"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Stetoskop Ini Bukan Untuk Mainan, Lala!
Terasa seperti akan berhenti berdetak adalah perasaan yang sangat mengerikan bagi Adrian saat menyadari sosok gadis berpita itu kini sudah menyelinap masuk ke ruang pribadinya. Dia berdiri kaku di depan pintu sambil melihat Lala yang sedang memakai jas putih cadangan miliknya yang jauh kebesaran di tubuh mungil itu. Gadis itu bahkan dengan berani mengalungkan alat pendengar medis di lehernya seolah dirinya adalah seorang praktisi kesehatan yang sedang bertugas.
"Sedang apa kamu di sini dan dari mana kamu mendapatkan kunci akses ruangan saya?" tanya Adrian dengan nada suara yang sangat rendah namun penuh penekanan.
"Pintu ini tadi tidak terkunci rapat, jadi aku masuk saja untuk memastikan jantung Dokter tidak sedang sakit merindukanku," jawab Lala sambil memutar-mutar ujung alat pendengar medis itu.
Adrian melangkah mendekat dengan cepat untuk mengambil kembali peralatan berharga miliknya yang sedang diperlakukan seperti mainan plastik oleh gadis remaja tersebut. Namun Lala justru menghindar dengan lincah dan langsung menempelkan bagian logam bulat yang dingin itu tepat ke arah dada Adrian yang bidang. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah mata elang sang dokter dengan sebuah senyum kemenangan yang sangat lebar.
"Stetoskop ini bukan untuk mainan, Lala, kembalikan sekarang atau saya akan benar-benar marah kali ini!" bentak Adrian sambil berusaha menangkap pergelangan tangan Lala yang mungil.
"Tunggu dulu, biarkan aku mendengar suara perasaan Dokter yang sepertinya sedang berisik sekali di dalam sana!" seru Lala sambil menahan tawa yang hampir meledak.
Kejar-kejaran singkat terjadi di dalam ruangan yang sempit itu hingga punggung Lala membentur rak buku medis yang sangat tinggi dan besar. Adrian tidak sempat mengerem langkahnya hingga posisi mereka kini menjadi sangat dekat dengan kedua tangan pria itu mengunci pergerakan Lala di antara rak buku. Napas mereka saling beradu dan menciptakan suasana yang sangat mencekam sekaligus menggetarkan dinding pertahanan sang dokter yang biasanya sangat kokoh.
"Dengarkan baik-baik, apa yang kamu lakukan ini sudah melanggar peraturan rumah sakit dan bisa membuatmu berurusan dengan hukum," bisik Adrian tepat di depan wajah Lala.
"Kalau hukumannya adalah menikah dengan Dokter Adrian, aku rela masuk penjara asmara selamanya!" balas Lala dengan tatapan mata yang sama sekali tidak gentar.
Adrian menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di dalam dadanya yang kian tidak beraturan karena posisi mereka yang terlalu intim. Dia merebut alat pendengar medis itu dengan satu gerakan cepat dan menggantungnya kembali di tempat yang seharusnya bersih dari tangan orang awam. Namun saat dia hendak menjauh, Lala justru menarik kerah jas putih Adrian hingga wajah pria itu semakin mendekat ke arah wajahnya yang merona merah.
"Kenapa Dokter selalu lari setiap kali aku mencoba untuk mendekat secara terang-terangan?" tanya Lala dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat pelan dan sedikit parau.
"Karena dunia kita berbeda, saya berurusan dengan nyawa manusia sementara kamu masih sibuk dengan urusan sekolah yang kekanak-kanakan," sahut Adrian sambil melepaskan cengkeraman tangan Lala secara perlahan.
Adrian kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan duduk dengan punggung tegak seolah sedang membangun kembali tembok es yang tadi sempat retak sedikit. Dia menunjuk ke arah pintu keluar dengan jarinya yang panjang dan ramping sebagai perintah mutlak bagi Lala untuk segera angkat kaki dari sana. Lala hanya bisa merengut sambil melepaskan jas putih yang ia pakai lalu melemparkannya ke atas kursi periksa dengan perasaan yang sangat kesal.
"Aku akan membuktikan bahwa perasaanku ini lebih serius daripada semua operasi bedah yang pernah Dokter lakukan seumur hidup!" teriak Lala sebelum ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan menghentakkan kaki.
Gadis itu berjalan di sepanjang koridor rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk antara rasa malu dan rasa penasaran yang semakin membuncah di dalam hati. Dia tidak sadar bahwa tindakannya tadi telah membuat seluruh staf medis yang lewat di depan ruangan Adrian mulai berbisik-bisik dengan penuh rasa heran. Sementara itu di dalam ruangan, Adrian hanya bisa terdiam sambil memegang bagian dadanya yang masih terasa bergetar hebat setelah kejadian tadi.
"Kenapa anak kecil itu bisa memiliki kekuatan untuk mengacaukan seluruh sistem saraf pusat di kepala saya?" gumam Adrian sambil menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup rapat.
Pria itu kemudian teringat sesuatu dan segera memeriksa saku jas putihnya untuk mencari pita rambut yang ia simpan tadi secara sembunyi-sembunyi. Namun alangkah terkejutnya Adrian saat ia menemukan sebuah benda lain yang terselip di dalam sakunya selain pita rambut berwarna merah muda itu. Sebuah surat kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi kini berada di genggamannya dan membuat dahinya berkerut sangat dalam karena rasa tidak percaya.
Rasa tidak percaya itu berubah menjadi sebuah kepanikan kecil saat Adrian membaca baris pertama dari surat yang sepertinya merupakan sebuah rahasia yang sangat besar.