Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Konfrontasi Arga dan Maya
Pintu ruangan manajer itu terbanting cukup keras, menyisakan getaran yang terasa hingga ke lantai koridor.
Maya keluar dengan langkah lebar-lebar. Wajah cantiknya tak lagi menyiratkan keanggunan wanita karier yang biasanya ia pamerkan. Kali ini, raut itu berantakan oleh amarah. Bibirnya terkatup rapat, menahan teriakan, sementara tangannya mencengkeram tali tas begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Arga yang berdiri menunggu seperti patung di dekat pilar langsung tersentak. Dia melihat kilat di mata Maya. Kilat yang berbahaya.
"May..." Arga mencoba memanggil, suaranya tercekat di tenggorokan. Dia melangkah cepat, berusaha menghadang jalur jalan wanita itu.
Maya tidak melambat sedikit pun. Dia menabrak bahu Arga dengan kasar, terus berjalan lurus menuju lift.
"Maya, tunggu dulu! Dengerin aku sebentar!" Arga setengah berlari, menyambar lengan Maya. "Jangan kayak gini, May. Malu dilihat orang."
Maya berhenti mendadak. Dia mengibaskan tangan Arga dengan sentakan kasar, seolah kulit pria itu beracun. Dia berbalik, menunjuk wajah Arga dengan telunjuk yang gemetar.
"Jangan. Sentuh. Aku," desis Maya. Suaranya rendah, tapi tajam menusuk. "Kamu mau aku teriak di sini? Biar satu kantor tahu kalau Supervisor Senior mereka itu maling?"
Wajah Arga memucat seketika. Dia menelan ludah, menengok kanan-kiri dengan panik. Untungnya koridor sedang sepi.
"Maling apa sih, May? Jaga omongan kamu. Aku bisa jelasin," bisik Arga, memohon. "Kita ngobrol di tempat lain ya? Jangan di sini."
"Mau jelasin apa lagi?" Maya tertawa pendek, tawa yang terdengar sumbang dan penuh hinaan. "Nadinta baru aja pamerin semuanya ke aku, Arga. Semuanya. Foto gaun sutra itu, kemeja linen kamu, sepatu kulit... Totalnya pas banget sepuluh juta. Angka yang sama persis kayak limit kartu kredit aku yang kamu pinjam kemarin sabtu."
Maya maju selangkah, menatap Arga dengan sorot mata membunuh.
"Kamu bilang itu buat dana talangan kantor? Buat proyek mendesak? Ternyata buat dandanin tunangan kamu biar kelihatan cantik?"
"May, itu taktik!" Arga berusaha membela diri, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. "Kamu nggak ngerti situasinya. Nadinta nekan aku di mal! Dia ninggalin aku di kasir. Aku panik, May. Aku nggak punya pilihan!"
"Alasan sampah!" potong Maya cepat. "Kamu tuh laki-laki paling menyedihkan yang pernah aku kenal, tau nggak? Udah miskin, tukang tipu, nggak punya harga diri lagi. Kamu pake uang selingkuhan kamu buat nyenengin tunangan kamu? Otak kamu di mana sih, Ga?"
"Aku nggak nyenengin dia!" sanggah Arga frustrasi. "Aku kejebak! Sumpah demi Tuhan, aku niatnya mau minta ganti kok sama dia nanti!"
"Kapan gantinya? Hah?" Maya melotot. "Gaji kamu aja udah abis buat bayar cicilan Pajero rongsokan itu kan? Kamu mau ganti pakai apa? Ginjal?"
"May, tolonglah... Kecilin suara kamu."
"Bodo amat!" Maya berbalik badan, kembali berjalan cepat menuju lift yang pintunya baru saja terbuka.
Arga ikut masuk ke dalam lift, mengabaikan tatapan bingung dua orang staf divisi keuangan yang sudah ada di dalam. Sepanjang perjalanan turun ke basement, keheningan di antara mereka begitu mencekam.
