NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Gerbang SMA Lentera Cendekia tampak megah dan ramai pagi itu.

Quinn melangkah masuk dengan penuh percaya diri, tas disampirkan di bahu, rambut panjangnya yang hitam dibiarkan tergerai, hingga bergerak lembut saat diterpa angin pagi.

Belum lima langkah—

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Anak baru ya?”

“Cantik banget…”

“Fix bukan anak sembarangan.”

Quinn pura-pura tidak dengar.

“Tenang, Quinn. Fokus cari ruang kepala sekolah. Bukan cari fans club.” gumamnya santai.

Ia berjalan menyusuri koridor. Belok kiri. Mentok. Belok kanan. Mentok lagi.

“Ini sekolah apa labirin sih…” keluhnya pelan.

Sudah muter hampir sepuluh menit, tapi ruang kepala sekolah belum juga ketemu.

Akhirnya ia melihat seorang siswi berjalan dari arah berlawanan. Rambut pendek, tatapan tajam, aura cool.

Quinn langsung menghentikannya.

“Eh, sorry. Gue mau nanya.”

Siswi itu berhenti dan menatap Quinn dari atas sampai bawah.

“Lo anak baru?”

“Iya. Kelihatan banget ya?”

“Banget. Aura ‘pindahan mahal’-nya nyala.”

Quinn terkekeh.

“Gue lagi nyari ruang kepala sekolah. Tapi kayaknya kepala sekolahnya sengaja sembunyi dari gue.”

Siswi itu tersenyum tipis.

“Ruangannya di gedung utama lantai dua. Tapi kalau lo jalan sendiri bisa nyasar lagi.”

Quinn menghela napas dramatis.

“Please, selamatkan gue dari kesesatan.”

Siswi itu memutar badan.

“Ikut gue!" titahnya, lalu menoleh pada Quinn, "Nama gue Vexa.”

“Quinn.”

“Nama lo cocok. Kedengeran mahal.”

“Gue emang mahal.” jawab Quinn santai.

Vexa terkekeh pelan. “Oke, gue suka kepercayaan diri lo.”

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor.

Tiba-tiba—

BROOOOMMMM!!!

Suara motor sport meraung keras dari arah gerbang sekolah.

Semua murid spontan menoleh.

Beberapa cewek menjerit kecil.

“AAAA! Ravenix dateng!”

“Ya ampun, Ravenix!”

Quinn ikut berhenti melangkah.

Dari kejauhan terlihat beberapa motor sport masuk beriringan. Mesin mereka berat dan bertenaga. Aura mereka langsung menguasai suasana sekolah.

“Wow…” gumam Quinn pelan. “Sekolah lo kayak arena balap.”

Vexa mendesah.

“Itu mereka.”

“Mereka siapa?”

“RAVENIX.”

Quinn mengangkat alis.

“Geng motor?”

“Iya. Dan bukan geng kaleng-kaleng.”

Motor-motor itu berhenti di parkiran khusus. Helm dilepas satu per satu. Beberapa murid langsung menunduk, beberapa malah sibuk ngelihatin diam-diam.

“Ditakuti banget?” tanya Quinn santai.

Vexa menoleh ke arahnya serius.

“Lo baru di sini, jadi gue kasih saran. Jangan pernah cari masalah sama Ravenix.”

“Kenapa? Mereka galak banget?”

“Galak? Itu kata halusnya.” Vexa menyilangkan tangan. “Mereka nggak suka diusik. Nggak suka drama. Nggak suka orang sok berani.”

Quinn menyeringai kecil.

“Berarti cocok sama gue. Gue juga nggak suka drama.”

Vexa langsung berhenti dan menatap Quinn tajam.

“Jangan sok berani. Serius. Kalau lo mau sekolah tenang, jaga jarak.”

Quinn memperhatikan salah satu dari mereka sekilas dari kejauhan, meski wajah mereka tidak terlalu jelas, tapi ia yakin bahwa mereka pasti sekumpulan cowok tampan. Jika tidak, mana mungkin para siswi menjerit heboh seperti itu.

“Aura mereka sih memang beda…”

Vexa mengangguk.

“Biarpun mereka kejam dan ditakuti, mereka juga murid pintar. Ranking atas semua. Jadi guru pun nggak bisa asal sentuh.”

