Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
curhatan Rangga
Keesokan harinya suasana di kedai nasi Padang itu terasa berbeda. Meskipun pintu depan masih tertutup untuk umum, aroma harum rempah mulai tercium dari dapur belakang. Ayu, dengan kaki yang masih sedikit diseret, bersikeras meracik Rendang spesial. Ia menggunakan bumbu yang paling medok dan santan kental terbaik, memasaknya perlahan hingga bumbunya meresap sempurna dan mengeluarkan minyak kemerahan yang menggugah selera.
"Kamu ini, Yu... dibilang jangan banyak gerak dulu," tegur Nenek Tari sambil membantu memetik daun singkong.
"Cuma masak sebentar kok, Nek. Biar cepat lunas utangnya," jawab Ayu.
Tepat pukul lima sore, suara deru mobil mewah berhenti di depan kedai. Tak lama, pintu samping diketuk. Rangga masuk dengan gaya santainya, namun tangannya penuh bawaan. Ia meletakkan dua plastik besar berisi keranjang buah-buahan segar dan berbagai macam vitamin serta susu penguat tulang di atas meja makan.
"Banyak banget, Mas? Kan syaratnya cuma masak," cetus Ayu saat melihat tumpukan buah itu.
Rangga tidak menjawab, ia justru mendekat dan mengendus aroma di ruangan itu. "Baunya enak. Rendang?"
Ayu mengangguk pelan sambil menyendokkan nasi hangat ke piring. Ia meletakkan sepotong rendang besar dengan bumbu yang melimpah, ditambah sayur nangka dan sambal hijau di hadapan Rangga.
Rangga duduk, ia menatap piring itu lalu menatap Ayu. "Kamu nggak makan?"
"Aku sudah tadi sama Nenek."
Rangga menarik kursi di sebelahnya, lalu menepuknya. "Duduk di sini. Temani saya makan. Ini perintah dari yang punya piutang."
Ayu mendengus namun menurut. Ia duduk di samping Rangga sambil memperhatikan pria itu menyuap makanan dengan lahap. Rangga tampak sangat menikmati masakan itu.
"Gimana? Kurang garam?" tanya Ayu sedikit gugup.
Rangga mengunyah pelan, lalu menoleh ke arah Ayu. "Rasanya pas. Tapi ada yang kurang."
"Apa?" Ayu panik, ia merasa sudah memasukkan semua bumbu.
"Kurang kamu di samping saya selamanya," jawab Rangga santai sambil lanjut mengunyah, membuat Ayu nyaris tersedak air putih yang sedang ia minum.
"Mas Rangga!"
Rangga tertawa kecil, suara tawa yang sudah bertahun-tahun tidak Ayu dengar. Di tengah suasana hangat itu, Rangga tiba-tiba meraih plastik vitamin yang ia bawa tadi. "Habis ini minum vitaminnya. Saya nggak mau 'tukang masak' saya sakit lagi. Kalau kamu sakit, siapa yang bakal kasih saya makan enak tiap sore?"
Nenek Tari yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dari balik sekat, mendadak berdehem pelan. Ia tampak merapikan jilbabnya.
"Eh, Ayu, Den Rangga... Nenek mau ke kedai depan sebentar ya. Mau cek stok plastik sama kerupuk yang kemarin datang, sekalian mau bersihkan debu sedikit. Biar besok-besok kalau buka sudah rapi," ujar Nenek Tari memberikan alasan.
Ayu menoleh cepat. "Nenek, kan bisa nanti sorean? Biar Ayu bantu."
"Nggak apa-apa, Nenek sendiri saja. Kalian lanjut saja makannya," Nenek Tari memberikan senyum penuh arti ke arah Rangga, lalu melangkah keluar menuju ruang depan kedai yang tertutup, meninggalkan mereka berdua.
"Sudah lama ya kita nggak kayak gini," gumam Rangga pelan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya. "Duduk berdua, makan masakan kamu, tanpa ada orang lain yang protes atau melarang."
Ayu terdiam. Ia merasakan dadanya berdenyut perih mendengar kalimat itu.
Saat Rangga sering menemaninya makan di kantin atau saat mereka diam-diam jajan di pinggir jalan, mendadak berputar seperti film lama.
"Udah berapa tahun ya, Yu?" tanya Rangga lagi, seolah benar-benar mencoba menghitung waktu yang telah mereka buang.
"lima tahun lebih yaa. Ngga kerasa ya kita udah setua ini. Aku merasa umurku masih dua puluhan, ternyata tahun ini sudah kepala tiga. Kamu dua delapan ya yu" tanya Rangga. Ayu hanya membalasnya dengan anggukan.
Ia meraih gelas air putihnya, memutarnya pelan di atas meja. "Dulu, saya pikir saya bisa melupakan kamu dengan cara kerja keras sampai sukses. Saya pikir kalau saya punya segalanya, rasa sakit itu bakal hilang. Tapi ternyata, pas saya lihat kamu lagi.....
Semua pertahanan saya hancur dalam satu detik."
Ayu memberanikan diri menatap Rangga. "Kenapa Mas nggak benci aku saja? Aku kan sudah memutuskanmu dulu, aku pergi tanpa kabar..."
"Saya coba, Yu. Percaya sama saya, saya sudah coba benci kamu setiap hari,"
"saya coba membenci kamu. Mengingat semua yang telah kamu lakukan pada saya tapi saya ngga bisa Yu. Kadang saya menyesal kenapa waktu itu saya malah pergi."