cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30
"Cuma kita," aku mengulangi kalimat Ma dengan suara yang lebih mantap.
Pukul lima subuh, udara Jakarta masih terasa bersih saat mobil kami membelah jalanan menuju titik kumpul bus pengajian. Dina duduk di depan, sibuk dengan daftar checklist di ponselnya—bukan daftar piutang, tapi daftar obat-obatan Ma dan jadwal makan Arka. Di kursi belakang, Ma dan Arka tampak asyik berdiskusi tentang berapa banyak pengikut baru yang didapat Ma di TikTok sejak video pisang goreng itu viral.
"Raka, lihat ini," Dina menunjukkan layar ponselnya padaku saat kami berhenti di lampu merah.
Bukan grafik penjualan. Itu adalah foto lama kami—aku yang masih kurus dengan wajah tegang, dan Dina yang terlihat lelah dengan tumpukan map kertas. Dia menyandingkannya dengan foto kami semalam di balkon.
"Sepuluh tahun untuk berpindah dari 'bertahan' ke 'menikmati'," bisik Dina. "Investasi waktu yang paling mahal yang pernah aku ambil, tapi return-nya... tidak terhitung."
Aku tersenyum, menggenggam tangannya yang kini tidak lagi terasa dingin. "Itu karena CFO-nya pintar memilih aset. Dan aset terbaik kita bukan ruko ini, Din. Aset terbaik kita adalah kepercayaan bahwa kita bisa melewati badai tanpa melepaskan pegangan."
Sesampainya di bus pengajian, suasana riuh menyambut kami. Ibu-ibu Academy yang juga ikut tur langsung mengerumuni Ma. Mereka tidak lagi memanggil Ma dengan nada kasihan, tapi dengan rasa hormat dan ceria.
"Bu Ma! Ayo naik, kursi paling depan sudah kami siapkan!" seru salah satu dari mereka.
Aku melihat Ma melangkah naik ke bus dengan punggung tegak. Dia tidak menoleh ke belakang dengan rasa cemas akan bisnisnya. Dia tahu, di ruko tiga lantai itu, ada sistem yang menjaga rahasia dapurnya, dan di depannya, ada masa depan yang cerah.
Saat bus mulai bergerak, aku dan Dina berdiri di pinggir jalan, melambai sampai bus itu hilang di tikungan.
"Jadi," Dina berbalik menatapku, matanya berkilat di bawah sinar matahari pagi. "Mumpung ruko sedang libur produksi dan Ma sedang tur... apa agenda kita hari ini, Pak CEO?"
Aku menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang segar. "Agenda kita hari ini adalah tidak punya agenda. Kita pulang, kita pesan kopi, dan kita duduk di balkon tanpa membahas satu pun angka. Bagaimana?"
Dina tertawa, sebuah tawa yang lepas dan tanpa beban. "Setuju. Tapi ingat, besok pagi jam delapan, kita punya janji temu dengan kontraktor untuk renovasi dapur cabang Bandung."
Aku merangkulnya erat, berjalan menuju mobil. "Iya, Din. Besok. Tapi hari ini... hari ini adalah waktu untuk kita."
Gedung ruko itu berdiri megah di kejauhan, saksi bisu dari air mata, bumbu rendang, dan sistem akuntansi yang menyelamatkan sebuah keluarga. Di sana, di lantai tiga, sebuah ruang rahasia tetap terjaga—sebuah ruang di mana cinta tidak lagi butuh benteng, karena ia sudah punya akar yang sangat kuat.
"Bahas renovasi besok jam delapan?" aku menggeleng sambil membukakan pintu mobil untuknya. "Kamu ini benar-benar tidak bisa berhenti jadi CFO ya, Din? Bahkan setelah kita menolak miliaran rupiah dan Ma sudah jadi selebriti TikTok."
Dina masuk ke kursi penumpang, menyandarkan kepalanya yang tampak rileks ke headrest. "Bukan tidak bisa berhenti, Raka. Tapi karena sekarang aku melakukan semuanya tanpa beban. Rasanya seperti main game simulasi bisnis, tapi bedanya, pemainnya nyata dan dampaknya nyata bagi ibu-ibu di bawah."
Aku memutari mobil, duduk di kursi kemudi, dan mulai menjalankan kendaraan perlahan. "Kamu tahu apa yang paling aku sukai dari perjalanan kita sampai detik ini?"
"Apa? Kesuksesan sistem hologrammu?"
"Bukan," aku menoleh sejenak padanya. "Bahwa di tengah semua angka dan bumbu itu, kita tidak pernah kehilangan diri kita sendiri. Kita masih Raka dan Dina yang dulu makan mi instan di depan ruko sambil menangis karena takut disita. Bedanya, sekarang kita makan enak karena kita mau, bukan karena terpaksa."
Dina tersenyum, lalu meraih tanganku yang bebas di atas tuas transmisi. "Dan sekarang kita punya ruko yang jendelanya tidak perlu ditutup rapat-rapat lagi."
Kami sampai di depan ruko tiga lantai itu. Dalam sunyinya pagi, bangunan itu terlihat begitu kokoh. Tidak ada lagi spanduk kusam atau bau stres yang menggantung di udara. Hanya ada papan nama kayu yang elegan: Dapur Ma Academy.
Kami naik ke lantai tiga, menuju balkon "Sanctuary" kami. Aku menyeduh dua cangkir kopi—bukan untuk memicu adrenalin kerja, tapi hanya untuk dinikmati aromanya.