“Combo lengkap ya. Bad boy tapi otak encer.”

“Exactly.”

Salah satu motor meraung lagi sebelum dimatikan. Suasana makin heboh.

Quinn memiringkan kepala.

“Ketua mereka siapa?”

Vexa menatapnya curiga.

“Kenapa? Tertarik?”

Quinn cepat-cepat mengangkat tangan.

“Woah, santai. Cuma nanya.”

Vexa mendekat sedikit.

“Pokoknya lo inget. Jangan terlalu lama natap. Jangan cari perhatian. Dan jangan sampai nama lo masuk radar mereka.”

Quinn tersenyum tipis.

“Gue bukan tipe yang cari masalah.”

Vexa menyeringai.

“Tapi lo keliatan tipe yang masalah bakal nyamperin sendiri.”

Quinn tertawa pelan.

“Kalau masalahnya ganteng sih nggak apa-apa.”

Vexa geleng-geleng kepala.

“Lo bahaya.”

Quinn mengedip santai.

“Hidup harus ada tantangan.”

Vexa menghela napas.

“Ya udah. Yang penting gue udah ngingetin. Yuk, lanjut. Nanti kepala sekolahnya beneran kabur.”

Quinn mengangguk.

Mereka kembali melangkah menuju gedung utama.

Di belakang mereka, suara mesin motor benar-benar mati.

Tapi entah kenapa—

Quinn merasa seperti ada sepasang mata tajam yang sempat menangkap sosoknya dari kejauhan.

Dan tanpa ia sadari, langkah pertamanya di SMA Lentera Cendekia tidak akan pernah benar-benar tenang.

...----------------...

Bel masuk berbunyi tepat saat Quinn berdiri di depan pintu kelas 11 IPS 5 bersama guru Ekonomi yang bernama Bu Mira.

Suasana kelas yang tadinya ribut langsung mendadak hening… lalu berubah jadi heboh.

“Anak baru?!”

“Anjir… cantik banget.”

“Fix pindahan kota besar.”

Bu Mira berdehem.

“Tenang! Tenang semuanya! Ini murid baru. Silakan perkenalkan diri.”

Quinn melangkah maju dengan santai. Tatapannya tenang, dagunya sedikit terangkat.

“Hai. Nama gue Vierra Quinn Maverick. Panggil aja gue Quinn. Pindahan dari Bandung. Salam kenal.”

Singkat. Padat. Elegan.

Kelas malah makin ribut.

“Bandung?! Pantes stylish!”

“Quinn, IG lo apa?”

“Nomor WA dong!”

“Follow back ya nanti!”

Quinn hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.

Salah satu cowok bahkan berdiri setengah badan.

“Quinn, lo jomblo nggak?”

Seluruh kelas bersorak.

Quinn memiringkan kepala.

“Gue baru pindah. Belum buka lowongan.”

“WOOOHHH!” kelas makin pecah.

Guru langsung mengetuk meja.

“Cukup! Ini bukan ajang pencarian jodoh. Quinn, silakan duduk di kursi kosong sebelah Vexa.”

Quinn menoleh—dan tersenyum begitu melihat Vexa mengangkat alisnya dari bangku belakang dekat jendela.

Quinn berjalan ke sana diiringi tatapan kagum setengah kelas.

Begitu duduk, Vexa menyeringai kecil.

“Kayaknya kita emang jodoh buat jadi besti.”

Quinn langsung menjentikkan jarinya.

“I hope so.”

Vexa terkekeh.

“Gue suka gaya lo tadi. Singkat, nggak banyak bacot.”

“Ngapain panjang-panjang. Nanti dikira pidato caleg.”

Vexa tertawa pelan.

“Welcome to 11 IPS 5. Tempat cowok-cowok haus validasi.”

Quinn melirik ke arah depan, beberapa cowok masih noleh-noleh ke arahnya.

“Kerasa sih.”

“Biasanya mereka cuma heboh seminggu. Habis itu normal lagi.”

“Semoga.” jawab Quinn santai.

Vexa mencondongkan badan sedikit.

“Lo belum ketemu drama aslinya sekolah ini.”

Quinn mengangkat alis.

“Ravenix?”

Vexa cuma menyeringai tanpa jawab.

Sementara itu—

Di rooftop sekolah.

