menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menantu Bukan Pembantu
“Maaf, Teh. Aku suka pusing kalau masak lagi puasa,” jawabku sambil menunduk. “Ini aja, aku habis beli lauk buat buka.” Kutunjuk kantong plastik bening di atas meja.
Teh Syira terdiam.
Ibu mertuaku mengajak buka puasa bersama di rumahnya. Namun, kata Teh Syira kami harus membawa makanan masing-masing. Karena katanya kasihan Ibu kalau dia yang harus masak semuanya.
Teh Syira membawa ayam, tahu, dan tempe goreng. Lula, kakak ipar keduaku membawa es buah dan telur balado . Ria, istri adik iparku membawa tumisan, lalapan, dan sambal. Dan aku, katanya harus membawa gorengan.
“Bahan-bahannya ada di teteh. Tepung, sayuran, tahu, minyak goreng. Kamu tinggal bikin aja,” ucapnya. “Sebenernya, gak masalah gak bawa apa-apa juga. Tapi, kebetulan di teteh ada semua bahannya. Jadi, kamu aja yang bikin. Dan teteh gak bakal bilang kalau bahannya dari teteh.”
Sejujurnya, aku ke sal mendengarnya. Aku tahu, dia seperti itu bukan karena mau membantuku. Dia hanya mau memperma lukanku.
Mas Haris, suamiku, adiknya dia, sekarang sedang mengang gur. Kehidupan kami sedang su lit. Dan sejak kami pindah ke sini, keluarga mertuaku itu selalu saja mencari cara untuk menin dasku.
Aku sering disuruh memasak di rumah mertua. Bahkan, di rumah Teh Lula juga. Alasannya, supaya aku bisa membawa masakannya pulang juga buat Mas Haris dan Berlian, putriku.
Aku tahu, itu hanya alasan. Yang sebenarnya, ereka ingin menjadikanku pemban tu gra tisan. Sebab, kalau benar-benar ingin membantu, kenapa aku harus memasak dulu? Tinggal kasih aku atau Mas Haris u ang saja, kan mudah. Kami bisa mengelolanya sendiri.
“Tapi kalau masak nasi, aku bisa,” ucapku. “Jangan bikin gorengan.”
“Yang nyiapin nasi ibu,” jawabnya.
“Terus gimana?” tanyaku lagi.
“Ini 'kan gak banyak gorengannya. Paling 30 biji. Gak bakal lama,” ucapnya masih memaksa.
“Enggak, Teh. Maaf.” Aku menunduk lagi. “Gimana kalau aku siapin lalapan aja?” Aku meliriknya cepat.
“Lalapan, sambel, sama tumisan, kan bagian Ria,” jawabnya.
“Iya, gimana kalau tukeran? Ria masak tumisan sama bikin gorengan? Aku lalapan sama sambel. Mungkin kalau cuma bikin sambel aku bisa,” ucapku.
“Ria punya bayi. Itu aja dia masih nyanggupin masak segitu,” jawabnya dengan wajah mulai terlihat ke sal.
“Ya udah, gimana nanti aja, lah, Teh. Nanti aku pikirin mau bawa apa.” Aku bangkit dari kursi.
Dia tidak menjawab.
Aku pun pamit.
Aku keluar dari rumah Teh Syira dengan langkah cepat. Udara sore terasa panas meskipun matahari sudah mulai turun.
Tanganku menggenggam plastik berisi lauk yang kubeli tadi. Da daku masih terasa sesak.
'Gorengan tiga puluh biji katanya tidak banyak.
Kalau tidak banyak, kenapa bukan dia saja yang menggoreng?'
Aku menen dang kerikil kecil di jalan dengan ke sal.
Sampai di rumah kontrakan kecil kami, pintu sudah terbuka. Mas Haris duduk di lantai ruang tengah dengan ponsel di tangan.
Wajahnya tampak lelah. Dia mendongak ketika melihatku masuk. “Dari rumah Teh Syira?” tanyanya.
“Iya.” Aku meletakkan plastik makanan di meja kecil. Lalu duduk di depannya dengan wajah yang masih ke sal.
“Kenapa?” tanyanya lagi, mulai cu riga. “Ada apa Teh Syira nyusuh kamu ke sana?”
Aku mengembuskan napas panjang. “Mas, aku capek.”
“Capek kenapa?”
Aku menatapnya ta jam. “Keluarga Mas itu, loh.”
Mas Haris langsung menegakkan punggungnya sedikit. “Kenapa lagi?”
