NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Nasi Liwet Buatan Annisa

Hari Jumat selalu membawa atmosfer yang sedikit lebih santai di kantor Hasyim Group. Menjelang jam istirahat siang, aroma pengharum ruangan beraroma kopi di lantai direksi mendadak kalah oleh aroma yang jauh lebih menggugah selera: aroma santan gurih, ayam suwir, dan sambal goreng krecek.

Annisa datang dengan sebuah misi.

Bukan membawa berkas tebal atau laporan keuangan seperti biasa, kali ini wanita itu membawa tiga rantang besar dan beberapa kotak makanan. Ia menyebutnya sebagai "Jumat Berkah", syukuran kecil-kecilan karena ibunya sudah sembuh total.

"Silakan, Pak Haryo, Mbak Desi, dicicipi. Saya masak Nasi Liwet Solo pagi buta tadi," ujar Annisa ramah sambil membagikan piring kertas kepada rekan-rekan satu divisinya di ruang tengah.

"Wah, baunya sedap banget, Bu Annisa. Tumben masak banyak?" tanya Pak Haryo antusias.

"Iya Pak, lagi kangen masak aja. Sekalian bawa lebih buat Pak Direktur," jawab Annisa dengan senyum yang sulit diartikan.

Sementara itu, di dalam ruangannya, Akbar baru saja menyelesaikan tanda tangan terakhirnya. Perutnya sudah berbunyi minta diisi. Ia berniat memesan makanan online, namun pintu ruangannya diketuk.

"Masuk," perintah Akbar.

Annisa masuk membawa nampan berisi sepiring penuh Nasi Liwet lengkap dengan sayur labu siam, ayam suwir, telor pindang, dan kumut (santan kental). Tampilannya sangat menggoda, persis seperti sajian restoran tradisional.

"Pak, maaf mengganggu. Ini saya bawa makan siang buat teman-teman, saya sisihkan satu piring buat Bapak. Nasi Liwet resep keluarga," tawar Annisa sopan.

Mata Akbar berbinar. Sebagai penggemar masakan Nusantara, pertahanannya runtuh melihat nasi liwet yang masih mengepul itu.

"Wah, repot-repot amat, Nis. Tapi makasih lho, kebetulan saya lapar berat," ucap Akbar jujur. Ia langsung menerima piring itu dan meletakkannya di meja tamu.

"Nggak repot kok, Pak. Silakan dicoba. Awas pedas kreceknya," Annisa duduk di sofa seberang, menemani bosnya makan sebuah gestur yang wajar dalam etika kantor yang kekeluargaan, namun terasa intim bagi mata yang melihat dari sudut pandang lain.

Tepat pada saat yang sama, lift gedung berdenting di lantai direksi. Pintu lift terbuka, memunculkan sosok Hannah Humaira.

Hannah tersenyum cerah hari ini. Ia mengenakan gamis navy yang rapi dengan tas jinjing kain bermotif lucu di tangan kanannya. Di dalam tas itu, tersimpan kotak bekal tingkat dua.

Sejak pagi, Hannah sibuk di dapur. Setelah kesuksesan Lasagna dan pengakuan cinta Akbar (yang masih ia ragukan tapi diam-diam ia syukuri), Hannah ingin memberikan kejutan lagi. Kali ini ia memasak Cumi Asin Cabe Ijo dan Tumis Kangkung Belacan, menu sederhana namun favorit Akbar yang pernah suaminya sebutkan sekilas minggu lalu.

"Semoga Mas Akbar suka. Pedesnya udah pas," gumam Hannah penuh harap.

Hannah berjalan melewati resepsionis yang sudah mengenalnya.

"Siang, Bu Hannah. Mau ketemu Bapak?" sapa resepsionis ramah.

"Iya, Mbak. Bapak ada di ruangan?"

"Ada, Bu. Langsung saja."

Hannah melangkah dengan hati berdebar bahagia. Ia membayangkan wajah kaget dan senang Akbar saat melihatnya datang membawa bekal. Mungkin mereka bisa makan berdua lagi di sofa seperti waktu itu.

Namun, langkah Hannah melambat saat ia mendekati pintu ruangan Akbar yang terbuat dari kaca sandblast setengah badan. Pintu itu sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup lebar untuk melihat ke dalam.

Suara tawa terdengar dari dalam.

Hannah berhenti. Ia mengintip lewat celah pintu.

Pemandangan di dalam sana membuat senyum di wajahnya luntur seketika, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki ke ulu hati.

Di meja tamu, Akbar sedang makan dengan sangat lahap. Tangannya memegang sendok dan garpu, menyuapkan nasi yang terlihat lezat ke mulutnya. Wajah suaminya terlihat sangat menikmati, bahkan sesekali mengangguk-angguk tanda setuju akan rasa masakan itu.

