Rania saraswati seorang mahasiswi jenius, membuat riset tentang mati suri. Gadis periang dan tomboi ini mengalami kejadian yang aneh. Tiba-tiba jiwanya tertukar dengan seorang gadis kaya raya yang tertindas
Rania menolong gadis yang telah di siksa dan di perlakukan tidak manusiawi oleh ibu, paman dan saudara tirinya. Rania yang telah bertukar jiwa dengan gadis bernama Clara berusaha melawan orang-orang yang telah menindasnya.
Masalah tidak sampai disitu, Clara telah di jodohkan oleh pria kaya raya bernama Radit manggala putra, pria dingin dan angkuh. Pria ini sulit jatuh cinta dengan lawan jenisnya bahkan menolak mentah-mentah bila di jodohkan oleh sang kakek. Namun, siapa sangka ia tertarik dengan wanita bar-bar bernama Clara, yang telah bertukar jiwa dengan Rania.
Lalu bagaimana kah kehidupan Clara dan Rania setelah tertukar jiwa?'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rania vs Clara
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Maria yang sedang menjahit pakaian. Ia berdiri dan membuka pintu.
"Rania!"
Gadis cantik itu tersenyum dan memeluk sang ibu. Maria mengusap lembut punggung anak gadisnya. Ia merasakan perubahan dratis pada anaknya Rania. Gadis itu sangat lembut dan tidak bar-bar seperti Rania yang dulu.
Walaupun Rania sosok wanita yang baik, penurut dan penyayang, tapi ia sangat keras kepala. Kemauannya sangat kuat dan tidak bisa terbantahkan. Namun, melihat anak gadisnya sekarang yang jauh berbeda dari sifat aslinya dulu, membuat Maria bingung.
"Anak mama baru pulang, mama sudah masak makanan kesukaan mu. Ayo masuk."
Clara berjalan masuk dan duduk di sofa, ia melepas sepatu sport nya.
"Rania."
"Iya bu!"
"Kenapa sekarang kamu tidak pernah lagi membawa motor kesayangan mu. Sayang kalau tidak pernah di pakai lagi."
Clara terdiam, sebenarnya ia tidak bisa memakai motor besar itu, motor yang cocok untuk di gunakan laki-laki. Ia memilih naik bus untuk berangkat ke kampus.
"Tidak apa-apa bu, aku hanya ingin naik bus.'
"Tapi naik bus sangat lama di perjalanan, sesekali pakai lah motor itu."
Clara hanya mengangguk tanpa mau membantah. "Aku mandi dulu bu."
"Ya sudah, ibu tunggu di meja makan."
Usai mandi Clara menemui Maria di meja makan. Hidangan sederhana dan penuh kehangatan selalu Clara rasakan. Ia begitu nyaman berada di sisi Maria. Seorang ibu yang baik dan penuh kasih sayang, hal yang tidak pernah Clara rasakan sajak kecil. Sang Mama meninggal saat dirinya berusia tujuh tahun, lalu ayahnya memilih menikah lagi dengan Ratih dan membawa putrinya.
Selama masih ada sang ayah, sikap Ratih sangat baik dan penuh perhatian padanya. Ternyata kebaikan ibu tirinya mempunyai maksud tertentu hingga ia tidak tahu rencana ibu tirinya. Kasih sayang yang Ratih berikan padanya hanya sebuah drama. Setelah ayahnya David meninggal tiga tahun yang lalu, kehidupannya berubah drastis. Hinaan, cacian dan pukulan bertubi-tubi kerap kali ia rasakan.
Ibu tiri sangat berkuasa dan Kakak tiri bak seorang putri di rumahnya. Penderitaan Clara terus di jalani selama bertahun-tahun, tanpa mendapatkan pembelaan dari siapapun. Ia seperti hidup sendiri tanpa arah tujuan. Sang kakek tidak pernah melihat ataupun datang kerumahnya. Ia hanya menyuruh seorang asisten memberikan uang setiap bulannya. Bahkan kelurga besarnya tidak pernah tahu penderitaan yang dialami Clara.
Ya Ramos sang kakek hanya memberikan kewajiban pada cucunya setelah ayahnya David meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sejak dulu Ramos tidak pernah menyukai cucu perempuan, itu yang membuat mantunya depresi dan meniggal. Pria paruh baya itu kerapkali menjodohkan Clara dengan anak rekan bisnisnya. Tapi nyatanya perjodohan itu selalu gagal akibat ulah Ratih dan Ronald.
"Nak, kenapa tidak pernah ikut perlombaan taekwondo lagi. Bukankah impian mu selalu ingin jadi juara. Motor besar itu kamu beli dari menang kejuaraan internasional."
Ak-u, Ingin rehat dari semua perlombaan bu."
"Ap-apa?! Maria terkejut, ia tidak menyangka mendengar ucapan anak gadisnya. selama ini Rania sangat antusias bila ada perlombaan taekwondo dan ia selalu menang.
