Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melahirkan dan Hamil??
Suara tangis saling bersautan di ruang VK, Nina mengembuskan napas lega mendengarnya. Dia berhasil menjalani persalinan normal seperti yang diinginkan.
Sejak subuh tadi dia merasakan kontraksi pertama, tepat saat pintu kamarnya tertutup. Ammar meninggalkannya setelah mendapatkan telepon dari Leti. Lelaki itu terlihat panik dan pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.
Sedih?
Ah ... Nina sudah biasa, dia selalu ditinggalkan dan berjuang sendirian menghadapi hidup-mati. Dulu pun sama, ayah Aby dan Anin tengah sibuk berselingkuh dengan perempuan lain ketika Nina menghadapi persalinan pertamanya dan kini pun sama. Bedanya kali ini, Nina menjadi pihak kedua. Namun persamaannya tentu dia ditinggalkan karena perempuan lain.
"Selamat ya, Nin!" Dokter Asha tersenyum dan meletakan salah satu bayi di dadanya. Asisten Dokter Asha juga melakukan hal sama.
Kedua bayi merah itu sedang mencari-cari sumber makanannya, sambil diperiksa oleh dokter spesialis anak.
Nina menatap kedua kepala dengan rambut hitam legam. Mirip sekali dengan ayah si bayi. Bagaimana dengan wajahnya?
Ada banyak tanya, tapi Nina mencoba menahan. Dia tengah mendengarkan pembicaraan antara dokter anak dan dokter Asha. Tentang kondisi pemeriksaan dasar bayi mungil itu.
Dirasa cukup, bayi-bayi itu mulai ditimbang dan melakukan segala prosedur pemeriksaan bayi baru lahir.
Tak ada masalah dengan kedua bayi itu. Termasuk berat badan dan fungsi organ vital. Namun tetap harus dimasukan ke dalam inkubator terlebih dahulu.
Ah ... Organ kewanitaan Nina, mendapatkan beberapa jahitan. Tak terlalu banyak, tapi cukup membuat Nina meringis kesakitan.
***
"Selamat nyonya! Putri anda mirip sekali dengan Tuan Ammar."
Nina mengiyakan, Putri yang belum diberi nama itu memiliki mata hitam seperti ayahnya. Sedangkan putranya memiliki netra yang sama dengannya.
Bibi Tuti menyambut antusias kelahiran anak kembar itu. Katanya ini pertama kalinya di keluarga majikannya memiliki anak kembar. Beliau menceritakan sedikit tentang Ammar bayi yang diurus olehnya.
Perempuan yang seharusnya sudah beristirahat dan menikmati masa pensiun, justru mau direpotkan dalam menjaga anak dari mantan anak yang diasuh nya dulu.
"Tuan Abdullah pasti gembira mengetahui sudah memiliki cicit kembar." Yang dimaksud Bi Tuti adalah kakek dari Ammar.
Nina hanya menanggapinya dengan senyuman. Pikirannya terlalu berisik dengan kemungkinan-kemungkinan buruk di masa depan.
Tentang bagaimana cara dirinya untuk mengikhlaskan salah satu dari anaknya, atau bahkan Ammar akan meminta kedua nya?
Tapi Nina akan berusaha memohon agar dirinya diizinkan merawat mereka. Tidak apa tidak dipanggil 'ibu' atau tidak dibayar. Tenang saja Nina terbiasa bekerja keras untuk bertahan hidup. Yang penting anak-anaknya bisa sekolah dan perutnya bisa diisi makanan.
Sore menjelang malam, para kolega Ammar datang. Menjenguk Nina dan anak-anaknya. Ada yang berwajah asing ataupun yang sudah pernah bertemu dengannya walau baru hitungan jari.
Rama yang tempo hari menjelaskan perihal rumah, Alex yang katanya mengaku sebagai pengacara, Nando yang bermata hijau dan berambut cokelat, mengaku sengaja terbang dari Bali hanya untuk menjenguknya. Dan terakhir Oscar yang katanya sebagai direktur rumah sakit ini.
Mereka berempat bukan hanya membawakan hadiah untuk si kembar. Tapi juga untuk Nina. Contohnya seperti tas branded, dan perhiasan yang sepertinya cukup mahal.
Walau sedikit jengah karena dikelilingi laki-laki, tapi setidaknya ini cukup menghiburnya. Apalagi dua diantara empat laki-laki itu meng-azani masing-masing anaknya.
"Oh ya, nyonya! Bos besar kami, sekaligus kolega langsung Tuan Ammar menitipkan sesuatu pada anda. Maaf beliau tidak bisa datang karena sedang berada di Amerika." Ucap Rama sambil memberikan amplop berwarna putih.
Nina tidak tau apa isinya, yang jelas amplop itu tidak tebal. "Sampaikan terima kasih saya pada beliau." Komentarnya.
Mereka berempat hanya berkunjung sebentar. Mungkin sekitar lima belas menit. Katanya tidak ingin terlalu lama mengganggu, karena ibu pasca persalinan membutuhkan istirahat yang cukup.
Setelah mereka pergi, ruangan kembali hening. Hanya ada Nina sendiri. Anak-anaknya sudah dibawa kembali ke ruangan bayi. Sementara Bu Tuti sudah pulang untuk beristirahat dan digantikan pelayan lain yang kini sedang membeli makan malam.
