Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagi papa aku memang tidak ada
Di atas ketinggian tiga puluh enam ribu kaki Alvin malam itu juga tidak bisa tidur, padahal biasanya aman saja karena dia sering perjalanan udara ke berbagai belahan dunia. Namun malam itu dia tidak bisa terlelap, Alvin merasa bosan. Padahal jika di banding biasanya dia menggunakan peswat komersil, kali ini dia tentu lebih nyaman selama perjalanan karena menggunakan jet pribadi milik kakak iparnya.
Alvaro bahkan sudah tidur setelah dia tadi sempat melakukan panggilan video dengan istri dan ke dua putranya. Perjalanan udara yang mereka tempuh masih menyisakan waktu beberapa jam lagi, kurang lebih empat sampai lima jam sebelum mendarat di bandara tempat tujuan mereka. Butuh waktu sekitar enam sampai delapan jam untuk ke duanya sampai di tempat tujuan.
“Bosan sekali, Nana sedang apa ya? dia juga tidak mengirim pesan padaku,” gumam Alvin.
Alvin melihat pemandangan yang ada di bawah dari jendela pesawat, entah saat itu dia melintasi daerah mana. Namun dari ketinggian tempatnya berada, dia cukup takjub melihat pemandangan malam dri atas pesawat. Hingga akhirnya dia mendapatkan ide, Alvin lantas mengeluarkan leptopnya dari dalam tas.
“Bermain-main sebentar dengan dia sepertinya tidak apa-apa,” monolognya sambil membuka leptop.
Alvin lantas menerobos masuk ke dalam server K.Nara, awalnya dia hanya mengirimkan serangan kecil. Alvin hanya ingin bermain dengan K.Nara, karena menurut Alvin K.Nara adalah lawan yang cukup tangguh. Dia ingin lihat seberapa kuat pertahanan K.Nara saat megalami serangan.
Di luar perkiraan Alvin, meskipun dia sudah bisa menebak kalau lawannya bukan hacker sembarangan. Namun dia tidak menyangka jika K.Nara bisa menebak pola serangan Alvin padanya.
“Hmm…menarik juga dia. Cerdas juga kamu baby,” monolognya.
Alvin tetap mengirimkan serangan bertubi-tubi, dia bahkan sambil terkekeh membayangkan ekspresi K.Nara. Itu dapat terbaca dari convert signal yan di kirim K.Nara padanya, apalagi Alvin membalas dengan kalimat yang cukup mengundang kekesalan pihak lawan.
Alvin masih terus menyerang, hingga dia tidak lagi menemukan pergerakan dari K.Nara. Dia mengerutkan dahinya, menyadari ada sesuatu yang terasa janggal. Alvin lantas memeriksa sesuatu, dia tersenyum smirk.
“Hebat juga. Dia berhasil mengecohku,” ucap Alvin tersenyum simpul saat menyadari kalau K.Nara mengaktifkan traffic re direction.
K.Nara atau Nana ternyata mengecoh Alvin, dia membiarkan Alvin terus menyerang. Namun Nana tidak lagi membalas serangan, dengan mengaktifkan traffic re direction tersebut membuat lawan tetap masih menyerang. Namun serangan-serangan yang Alvin lakukan dialihkan pada server kosong, Nana bukan mengehentikan serangan. Melainkan mengecoh Alvin dengan mengalihkan serangan, karena jika Nana menghentikan serangan dapat berpotensi menghancurkan server yang sudah dia buat dengan kerja kerasnya selama ini.
Di rasa sudah cukup puas, Alvin menghentikan serangannya. Tidak lupa sebelum dia off, dia mengirimkan convert signal kembali pada K.Nara.
“Terimakasih sudah menemaniku bermain, rasa bosanku jadi hilang. Sampai ketemu lagi baby,”
Nana membelalak membaca convert signal dari Galaxy Cosmic.
“Dia kira aku teman bermainnya saat dia bosan begitu? Ini lagi kenapa juga menyebut aku bayi,” kesal Nana.
Dia kemudian mematikan leptop dan menaruhnya diatas meja, Nana akhirnya kembali ke tempat tidur. Awalnya hanya iseng ingin berselancar karena dia tidak bisa tidur, malah berakhir dengan kesal karena mendapat serangan dari Galaxy Cosmic.
Nana menatap langit-langit kamarnya, ada banyak hal yang dia pikirkan. Terutama tentang identitas ke duanya tersebut, sebentar lagi dia akan menikah dengan Alvin. Lalu bagaimana dia nanti jika ingin beralih pada identitas K.Nara? Setidaknya Nana butuh ruang untuk dirinya sendiri, tanpa gangguan Alvin. Tapi Nana tidak mungkin bilang pada Alvin, kalau dirinya adalah hacker.
Dia juga terpikir untuk menghubungi papanya kembali, namun ada keraguan di sana. Terlebih setelah mama Haruna mengatakan kalau sebelum dia dan suaminya ke Indonesia, mereka sudah menemui papanya. Respon papa Nana hanya biasa saja, tidak mengatakan ingin datang atau apa. Dari sana Nana sudah paham, kalau papanya tidak perduli.
