NovelToon NovelToon
Akan Ku Ubah Takdirku

Akan Ku Ubah Takdirku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen Sun044

dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya Kecil Ditangan Yang Rajin

Hari-hari setelah kejadian di kelas itu terasa berat, tapi aku memutuskan untuk tidak membiarkan kata-kata "bodoh" dan "beban" itu menghentikanku. Aku memang mungkin lambat dalam menghafal atau berhitung, tapi aku sadar satu hal: tanganku tidak pernah malas. Dan mungkin, justru di sinilah kekuatanku berada.

Suatu sore, setelah pulang sekolah dan selesai membantu membersihkan rumah tetangga untuk mendapat uang receh, aku duduk di pojok kamarnya yang reyot. Di depanku ada tumpukan kardus bekas, sisa botol plastik yang sudah bersih, dan potongan kain perca yang aku kumpulkan dari tempat sampah atau sisa jahitan tetangga. Biasanya aku hanya mengumpulkannya untuk dijual ke pengepul sampah, tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda.

Tanganku secara naluriah mengambil selembar kardus bekas yang agak tebal. Aku melihat bentuknya, lalu mengambil gunting tumpul milikku. Tanpa berpikir panjang, aku mulai memotong kardus itu mengikuti pola yang terbayang di kepalaku. Aku tidak tahu dari mana ide itu datang, tapi tanganku bergerak dengan lincah, jauh lebih lincah daripada saat aku menulis jawaban ujian.

Aku melipat, merekatkan dengan lem buatan sendiri dari tepung kanji, dan menghiasnya dengan potongan kain perca yang berwarna-warni. Jam demi jam berlalu, aku bahkan lupa rasa lapar dan rasa lelah yang biasanya menghantuiku. Yang ada di pikiranku hanyalah bagaimana membuat benda ini menjadi indah.

Ketika akhirnya aku berhenti, di hadapanku tergeletak sebuah kotak penyimpanan kecil yang unik. Bentuknya tidak beraturan tapi estetik, dihiasi dengan kain-kain cantik yang disusun rapi, dan cukup kuat untuk menyimpan barang-barang kecilku. Itu bukan sekadar tumpukan sampah lagi. Itu adalah sesuatu yang bernilai.

Aku menatapnya dengan mata terbelalak. Ini... aku yang membuatnya?

Hari-hari berikutnya, tanganku seolah tidak bisa diam. Aku mulai membuat lebih banyak barang. Dari botol plastik bekas, aku membuat pot bunga yang cantik dengan melukisnya menggunakan cat sisa yang aku temukan. Dari kain perca, aku menjahitnya menjadi keset kecil yang empuk dan berwarna-warni. Setiap kali aku membuat sesuatu, rasanya beban di dadaku berkurang. Di sini, aku tidak merasa bodoh. Di sini, aku merasa bisa menciptakan sesuatu yang indah.

Suatu hari, Bu RT yang rumahnya sering aku bantu bersih-bersih melihat tumpukan kerajinan tanganku di sudut rumah. Matanya terbelalak kaget.

"Laras... ini kamu yang buat semua ini?" tanyanya heran, sambil memungut kotak kardus yang aku buat.

Aku mengangguk malu dan ragu-ragu, takut dia akan mengejeknya seperti orang lain. "Iya, Bu. Cuma iseng aja dari barang bekas. Nggak ada gunanya juga sih..."

"Nggak ada gunanya? Apaan sih, ini bagus banget, Laras!" seru Bu RT antusias. "Kreatif sekali kamu! Ini jauh lebih bagus daripada barang-barang yang dijual di toko. Kamu tahu nggak? Minggu depan ada bazar desa buat ibu-ibu dan warga yang mau jualan. Kenapa kamu nggak ikut jualan ini? Pasti laku keras, Nak!"

Aku tersenyum senang mendengar ada yang benar-benar memuji ku kali ini.

Lalu aku terdiam. Ikut bazar? Jualan buatanku sendiri? Itu terdengar seperti mimpi yang terlalu indah. Selama ini aku hanya tahu cara mengais sampah dan menerima belas kasihan. Tapi kali ini, ini adalah hasil kerjaku sendiri, sesuatu yang aku banggakan.

"Benarkah... benar bisa, Bu?" tanyaku pelan, hatiku berdebar kencang—bukan karena takut, tapi karena harapan yang mulai tumbuh lagi.

"Tentu saja bisa!" jawab Bu RT tersenyum lebar. "Besok aku bantu daftarkan ya. Kamu harus ikut, Laras. Tunjukkan pada semua orang bahwa kamu punya keahlian yang luar biasa."

Malam itu, aku tidur dengan perasaan yang berbeda. Meskipun kasurku masih keras dan atapku masih bocor, ada cahaya kecil yang menyala di hatiku. Mungkin Tuhan tidak memberiku otak yang cepat dalam pelajaran sekolah, tapi Dia memberiku tangan yang terampil dan rajin. Dan mungkin, ini adalah awal dari perubahannya. Aku harap Ini adalah caraku mengubah takdirku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!