"Kenapa kamu berkata begitu? Ibu sangat tahu keinginan terbesar mu. ingin ikut perlombaan olimpiade tahun ini sebagai perwakilan dari negara kita. Tapi kenapa sekarang berubah pikiran?"
Clara mengeratkan jemarinya, ia bingung harus berkata jujur atau tidak? Kalau sebenarnya ia bukanlah Rania. Tapi apa ibunya akan percaya kalau dirinya bukan Rania. Berbagai pertimbangan terus Clara pikirkan, ia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.
"Tidak! Belum saat ia tahu kalau aku bukan anak kandungnya." gumam Clara lirih.
"Bu, aku hanya ingin rehat sejenak, dan aku ingin jadi wanita anggun. Aku tidak ingin terlihat seperti wanita tomboy."
Maria menatap anak gadisnya, seakan tidak percaya dengan ucapan yang baru keluar dari mulutnya. "Kamu benar-benar ingin jadi wanita feminim?"
"Iya bu."
"Baiklah kalau itu keinginan mu, ibu tidak bisa memaksa mu untuk ikut perlombaan lagi."
"Maafkan Rania bu." ucap Clara datar.
Esoknya.
Seperti biasanya Rania bangun pagi-pagi dan mandi, lalu bersolek didepan kaca. Ia tidak pernah menggunakan dress atau rok yang biasa di gunakan Clara bila ke kampus. Ia lebih memilih celana panjang jeans dan kemeja
Clara dan Rania adalah dua gadis yang bertolak belakang dari cara sikap dan penampilannya. Clara gadis lembut dan penakut, sedangkan Rania gadis pemberani dan tomboi.
Ia keluar dari kamar dan mendengar suara jeritan tangisan seseorang. Rania menuruti anak tangga menuju sebuah pantry.
"Rasakan ini!'
"PLAKK -PLAKK- PLAKK!
"Ampun nyonya, sakit!
"Saya mohon, ampuni saya!
Rania terkejut saat melihat Ratih sedang mencambuk Anne, gadis itu menjerit sambil memohon di kaki Ratih.
Rania sangat murka, ia berjalan mendekat dan menarik cambuk dari tangan Ratih.
"Sungguh biadab perbuatan mu!" teriak Rania.
Ratih terkejut dan menatap tajam pada Rania. "Jangan ikut campur dengan urusan ku!"
"Tentu saja aku akan ikut campur, kau mencambuk Anne seperti binatang!" seru Rania sambil mengangkat tubuh Anne yang sudah lemas.
"Bangun Anne, wanita iblis ini bukan tuhan!"
"Aku tidak kuat berdiri." ucap Anne, bibirnya bergetar.
"Apa kesalahan Anne, sampai Kamu menyiksanya!"
Ratih melipat kedua tangannya di dada. "Tentu saja kesalahan dia sangat banyak. "Dia berani mencuri uang ku, dan melanggar aturan di rumah ini!'
"Anne tidak pernah mencuri! Teriak Rania. "Aku yang mengambil uang ku sendiri di kamar mu! Kalau kau masih menyakiti Anne, aku tidak akan toleransi lagi!" ancam Rania.
"Itu semua uang ku, kembalikan pada ku Clara!"
"Kenapa? Apa kau begitu miskin hingga mengemis meminta uang itu!"
"Ka-u!" tunjuk Ratih "Ingat, aku tidak akan tinggal diam, aku akan ceritakan semua kebusukan mu pada asisten Frans!"
Rania terkekeh "Ceritakan saja, kau pikir aku akan takut?! Apa kamu tidak takut, kalau aku bisa membalikkan keadaan!" hahahaha
Ratih semakin kesal, ia menghentakkan kakinya ke lantai, lalu melangkah pergi.
"No-na, hiks.." Anne menangis sesenggukan.
"Kamu aman sekarang ann, aku tidak akan membiarkan wanita tua itu menyakiti mu lagi."
"Tapi bagaimana bila nona tidak ada di rumah, pasti nyonya Ratih, tuan Ronald dan nona Monica akan menyakiti ku lagi."
"Kamu tenang saja, aku akan buat pelajaran berkali-kali lipat pada mereka, bila menyakiti mu lagi. Kalau ada apa-apa hubungin aku, aku akan secepatnya datang."
Anne mengagguk
"Ayo aku antarkan ke kamar mu."
Rania memapah tubuh Anne menuju kamarnya.
Oiya All, Bunda lupa sebenarnya nama anaknya Ratih Monica bukan Bianca. sorry ya typo nama beberapa episode 😁 nanti bunda revisi ulang. Kembali namanya semula "Monica"
Ikuti kelanjutannya, jangan putus di tengah jalan. Makin kesini makin seru dan menantang.
💜💜💜💜
lg seru soalnya 🤣🤣😍