Nina menatap layar ponselnya, tidak ada satupun notifikasi dari suaminya. Bolehkah dia kecewa?
Nina ingat, kemarin malam Ammar sendiri yang mengatakan akan mendampinginya saat melahirkan. Katanya tidak akan melewatkan momen penting yang sudah lama ditunggu. Tapi mana?
Sudah hampir dua belas jam anak-anak mereka lahir, pria itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Kemana dia?
Apa yang sedang Ammar lakukan dengan istrinya?
Apa mungkin pria itu sedang bersenggama dengan istrinya, sama seperti mereka semalam?
Pikiran-pikiran buruk itu membuat kepala Nina berdenyut. Ingin sekali mengenyahkan tapi tidak bisa.
***
Ammar begitu panik mendapatkan telepon dari Leti, tanpa pikir panjang dia meminta pilotnya untuk bersiap terbang ke negara tetangga. Dia lupa akan janjinya pada istri yang tengah menunggu persalinan.
Begitu sampai di rumah sakit yang dimaksud, Ammar mendapati Leti terbaring di ranjang pasien dengan jarum Infus tertancap di punggung tangan.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya khawatir. "Bukankah kamu akan kembali ke LA? Kenapa malah berada di sini?" Ammar sendiri mendengar pembicaraan antara Leti dengan sang manager.
Leti terlihat gugup, "aku memperpanjang liburan."
"Kenapa tidak memberitahu aku?" Ada sesuatu yang mengganjal.
"Ini aku kasih tau kamu." Leti menarik tangan Ammar agar lebih dekat. "Aku masih merindukan kamu." Katanya manja.
"Apa kata dokter?"
Pertanyaan itu, sontak membuat Leti menunduk. "Sepertinya setelah ini, aku harus membayar Pinalti cukup besar pada brand yang mengontrak ku."
"Apa yang terjadi?" Ammar menyingkap selimut bagian bawah, dia melihat dua kaki jenjang itu baik-baik saja tanpa ada lecet sedikitpun. Bagi model seperti Leti, kaki adalah aset paling berharga. Ammar bernapas lega.
"Bukan ini, babe! aku tidak kecelakaan, aku hanya pingsan karena terlalu lelah."
"Kelelahan?" Ammar menatap istrinya bingung. Bukankah baru kemarin lusa liburan mereka berakhir. Biasanya Leti akan terlihat lebih segar ketika liburan tiba.
Maka dari itu, Ammar sampai membeli pulau pribadi agar istrinya bisa beristirahat dari kegiatan yang padat.
"Dokter bilang, aku tidak boleh kelelahan."
Istrinya ini adalah perempuan yang menerapkan pola hidup sehat. Leti rajin berolahraga dan kerap membagikan kegiatannya di media sosial. Termasuk makanan yang dikonsumsi. Walau minusnya, Leti belum bisa lepas dari dunia malam. Dia menyukai dunia gemerlap dan sering berpesta setiap akhir pekan.
"Oke ... Lalu?"
Tangan Ammar diarahkan pada perut rata dibalik selimut rumah sakit. "Dokter mengatakan aku hamil."
Mata hitam Ammar sontak melebar. Apa tadi, Hamil?
Sisi waras Ammar mulai berpikir keras. Bukankah baru saat liburan tiga hari kemarin, mereka bertemu dan berhubungan intim? Itupun Ammar selalu memakai pengaman. Karena dia tau betul, Leti tidak ingin memiliki anak. Tapi kenapa sekarang, tiba-tiba hamil? Apa mungkin pengamannya saat itu bocor? Tapi bisakah mendeteksi kehamilan dalam kurun waktu tiga hari saja?
Lalu mereka juga sudah lebih dari empat bulan tidak bertemu muka. Jadi bagaimana bisa istrinya itu hamil?
"Hey ... Bukankah ini yang kamu harapkan? Aku hamil dan memberikan kamu seorang pewaris? Sekarang aku sudah hamil, jadi kamu tidak perlu melanjutkan menyewa rahim milik perempuan itu." Leti menggoyangkan tangannya.
Pikiran Ammar terlalu sibuk dengan pemikiran-pemikiran buruk. Apa dia kecolongan?
"Tapi bagaimana dengan tubuhku setelah aku hamil? Apa akan rusak? Bagaimana jika aku tidak bisa lagi berjalan di catwalk? Bagaimana kalau tidak ada brand yang mengontrak aku? Kamu tau kan, aku juga masih trauma dengan masa kecil. Apa aku gugurkan saja anak ini?"
Ammar mendelik. Bagaimana bisa ada ibu yang berniat membunuh darah dagingnya sendiri?
Ammar memang mendukung sepenuhnya tentang keinginan Leti untuk tidak memiliki anak. Dia bahkan rela selalu memakai pengaman setiap mereka berhubungan badan. Tapi tidak dengan membunuh janin yang tidak berdosa.
"Lahirkan anak ini." Perintahnya. "Mengenai brand, dengan koneksi aku bisa membuat mereka datang pada kamu."
"Tapi kamu mau kan menjadikan anak ini pewaris?"
Seketika Ammar bungkam.
apakah kakek Ammar yg meninggal atau Nina yang kabur membawa ank kembar mereka.. jadi penasaran
Next kak