Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — Pecahan Masa Lalu
“Aku punya sesuatu yang mungkin menarik bagi kalian.”
Pria kurus itu berdiri di tengah ruangan yang terlalu terang untuk sebuah pertemuan ilegal. Lampu neon putih di langit-langit memantulkan bayangan pucat di wajahnya yang cekung, membuat setiap kerutan di dahinya tampak seperti parit dalam. Ia tampak tidak nyaman, jemarinya terus memutar-mutar ujung korek api perak di saku celananya.
Di seberangnya, dua pria berjas gelap duduk tanpa ekspresi. Mereka adalah personifikasi dari keheningan yang mengancam. Ruangan itu kedap suara, menciptakan atmosfer vakum yang seolah menghisap udara dari paru-paru siapa pun yang masuk ke sana.
Salah satu dari mereka akhirnya memecah keheningan dengan suara yang rendah dan tajam. “Kami tidak datang jauh-jauh hanya untuk membeli rumor murahan dari tikus jalanan.”
Pria kurus itu tersenyum tipis, memperlihatkan gusi yang pucat. “Bagus. Karena aku tidak sedang menjual rumor. Aku menjual konfirmasi.”
Ia merogoh saku jaketnya yang kusam dan meletakkan sebuah foto di atas meja logam yang mengkilap. Foto itu tidak diambil dengan kualitas tinggi, namun subjeknya sangat jelas: sebuah bangunan kecil di sudut kumuh Distrik 6 dengan papan kayu tua yang menggantung miring.
Tulisan cat pada papan itu hampir pudar dimakan cuaca, namun masih bisa terbaca bagi mereka yang tahu apa yang harus dicari. Klinik Arden.
Pria berjas pertama menatap foto itu tanpa menyentuhnya. “Lalu. Apa hubungan klinik sampah ini dengan kami?”
Pria kurus itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang dingin, merasa sedikit lebih percaya diri. “Kalian kehilangan seorang ilmuwan penting lima tahun lalu. Sebuah aset yang harganya tidak bisa dihitung dengan angka.”
Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Pria berjas kedua menatap pria kurus itu dengan tatapan yang bisa membekukan darah.
“Kau berbicara terlalu jauh, Tikus,” desis pria berjas kedua. “Ada batas yang tidak boleh kau lewati jika masih ingin bernapas.”
Pria kurus itu tidak gentar. Ia mengeluarkan sebatang rokok, namun tidak menyalakannya. “Ledakan laboratorium di sektor utara. Semua orang di dalamnya dianggap mati terbakar. Berkas ditutup. Kasus dianggap selesai.”
Ia menghembuskan napas pelan seolah sedang membuang asap yang tidak ada. “Namun, ada satu detail yang terlewatkan. Tidak ada DNA yang benar-benar bisa diverifikasi dari puing-puing itu.”
Pria berjas pertama akhirnya mengambil foto itu. Jemarinya yang mengenakan sarung tangan kulit hitam menyentuh permukaan foto dengan hati-hati. “Jika kau hanya ingin bunuh diri malam ini dengan membawa-bawa arsip lama kami, silakan lanjutkan.”
Pria kurus itu mengangkat kedua tangannya dengan santai, telapak tangannya terbuka lebar. “Aku hanya ingin mengatakan satu hal yang sangat sederhana. Wanita yang bekerja di klinik Arden ini memiliki struktur wajah yang sangat mirip dengan seseorang yang pernah memimpin proyek besar kalian.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. Suhu seolah anjlok beberapa derajat dalam sekejap. Pria berjas pertama memicingkan mata, meneliti bayangan seorang wanita yang tertangkap kamera sedang menutup pintu klinik dalam foto tersebut.
“Dari mana kau mendapatkan informasi ini?” tanya pria berjas pertama dengan nada yang lebih menuntut.
“Dari seorang kurir yang hampir mati di depan pintunya beberapa jam lalu,” jawab pria kurus itu tenang.
Pria berjas kedua mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat di bawah lampu neon. “Kurir.”
Pria kurus itu mengangguk cepat. “Kalian mungkin sudah mendengar keributan di pelabuhan dan kereta barang tadi malam. Dunia bawah sedang membicarakan seorang pembantai baru.”
Ia tersenyum lebih lebar kali ini. “Mereka memanggilnya Phantom.”
Keheningan kembali turun selama beberapa detik. Pria berjas pertama berdiri, diikuti oleh rekannya. Gerakan mereka sinkron, seperti mesin yang diprogram dengan sempurna.
“Berapa harganya?” tanya pria berjas pertama.
Pria kurus itu mengangkat tiga jari tanpa ragu sedikitpun. “Tiga ratus ribu. Bersih.”
“Hanya untuk sebuah foto bangunan tua?”
“Bukan untuk fotonya,” ralat pria kurus itu dengan suara rendah yang penuh arti. “Tapi untuk kemungkinan bahwa aset berharga kalian yang seharusnya sudah menjadi abu lima tahun lalu ternyata masih hidup dan menjahit luka orang asing di Distrik 6.”
Pria berjas pertama memandangi foto itu sekali lagi sebelum memasukkannya ke dalam saku jasnya. Ia tidak tersenyum, tidak pula mengangguk. Ia hanya memberikan perintah pendek kepada asistennya yang berada di luar ruangan melalui sub-dermal communicator.
“Transfer,” katanya singkat.
Pria kurus itu segera memeriksa ponselnya. Saat angka-angka itu muncul di layarnya, ia membungkuk sedikit dengan ekspresi puas. “Senang berbisnis dengan Helix. Semoga kalian menemukan apa yang kalian cari.”
