NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30.Hal-Hal yang Tidak Diucapkan

Raisa tahu, ada kebenaran yang tidak berisik—tapi beratnya bisa membuat dada sesak.

Ia duduk di bangku taman sekolah, menatap layar ponsel yang gelap. Namanya Nadira berulang kali muncul di kepalanya, disusul wajah Selvina yang terlalu tenang akhir-akhir ini. Di antara keduanya, Raisa berdiri seperti jembatan rapuh—satu langkah salah, dan seseorang akan jatuh.

Kalau aku diam, aku melindungi Selvina.

Kalau aku bicara, aku menyelamatkan Nadira.

Angin malam menggeser daun-daun kering. Raisa menutup mata, dan ingatan itu datang tanpa izin.

🐺🐺🐺

Malam itu, beberapa minggu lalu.

Lampu kota memantul di permukaan danau kecil di pinggir sekolah. Raisa dan Selvina duduk berdampingan, kaki mereka menggantung, udara dingin memaksa jaket ditarik lebih rapat.

“Kalau aku berubah,” kata Selvina tiba-tiba, menatap air. “Kau akan bilang ke aku, kan?”

Raisa menoleh. “Berubah bagaimana?”

“Lebih dingin,” jawab Selvina pelan. “Atau terlalu yakin.”

Raisa tersenyum kecil. “Kau selalu yakin.”

Selvina menggeleng. “Tidak seperti ini.”

Ada jeda. Lalu Selvina berkata, seolah membaca pikirannya, “Aku dekat dengan Varrendra.”

Raisa menahan napas. “Aku tahu.”

“Bukan sekadar dekat,” lanjut Selvina. “Kami bergerak ke arah yang tidak aman.”

Raisa menatapnya, serius. “Kau menyukainya?”

Selvina tersenyum—bukan senyum bahagia. “Aku mempercayainya.”

Malam itu, Raisa tidak bertanya lebih jauh. Ia memilih menemani. Ia memilih diam.

🐺🐺🐺

Kini, diam itu terasa seperti beban.

Ponsel Raisa bergetar. Pesan masuk dari Nadira:

Ra, kau sibuk?

Raisa mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Aku harus jujur, pikirnya.

Tapi jujur pada siapa lebih dulu?

🐺🐺🐺

Di rumah Rivena, pagi terasa seperti komedi kecil yang tak direncanakan.

“Aku mau pisang,” kata Rivena, berdiri di dapur.

Gevano mengambil pisang dari meja. “Ini.”

Rivena mencium ujungnya, lalu meringis. “Tidak. Bau ini salah.”

Varrendra menepok jidatnya pelan. “Pisang punya bau yang sama, Ma.”

“Tidak,” bantah Rivena yakin. “Yang ini bau… keputusan buruk.”

Gevano mendesah, lalu menepok jidatnya sendiri. “Baik. Catat. Pisang: berbahaya.”

Beberapa menit kemudian, Rivena kembali. “Aku mau pisang.”

Varrendra dan Gevano saling pandang. Serempak, mereka tertawa—tertawa yang lega, tertawa yang menyembuhkan.

Namun di balik tawa itu, Varrendra merasakan sesuatu yang lain.

Ketika Rivena duduk, tangannya refleks melindungi perutnya. Gerakan kecil, naluriah. Dan untuk pertama kalinya, kata kakak berdenyut nyata di kepalanya.

Kakak.

Ia menelan ludah.

Ia tidak pernah memikirkan dirinya sebagai pelindung yang lembut. Ia terbiasa memimpin, mengatur, mengendalikan. Tapi menjadi kakak—itu berarti hadir saat lelah, sabar saat berubah-ubah, dan kuat tanpa pamer.

Apa aku siap?

Atau aku hanya berpura-pura dewasa?

🐺🐺🐺

Sore itu, Selvina memanggil Raisa ke ruang kosong dekat aula.

“Aku butuh bantuanmu,” kata Selvina tanpa basa-basi.

Raisa menegang. “Tentang apa?”

“Pernikahan,” jawab Selvina.

Satu kata itu membuat udara terasa berat.

“Kau dan Varrendra?” tanya Raisa hati-hati.

Selvina mengangguk. “Aku ingin dipercepat.”

Raisa membelalakkan mata. “Tanpa—tanpa bicara dengannya dulu?”

“Tanpa menunggu persetujuannya,” koreksi Selvina tenang. “Ini bukan tentang romantika. Ini tentang perlindungan.”