Maya berdiri memunggungi Arga, menatap pantulan dirinya di dinding besi dengan napas yang masih memburu. Arga berdiri gelisah di belakangnya, ingin bicara tapi takut salah ucap.
Begitu pintu lift terbuka, Maya langsung berjalan menuju lahan parkir, entah ingin menemui siapa.
"May! Maya!" Arga mengejar lagi, kali ini lebih nekat. Dia berlari mendahului Maya dan berdiri tepat di depannya.
"Minggir, Arga!"
"Nggak! Kita belum selesai!" Arga merentangkan tangan, menahan pintu. Napasnya tersengal. "Kamu nggak bisa pergi gitu aja pas lagi emosi. Kita harus lurusin ini sekarang."
"Apa yang mau dilurusin sih?!" teriak Maya, suaranya menggema di basement yang lembap dan sepi.
"Faktanya udah jelas! Kamu nipu aku! Sepuluh juta itu limit belanja aku bulan ini, Arga! Sekarang udah abis kamu pake buat beliin baju perempuan itu! Terus aku makan apa? Aku belanja pake apa?"
"Aku bakal ganti, May! Ya Tuhan, aku pasti ganti!"
"Omong kosong!" Maya memukul dada Arga dengan tas tangannya. "Dari kemarin kamu janji-janji doang! Bayar makan di SKYE aja kartu kamu ditolak! Tas aku yang kemarin juga nggak jadi dibeliin! Kamu tuh bangkrut, Ga! Sadar diri dong!"
Kata-kata itu menohok ulu hati Arga. Rasa malu yang dia pendam sejak insiden kartu kredit ditolak kini berubah menjadi amarah defensif. Dia merasa tidak dihargai. Dia merasa sudah berkorban banyak, tapi Maya seolah buta.
Arga mencengkeram pergelangan tangan Maya, menghentikan pukulan wanita itu.
"Dengerin aku dulu!" bentak Arga, suaranya menggelegar, membuat Maya terdiam kaget.
"Kamu pikir aku bangkrut gara-gara siapa, hah?" Arga menatap Maya nyalang. "Kamu pikir uang aku abis buat siapa selama ini?"
Maya menepis tangan Arga kasar. "Maksud kamu apa? Kamu mau nyalahin aku?"
"Emang nyatanya gitu kan?!" Arga meledak. Dia tidak tahan lagi. "Coba kamu inget-inget. Siapa yang minta tas branded pas ulang tahun kemarin? Siapa yang nuntut makan di restoran mewah tiap minggu biar bisa update story?!"
Arga menunjuk wajah Maya dengan telunjuk gemetar.
"Itu kamu, May! Semua itu pake uang aku! Gaji aku, tabungan aku, bahkan jatah uang buat nikahan aku sama Nadinta, semuanya lari ke kamu!" potongnya,
"Aku bela-belain beli Pajero itu juga buat siapa? Buat kamu kan? Biar kamu nggak malu jalan sama aku! Biar temen-temen sosialita kamu itu nggak ngetawain kita!"
Napas Arga memburu. Wajahnya merah padam. Urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"Aku udah ngasih semuanya buat menuhin gengsi kamu, May. Aku gali lubang tutup lubang, aku bohong sana-sini. Terus sekarang, giliran aku kepepet, giliran aku butuh bantuan sepuluh juta doang—itu juga bukan buat aku pribadi—kamu ngamuk kayak orang kesetanan? Di mana otak kamu? Di mana rasa terima kasih kamu?"
Maya menatap Arga tak percaya. Mulutnya sedikit terbuka. Dia tidak menyangka Arga akan melempar semua itu ke wajahnya. Namun, alih-alih merasa bersalah, ego Maya justru semakin terluka.
Dia tertawa. Tawa yang dingin dan meremehkan.