Motor Leon berhenti di bawah jembatan beton Distrik 2 yang gelap dan lembap. Mesin dimatikan, meninggalkan suara detak logam panas yang perlahan mendingin. Di bawah jembatan, sungai hitam mengalir dengan suara gemericik pelan, membawa aroma lumpur dan limbah kota.
Leon duduk diam di atas motornya selama beberapa saat sebelum melepas helmnya. Udara malam yang segar menghantam wajahnya yang pucat. Ia meringis sedikit saat otot perutnya menegang, mengingatkannya pada jahitan baru yang ada di balik jaketnya.
Suara Gray muncul di earpiece, memecah kesunyian malam. “Status biometrikmu membaik, Leon. Detak jantungmu kembali ke frekuensi istirahat.”
“Aku masih hidup,” jawab Leon datar sambil menyandarkan punggungnya pada stang motor.
“Dokter di Distrik 6 itu melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa untuk ukuran klinik ilegal,” komentar Gray di sela suara ketikan keyboard. “Jahitannya rapi dan simetris. Dia bukan sekadar lulusan sekolah medis amatir.”
Leon tidak menanggapi pujian Gray. Ia menatap ke arah pantulan lampu kota di permukaan sungai yang berminyak. “Cukup soal luka ini. Apa perkembangannya?”
Gray terdiam sejenak. Suara jemarinya yang menari di atas papan ketik terdengar lebih intens. “Ada perkembangan yang cukup mengganggu di jaringan gelap.”
Leon menunggu, ia tahu Gray sedang memilah data mana yang paling relevan.
“Bounty atas namamu naik lagi,” kata Gray akhirnya.
“Sudah kuduga,” sahut Leon tanpa sedikit pun nada terkejut. “Viper hanya pembuka jalan.”
“Bukan hanya itu yang membuatku khawatir,” lanjut Gray dengan nada suara yang lebih berat. “Seseorang baru saja menjual informasi baru malam ini di bursa intelijen tingkat tinggi.”
Leon mengangkat alis sedikit, merasakan firasat buruk mulai merayap di tengkuknya. “Informasi apa lagi?”
“Seorang kurir yang terluka di Distrik 6,” jawab Gray. “Informasinya sangat spesifik.”
Leon menghela napas pendek, menahan rasa perih di perutnya. “Itu tidak mengejutkan. Banyak tikus di gang-gang itu yang siap menjual apa pun demi uang receh.”
Gray terdiam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. “Ada detail tambahan yang tidak biasa dalam transaksi ini, Leon.”
Leon menatap lampu-lampu pencakar langit di kejauhan yang tampak seperti jarum-jarum cahaya. “Apa?”
Gray berbicara dengan volume yang lebih kecil, seolah takut ada frekuensi asing yang menyadap pembicaraan mereka. “Orang yang menjual informasi itu tidak hanya menyebut namamu. Dia menyebut satu lokasi spesifik dengan koordinat GPS yang akurat.”
Leon menatap tanah yang berlumut di bawah sepatunya. “Banyak klinik di Distrik 6. Itu bukan informasi yang sulit ditemukan jika mereka melacak jejak darahku.”
“Benar,” sahut Gray cepat. “Namun hanya satu nama klinik yang disebut secara gamblang dalam transaksi eksklusif itu.”
Leon berkata dengan nada datar yang menutupi kecemasannya. “Sebutkan.”
Gray membaca data yang baru saja ia dekripsi sepenuhnya. “Klinik Arden.”
Sunyi kembali menguasai bawah jembatan itu. Leon menatap kembali ke arah jalan raya di kejauhan, di mana lampu-lampu motor melintas seperti komet yang kesepian. Ia teringat wajah dokter itu; ekspresi lelahnya, cara dia menjahit tanpa ragu, dan peringatannya tentang dua pria di ujung gang.
“Masalah?” tanya Leon singkat.
“Belum secara langsung untukmu,” jawab Gray. “Namun ada satu hal yang membuatku tidak bisa tenang. Pembeli informasi itu bukan dari kalangan pemburu bayaran atau sindikat jalanan yang biasanya mengejarmu.”
Leon mengenakan kembali helmnya, mengunci visor kegelapan di depan matanya. “Lalu siapa?”
Gray menarik napas panjang, sebuah suara yang menandakan kegelisahan yang mendalam. “Sebuah organisasi korporat yang bergerak di luar jangkauan hukum publik.”
Leon memutar gas motornya sedikit, menciptakan geraman rendah dari mesinnya. “Aku tidak peduli dengan urusan korporasi. Selama mereka tidak menghalangi pengirimanku, itu bukan urusanku.”
Gray menyahut dengan nada yang jauh lebih serius daripada sebelumnya. “Kau mungkin akan segera peduli, Leon.”
Leon memutar motornya, bersiap untuk keluar dari bawah jembatan dan kembali ke jalanan kota yang kejam. “Kenapa?”
Gray menjawab dengan suara pelan yang terdengar seperti sebuah peringatan kematian. “Karena organisasi itu dikenal memiliki satu kebijakan yang sangat ekstrem. Mereka tidak pernah membiarkan sesuatu yang seharusnya sudah mati tetap hidup di dunia ini.”
Motor Leon meluncur masuk ke jalan raya, menyatu dengan arus kendaraan yang bergerak seperti aliran darah di arteri kota. Lampu-lampu jalan memantul di visor helmnya, menciptakan garis-garis cahaya yang tidak terputus.
“Sebutkan namanya,” perintah Leon singkat.
Sunyi terjadi selama sepersekian detik di saluran earpiece Leon, hanya ada suara statis halus yang mengiringi.
Lalu Gray menjawab dengan satu kata yang membuat Leon secara tidak sadar mempercepat laju motornya. “Helix.”