Raisa berdiri. “Selvina, ini gila.”

“Mungkin,” jawab Selvina. “Tapi aman.”

“Untuk siapa?” suara Raisa bergetar. “Untukmu? Atau untuk semua orang yang ingin mengikatmu?”

Selvina menatapnya lama. “Aku tidak punya waktu untuk menunggu dunia berubah pikiran.”

Raisa menghela napas. “Dan perasaan Varrendra?”

Hening.

“Dia akan mengerti,” kata Selvina akhirnya.

Raisa ingin berteriak. Ingin mengguncang bahu sahabatnya dan berkata bahwa mengerti bukan berarti siap. Tapi ia menahan diri.

“Bantu aku,” pinta Selvina.

Dan Raisa, yang terlalu lama menjadi penopang, hanya bisa mengangguk—meski hatinya menolak.

🐺🐺🐺

Malam turun. Di kamarnya, Varrendra menatap langit-langit. Tangannya terlipat di belakang kepala. Pikirannya berisik.

Rivena. Bayi. Nadira yang akhir-akhir ini terlalu sering ada di dekatnya. Selvina yang menjauh dengan alasan kesibukan. Dan perasaan aneh—hangat dan takut—yang tumbuh bersamaan.

Ia meraih ponsel. Pesan dari Selvina masuk.

𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐥𝐮 𝐛𝐢𝐜𝐚𝐫𝐚. 𝐓𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧.

Varrendra mengetik: 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠?

Balasan datang cepat. 𝐒𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia bangkit, bersiap keluar kamar. Di lorong, ia melewati dapur—melihat Rivena tertidur di kursi, satu tangan di perut, satu tangan menggenggam sendok.

Varrendra tersenyum kecil, lalu berhenti.

Kalau aku menjadi kakak, pikirnya,

aku harus berhenti jadi anak.

Ia melangkah pergi.

Di sisi lain kota, Raisa duduk di ranjangnya, menatap pesan Nadira yang belum ia balas. Jarinya gemetar.

Aku akan bicara, tekadnya. Besok.

Namun malam itu, keputusan belum diambil.

Kebenaran belum diucapkan.

Dan langkah yang tampak kecil itu—menunda—akan segera menuntut harga.

Karena beberapa hal, ketika dipercepat, melukai.

Dan ketika ditunda, menghancurkan.

-Bersambung-

1
Ayara
dari segi alur ini mantep banget, ya walau enemynya masih kurang banyakk enemynya..
tapi udah mantapp.. trus konflik tokohnya fan nadira yg ada di hubungan selvina dan varrendra itu terasa nyata kayak konflik di dunia bgt..
pokonya top markotop lah ceritanya..
semangat trus ya thor..
Aretha putri: Aku ucapkan terimakasih banyak karena kak Ayara telah membaca ceritaku
total 1 replies
Ayara
hahahaha.. benerkan dugaan ku.. 🤭
Ayara
belum ada kata tamat berarti ada plot twist nya.. dan harusnya nadira di penjara...
Ayara
aku yakin nadira bakal di penjara..
Mercy ley
thanks authorrrr..semangatt ku tunggu karya mu yg selanjutnya
Aretha putri: Sama-sama dan terimakasih kembali karena telah membaca ceritaku
total 1 replies
Mercy ley
yeyyy 🤗🤗🤗
happy nyaaa
Mercy ley
panik panik🤗
Mercy ley
akhirnya 😌😌
Mercy ley
lah mimpi
Mercy ley
walau kaget..Sang ratu akan abadi di hating sang raja dan pangeran kecilnya🤍
Mercy ley
...🙂
Mercy ley
beuh🥲
Mercy ley
...ngerii banget
Nadira kamu parah si..
Mercy ley
astaga nad..
kalo kamu sudah ditolak kayak gitu..
mundur bukan sakit hati..karena dia memang udah menikah.. kecuali kalo dia emg ga punya hubungan apa apa..boleh kamu Pepet hatinya🥲
Mercy ley
lucunyaaa
Mercy ley
apa kira kira yg mau Nadira lakukan..
Ayara
lanjut thorr
Aretha putri: Siap kak!!!
total 1 replies
Mercy ley
emg bapaknya sel tuh agak agak
Mercy ley: heem..
total 2 replies
Mercy ley
jadi ke inget Selvina
Nyx
bab ini bab fav ku karena varrendra nya tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!