Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jefferson Family
McLaren 765LT Spider melaju dengan santai di jalanan Manhattan yang mulai ramai—bukan dengan kecepatan maksimal, tapi dengan pace yang menikmati perjalanan.
Rafael tidak terburu-buru. Dia membiarkan mesin V8 mendengung pelan, membiarkan angin pagi masuk melalui window yang sedikit terbuka, membiarkan kota New York menampilkan dirinya dalam cahaya pagi yang keemasan.
Ini bukan tentang kecepatan. Ini tentang merasakan hidup lagi—merasakan kebebasan yang sempat hilang selama tiga bulan.
Jalanan Brooklyn Bridge terlihat iconic dengan suspension cables-nya yang membentang seperti karya seni geometris.
Hudson River mengalir tenang di bawah, memantulkan cahaya matahari yang mulai naik.
Gedung-gedung pencakar langit Manhattan perlahan menghilang di spion belakang, digantikan oleh area residential yang lebih tenang.
Beberapa jam kemudian—setelah melewati jalanan yang semakin sepi, semakin hijau dengan pepohonan di kedua sisi—Rafael sampai di tujuannya.
Jefferson Estate.
Mansion yang berdiri megah di atas bukit kecil—arsitektur kolonial klasik Amerika dengan pilar-pilar putih besar di depan, halaman luas dengan taman yang dirawat oleh gardener profesional, fountain air mancur di tengah yang menyemburkan air dalam pola yang indah. Pagar besi tinggi dengan ornamen yang elegant membuka otomatis saat Rafael mendekat.
Rafael parkir McLaren-nya di halaman depan—tepat di samping Mercedes S-Class hitam yang pasti milik Thomas. Dia keluar dari mobil, menutup pintu butterfly dengan bunyi solid yang satisfying.
"Tuan Muda Rafael."
Rafael menoleh. Seorang pria berusia lima puluhan berdiri di tangga depan mansion—mengenakan suit butler klasik lengkap dengan vest dan bow tie.
Rambut beruban yang disisir rapi, postur tegap meskipun usia sudah tidak muda, mata yang tajam tapi warm.
Lloyd. Asisten pribadi Thomas Jefferson yang sudah bekerja untuk keluarga ini selama lebih dari tiga puluh tahun.
"Lloyd," Rafael tersenyum tipis.
"Lama tidak bertemu."
Lloyd berjalan mendekat dengan langkah yang measured, proper.
"Saya sangat bersyukur bisa melihat Tuan Muda lagu. Berita kematian Anda enam bulan lalu sangat mengejutkan seluruh keluarga."
Rafael mengangguk.
***
Dia ingat saat pertama kali datang ke Amerika—Lloyd yang ditugaskan untuk menyiapkan segala keperluan Rafael.
Apartemen di Upper East Side yang furnished sempurna. Pakaian-pakaian yang sesuai dengan style Rafael meskipun Lloyd belum pernah bertemu dia sebelumnya.
Lloyd tidak pernah bertanya kenapa Thomas begitu peduli dengan remaja Indonesia yang tidak ada hubungan darah dengannya. Lloyd hanya melakukan tugasnya dengan sempurna.
Tapi Rafael tahu—Lloyd curiga sejak awal. Bukan curiga dalam artian waspada atau tidak percaya.
Tapi kecurigaan Lloyd adalah keyakinan bahwa Rafael bukan anak yang biasa-biasa saja.
Ada sesuatu di mata Rafael—determinasi yang burning, intelligence yang jarang ditemukan di remaja seusianya, dan aura yang membuat orang merasa ini adalah orang yang akan melakukan hal-hal besar.
***
"Mari masuk, Tuan Muda," kata Lloyd sambil membimbing Rafael ke pintu depan.
"Keluarga Jefferson sedang sarapan bersama. Izinkan saya untuk memanggil Tuan Thomas terlebih dahulu. Anda bisa menunggu di ruang tamu."
Rafael mengikuti Lloyd masuk ke dalam mansion—interior yang classic elegant dengan furniture antique yang pasti worth jutaan dollar.
Chandelier kristal besar menggantung di ceiling foyer, tangga marmer melengkung ke lantai dua, lukisan-lukisan klasik di dinding.