"Wow..." gumam Maya sambil geleng-geleng kepala. "Jadi sekarang kamu ngungkit-ngungkit? Kamu ngerasa jadi pahlawan karena udah biayain gaya hidup aku?"
"Aku cuma minta pengertian kamu!"
"Pengertian?" Maya maju selangkah, menantang Arga. "Arga, denger ya. Kamu ngelakuin semua itu bukan karena aku minta todong pistol di kepala kamu. Kamu ngelakuin itu karena kamu juga menikmati kan? Kamu menikmati jalan sama cewek cantik kayak aku. Kamu menikmati bisa pamer ke temen-temen kamu kalau pacar kamu high class."
Maya tersenyum miring, senyum yang sangat menyakitkan.
"Itu harga yang harus kamu bayar, Arga. Kalau kamu mau punya pacar sekelas aku, ya modal dong. Kalau nggak mampu, ya cari aja cewek pasaran kayak Nadinta yang mau diajak susah. Jangan salahin aku kalau dompet kamu tipis."
"Jaga mulut kamu, May..." geram Arga.
"Kenapa? Bener kan?" Maya melipat tangan di dada. "Dan asal kamu tau ya. Mobil Pajero kamu itu? Norak. Makan di SKYE kemarin? Biasa aja. Kamu tuh cuma berusaha keras buat kelihatan kaya, padahal aslinya... kosong."
Kalimat itu meruntuhkan sisa-sisa harga diri Arga.
"Kosong kamu bilang?" suara Arga bergetar. "Setelah semua yang aku korbanin?"
"Iya. Kosong," tekan Maya. "Dan sekarang, karena kamu udah berani bentak-bentak aku dan ngungkit pemberian kamu, aku kasih kamu ultimatum."
Maya menatap Arga tajam.
"Sepuluh juta itu. Aku mau balik besok pagi. Harus udah ada di rekening aku sebelum jam sembilan. Kalau nggak..."
"Kalau nggak apa?" tantang Arga putus asa.
"Kalau nggak, aku bakal datang ke ruangan Nadinta. Aku bakal ceritain semuanya. Soal utang kamu, soal hubungan kita, soal betapa unprofessional-nya kamu minjem uang bawahan buat urusan pribadi."
Wajah Arga memucat total. "Kamu... kamu nggak mungkin tega."
"Coba aja. Kamu pikir aku takut?" Maya mendengus. "Udah minggir. Aku mau pulang. Muak liat muka kamu."
Maya mendorong tubuh Arga sekuat tenaga. Arga yang sedang lemas karena syok, terdorong mundur beberapa langkah.
Arga berdiri terpaku di sana. Dia menatap punggung Maya yang semakin menjauh di basement parkir, mungkin berjalan kembali ke lobi kantor atau kantin.
Arga melihat dompetnya. Kosong.
Dia melihat saldo rekeningnya di ponsel. Ribuan perak.
Dan besok jam sembilan pagi, dia harus punya sepuluh juta.
"Sialan..." Arga menendang pilar beton di sampingnya sekuat tenaga. "Argggh! Sialan!"
Rasa sakit di kakinya tidak sebanding dengan kepanikan yang mulai mencekik lehernya. Dia sendirian di parkiran gelap ini. Nadinta sudah tidak bisa dimanipulasi. Maya sudah menjadi musuh.
Arga merosot, duduk di lantai beton yang dingin. Dia membenamkan wajah di antara kedua lututnya. Untuk pertama kalinya, Arga merasa benar-benar kalah. Bukan karena Nadinta, tapi karena kebodohannya sendiri yang mencoba memelihara gengsi tanpa isi.
Sementara dalam ruangannya, Nadinta melepas kaca matanya, kembali mengingat bagaimana ekspresi Maya yang jelas menyuratkan rasa kesal, iri, dan juga amarah pekat selama berada di ruangannya.
Mari kita lihat, bagaimana caramu membersihkan nama di mata Maya, Mas.