Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pagi di rumah keluarga Virellia selalu dimulai dengan suara yang sama.
Denting sendok dan piring dari dapur. Aroma roti panggang, susu hangat dan kopi hitam.
Suara langkah kaki di tangga.
Arcelia Virellia keluar kamar dengan rambut masih sedikit berantakan. Ia menguap kecil sambil menarik ujung cardigan yang ia pakai.
“Bangun juga akhirnya kamu dek,” suara Bang Kaiven terdengar dari meja makan.
Bang Kaiven Virellia sudah rapi. Kemeja putihnya dilipat sampai siku, rambutnya disisir rapi tapi tetap terlihat santai. Di depannya ada laptop yang masih menyala.
“Jam berapa sih Bang?” tanya Arcelia duduk sambil mengambil segelas air.
“Jam tujuh kurang sepuluh Sayang,” jawab Mama Mirella lembut dari dapur.
Elvarin Virellia berlari kecil turun tangga, tas sekolahnya hampir jatuh.
“Kak, hari ini aku ada presentasi!”
Arcelia tersenyum tipis. “Semangat ya, adek.”
Papa Alveron Virellia turun paling akhir. Aura pria itu tetap tenang dan berwibawa bahkan di meja makan rumah sendiri. Ia duduk di ujung meja.
“Semua sudah siap?”
Semua mengangguk.
Tapi di balik suasana hangat itu, ada tekanan yang pelan-pelan tumbuh. Bisnis keluarga mereka sedang naik. Dan semakin naik, semakin banyak mata yang mengawasi. Penjelasan yang Tidak Pernah Diucapkan, Tapi Dipahami
Bang Kaiven masih mahasiswa, mengambil jurusan manajemen bisnis.
Tapi sejak setahun terakhir, ia sudah membantu Papa Alveron di kantor. Awalnya hanya magang. Lalu ikut rapat kecil. Sekarang? Ia sering menangani proposal dan evaluasi awal proyek.
Papa Alveron tidak pernah memaksanya. Tapi, Bang Kaiven sendiri yang memilih.
“Aku nggak mau cuma jadi anak pemilik perusahaan,” katanya waktu itu.
Dan sejak saat itu, hidupnya terbagi dua.
Pagi kuliah.
Siang atau sore ke kantor.
Malam menyusun strategi. Ia lelah, tapi tidak pernah mengeluh.
Di sekolah Arcelia
Gedung sekolah Arcelia berdiri megah di pusat kota Lumin. Ia berjalan melewati lorong sekolah dengan tas di bahu, ekspresi tenang tapi mata tajam.
Beberapa siswa berbisik.
“Dia Arcelia Virellia.”
“Katanya keluarganya lagi naik banget sekarang.”
Arcelia mendengar.
Ia tidak menoleh.
Dalam hatinya ia bergumam, Jangan terlalu tinggi menatap ke atas. Nanti jatuhnya akan lebih sakit.
Di kelas, suasananya tenang, nyaman. Guru yang menjelaskan. Beberapa siswa bercanda. Namun di pojok ruangan, Selena Ravert duduk dengan anggun.
Tatapannya sesekali mengarah pada Arcelia.
Senyumnya tipis.
Selena bukan tipe yang ribut. Ia tenang. Terlihat elegan. Terlihat dewasa untuk usianya... Dan ia tahu banyak hal.
Sekolah Elvarin
Elvarin masih lebih kecil. Sekolahnya tidak semewah Arcelia. Ia duduk di bangku depan, menggenggam kertas presentasinya dengan gugup.
“Tenang,” bisik temannya.
Elvarin mengangguk.
Ia mungkin paling muda, tapi ia yang paling peka. Ia sering mendengar percakapan orang dewasa tanpa mereka sadar. Dan akhir-akhir ini, ia merasa sesuatu berubah.
Di perusahaan Papa Alveron
Suasana kantor pagi itu lebih tegang dari biasanya. Beberapa klien baru masuk. Beberapa kompetitor tiba-tiba agresif. Papa Alveron berdiri di depan jendela ruangannya, memandang kota Lumin.