Dan di depannya, duduk Annisa. Wanita itu tersenyum puas melihat Akbar makan.

"Gimana, Pak? Kurang asin nggak?" tanya Annisa, suaranya terdengar jelas oleh Hannah.

Akbar menelan kunyahannya, lalu mengacungkan jempol. "Enak, Nis. Juara ini kreceknya. Persis kayak langganan saya di Solo. Pinter kamu masak."

"Alhamdulillah kalau Bapak suka. Nanti kalau mau nambah, masih ada di rantang luar," jawab Annisa dengan nada bangga.

Akbar tertawa renyah. "Bahaya ini, bisa gagal diet saya. Tapi beneran enak. Makasih ya."

Hannah terpaku di balik pintu. Tangannya mencengkeram erat tas bekalnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Mas Akbar makan masakan Mbak Annisa...

Dan dia bilang enak. Juara.

Hannah menunduk menatap tas bekalnya sendiri. Isinya hanya cumi asin dan kangkung. Masakan rumahan yang ia buat dengan resep Google yang ia coba-coba. Dibandingkan dengan Nasi Liwet lengkap buatan Annisa yang terlihat rumit dan profesional, bekal Hannah terasa... menyedihkan.

Rasa insecure yang kemarin sempat tertidur, kini bangun kembali dengan raungan yang lebih keras.

"Lihat kan, Hannah? Annisa bisa segalanya. Dia bisa kerja, dia bisa ngatur keuangan, dan ternyata dia juga jago masak. Kamu punya apa? Cuma rengekan manja?"

Bisikan jahat di kepalanya terus berdengung.

Hannah melihat Akbar menyuapkan sendok berikutnya dengan semangat. Suaminya terlihat bahagia. Kenyang. Puas.

Hannah merasa kehadirannya di sana tidak lagi diperlukan. Perut Akbar sudah diisi oleh wanita lain. Selera lidah Akbar sudah dipuaskan oleh wanita lain. Jika Hannah masuk sekarang dan menyodorkan cumi asinnya, itu hanya akan menjadi lelucon. Masakan Hannah hanya akan jadi "sampah" yang tidak termakan karena Akbar sudah kekenyangan.

Mata Hannah memanas. Air mata mendesak ingin keluar, tapi ia tahan sekuat tenaga. Ia tidak boleh menangis di sini. Ia tidak boleh membuat keributan.

Dengan hati yang remuk, Hannah mundur perlahan. Ia menjauh dari pintu ruangan itu.

Langkahnya gontai menuju meja resepsionis. Semangatnya yang tadi membara kini padam total, menyisakan abu kekecewaan.

"Lho, Bu? Kok balik lagi? Nggak jadi masuk?" tanya resepsionis bingung melihat Hannah kembali dengan wajah pucat.

Hannah menggeleng lemah, memaksakan senyum yang terlihat menyakitkan.

"Bapak lagi ada tamu penting, Mbak. Saya nggak mau ganggu," dusta Hannah.

Ia meletakkan tas bekal itu di meja resepsionis.

"Mbak, tolong titip ini ya buat Mas Akbar. Bilang aja... bilang aja dari kurir makanan. Jangan bilang dari saya ya," pinta Hannah.

"Lho? Kenapa, Bu? Bapak pasti seneng kalau Ibu yang kasih langsung."

"Tolong ya, Mbak. Plis. Bilang aja Go-Food atau apa gitu," desak Hannah, suaranya mulai serak menahan tangis. "Saya... saya ada urusan mendadak."

Tanpa menunggu jawaban resepsionis yang kebingungan, Hannah berbalik dan berjalan cepat menuju lift. Ia menekan tombol down berkali-kali dengan tidak sabar.

Saat pintu lift tertutup dan membawanya turun, pertahanan Hannah jebol. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

Ia merasa bodoh. Sangat bodoh. Ia pikir ia sudah memenangkan hati Akbar lewat perutnya, ternyata posisi itu pun bisa digantikan dengan mudah oleh Annisa.

Mas Akbar bilang cinta sama aku. Tapi dia makan masakan perempuan lain selahap itu...

Logika Hannah tahu Akbar tidak bersalah Akbar hanya lapar dan menghargai pemberian bawahan. Tapi perasaan Hannah yang rapuh menerjemahkannya sebagai pengkhianatan kecil. Pengkhianatan rasa.

Siang itu, Hannah pulang dengan tangan kosong dan hati yang lebih kosong lagi. Sementara di atas sana, bekal cumi asin buatannya tergeletak dingin di meja resepsionis, menunggu giliran yang entah kapan datangnya, kalah saing oleh Nasi Liwet yang hangat.

Bersambung...

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!