Angin berhembus cukup kencang. Empat sosok duduk santai di atas tembok pembatas.

Ryuga bersandar tenang, rokok menyala di sela jarinya.

Zayden berdiri dengan gaya cool.

Keano duduk selonjoran sambil ketawa sendiri menatap ponselnya.

Elric diam seperti patung es.

“Jadi besok latihan di bengkel lama atau di markas?” tanya Zayden santai.

“Markas. Bengkel lagi dipake anak baru.” jawab Ryuga pendek.

Keano meniup asap rokoknya.

“Eh ngomong-ngomong, ranking lo aman kan, Ga? Jangan sampe ketua Ravenix remedial. Malu kita.”

Ryuga mendengus.

“Aman.”

Elric menambahkan dingin,

“Yang nggak aman itu lo, No.”

“WOI!” Keano protes. “Gue cuma kurang fokus!”

Zayden tertawa kecil.

Tapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

Ryuga… nggak ikut nimbrung.

Cowok itu malah sedikit menjauh, memegang ponselnya, dan—

Tersenyum tipis. Tapi sedetik kemudian sorot matanya berubah, seperti kecewa dan menahan amarah.

Zayden menyipitkan mata.

“Ga…”

Ryuga tak menjawab.

Zayden melangkah pelan mendekat, lalu—

SRET!

Ponsel itu langsung dirampas dari tangan Ryuga.

Ryuga tersentak.

“Balikin.”

Tatapannya tajam. Suaranya rendah.

Zayden mengangkat ponsel tinggi-tinggi.

“Wah wah wah… siapa nih?”

Di layar terpampang foto seorang gadis cantik dengan senyum percaya diri.

Zayden membeku sepersekian detik.

“Anjir…”

Keano langsung bangkit.

“Apa sih? Mana liat!”

Elric pun mendekat pelan, ekspresinya tetap datar.

Zayden masih terpaku.

“Cantik banget…”

Keano ikut melongok dan langsung heboh.

“GILA. Ini manusia apa filter AI?”

Elric menatap layar sebentar.

“Visualnya tinggi.”

Ryuga berjalan mendekat, rahangnya mengeras.

“Zayden. Balikin.”

Zayden masih senyum jahil.

“Sejak kapan lo simpen foto cewek di galeri? Lo kan anti.”

Ryuga meraih, tapi Zayden menghindar.

Keano menepuk pundak Ryuga.

“Pantes aja lo nggak tertarik sama Naomi. Ternyata udah punya pawang yang cantiknya ngalahin AI.”

Ryuga langsung menatap Keano tajam.

“Bukan urusan lo.”

“OHOOO! Sensitif!” Keano ngakak.

Zayden menggoda lagi,

“Ini siapa? Anak mana? Jangan bilang lo lagi kasmaran?”

Ryuga akhirnya berhasil merebut ponselnya dengan cepat.

“Bukan siapa-siapa.”

Ia menyimpan ponsel itu ke saku jaketnya.

Zayden menyeringai.

“Lo senyum tadi. Gue liat.”

“Halusinasi.”

Keano menyikut Elric.

“Ketua kita kena virus cinta.”

Elric menatap Ryuga sekilas.

“Mungkin.”

Ryuga membuang puntung rokoknya.

“Gue cuma lagi mikir.”

“Mikirin dia?” sahut Keano cepat.

Tatapan Ryuga makin tajam.

“Keano.”

“Oke oke, santai.”

Zayden menyandarkan punggung ke tembok.

“Serius, Ga. Kalau itu cewek yang bikin lo senyum, gue jadi penasaran. Tapi...” ia memicing menatap Ryuga. "tadi gue perhatiin lo kayak marah gitu sama dia?"

Ryuga terdiam sesaat.

Angin rooftop berhembus, membuat rambutnya sedikit berantakan.

Dengan suara rendah ia berkata,

“Lo nggak perlu tau.”

Keano masih belum puas.

“Minimal kasih tau namanya lah!”

Ryuga menatap jauh ke horizon sekolah.

“Rara.”

Hening sepersekian detik.

Zayden mengangguk pelan.

“Nama yang cantik.”

Ryuga tak menjawab.

Tapi satu hal jelas—

Untuk pertama kalinya, ketua Ravenix yang dingin dan tak tersentuh itu… terlihat terusik hanya karena satu nama.