Pintu diketuk.
Tok
Tok
Tok
“Masuk.”
Suara terdengar dari dalam ruangan
Eveline masuk dengan tablet di tangan.
“Pak Alveron, ada laporan transaksi yang tidak biasa.”
Ia menjelaskan dengan suara tenang dan profesional.
Papa Alveron mendengarkan tanpa memotong.
Tak lama, pintu kembali diketuk.
Claudia masuk.
Kali ini membawa dokumen.
Ia sedikit membungkuk saat menyerahkan berkas.
“Maaf kalau saya mengganggu, Pak.”
Tangannya menyentuh meja, sedikit condong ke depan. Gerakannya halus, tapi jelas disengaja.
Papa Alveron bahkan tidak mengangkat kepala terlalu lama.
“Letakkan saja disini.”
Claudia tersenyum.
Namun di balik senyum itu, ada perhitungan.
Kampus Bang Kaiven
Bang Kaiven keluar dari ruang kuliah sambil membaca pesan dari ayahnya. Datang ke kantor setelah jam tiga.
Ia menghela napas.
Di parkiran kampus, seorang wanita berdiri menunggunya.
Namanya Lyra.
Wajahnya lembut. Rambutnya panjang dan sedikit bergelombang. Tatapannya seperti selalu butuh perlindungan.
“Aku lihat kamu sibuk banget akhir-akhir ini Kai,” ucapnya pelan.
Bang Kaiven mengangguk tipis. “Biasa saja.”
Lyra tersenyum kecil. “Jangan terlalu capek ya. Nggak semua orang sekuat kamu.”
Nada suaranya hangat. Tapi matanya menilai... Ia sedang mengamati titik lemah. Dan Kaiven belum sadar sepenuhnya.
Di sisi lain kota,
Kaelion Ravert duduk di ruang meeting keluarganya. Ia berbeda dari Selena. Kaelion lebih tegas. Lebih dingin. Lebih langsung.
Ia membaca laporan tentang pergerakan bisnis keluarga Virellia.
“Menarik,” gumamnya.
Salah satu asistennya bertanya, “Perlu kita tanggapi?”
Kaelion menutup map itu.
“Belum.”
Namun pikirannya tidak sepenuhnya pada bisnis. Ia teringat Arcelia.
Cara gadis itu menatapnya tanpa takut. Cara ia tidak pernah mencoba menarik perhatian.
Itu yang membuatnya tertarik. Bukan karena status. Tapi karena keberanian yang tidak dibuat-buat.
_____________
Pagi terlihat biasa.
Tapi setiap orang sedang berdiri di titik awal sesuatu yang lebih besar. Dan kali ini, bukan hanya bisnis yang dipertaruhkan. Melainkan kepercayaan.
Sore itu, sekolah hampir kosong.
Langit Lumin berubah jingga keunguan. Cahaya matahari terakhir menembus jendela lorong, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer.
Arcelia berdiri sendirian di depan loker. Ia tidak tahu kenapa ia belum pulang.
Hanya… perasaan.
Sejak beberapa hari terakhir, ia sering merasakan sesuatu yang sama. Seperti ada yang memperhatikan.
Tapi bukan manusia. Ia menutup pintu loker perlahan. Saat itulah, udara di sekitarnya berubah.
Bukan menjadi dingin.
Bukan juga panas.
Tapi berat.
Lampu lorong berkedip sekali. Lalu normal kembali.
Arcelia menelan ludah.
“Jangan sekarang…” gumamnya pelan.
Simbol itu.
garis melingkar dengan retakan di tengahnya, tiba-tiba muncul samar di kaca jendela lorong.
Bukan terukir.
Bukan tergambar.
Hanya pantulan cahaya yang membentuk pola yang sama.
Dadanya bergetar pelan. Ia mendekat. Dan untuk sepersekian detik... Refleksinya di kaca tidak bergerak bersamaan dengannya.
Refleksi itu menatapnya.
Lebih tenang.
Lebih tajam.
Seolah tahu sesuatu yang ia tidak tahu.