Lloyd mengantarkan Rafael ke ruang tamu—ruangan dengan sofa leather coklat tua, coffee table kayu mahoni, rak buku penuh dengan koleksi hardcover, dan fireplace yang tidak menyala karena ini musim panas.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan Muda," kata Lloyd sambil membungkuk sedikit—gesture yang old-fashioned tapi respectful.
Lalu dia pergi menuju ruang makan yang terdengar suara percakapan dan bunyi sendok garpu.
***
Jefferson Estate – Ruang Makan.
Di ruang makan besar dengan meja kayu panjang yang bisa menampung dua puluh orang, keluarga Jefferson berkumpul untuk sarapan—tradisi yang Thomas selalu pertahankan meskipun anak-anaknya sudah dewasa.
Thomas Jefferson duduk di ujung meja—pria berusia lima puluh lima tahun dengan rambut beruban di pelipis, wajah yang keras tapi mata yang kind.
Dia mengenakan cardigan coklat dan celana kain—outfit casual untuk pagi hari di rumah.
Di sampingnya duduk Aurora Jefferson—istrinya yang berusia lima puluh tahun tapi terlihat lebih muda.
Rambut blonde yang di-highlight subtle, makeup natural, dress floral yang simple tapi elegant.
Dia murni ibu rumah tangga—memilih untuk fokus mengurus keluarga daripada mengejar karir.
Di seberang mereka duduk Tommy Jefferson—anak kedua berusia dua puluh satu tahun.
Rambut coklat yang di-style dengan wax, mengenakan kemeja putih dan celana jeans—outfit yang casual tapi tetap terlihat put-together.
Dia yang mengurus Jefferson Trading Academy—sekolah khusus yang hanya menerima murid yang ingin belajar trading. Bukan sekolah formal, lebih seperti bootcamp intensif yang mengajarkan forex, saham, crypto dengan curriculum yang Thomas sendiri design.
Dan di ujung satunya duduk Lilian Jefferson—anak ketiga berusia tujuh belas tahun.
Rambut coklat panjang yang dikuncir tinggi, mengenakan seragam Greenwich Preparatory School—blazer biru navy, rok kotak-kotak, dasi merah.
Wajahnya cantik dengan cara yang natural—tidak perlu makeup berlebihan untuk terlihat stunning.
Lilian adalah teman sekelas Rafael. Dan Lilian sangat mencintai Rafael—cinta yang tidak pernah dia sembunyikan, yang dia express dengan cara yang sweet tapi persistent.
Tapi hubungan mereka sempat renggang bahkan sebelum Rafael dinyatakan meninggal.
Rafael memang sengaja menghindari Lilian—karena dia tidak ingin memberikan harapan palsu.
Hatinya sudah ada yang punya.
Salma.
***
"Kemarin konferensi pers itu luar biasa," kata Tommy sambil memotong pancake-nya.
"Rafael literally bangkit dari kematian. Media pasti bakal crazy tentang ini selama berbulan-bulan."
Thomas mengangguk pelan. Dia hadir di konferensi pers kemarin—duduk di barisan VIP, menyaksikan Rafael naik ke panggung dengan postur yang tegap, dengan presence yang membuat seluruh ruangan diam.
"Aku masih tidak percaya," kata Aurora sambil menuangkan maple syrup ke pancake-nya.
"Rafael benar-benar... dia benar-benar selamat dari kondisi seserius itu."
Lilian tidak bicara. Dia hanya menatap pancake di piringnya tanpa menyentuh—pikiran-pikirannya jauh, melayang ke wajah Rafael yang dia lihat di TV kemarin. Wajah yang dia pikir tidak akan pernah dia lihat lagi.
Pintu ruang makan terbuka. Lloyd masuk dengan postur yang sempurna.
"Permisi, Tuan Thomas," katanya dengan suara yang measured.
"Tuan Muda Rafael ada di ruang tamu."
Keheningan instant.
Lilian berdiri begitu cepat sampai kursinya hampir terbalik. Mata yang tadinya kosong sekarang menyala dengan sesuatu yang intens—campuran antara shock, happiness, dan sesuatu yang lebih dalam.
Dia tidak menunggu respon apapun. Tidak menunggu izin. Dia langsung berlari—keluar dari ruang makan dengan langkah yang terburu-buru, seragam sekolahnya berkibar, sepatu flat-nya mengetuk lantai marmer dengan rhythm yang cepat.
***
BERSAMBUNG...