...----------------...

Bel istirahat berbunyi nyaring.

Vexa langsung berdiri lebih dulu.

“Yuk ke kantin. Kalau telat lima menit aja, risol legendnya habis.”

Quinn ikut bangkit santai.

“Sekolah lo serius banget soal makanan.”

“Serius dong. Di sini ranking boleh turun, tapi jangan sampai nggak kebagian ayam geprek Bu Ranti.”

Quinn tertawa kecil.

“Lo lucu juga ya.”

“Gue tau,” jawab Vexa pede. “Di kantin tuh ada es kopi yang bikin mantan pengen balikan.”

Quinn terkekeh lagi.

“Kayaknya gue bakal cocok sama kantin sini.”

Sepanjang koridor menuju kantin, Vexa terus ngoceh soal menu andalan, tukang bakso favorit, sampai minuman yang katanya “wajib hukumnya”.

Quinn mendengarkan sambil sesekali tertawa.

Dalam hati ia bergumam,

"Finka pasti bakal cocok banget sama Vexa… sama-sama cerewet dan lebay."

Senyumnya sedikit melembut karena rindu.

Tiba-tiba—

BRAK.

Quinn menabrak sesuatu yang keras.

Atau lebih tepatnya—seseorang.

Tubuhnya hampir terhuyung jatuh, tapi satu tangan sigap menahan pinggangnya.

Waktu seperti melambat.

Quinn mendongak.

Ryuga.

Tatapan mereka bertemu.

Hening.

Degup jantung Quinn terasa keras di telinganya sendiri.

Ryuga mematung. Matanya menatap Quinn tanpa berkedip, seolah takut sosok di depannya menghilang lagi seperti bayangan di lampu merah waktu itu.

Ada kerinduan jelas di sana.

“Lo…” suara Ryuga rendah, hampir tak terdengar.

Quinn tersadar duluan. Ia buru-buru melepaskan diri dari pegangan Ryuga.

“Sorry.” katanya cepat, lalu menegakkan tubuhnya.

Suasana mendadak canggung.

Vexa yang berdiri di samping Quinn melirik bergantian.

“Eh… kalian saling kenal?”

"Teman SMP." jawab Quinn datar.

"Oh ya?! Jadi—"

Kalimat Vexa terpotong saat Quinn melotot padanya, memberikan tatapan peringatan agar ia diam.

Vexa langsung kincep.

“Oke. Nggak nanya lagi.”

Ryuga masih diam. Tatapannya belum lepas dari Quinn.

Seakan banyak hal yang ingin ia katakan, tapi tak satu pun keluar.

Akhirnya Quinn bersuara duluan, ketus.

“Lo masih hidup ternyata.”

Ryuga menelan ludah pelan.

“Hai.”

Jantung Quinn langsung berdebar hanya karena mendengar suara lembut Ryuga.

Hening.

Langkah kaki murid lain lalu-lalang di sekitar mereka, tapi suasana di antara keduanya terasa terisolasi.

Ryuga membuka mulut,

“Lo—”

“Ryuga!”

Suara lembut memotong.

Naomi datang dari arah belakang, wajahnya cerah… sampai ia melihat siapa yang berdiri di depan Ryuga.

Ekspresinya sedikit berubah.

“Quinn?” katanya terkejut. “Kamu sekolah di sini?”

Quinn menatap Naomi datar.

“Hm.”

Jawaban singkat. Tanpa senyum.

Tatapannya sempat bergeser pada jarak antara Naomi dan Ryuga, juga kotak bekal berwarna pink di tangan Naomi.

"Ternyata dia masih sama Naomi…" batinnya pahit.

Naomi mencoba tersenyum ramah.

“Wah… kebetulan banget ya. Kamu pindahan?”

"Menurut lo?" ketus Quinn menatap sinis Naomi.

Kemudian ia dengan cepat meraih pergelangan tangan Vexa.

“Ayo kita ke kantin, Xa. Panas. Gue mau yang adem-adem.”

Nada suaranya terdengar sinis halus.

Vexa masih bingung.

“Eh—iya. Yuk.”

"Duluan." pamit Quinn ketus, lalu berjalan melewati Ryuga tanpa menoleh lagi.