“Tadi Teh Syira nyuruh aku bikin gorengan buat buka puasa di rumah Ibu.”
“Gorengan?” ulangnya.
“Iya. Katanya tiga puluh biji doang. Bahannya juga udah disiapin di dia. Aku tinggal goreng. Nanti, dia bakal bilang kalau gorengan itu dari aku semua bahannya juga.”
Mas Haris mengernyit. “Terus?”
“Terus apanya?” Aku mendengus. “Aku nolak, lah. Aku bilang aku lagi sering pusing kalau masak pas puasa.”
Haris terdiam beberapa detik. “Terus dia mak sa?” tanyanya pelan.
“Iya!” jawabku cepat. “Katanya gak banyak. Katanya gampang.” Aku menirukan nada bicara Teh Syira dengan wajah sebal.
“Padahal bawa aja bahannya. Biar mas yang goreng.”
Aku meliriknya tajam. “Mas, dia itu bukan mau bantu. Tapi, dia sedang merendahkan kita,” ucapku. “Kok kamu gak ngerti-ngerti!”
“Merendahkan apanya? Justru Teh Syira bantu kita biar kita gak malu nanti pas buka bersama di rumah ibu. Semua bawa makanan, kita juga.”
“Alah, kalau niat bantu, mah, kasih aja u angnya. Jadi kita tinggal beli. Kenapa aku harus kerja dulu?”
Mas Haris mengangkat wajahnya. Tatapannya sedikit berubah, tapi dia tidak langsung menjawab.
Aku semakin emosi melihat reaksinya yang seperti itu. “Mas gak ngerasa tersinggung aku diperlakukan kaya gitu?” tanyaku. “Sejak kita pindah ke sini, aku yang selalu disuruh bantu ini itu.”
“Bukan kaya gitu …,” gumamnya.
“Apa?” Aku menatapnya semakin ta jam.
“Ya … maksud mas .…” Haris menghela napas. “Mungkin mereka cuma ….”
“Cuma apa?” potongku cepat.
Dia berhenti bicara. Tangannya mere mas lututnya sendiri. Beberapa detik suasana menjadi hening. Lalu akhirnya dia berkata lagi. “Ya mungkin mereka cuma minta tolong.”
Aku langsung tertawa si nis. “Minta tolong?”
“Iya.”
“Ke aku?”
“Iya, ke kamu.”
Aku menatapnya ta jam. “Kenapa harus aku? Kenapa gak mereka aja yang kerjain sendiri? Atau, nyuruh orang lain.”
Mas Haris terdiam.
“Kayanya, keluarga kamu memang gak suka sama aku. Gak kaya dulu. Mentang-mentang kita sekarang mis kin,” geramku. “Teh Syira tadi bangga-banggain Ria. Katanya, Ria aja yang ada bayi, bisa bantuin masak.”
“Makanya, harusnya tadi bawa aja bahannya. Mas ngerjain.”
“Mas!” Aku memotong ucapannya dengan suara keras.
Mas Haris langsung diam.
Da daku naik turun menahan kesal. “Mas ngerti, gak, dari tadi aku ngomong apa? Aku ini bukan pem bantu! Mereka bukan mau bantu kita, tapi mau merendahkan!”
Mas Haris bangkit tanpa bicara apa-apa.
“Mau kemana?” tanyaku cepat.
“Ke luar,” jawabnya sambil membuka pintu.
A marahku semakin membara. Karena, aku belum puas mengeluarkan unek-unek dan tanggapan Mas Haris malah seperti itu. Jangankan menegur saudara-saudaranya itu. Yang ada, dia malah membela mereka.
Aku mengepalkan tangan. Aku tidak akan pernah mau ditin das keluarga suami yang sok baik itu!
“Ma, ada yang telepon.” Berlian keluar dari kamar. Dia memberikan ponsel yang sejak tadi dimainkannya.
Aku menerimanya. Lalu, menjawab telepon dari Bu Mira, tetangga depan gang. “Iya, Bu,” ucapku.
“Mbak Cita bisa ke sini sekarang? Bantu saya masak sedikit lagi. Khawatir gak keburu. Mau ada acara bukber di rumah,” terangnya.
“Oh … iya, Bu. Saya ke sana sekarang.”
“Ditunggu, ya ….”
“Iya, Bu.” Aku langsung menyuruh Berlian untuk tetap di rumah. Sedangkan aku segera bergegas ke rumah Bu Mira.