seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28
Sensasi itu tidak terasa seperti terbang; lebih seperti ditarik paksa melalui lubang jarum yang terbuat dari cahaya. Laras mencengkeram pinggiran konsol saat realitas di luar jendela kapal melengkung, berubah menjadi garis-garis spektrum warna yang tidak pernah ada dalam buku teks fisika.
"Lar! Stabilkan frekuensinya! Denyut jantungmu terlalu tinggi, kapal ini mulai bergetar!" suara Dio terdengar seperti gema dari dasar sumur, meskipun ia duduk tepat di belakangnya.
Laras memejamkan mata, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya. Ia membayangkan tanah Amazon, bau hujan, dan detak jantung "Jantung Arca" yang tenang di kedalaman Palung Jawa. Perlahan, getaran kapal mereda. Ruang angkasa yang melengkung kembali memadat, namun pemandangan di depan mereka kini telah berubah total.
Jupiter berdiri dengan angkuh. Planet raksasa itu tampak seperti monster yang terbuat dari badai, mendominasi seluruh pandangan. Di depannya, bulan Europa bersinar pucat, namun permukaannya yang es kini dinodai oleh struktur logam raksasa yang menyerupai duri-duri hitam yang menusuk ke langit.
"Kita sampai," bisik Aan melalui jalur komunikasi jarak jauh yang terdistorsi. "Kalian berada di orbit Europa. Dan Laras... sensor kalian benar. Gerbang gravitasi itu sedang dalam tahap aktivasi akhir."
Di permukaan Europa, sebuah lingkaran energi ungu raksasa berputar, menghisap uap es dari permukaan bulan dan mengubahnya menjadi pusaran yang membelah ruang hampa. Di sekitar gerbang itu, puluhan kapal The Hollow berpatroli, membentuk formasi jaring yang siap menghancurkan apa pun yang mendekat.
"Ada ranjau gravitasi di depan kita," Pandu menunjuk ke arah layar taktis. "Mereka tidak menggunakan peledak. Jika kita menyentuhnya, kapal ini akan terjepit dalam lipatan ruang dan hancur berkeping-keping."
"Mereka pikir kita akan lewat jalur depan," Laras menggerakkan jarinya di atas konsol bio-Arca. "Dio, siap dengan 'Mode Siluman Bio'?"
"Sirkuit sudah panas, Lar! Aku akan membungkus kita dengan frekuensi es Europa. Bagi radar mereka, kita cuma bakal kelihatan kayak bongkahan es yang terlepas dari gravitasi bulan."
"Mawar Hitam" meluncur pelan, mematikan mesin pendorong konvensional dan hanya mengandalkan tarikan gravitasi Jupiter untuk bermanuver. Mereka bergerak di antara ranjau-ranjau yang tak terlihat, meluncur seperti bayangan di atas permukaan es Europa yang retak-retak.
Tiba-tiba, sebuah suara masuk ke dalam pikiran Laras—bukan melalui radio, tapi langsung ke sarafnya yang terintegrasi dengan kapal.
"Kau membawa aroma Bumi ke tempat yang mati ini, Kecil. Berani sekali kau mendekati gerbang yang dibangun oleh para Pencipta."
Laras tersentak. "Siapa itu?"
"Lar? Ada apa?" tanya Pandu, melihat Laras yang mendadak pucat.
"Seseorang bicara padaku... lewat Arca," jawab Laras, matanya menyisir struktur hitam di bawah sana.
Struktur duri hitam di permukaan Europa tiba-tiba berpendar. Sebuah siluet kapal induk yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka lihat mulai muncul dari balik bayangan Jupiter. Kapal itu tidak terbuat dari logam, melainkan dari kristal hitam yang seolah-olah menghisap semua cahaya di sekitarnya.
"Aku adalah Suara dari Void-Step yang kau usir dulu," suara itu kembali bergema, lebih dingin dan lebih tajam. "Kalian mengira telah menang di Amazon? Di sini, di bawah es Europa, kami tidak hanya menghisap energi. Kami sedang memanggil pemilik asli Arca untuk mengambil kembali apa yang kalian sebut sebagai 'hak kedaulatan'."
"Mereka memanggil entitas lain," Aan berseru dari Astra Mawar dengan nada panik. "Laras, gerbang itu bukan untuk armada militer. Itu adalah suar untuk memanggil sesuatu yang jauh lebih tua!"
Laras menatap gerbang ungu yang kini mulai memuntahkan kilatan petir hitam ke ruang hampa. Ia menyadari bahwa misi ini bukan lagi soal sabotase, tapi soal menutup pintu neraka sebelum penghuninya melangkah keluar.
"Semua unit, siapkan muatan energi maksimum!" perintah Laras, suaranya menggelegar di seluruh palka. "Kita tidak akan menghancurkan gerbang itu dari luar. Kita akan masuk ke dalamnya dan meledakkan frekuensi Bumi dari pusatnya!"
"Kau gila, Lar?" Dio berteriak sambil tetap bekerja cepat di panelnya. "Kalau kita masuk ke sana, kita mungkin nggak akan pernah bisa pulang!"
Laras menatap refleksi dirinya di kaca kokpit, lalu menatap tabung tanah Amazon yang dibawa Pandu. "Jika kita tidak menutupnya sekarang, Bumi tidak akan punya tempat untuk kita pulang. Lakukan, Dio! Dorongan penuh!"
"Mawar Hitam" berhenti bersembunyi. Cahaya biru Arca meledak dari lambungnya, membelah kegelapan saat kapal itu meluncur bak peluru cahaya langsung menuju pusat pusaran ungu di gerbang Europa.