Ryuga berdiri kaku.

Alisnya mengerut tajam melihat punggung Quinn menjauh.

Tanpa sadar, tangannya mengepal.

Naomi memperhatikan perubahan ekspresi itu.

Ia meremas ujung roknya pelan.

“Ryuga…” panggilnya hati-hati.

Ryuga tak langsung menjawab.

Tatapannya masih mengikuti langkah Quinn yang semakin jauh.

Naomi memaksakan senyum kecil.

“Kamu udah makan? Ini aku bawain bekal buat kamu.” katanya sambil mengangkat kotak bekalnya.

Ryuga menatapnya datar.

“Gue nggak laper.”

Kalimat itu membuat dada Naomi terasa tidak nyaman.

Di sisi lain—

Vexa menarik Quinn sedikit menjauh dari keramaian.

“Lo mau jelasin nggak sih barusan itu apa?” bisiknya cepat.

Quinn menarik napas panjang.

“Nggak ada apa-apa.”

“Dia tatap lo kayak orang nemu harta karun yang ilang bertahun-tahun.”

Quinn berhenti berjalan sepersekian detik.

Lalu tersenyum tipis, tapi getir.

“Kadang harta yang ilang… emang sebaiknya tetap ilang.”

Vexa menatapnya, kali ini tidak bercanda.

“Lo ada rasa sama dia?”

Quinn terdiam sesaat.

Lalu mengangkat dagu lagi seperti biasa.

“Gue lapar. Dan gue nggak mau bahas dia.”

Namun jauh di belakang mereka—

Ryuga masih berdiri di tempat yang sama.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama—

Ketua Ravenix itu terlihat benar-benar terguncang.

...----------------...

Kantin ramai dan berisik, tapi meja pojok dekat kipas angin terasa seperti ruang interogasi pribadi bagi Quinn.

Vexa baru saja menelan seteguk es cokelatnya saat otaknya memproses pengakuan Quinn.

“WHAT?!” suaranya melengking.

Beberapa murid menoleh.

Quinn langsung menyikut lengannya.

“Lo bisa kecilin volume nggak sih?”

Vexa menutup mulutnya sendiri, tapi matanya membulat heboh.

“Jadi… jadi kalian pernah DEKAT?”

“Hm.”

“Seberapa dekat?”

Quinn mengaduk minumannya pelan.

“Dekat. Banget.”

Vexa makin maju mendekat.

“Jangan gantung gue. Detail!”

Quinn berdehem gugup.

“Iya… bahkan… ehm… kita dulu hampir pacaran.”

Es cokelat Vexa hampir muncrat lagi.

“HAMPIR PACARAN?!” bisiknya setengah teriak.

“Lo sengaja mau bikin satu kantin tau ya?”

Vexa menatapnya tak percaya.

“Quinn… lo hampir jadi pacarnya ketua Ravenix?!”

Quinn mendesah.

“Dulu. Itu dulu. Dan dulu dia bukan anak geng motor.”

Vexa menyandarkan punggung ke kursi.

“Terus kenapa sekarang kalian kayak orang asing yang habis rebutan warisan?”

Pertanyaan itu membuat Quinn terdiam.

Tatapannya kosong sejenak.

Lalu pelan-pelan, kenangan tiga tahun lalu menyeruak.

Lapangan SMP.

Sore hari.

Angin berhembus pelan.

Quinn berdiri di ujung koridor, hendak memanggil Ryuga.

Tapi langkahnya terhenti.

Di kejauhan, ia melihat Ryuga… memeluk Naomi.

Bukan pelukan biasa.

Terlalu dekat. Terlalu intim untuk sekadar teman.

Dunia Quinn saat itu seperti retak.

Suara tawa Naomi terdengar samar.

Beberapa hari kemudian—

Naomi berpapasan dengannya di lorong sekolah.

Dengan senyum tipis yang terasa seperti sindiran.

“Quinn… jangan terlalu dekat sama Ryuga ya.”

Quinn terdiam.

“Dia pacar gue sekarang.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Sejak hari itu, Quinn menjauh. Tanpa penjelasan. Tanpa pamit.

Kembali ke kantin.

Quinn tersenyum pahit.

“Gue malu banget,” katanya pelan. “Karena dulu gue terlalu kepedean mikir kalau Ryuga suka sama gue. Bahkan gue sempat mimpi bisa jadi pacarnya.”