Nana lantas mengambil ponselnya, di Korea mungkin papanya sudah tidur. Dia memandangi room chatnya dengan sang papa, sudah berdebu dan mungkin usang. Begitulah Nana menggambarkan, saking dia hampir tidak pernah berkirim pesan dengan sang papa. Bisa terhitung dengan jari, berapa kali papa dan anak tersebut saling berkirim pesan.
Nana bangun dan duduk diatas tempat tidur, dia menghela napas. Nana mulai mengetik sesuatu dalam room chatnya dengan sang papa.
“Kenapa papa sangat membenciku? Bukankah aku yang anak kandung papa? Aku tahu mereka bukan anak kandung papa, tapi papa selalu memperlakukanku terbalik dengan mereka. Itu rumahku, pa. Rumah masa kecilku dengan mama, bukan rumah mereka. Apa papa juga tidak akan mencariku jika aku menghilang dari dunia ini? Ah! Rasanya aku sudah tahu jawabannya, papa tidak akan pernah mencariku. Bagi papa aku memang tidak ada,”
Nana menekan tombol kirim, dia mengirim pesan tersebut pada Kim Haejun yang tidak lain adalah papanya. Setelah itu Nana meletakkan ponselnya diatas nakas, dia kembali merebahkan diri dan mencoba untuk tidur.
***
Tok…tok
“Siapa?” tanya Ayzel dari dalam kamar.
“Nana,”
Nana mengetuk pintu kamar Ayzel pagi itu, sebelumnya dia merasa ragu. Namun akhirnya dia meyakinkan diri untuk mengetuk kamar kakak iparnya.
“Masuk saja, Na. Aku sedang mandikan Haziel,” jawab Ayzel dari dalam.
Nana lantas membuka pintu, dia menyembulkan kepalanya lebih dulu sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar. Dia melihat Altezza sudah rapi sambil duduk di sofa menikmati snack paginya, sedangkan Ayzel masih di kamar mandi. Terdengar suara Haziel yang riuh kegirangan karena bisa bermain air.
“Onty mau cenek?” Altezza mengulurkan snacknya pada Nana.
“Buat kamu saja, boy.” Nana duduk di samping Altezza, dia langsung memeluk gemas sang keponakan. “Kamu wangi banget sih, boy. Wangi bayi banget,” ucap Nana yang senang dengan aroma bayi Altezza dan Haziel.
“Eheehe…geli onty, Ezza cudah lapi. Jangan diacak-acak lagi lambut na, kacian mama. Halus cicil lambut Ezza lagi,” protesnya pada sang aunty dan Nana tentu makin gemas pada sang keponakan.
Beberapa saat kemudian Ayzel keluar sambil menggendong Haziel dalam balutan handuk karakter, bocah itu sedikit kedinginan setelah keluar dari bak mandi air hangat.
Ayzel lantas memakaikan pakaian untuk putra ke duanya, dia mendandani Haziel. Tiidak lupa mengaplikasikan skincare bayi untuk putra tampannya tersebut, minyak telon dan parfum bayi tidak ketinggalan tentunya. Nana dan Altezza memperhatikan interaksi mama dan anak tersebut. “Mama celalu di kuacai adek,” celetuk Altezza.
Ayzel tersenyum. “Dulu mama juga seperti ini sama abang,” ucapnya.
“Benalkah? Mama ndak bohong?” Altezza turun dari sofa, dia menghampiri sang mama.
“Nanti kalau papa pulang kita minta lihat video waktu abang kecil, oke! Biar nanti abang bisa lihat,”
“Oke mama,”
Altezza dan Haziel sudah rapi dan wangi, tinggal Ayzel yang belum mandi. Itupun harus dia tunda karena Nana sepertinya ada perlu dengan dirinya.
“Ada apa, Na?” Ayzel sambil merapikan perlengkapan Haziel.
Nana memainkan ujung bajunya, dia menunduk dengan wajah malu-malu. Ayzel terkekeh melihat itu, dia lantas duduk di dekat Nana. “Ada apa, hmm?”
“Itu…,” dia berbisik di telinga Ayzel.
Ayzel tersenyum. “Kamu sudah yakin?” tanya Ayzel diangguki Nana. “Yakin,” jawabnya.
Ayzel mengangguk. “Aku mandi dulu kalau begitu, titip dua keponakan tampanmu itu. Aku bantu setelah ini,”
“Siap,”
Ayzel lantas mengambil baju dan handuk, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu Nana menemani Altezza dan Haziel menonton kartun.
aku kalau baca bocil candel gumusss bnggt suka suka ❤️
punya nada dan author Kenz ketawa sendiri,pada di luar Nurul kata" mereka
menyakiti istri sama anak dan suatu saat paham ,ada gitu yah
ga ngeh aku
secar mereka hampir gagal
kejutan untuk Nana?
Hanya Author yg tau
kaya lagi viral lakinya menggatal ma LC 🤭
berperang sama masalalu tuh capek karena apa saraf"nya yg lembut kaya lelembut jadi terganggu alias oleng tapi bentar doang sih ya kan Thor
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