"Tahan posisi! Jangan biarkan kristal hitam itu mengunci koordinat peluncuran kita!" teriak Pandu. Ia mencengkeram tuas kendali senjata sekunder, keringat bercucuran di pelipisnya. Di layar radar, kapal induk kristal itu melepaskan ribuan serpihan tajam yang meluncur seperti badai belati di ruang hampa.
Dio bekerja gila-gilaan di ruang mesin. "Laras! Aku mengalihkan seluruh daya perisai ke pendorong depan! Kita bakal telanjang bulat kalau ada satu serpihan saja yang lewat, tapi ini satu-satunya cara buat nembus tarikan gravitasi gerbang itu!"
"Lakukan, Dio! Aku yang akan menjadi perisainya!" balas Laras.
Laras tidak lagi melihat dengan mata. Ia merentangkan tangannya, telapaknya menempel pada dinding kokpit yang kini terasa seperti kulitnya sendiri. Ia memproyeksikan frekuensi Arca dari tubuhnya ke luar lambung "Mawar Hitam". Di mata pengamat dari luar, kapal itu tampak dibungkus oleh aura biru yang membentuk kelopak bunga mawar raksasa yang sedang kuncup, melindungi inti kapal dari hantaman badai kristal.
Brak!
Guncangan hebat melanda saat "Mawar Hitam" menabrak batas selaput ungu gerbang Europa. Suara jeritan logam beradu dengan dengungan energi yang memekakkan telinga.
"Masuk... kita masuk!" seru Aan dari komunikasi jarak jauh yang kini hampir tenggelam dalam statis.
Seketika, kegelapan Jupiter dan Europa menghilang. Mereka berada di dalam ruang antara—sebuah terowongan tanpa ujung yang dindingnya terdiri dari aliran data dan cahaya yang berputar cepat. Di sini, hukum fisika tidak berlaku. Gravitasi terasa seperti ditarik ke segala arah sekaligus.
"Kau nekat, Penjaga Kecil," suara dari Void-Step itu kini terdengar sangat dekat, seolah-olah entitas itu duduk tepat di samping Laras. "Kau membawa kehidupan ke dalam rahim kehancuran. Apakah kau siap hancur bersama rahasia yang kau lindungi?"
"Aku tidak datang untuk rahasia," Laras menggertakkan gigi, menahan beban tekanan mental yang mencoba merobek kesadarannya. "Aku datang untuk mengunci pintu ini."
Laras melihat inti gerbang di depan mereka: sebuah bola energi hitam pekat yang berdenyut tidak stabil. Itulah jangkar yang menghubungkan tata surya mereka dengan dimensi luar yang haus energi.
"Pandu, siapkan muatan tanah Amazon!" perintah Laras. "Dio, saat aku bilang sekarang, lepaskan jangkar energi Arca murni kita tepat ke tengah bola itu!"
"Tapi Lar, kalau kita lepas sekarang, kita nggak punya tenaga buat keluar dari sini!" Dio memperingatkan, tangannya gemetar di atas tombol eksekusi.
Laras menatap tabung tanah yang kini berpendar sangat terang, bereaksi terhadap kegelapan di sekelilingnya. "Kita tidak butuh tenaga mesin untuk keluar. Kita punya resonansi. Percayalah padaku."
Kapal induk kristal hitam di luar sana mulai menembakkan sinar laser ungu yang menembus selaput gerbang, mencoba meledakkan "Mawar Hitam" sebelum mencapai inti. Ledakan-ledakan kecil mulai terjadi di palka kapal.
"Sekarang!" teriak Laras.
Pandu melepaskan tabung tanah Amazon, sementara Dio memicu ledakan frekuensi Arca maksimum. Tanah yang membawa memori kehidupan Bumi itu meluncur, menabrak inti kegelapan. Seketika, terjadi benturan frekuensi yang dahsyat. Cahaya putih murni meledak, menelan kegelapan ungu dan hitam.
Seluruh terowongan dimensi itu mulai runtuh. Laras merasakan kesadarannya memudar, namun ia tetap menggenggam erat kemudi batinnya. Ia memanggil setiap tetes energi yang tersisa dari "Jantung" di Bumi, menciptakan satu tarikan magnetik terakhir.
Bum!
Gerbang di permukaan Europa meledak, memuntahkan gelombang kejut yang menyapu seluruh armada The Hollow hingga terlempar ke orbit Jupiter. Lubang cacing itu menutup dengan suara seperti kaca yang pecah di seluruh angkasa.
"Mawar Hitam" terlempar keluar dari pusat ledakan, meluncur tak terkendali menjauh dari Europa. Asap mengepul dari setiap panel, dan lampu interior berkedip merah redup.
"Semua... semua baik-baik saja?" tanya Laras dengan suara lemah.
Dio terbatuk, berusaha bangkit dari tumpukan kabel. "Masih hidup, Lar. Tapi kapal ini... dia baru saja kehilangan jantungnya. Kita terombang-ambing di orbit Jupiter tanpa mesin."
Pandu melihat ke luar jendela. Di sana, kapal induk kristal hitam itu tampak retak separuh, namun mesinnya mulai menyala kembali. Mereka masih ada di sana, dan mereka sangat marah.
Laras menatap ke arah Bumi yang jauh, sebuah titik biru kecil yang kini terasa sangat sunyi. Ia tahu, pertempuran ini belum benar-benar berakhir.
"Aktifkan sinyal darurat," bisik Laras. "Bukan untuk minta tolong, tapi untuk memberitahu Paman Aan... gerbangnya sudah tutup. Bumi aman untuk saat ini."