Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merbabu Sunrise
Pukul tiga dini hari di Sabana 1 Gunung Merbabu adalah perpaduan antara keheningan yang magis dan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Suara ritsleting tenda yang dibuka terdengar nyaring di tengah kesunyian. Tia keluar dengan tubuh terbungkus empat lapis pakaian, termasuk jaket down tebalnya. Di luar, Idris sudah berdiri bersama Mas Danu, lampu kepala (headlamp) mereka membelah kegelapan kabut tipis.
"Siap, Mbak Tia? Ini bagian terakhir, tapi yang paling menantang. Jalur menuju Puncak Kenteng Songo," suara Mas Danu terdengar tenang, memberikan rasa aman.
Tia mengangguk meski giginya sedikit gemertak karena suhu yang menyentuh 5°C. Idris mendekat, merapikan kupluk Tia agar menutupi telinganya dengan sempurna. "Ingat, Tia, jangan lihat seberapa jauh puncaknya. Lihat saja satu meter di depan langkahmu. Kita akan sampai di sana tepat saat matahari menyapa."
Pendakian terakhir ini adalah ujian mental yang sesungguhnya. Mereka harus melewati tanjakan terjal bebatuan dan jalur sempit yang diapit jurang di sisi kanan dan kiri. Mas Danu berjalan di depan, memastikan setiap pijakan stabil, sementara Idris berada tepat di belakang Tia, siap menyangga punggungnya jika ia kehilangan keseimbangan.
"Napasnya diatur, Mbak. Tarik dari hidung, buang lewat mulut pelan-pelan," instruksi Mas Danu saat mereka melewati tanjakan berbatu yang licin karena embun pagi.
Tia tidak banyak bicara. Seluruh energinya terpusat pada koordinasi kaki dan paru-parunya. Namun, setiap kali ia mendongak, ia melihat gugusan bintang yang mulai memudar, digantikan oleh semburat warna biru tua di cakrawala. Harapan itu memberinya tenaga tambahan.
"Dikit lagi, Tia! Itu batas vegetasinya sudah habis. Kita sudah hampir di punggungan puncak!" seru Idris dengan nada antusias.
Tepat pukul 05.15, kaki Tia menapak di hamparan tanah tertinggi Merbabu, Puncak Kenteng Songo. Ia tertegun. Di depannya, awan-awan putih terhampar luas seperti samudera kapas yang tak berujung.
Di kejauhan, siluet Gunung Merapi berdiri gagah dengan kepulan asap tipisnya, sementara Gunung Sumbing dan Sindoro tampak menyembul di kejauhan.
Semburat oranye keemasan mulai membelah langit timur. Matahari terbit dengan kemegahan yang tak sanggup dilukiskan kata-kata.
"Kita sampai, Mas... kita benar-benar di sini," bisik Tia, suaranya bergetar karena haru. Air mata hangat menetes di pipinya yang dingin.
Idris merangkul bahu Tia erat, membiarkan wanita itu menyerap keindahan yang luar biasa tersebut. "Kamu hebat, Sayang. Kamu baru saja menaklukkan ketakutanmu lagi. Dari paralayang ke puncak Merbabu."
Mas Danu tersenyum di belakang mereka, memberikan ruang bagi keduanya untuk menikmati momen tersebut. "Selamat, Mas, Mbak. Ini puncaknya. Doa-doa baik biasanya didengar lebih jelas di sini."
...----------------...
Setelah emosi mereda dan cahaya matahari sudah cukup terang, Tia teringat misinya. Ia merogoh bagian paling atas tas kerilnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang didesain khusus, berisi brownies andalannya yang masih utuh karena dipak dengan sangat hati-hati.
"Ayo, Mas! Bantu aku. Ini saatnya Crumbs & Clouds mendunia—atau setidaknya, memuncak!" canda Tia.
Idris dengan sigap mengambil kamera DSLR yang ia kalungkan di leher. Mas Danu membantu memegang reflektor darurat dari bahan emergency blanket agar cahaya matahari jatuh sempurna pada kue tersebut.
Tia mengatur komposisinya: Brownies "Shaba Fudgy" dengan taburan sea salt diletakkan di atas sebuah batu alam puncak, dengan latar belakang kawah Merapi yang dramatis dan samudera awan yang membentang di bawahnya.
Kontras antara warna cokelat pekat yang shiny dengan birunya langit pagi menciptakan estetika yang luar biasa.
Klik! Klik! Klik!
"Dapat!" seru Idris sambil menunjukkan hasil fotonya pada Tia. "Tia, ini gila. Ini bukan cuma foto iklan, ini foto kemenangan. Brownies ini kelihatan seperti harta karun di atas gunung."
