong, beberapa kotak penyimpanan, dan lorong beton yang memanjang ke arah luar. Niki menyinari jalan dengan senter kecil. “Ini tembus ke mana?” bisiknya.
“Ke jalur drainase lama komplek,” jawab Jay. “Terhubung ke saluran besar di perbatasan kota. Dari sana kita bisa ambil jalur rel lama menuju arah barat.”
“Kota Abadi di barat?” tanya Asa. Jay mengangguk pelan, “lima jam kalau lancar. Lebih lama kalau kita harus menghindar.”
Arsya berjalan di tengah formasi, Lyno di belakangnya. Tangannya tetap menggenggam tongkat baseball. Namun pikirannya masih tertinggal sebentar di kamar pintu putih. Senyum itu, suara itu. “Jadi kau sudah pulang, Jay.”
Ia menoleh sekilas pada Jay yang berjalan di depan. Jay tampak lebih diam dari biasanya. Bukan ragu tapi menyimpan sesuatu.
Lorong beton itu akhirnya berakhir pada tutup besi bundar. Jay mendekat, mendengarkan dulu.
Sunyi.
Tidak ada suara, ia mendorong perlahan, cahaya redup masuk dari celah. Mereka keluar satu per-satu ke saluran drainase kering yang tertutup sebagian oleh semak liar. Dari sini, rumah Jay sudah tidak terlihat.
Kota Sejuk tampak sunyi dari sudut ini, terlalu sunyi, Jay menunjuk ke arah barat. “Mulai sekarang, tidak ada berhenti kecuali benar-benar perlu.”
Niki menambahkan pelan, “dan kalau kita melihat helikopter lagi?” Jay menatap cakrawala yang masih berkabut. “Kita bukan lagi menuju pusat komando mereka.” ia menatap Arsya sekilas. “Kita menuju sesuatu yang mungkin belum mereka sentuh.”
Kota Abadi.
Nama yang terdengar seperti janji atau ironi? Angin pagi berhembus pelan saat mereka mulai berjalan menyusuri jalur rel tua yang setengah tertutup rumput liar. Perjalanan lima jam.
Dan di belakang mereka, di dalam rumah yang baru saja ditinggalkan. Pintu putih itu kini terbuka.
Kosong.
Tak ada siapapun di dalam kamar.
Rel tua itu membentang panjang di hadapan mereka, setengah tertelan rumput liar dan semak berduri. Jay berjalan paling depan, satu tangan memegang peta yang ia ambil dari ruang kerja ayahnya. Tangan lainnya sesekali mengangkat untuk memberi isyarat arah. “Kalau pakai kendaraan, lewat jalur utama hanya dua jam setengah,” gumamnya pelan. “Tapi jalan utama pasti di pantau.”
Niki berjalan di sisi kirinya. “Dan suara mesin itu undangan terbuka.” Jay mengangguk.
Di situasi seperti ini, mobil bukan alat bantu, melainkan sinyal. Mereka bergerak cepat tapi terukur. Formasi melebar sedikit agar tidak terlihat seperti satu kelompok padat jika ada yang mengamati dari jauh.
Langit mulai cerah sepenuhnya.
Kota Sejuk kini jauh di belakang, di depan, bentangan perbukitan rendah menjadi batas alami menuju wilayah kota Abadi. Arsya menyesuaikan langkahnya agar sejajar dengan Jay. “kamu yakin peta itu masih relevan?” tanyanya pelan.
Jay menatap garis-garis di kertas itu.
Peta lama.
Jalur rel.
Saluran air.
Jalan alternatif yang jarang dipakai. “Struktur tanah tidak berubah,” jawabnya. “Yang berubah cuma penghuninya.” Lyno berjalan lebih tenang sekarang, meski sesekali melirik sekitar.
Asa dan DOmi terlihat menjaga ritme nafas mereka. Regan beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang mengikuti.
Beberapa jam pertama berjalan tanpa gangguan. Hanya suara langkah mereka dan angin yang menyapu ilalang. Namun ketika mereka mendekati jembatan rel kecil yang melintasi sungai dangkal—Jay mendadak mengangkat tangan. Berhenti, semua membeku. Di tanah berdebu dekat jembatan, ada bekas ban, masih segar. Bukan bekas lama yang sudah tertutup debu. Jejak itu menuju arah yang sama dengan tujuan mereka atau dari arah tujuan mereka ke Kota Sejuk.
Niki berlutut, menyentuh permukaan tanah. “Berat. Kendaraan besar.”
“Militer?” bisik Asa. Jay memperhatikan pola tapaknya. “Bisa jadi,” jawabnya pelan. “Atau konvoi evakuasi?” Arsya menelan ludah. “Atau… sesuatu yang mengangkut eksperimen?”
Jay berdiri kembali, “kita lanjut. Tapi bukan diatas rel.” ia menunjuk ke sisi kiri, jalur menurun melewati semak dan kontur tanah berbatu. “Kita sejajar saja dengan rel. Jangan meninggalkan jejak jelas.” Niki tersenyum tipis. “Aku suka kalau kamu paranoid.” Jay tidak membalas.
Mereka berhenti di balik rerimbunan pohon akasia yang tumbuh di sisi kiri dekat semak-semak yang mereka tapaki. Dari celah dedaunan, pemandangan itu terlihat jelas. Truk-truk militer berjajar. Mesin masih menyala.
Asap tipis keluar dari knalpot. Tentara berseragam lengkap berdiri di sisi bak belakang, membantu—atau mendorong warga untuk naik. Namun tidak ada teriakan atau perlawanan… wajah-wajah itu terlihat kosong.
Mata mereka terbuka, tapi tidak benar-benar melihat. Langkah mereka lambat, seragam, seolah mengikuti irama yang tidak terdengar oleh orang lain. Arsya menatap Jay. tatapan itu bukan bertanya tapi memastikan.
Jay mengamati lebih lama. Ia melihat sesuatu di lengan beberapa warga. Bekas suntikan. Masih kemerahan. Niki berbisik pelan, “itu bukan evakuasi biasa.”
Salah satu tentara berbicara melalui pengeras suara kecil, suaranya datar dan terlalu terkontrol. “Proses stabilisasi berjalan sesuai tahap. Tetap tenang. Kalian akan dipindahkan ke zona aman.”
Satbilisasi.
Bukan evakuasi.
Jay menghela nafas pelan. “Mereka telah divaksin,” katanya rendah. Arsya melanjutkan kalimatnya, nyaris tanpa suara. “Uji coba.” Regan menelan ludah. “Vaksin yang ada di dokumen itu?”
“Distribusi tahap uji coba.” gumam Niki. Asa memandangi warga yang naik ke truk. “Tapi… mereka tidak terlihat sakit.”
“Bukan sakit,” jawab Jay pelan. “Mereka dikendalikan.”
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa beri tanda like dan vote yaa.. kita lanjut besok lagi...