Arcelia mundur satu langkah. Lampu kembali stabil. Simbol itu hilang. Lorong kembali normal.... Tapi detak jantungnya belum.
Di Atap Sekolah,
Tanpa sadar, kakinya membawanya ke tangga darurat. Ia naik sampai ke atap.
Angin sore menyapu rambutnya. Dan di sana, sudah ada seseorang. Bersandar pada pagar pembatas.
Tenang.
Seolah memang menunggu.
Kaelion Ravert.
Ia tidak terkejut melihat Arcelia.
“Lagi,” ucapnya pelan.
Arcelia mengerutkan dahi. “Apa?”
“Kau merasakannya lagi.”
Itu bukan pertanyaan.
Itu pernyataan.
Arcelia menatapnya lama.
“Bagaimana kau tahu?”
Kaelion berdiri tegak.
Angin membuat jas sekolahnya bergerak pelan.
“Aku juga merasakannya.”
Hening.
Udara di sekitar mereka terasa berbeda.
Bukan romantis.
Bukan dramatis.
Tapi… selaras. Seolah dua frekuensi yang akhirnya bertemu.
“Ada sesuatu yang bangun,” lanjut Kaelion. “Dan itu bukan hanya tentang bisnis keluarga kita.”
Arcelia memalingkan wajah ke langit.
“Aku lihat simbol itu lagi.”
Kaelion menegang tipis.
“Di mana?”
“Refleksi kaca.”
Ia terdiam sejenak. Lalu berkata pelan,
“Itu bukan simbol biasa.”
Arcelia menoleh.
“Lalu apa?”
Kaelion tidak langsung menjawab. “Ayahku pernah menyebut tentang ‘Segel Inti’.”
Nama itu menggantung di udara.
“Segel Inti adalah pengunci. Kalau retak… sesuatu akan keluar.”
“Keluar dari mana?”
Kaelion menatap langsung ke mata Arcelia.
“Dari bawah kota ini.”
Angin berhenti sesaat. Arcelia tidak tahu kenapa, tapi tubuhnya bereaksi. Seperti ada bagian dalam dirinya yang mengenali kata-kata itu.
Di Tempat Lain,
Selena berdiri di ruang kamarnya yang gelap. Di tangannya ada buku tua bersampul hitam. Ia membuka halaman tengah. Simbol yang sama terlukis di sana.
Ia tersenyum tipis. “Jadi akhirnya muncul juga…”
Ia menutup buku itu pelan.
Tidak ada yang tahu seberapa dalam keterlibatannya. Bahkan Kaelion tidak sepenuhnya tahu.
Kembali ke Atap
“Apa kau takut?” tanya Kaelion.
Arcelia terdiam.
Ia bukan tipe yang mudah menunjukkan rasa takut.
“Tergantung,” jawabnya pelan. “Aku harus takut pada apa?”
Kaelion mendekat satu langkah.
Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.
“Pada kenyataan bahwa mungkin… kau adalah bagian dari segel itu.”
Jantung Arcelia berdegup keras. “Apa maksudmu Lion?”
Kaelion menatapnya lama.
“Setiap generasi, ada satu yang menjadi jangkar.”
Kata itu membuat udara kembali berat.
“Dan aku curiga…”
Ia berhenti.
Arcelia menahan napas.
“Kau bukan hanya pewaris Virellia.”
Hening.
“…kau mungkin kunci.”
Angin kembali bertiup. Dan untuk pertama kalinya, Arcelia merasa, hidupnya tidak lagi hanya tentang keluarga, sekolah, atau reputasi. Ada sesuatu yang lebih besar.
Lebih tua.
Lebih berbahaya.
Dan itu mulai bergerak.
Saat mereka turun dari atap, lampu sekolah padam sesaat. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat bayangan mereka terlihat… tidak sendiri. Seolah ada satu siluet lain berdiri di antara mereka.
Mengawasi.
Menunggu.
Dan di bawah kota Lumin, Sesuatu yang telah lama tersegel… mengeluarkan retakan pertama.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....