Ia terkekeh hambar.

“Padahal ternyata… ya gitu.”

Vexa mencondongkan badan.

“Dia selingkuh?”

“Gue nggak tau. Yang gue tau, gue liat dia pelukan sama Naomi. Terus Naomi bilang mereka pacaran.”

“Dan lo percaya?”

“Lo mau gue mikir apa lagi? Gue bukan tipe cewek yang rebut cowok orang.”

Quinn menatap gelasnya.

“Akh… emang brengsek tuh cowok.”

Vexa mengangguk dramatis.

“Iya sih… lo emang kepedean.”

Quinn langsung mendongak, menatapnya galak.

“Heh!”

Vexa cepat-cepat mengangkat tangan.

“Maksud gue… kepedean dalam artian positif. Percaya diri tingkat dewa.”

“Lo nyebelin tau.”

“Tapi gue jujur.”

Vexa lalu menambahkan dengan nada lebih serius.

“Gosipnya sih… emang Ryuga sama Naomi pacaran. Soalnya cuma Naomi satu-satunya cewek yang bisa deket sama dia dan anak-anak Ravenix lainnya.”

Quinn terdiam.

Dadanya terasa aneh.

“Tuh kan...” gumamnya pelan.

“Tapi…” Vexa mengangkat jari telunjuknya.

Quinn menoleh.

“Tapi apa?”

“Yang gue lihat nih ya… Ryuga itu kelihatan risih kalau Naomi nempel terus.”

Quinn mengernyit.

“Maksud lo?”

“Naomi tuh kayak cewek haus perhatian kalau lagi deket Ryuga. Suka pegang lengannya, manggil manja, nempel terus. Tapi Ryuga sering geser dikit. Ekspresinya juga beda.”

“Beda gimana?”

“Kayak… nggak nyaman. Dingin. Bukan tatapan orang yang lagi bucin.”

Quinn terdiam lama.

Jantungnya berdetak pelan.

“Lo yakin?”

“Gue pengamat handal,” jawab Vexa bangga. “Gue hobi liatin orang.”

Quinn menggigit bibir bawahnya pelan.

“Tapi waktu gue liat mereka pelukan…”

“Lo tau konteksnya?”

“Nggak.”

“Lo tanya dia?”

“Nggak.”

Vexa menghela napas.

“Quinn… jangan-jangan lo pergi tanpa ngasih dia kesempatan jelasin?”

Quinn terdiam.

Ingatan itu terasa berat.

“Apa pun alasannya… Naomi bilang mereka pacaran.”

“Dan lo percaya kata Naomi daripada Ryuga?”

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari yang ia kira.

Quinn menatap kosong ke arah depan.

“Gue waktu itu sakit hati, Xa. Banget. Gue nggak mau keliatan lemah.”

Vexa melembutkan suaranya.

“Lo masih ada rasa?”

Quinn tersenyum kecil, pahit.

“Kalau nggak ada… gue nggak bakal sesak pas liat dia barusan.”

Vexa menyandarkan dagu di tangan.

“Menurut gue sih, ceritanya belum selesai.”

Quinn menggeleng pelan.

“Gue udah janji sama diri gue sendiri. Nggak akan lagi deket sama Ryuga.”

“Tapi sekarang lo satu sekolah.”

“Itu cuma kebetulan.”

“Dan takdir sering pake nama ‘kebetulan’ buat bikin orang denial.”

Quinn menatap Vexa tajam.

“Sejak kapan lo jadi motivator?”

“Sejak sahabat baru gue ternyata punya kisah cinta dramatis.”

Quinn mendesah panjang.

Perasaannya campur aduk.

Marah. Malu. Rindu.

Dan satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul tanpa izin—

"Kalau dulu gue salah paham…?" pikirnya.

Namun ia cepat-cepat menepis pikiran itu.

“Udah lah,” katanya akhirnya. “Gue cuma mau sekolah dengan tenang.”

Vexa menyeringai tipis.

“Kita lihat aja nanti.”

Quinn menatap gelasnya lagi.

Di kejauhan, entah kenapa ia merasa seperti ada mata tajam yang masih memperhatikannya dari balik keramaian kantin.

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!