Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — Sesuatu yang Mulai Terhubung
Hujan akhirnya berhenti keesokan paginya.
Udara terasa lebih segar, namun dingin yang tertinggal membuat jalanan masih basah. Kim Ae Ra berjalan menuju halte bus sambil memegang payung hitam milik Hyun Jae Hyuk. Ia sempat ragu membawanya, tetapi entah kenapa ia tidak ingin meninggalkannya di rumah.
Payung itu terasa… menenangkan.
Sepanjang perjalanan, pikirannya kembali pada mimpi samar semalam. Bukan mimpi yang jelas, hanya potongan perasaan—hujan, suara air, dan seseorang berdiri di sampingnya.
Ia tidak bisa mengingat wajahnya.
Hanya rasa hangat yang tertinggal.
“Aneh sekali,” gumamnya.
---
Aegis Corp terlihat lebih hidup setelah cuaca membaik. Jadwal yang sempat tertunda kembali menumpuk, membuat lantai eksekutif sibuk sejak pagi.
Ae Ra langsung tenggelam dalam pekerjaan.
Telepon masuk tanpa henti, perubahan jadwal datang beruntun, dan beberapa divisi meminta konfirmasi sekaligus.
Namun kali ini ia tidak panik.
Tangannya bergerak lebih cepat, suaranya lebih stabil, dan untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar menjadi bagian dari tempat itu.
Pintu ruang CEO terbuka.
Jae Hyuk keluar sambil memperhatikan meja kerja Ae Ra yang tertata rapi.
“Kau mulai terbiasa.”
Ae Ra tersenyum kecil.
“Mungkin.”
Ia hendak menyerahkan dokumen ketika tangan mereka hampir bersentuhan. Keduanya berhenti sesaat sebelum sama-sama menarik tangan.
Hening singkat terasa canggung.
Jae Hyuk berdeham pelan.
“Ada rapat tambahan siang ini.”
“Iya.”
Namun sebelum ia kembali ke ruangannya, pandangannya jatuh pada payung yang disandarkan di sisi meja Ae Ra.
“Kau membawanya.”
“Iya… saya akan mengembalikannya nanti.”
Jae Hyuk mengangguk, tapi tidak mengatakan bahwa ia sebenarnya sengaja memberikannya.
---
Siang hari membawa kabar baru.
Han Sin Woo datang dengan ekspresi serius.
“Tuan CEO, perusahaan Haesung mengajukan kerja sama proyek gabungan.”
Ae Ra yang sedang mencatat sedikit terkejut.
Kerja sama?
Bukankah mereka pesaing?
Jae Hyuk menyilangkan tangan.
“Menarik.”
Nada suaranya justru terdengar waspada.
“Pertemuan awal dijadwalkan minggu depan,” lanjut Sin Woo.
Jae Hyuk mengangguk pelan.
“Kita terima.”
Saat pria itu pergi, Ae Ra bertanya hati-hati, “Apakah itu hal baik?”
Jae Hyuk menatap jendela beberapa detik.
“Dalam bisnis, tidak ada yang benar-benar baik atau buruk.”
Jawaban itu terasa berat.
---
Malam hari, Ae Ra kembali ke toserba setelah pulang kerja.
*Klining…*
Bo Ram sedang menata rak sambil bersenandung.
“Ae Ra! Hari ini cerah sekali!”
Seo Jun berdiri di dekat kasir, mengangkat pandangan sebentar.
“Kau terlihat lebih ringan.”
“Aku tidak terlalu dimarahi hari ini,” jawab Ae Ra bercanda.
Bo Ram tertawa keras.
Namun Seo Jun memperhatikan payung di tangan Ae Ra.
“Payung baru?”
Ae Ra melihatnya.
“Oh, ini… punya CEO.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Seo Jun terdiam sesaat, hampir tidak terlihat.
“Hm.”
Ia kembali menata barang, tapi gerakannya sedikit melambat.
Ae Ra tidak menyadarinya.
---
Di luar toko, malam terasa tenang.
Namun tidak jauh dari sana, sebuah mobil berhenti sebentar sebelum kembali melaju.
Hyun Jae Hyuk tidak turun kali ini.
Ia hanya memastikan satu hal.
Bahwa Ae Ra sudah pulang dengan selamat.
Ia sendiri tidak mengerti kapan kebiasaan itu mulai terbentuk.
---
Di dalam toko, Bo Ram tiba-tiba berkata,
“Eh, Ae Ra… kau ingat tidak dulu waktu sekolah kita pernah kehujanan parah?”
Ae Ra berpikir sebentar.
“Sering sekali.”
Bo Ram tertawa kecil, tapi matanya sekilas berubah ragu, seolah hampir mengatakan sesuatu… lalu mengurungkannya.
“Tidak apa-apa,” katanya cepat.
Seo Jun memperhatikan mereka berdua dalam diam.
Ada bagian dari masa lalu Ae Ra yang tidak ia ketahui.
Dan entah kenapa, ia merasa bagian itu perlahan akan muncul kembali.
Sementara Ae Ra sendiri berdiri di bawah lampu neon toko kecil itu, memegang payung hitam di tangannya.
Tanpa sadar bahwa benda sederhana itu… perlahan membuka pintu menuju kenangan yang selama ini terkunci.