Tia tersenyum lebar. Ia kemudian meminta Mas Danu untuk mengambil foto dirinya dan Idris. Mereka berdiri berdampingan, memegang papan bertuliskan "Puncak Merbabu 3.142 MDPL". Di tangan satunya, Tia memegang kotak browniesnya.
"Mas Idris, foto satu lagi," pinta Tia. "Tapi kali ini, jangan liat kamera. Liat aku."
Idris menuruti permintaan itu. Mereka saling menatap dengan latar belakang matahari yang sudah sepenuhnya muncul. Dalam foto itu, tidak hanya ada keberhasilan pendakian, tapi ada komitmen yang semakin dalam di antara mereka.
Idris hanya menurut saja tapi kebahagiaan Tia adalah kebahagiaan dirinya juga. Saat hampir melangkah dari sana Tia menahan tangan Idris "Ayo foto sekali lagi mas kita duduk sambil menikmati sunrise".
Setelah sesi foto selesai, mereka duduk di puncak sambil menikmati brownies tersebut bersama Mas Danu.
"Enak sekali, Mbak Tia. Cokelatnya terasa sangat kuat, pas sekali dengan udara dingin begini," puji Mas Danu tulus. "Saya sering menemani pendaki, tapi baru kali ini ada yang bawa brownies sekelas restoran ke puncak."
"Ini rahasianya, Mas Danu," sahut Tia sambil mengunyah browniesnya. "Rasa cokelat ini jadi berkali-kali lipat lebih enak karena kita tahu perjuangannya buat bawa ini sampai ke sini. Sama kayak hidup, ya kan, Mas Idris?"
Idris mengangguk setuju. "Benar. Brownies ini adalah simbol kalau mimpi itu bisa dibawa ke mana saja, setinggi apa pun itu, asal kita punya kemauan buat mendakinya."
Tia menatap hamparan awan di bawahnya. "Mas, aku sudah tahu apa menu selanjutnya setelah ini. Aku akan buat limited edition 'Merbabu Sunrise'. Brownies dengan lapisan selai aprikot oranye di tengahnya, melambangkan warna matahari yang kita liat sekarang."
"Kamu selalu punya ide yang bagus sayang. Inilah yang aku sukai darimu" jawab Idris dengan tulus. Ketulusan itu terlihat di mata Tia. Dia tersenyum dan memeluk Idris dengan erat.
Idris kaget karena dipeluk secara tiba-tiba "Kenapa hm?" Tanya idris saat melihat Tia secara tiba-tiba terenyuh dengan matanya yang sedikit basah.
"Aku terharu tau mas, aku jadi makin cinta sama kamu" Idris terkekeh dengan pelan "Oh jadi ungkapan cinta kita digunung ya kemarin waktu itu hanya ungkapan ketertarikan yang ada".
Tia mengangguk. Lalu Idris bergantian memeluknya, "I love you Tia.. I love you 3.142 MDPL".
"Kok I love you 3.142 MDPL sih mas?" tanya Tia.
"Karena kita sedang berada di ketinggian 3.142 MDPL" Tia mengangguk mengerti dan tersenyum.
Idris melepaskan pelukannya lalu mengelus rambut milik Tia. "Ini sih yang berantakan bukan rambutku, tapi jantung dan hatiku ikut berantakan" batinnya.
...----------------...
Matahari sudah semakin tinggi, udara mulai terasa hangat. Mas Danu mulai merapikan barang-barang untuk persiapan turun.
"Kita harus turun sebelum kabut siang naik, Mas, Mbak," ajak Mas Danu.
Sebelum beranjak, Tia berdiri sekali lagi di tepi puncak. Ia menghirup udara pegunungan yang murni sedalam-dalamnya. Perjalanan ini telah memberinya lebih dari sekadar konten foto untuk bisnisnya. Ia pulang membawa keyakinan baru bahwa tidak ada tanjakan yang terlalu terjal selama ia tidak berhenti melangkah.
Ia menggenggam tangan Idris saat mereka mulai melangkah turun. "Terima kasih, Mas Idris. Sudah membawaku ke sini. Sudah membantuku melihat dunia dari sudut yang lebih tinggi lagi."
Idris mencium tangan Tia yang digenggamnya. "Perjalanan kita masih jauh, Tia. Merbabu baru satu dari sekian banyak puncak yang akan kita daki bersama. Baik itu gunung beneran, atau gunung-gunung tantangan di Jakarta nanti."
Mereka berjalan turun dengan langkah mantap. Di dalam tas Tia, kotak kue itu kini kosong, namun hatinya penuh dengan inspirasi dan cinta yang setinggi puncak yang baru saja ia tinggalkan.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada