"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran. Ternyata bukan musuhnya yang membuat anak ku mati, tapi dia sendiri!"
Sagara pulang dengan kecewa, diketahui sang istri adalah seorang paranormal dengan bayaran selangit, kekuatannya tak di ragukan lagi. Ternyata....
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara, putus asa.
"Tahu Tuan, kebetulan kekasihku di kampung merupakan tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari."
Sagara tertarik, menatap Alang penuh arti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum bertemu
Matahari mulai condong ke arah barat, mendung yang sempat menyelimuti kini telah berlalu pergi mengikuti arah angin.
Cerah, cahaya jingga menerpa wajah ayu Niken yang gundah. Rasa sedih dan takut menyelimuti hatinya. Saga dan Arimbi belum di temukan. Dia sendiri terkurung di rumah sang ibu dengan segala pikiran berkecamuk.
"Nak, di minum susunya." suara halus Hapsari, adik dari Gendis itu mendekati Niken. Merayu sang anak yang masih dalam tekanan, batinnya tak tenang, wajahnya berkerut dan tegang. Berapa banyak kah penderitaan yang telah dia alami, Hapsari belum berani menanyakannya.
Niken berbalik, ia menatap wajah sang ibu yang menatap sendu. Senyumnya tulus, tapi mengandung keperihan.
"Bu, antarkan aku pulang ke rumah itu. Kalau aku datang, maka Nyai Gendis akan menyerahkan Arimbi." ucap Niken.
"Kamu tidak boleh datang ke sana. Dia akan menjadi sempurna kalau berhasil memangsa anak mu." jawab Nyai Hapsari.
Niken terdiam, bukan hanya Arimbi yang membuatnya gelisah, tapi Saga.
"Anak dari gadis istimewa seperti kamu, lebih membuatnya mencapai puncak kekuatan, ketimbang anaknya sendiri." kata Hapsari lagi.
"Bagaimana dengan Ibu?" tanya Niken. mengingat mereka adalah saudara.
"Seharusnya, keturunan ketujuh itu adalah ibu. Tapi Mbak Gendis tidak terima, karena ibu di perlakukan lebih baik, di cap sebagai penyelamat dalam keluarga. Mereka semua sudah bosan menjalani ritual sesat, sehingga ibulah yang akan memutusnya."
Nyai Hapsari bercerita dengan berurai air mata, wajah ayunya tampak begitu sayu, kelembutan terpancar jelas di sana. Niken meraih tangan sang ibu, lalu menggenggamnya. "Apakah, ibu pernah menjalankan ritual-ritual gila itu?"
"Tidak, ibu tidak pernah. Karena keturunan ke tujuh tidak perlu melakukan ritual. Nyawanya sudah di gadaikan lewat perjanjian awal. Ibu hanya perlu pasrah, bersedia menjadi istri sesembahan mereka, dan kemudian di dunia ini ibu akan mati muda, yang sebenarnya bukan mati, tapi jiwa ibu di bawa ke alam mereka."
"Bagaimana Nyai Gendis bisa_?"
"Ritual itu dilakukan pastinya dengan sebuah tujuan, contohnya untuk membunuh. Dulu dia melakukan ritual pertama untuk membunuh ibu, dan mengira ibu sudah tiada karena sudah terlalu lama di siksa. Padahal, ibu masih hidup karena di selamatkan ayahmu."
Nyai Hapsari menyingkap lengan bajunya, menampakkan banyak bekas luka. Niken yakin, di bagian tubuh lainnya ada banyak lagi.
"Bu! Bagaimana kalau Arimbi juga di siksa?" tanya Niken khawatir.
Nyai Hapsari terdiam khawatir, seolah tersadar akan betapa kejamnya Gendis. Bukan tidak mungkin dia akan melampiaskan kepada arimbi.
Sementara itu, di dalam ruangan yang gelap dan pengap. Saga baru saja membuka mata setelah tertidur tanpa sengaja, ia kehabisan tenaga.
Di sebelahnya, sosok Arimbi duduk menyandar lemas menatap lurus pintu yang tertutup rapat.
"Arimbi, kamu sudah sadar?" tanya Saga, ia ingat terakhir kali posisi Arimbi tergeletak di lantai.
"Kita ada dimana?" tanya Arimbi.
"Tidak tahu, sepertinya masih di rumah." Saga menatap sekeliling yang samar, dinding yang menjulang itu membuatnya yakin kalau mereka ada di rumah besar.
Di dalam ruangan itu, begitu sunyi senyap. Jangankan suara adzan yang dinanti Arimbi, cahaya dari luar pun tak terlihat sama sekali. Atau mungkin, sudah malam.
Arimbi melakukan sholat tanpa berdiri, soal tubuhnya yang lusuh, kotor dan berdarah-darah, hanya Allah saja yang tahu. Kewajiban tetap harus di jalankan.
"Menurutmu, apakah Niken selamat?" tanya Saga, setelah Arimbi mengakhiri sholatnya.
"Tentu saja, kalau Mbak Niken tidak selamat, maka sudah pasti kita berdua sudah di habisi." jawab Arimbi, ia terdiam sejenak, Cahya lampu remang dan berkedip itu memperlihatkan Saga yang menyandar penuh luka.
"Syukurlah. Nanti, aku titip Niken dan anak ku." ucap Saga.
Arimbi mengepalkan tangannya, ada banyak sekali hal harus di ketahui, tapi rasa haus mencekik lehernya membuatnya tak melanjutkan obrolan. Yang pasti, Niken itu telah menikah dengan Saga, suami dari saudari ibu mereka. Arimbi menggeleng, tak bisa membayangkan bagaimana Niken menghadapi semua ini.
Suara langkah terdengar di balik pintu, Arimbi dan Saga saling menatap. Kalau saja tangannya tak terikat, sudah pasti Arimbi bisa melumpuhkan orang yang datang. Tapi, sepertinya mereka sudah penuh perhitungan.
Pintu di buka, tampaklah Nina membawa nampan dan juga sebotol air di tangannya.
"Makanlah!" titah Nina.
Arimbi melotot, menatap wajah Nina yang datar. Auranya tak lagi bersih, kabut hitam menyelimuti dirinya. Memperjelas sisi kemanusian nya yang tinggal sedikit.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di wajah Arimbi, Nina merasa kesal karena gadis itu menatapnya. "Apa maksud tatapan mu itu?" mengarahkan garpu ke wajah Arimbi.
"Aku tidak bisa makan." jawab Arimbi, berusaha setenang mungkin.
Nina mengamati Arimbi, dari ujung kaki hingga kepala, lukanya cukup parah. Tangannya diikat di belakang.
"Katakan pada Gendis, aku ingin bicara." ucap Saga.
Plak!
Nina menampar wajah Saga, kemudian meraih wajahnya mendongak. "Kau kira, dia masih menginginkanmu?"
Saga menarik wajahnya, menyingkirkan tangan Nina dengan dagunya. "Dia butuh anak kan?" Saga tersenyum sinis, mencoba bernegosiasi licik.
"Kalau begitu kau buat saja dengannya." sinis Nina pula, ia melirik Arimbi dengan tatapan aneh.
"Kau mau apa?" tanya Arimbi, merasa diri dalam bahaya.
"Bukankah kau saudara kembarnya?" Nina tersenyum miring. Tangannya berputar-putar memainkan jari, bibirnya berkomat-kamit membaca sesuatu yang tak terdengar. Kemudian berbalik, meniupkan di wajah Saga. "Darah perawannya juga bisa membuat Nyai Gendis pulih lebih cepat."
Nina tertawa terbahak-bahak, melepaskan ikatan tangan Saga, menunggu reaksi mantera-nya bekerja dan kemudian Saga akan menyukai Arimbi, tergila-gila dan ingin melakukannya.
"Sial!" Saga menyadari dirinya yang begitu gampang terkena sihir. Kalau diam saja maka Arimbi dalam bahaya.
Saga menjulurkan kakinya diantara langkah Nina, dan gadis itu terjerembab.
Buru-buru Saga memukul pundaknya, beberapa kali hingga Nina pingsan.
"Huh! Huh! Huh!" Saga berdiri, menahan diri agar tak terjatuh. Ia berbalik melepaskan ikatan Arimbi, tangannya yang bergetar itu tampak kesulitan. Menahan rasa yang membuat penglihatannya tak normal, sekilas wajah Arimbi itu seperti Niken. Saga ingin sekali memeluk dan menciuminya.
"Niken." gumamnya, menepuk kepalanya sendiri.
"Cepatlah! Tanganku terikat!" geram Arimbi, kalau tak segera bebas maka pasti akan terjadi.
Saga sedikit sadar, buru-buru menarik ikatan yang melilit tangan Arimbi.
Sejenak ia terdiam, menyentuh tangan Arimbi itu membuatnya memikirkan Niken, rasa cinta yang menggebu membuatnya gemas sekali. Keinginannya membubung tinggi, kepalanya terasa berat dan pening. Bibirnya bergetar.
"Istighfar Mas, Mbak Niken sedang menunggu kita." ucap Arimbi.
Saga merapatkan giginya, kemudian mengarahkan mulutnya pada tali yang masih erat, ia menggigitnya kuat-kuat.
Talinya melonggar! Arimbi segera menarik tangannya dan melepaskan diri. Tak lupa melepas ikatan di kaki dengan terburu-buru.
"Niken!" gumam Saga, memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menahan diri.
jangan jangan Sagara mau sama Niken karena dia wanita tulang wangi
tinggal Alang nih ....
apakah dia mau menyerahkan Niken ke Sagara 🤔
emang kalau paranormal ga bisa punya anak ??
Niken sendirian di rumah kayu itu
ditinggalkan tanpa ikatan yang jelas
hanya memegang janji manusia
bukan suami istri
tapi ......
apa yg sebenarnya terjadi hayoo
smg di di sini kya yusuf bisa menyadari nya krn 2 anak di besarkan bukan dr tngan sndri melainkan di titipkan
nahh kek mana oraan ne
setelah tau anak2 nya menemukan jalan masing2
selamat menjalankan ibadah puasa thor
niken ngidam nya hiiii aq bayangin aja udh ngerasa gigi ngilu
dulu aq ngidam buah tp semua buah harus manis
klo g manis aq ogah
🙈🙈🙈🙈
kyo lagune kae lho lho
tresno iku esek3
okeh isine lancar traksine
trsno iku esek3
kosong isi ne ora ono regone
urip butuh duit
tresno iku g keno di kresit
akan menikah secara resmi
di pesantren ,bareng Arimbi & imam
semoga lancar sampai hari kemenangan
aamiin
merencanakan kejahatan mereka
jgn2 kebakaran rumah haji Ibrahim juga perbuatan mereka
layaknya saudara angkat donk
Krn di asuh kiyai Hasan