"Din," panggilku sambil menyodorkan cangkirnya.
"Ya?"
"Terima kasih sudah tidak menyerah saat sertifikat itu dibawa kabur pengembang dulu. Kalau kamu pergi saat itu, ruko ini mungkin cuma jadi gedung kosong yang dihuni penyesalanku."
Dina menyesap kopinya, menatap langit Jakarta yang mulai biru. "Aku tidak pernah berniat pergi, Raka. Aku cuma sedang menunggu kamu sadar bahwa 'benteng' itu bukan dibuat dari beton, tapi dari keterbukaan kita satu sama lain. Dan sekarang, benteng itu sudah jadi."
Kami duduk bersisian di kursi lipat itu, membiarkan keheningan yang nyaman menyelimuti kami. Di bawah sana, Jakarta mulai terbangun dengan segala hiruk pikuknya, tapi di balkon lantai tiga ini, waktu seolah berhenti.
Tidak ada lagi hantu masa lalu.
Tidak ada lagi angka yang menghantui.
Hanya ada aroma kopi, masa depan yang tenang, dan dua orang yang akhirnya menemukan arti "pulang" di dalam sebuah bisnis yang mereka bangun dengan hati.
"Raka," bisik Dina pelan.
"Hmm?"
"Besok... jangan jam delapan ya bahas renovasinya. Jam sembilan saja. Aku mau bangun agak siang sedikit."
Aku tertawa, mengecup keningnya dengan lembut. "Setuju, Bos. Jam sembilan tepat."
"Jam sembilan, ya? Oke, kucatat," kataku sambil meletakkan cangkir kopi yang sudah kosong. "Tapi jangan kaget kalau jam sepuluh nanti, meja kerjamu sudah penuh dengan peta baru."
Dina menaikkan alisnya. "Peta? Raka, kita baru saja setuju untuk napas sebentar. Jangan bilang kamu mau buka cabang di bulan."
Aku tersenyum misterius, lalu menarik sebuah tablet dan menggeser sebuah foto ke arahnya. Bukan foto ruko, melainkan foto hamparan perbukitan hijau di daerah pegunungan Jawa Barat yang baru saja dikirimkan oleh salah satu kontak Ma di pengajian.
"Ingat komplain Pak Adrian soal bumbu kita yang 'hambar' di laboratorium mereka?" tanyaku. "Itu karena mereka pakai bahan baku industri. Bawang merah yang sudah layu dan cabai yang penuh pestisida dari pasar induk."
Dina mulai tertarik. Dia mendekat, menatap foto petani yang sedang memanen sayuran segar dengan latar belakang gunung. "Kamu mau kita punya hulu sendiri?"
"Tepat," jawabku mantap. "Selama ini kita beli sayur lewat tengkulak. Harganya tidak stabil, kualitasnya naik-turun, dan petaninya tetap miskin. Aku mau kita buat 'Dapur Ma: Green Farm'. Kita kerja sama langsung dengan kelompok tani di desa Ma dulu."
Dina langsung mengambil tablet itu dari tanganku, jemarinya mulai melakukan perhitungan cepat di udara—kebiasaan bawah sadarnya.
"Raka, kalau kita potong kompas langsung ke petani, Food Cost kita untuk menu sayuran di Express bisa turun 15-20%. Tapi logistiknya? Kita butuh truk pendingin (cold chain) agar sawi dan cabai itu sampai di ruko lantai satu dalam keadaan masih berembun."
"Itu bagianmu untuk menghitung valuasinya, Din," kataku sambil menyeringai. "Tapi bagianku adalah ini: Kita berdayakan para petani itu dengan sistem 'Kontrak Berdikari'. Kita kasih mereka jaminan harga beli di atas harga tengkulak, tapi mereka harus tanam pakai pupuk organik hasil olahan limbah dapur katering kita."
Dina terdiam, matanya berbinar. "Siklus ekonomi sirkular. Limbah ruko jadi pupuk di desa, sayur desa jadi makanan di ruko. Investor akan gila melihat model bisnis sebersih ini. Ini bukan cuma soal profit, ini soal keberlanjutan."
Tiba-tiba ponsel Dina berbunyi. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp keluarga. Itu video dari Ma. Di video itu, Ma sedang berdiri di pinggir sawah desa tempat pengajiannya, mengacungkan jempol sambil memegang ikat sawi hijau yang besar.
"Raka, Dina! Lihat sayur di sini bagus-bagus sekali. Sayang kalau cuma dijual murah ke pasar. Ma sudah bicara sama Pak Kades, mereka mau kalau kita ajari cara manajemen ala Dapur Ma!" suara Ma terdengar sangat bersemangat di latar belakang.
Kami berdua tertawa melihat video itu.
"Sepertinya 'libur' kita resmi dibatalkan oleh komisaris utama," ujar Dina sambil menghela napas pura-pura berat, namun tangannya sudah mulai membuka aplikasi perencana proyek.
"Jadi, kapan kita berangkat ke desa, Panglima? Aku perlu melihat sertifikat tanah dan kualitas tanah di sana sebelum aku menyetujui anggaran untuk truk pendingin pertama kita."
Aku merangkulnya, melihat ke arah jalanan Sudirman yang mulai padat. "Besok subuh. Setelah Ma pulang, kita langsung tancap gas. Kita tidak cuma akan memberi makan orang kota, Din. Kita akan menghidupkan kembali tanah desa."