NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Saling selingkuh / Ibu Tiri / Konflik etika
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Di Sekolah

...(Sagara mode guru)...

"Lo kenapa, Bi? Pagi-pagi udah lemes aja," sapa Dinda yang melihat sahabatnya yang baru saja datang langsung membaringkan kepalanya di meja.

"Bokap-nyokap gue cerai..." cicit Bian dengan tatapan kosong.

"Hah? Aslinya? Kok tiba-tiba?" Dinda ikut terkejut. Pasalnya Bian dan Dinda sudah berteman sejak SMP, dan yang ia ketahui kedua orang tua Bian nampak baik-baik saja.

Bian pun menceritakannya kepada Dinda mengenai perceraian kedua orang tuanya yang membuat orang yang mendengarnya tak habis pikir.

"Kok kayak di sinetron sih pakai ada tuker pasangannya segala?"

"Gue gak suka, Din! Walaupun pernikahan nyokap bokap gue aneh karena bokap gue yang lebih sering ngurusin gue dan rumah, terus nyokap gue lebih sering sibuk di kantornya, tapi gue gak mau mereka pisah," curhat Bian kembali dengan air mata yang berlinang.

"Iyalah, siapa juga yang mau kalau orang tuanya cerai. Tapi kalau udah resmi gitu, lo jadi gak bisa apa-apa dong," komentar Dinda. "Terus lo tinggal sama siapa? Lo udah ketemu sama calon nyokap-bokap sambung lo?"

Bian menggelengkan kepalanya lemas. "Katanya selama gue masih belum bisa terima, kita bakal masih tinggal di rumah. Sampai gue siap mereka gak bakalan ngenalin gue ke calon mereka masing-masing."

"Ya ampun, kasihan banget sih sahabat gue. Sini gue peluk," ujar Dinda bersimpati. Bian pun memeluk sahabatnya itu, sementara Dinda mengusap punggung Bian menenangkan.

"Kalian kenapa pelukan gini?"

Terdengar suara Kayra. Dinda dan Bian pun menyudahi pelukan mereka. Benar saja dua orang sahabat mereka yang lain datang, Kayra dan Regina

"Bokap-nyokapnya Bian cerai." Dinda mengumumkan mewakili Bian kepada Kayra dan juga Regina.

"Serius, Bi?" tanya Regina yang kerap kali dipanggil Rere, ikut bersimpati.

Bian hanya mengangguk lemah.

"Ya ampun, gue ikut sedih, Bi," ujar Kayra yang jerap kali dipanggil Kay. "Kok bisa sih? Bukannya mereka baik-baik aja selama ini? Malah kita lebih sering denger bokap-nyokapnya Rere yang suka berantem."

"Kay," tegur Dinda. Ia khawatir Regina tersinggung. Regina memang yang paling pendiam dan agak sensitif di antara mereka.

"Gak apa-apa. Emang bener, kok," ujar Regina. "Gue malah ngiranya lo ada masalah sama Theo. Soalnya Andre bilang dia kelihatan gak semangat gitu."

"Kalau Theo..." cicit Bian lesu, "dia juga lagi marah sama gue. Sejak kemarin dia gak angkat telepon gue dan chat gue."

"Kombo gitu sih yang bikin lo bete," ujar Kayra. "Udah deh jangan terlalu dipikirin tentang masalah lo. Mau lo bete gini juga gak akan ngaruh apa-apa. Mending entar malem kita ke club? Gimana? Kita-kita doang, girls night out!"

"Ide bagus!" sahut Dinda. "Gue setuju!"

"Gue ikut deh," sahut Regina juga.

Semua menatap ke arah Bian, berharap Bian mengatakan iya. Karena tak ingin membuat sahabat-sahabatnya itu kecewa, Bian pun mengangguk. "Okay..."

Ketiga cewek cantik itu pun bersorak senang. Tepat saat itu bel masuk jam pertama berbunyi. Kayra dan Regina segera kembali ke kelas mereka.

...***...

Saga berjalan bersama Wakasek Akademik melihat-lihat sekolah.

"Pak Saga, beginilah sekolah kita saat istirahat pertama," terang Bapak Wakasek.

Saga melihat ke sekeliling. Matanya berbinar-binar melihat para siswi sudah tidak berada di kelas lagi. Mereka berada di lapangan, di koridor, kursi-kursi taman, dan setiap sudut sekolah. Saga rasa ia akan sangat betah berada di sini.

Kemudian saat tatapannya menyapu ke seluruh sudut sekolah, ia menangkap sosok yang menyita perhatiannya. Seorang gadis cantik dengan mata yang besar, hidung yang tak terlalu mancung namun membuat wajahnya menjadi manis. Senyumnya merekah seperti sinar matahari, menyilaukan. Rambut hitamnya panjang tergerai bergelombang hingga ke pinggangnya.

Belum lagi aura kharisma seorang publik figur menyeruak darinya. Tubuh tinggi dan proporsional, belum lagi seragam sekolah yang digunakannya, melekat dengan begitu sempurna. Seakan ia model dari pakaian seragam sekolah yang tengah digunakannya.

"Pak Saga?" tegur sang bapak wakasek.

"Iya? Oh maaf, Pak." Saga tersadar dari lamunannya. "Saya akan mengajar dengan baik. Percaya pada saya," ujarnya dengan seringai tak sabar di wajahnya. Instingnya yang begitu menyukai perempuan pun tak bisa dicegahnya. "Saya mau tanya, Pak, kalau yang sedang duduk di samping lapangan itu siapa?"

Pak wakasek itu melihat ke arah yang Saga tunjukkan. "Oh mereka siswi kelas 11, dari jurusan modeling. Bianca, Kayra, Regina, dan Diandra. Mereka yang terbaik di angkatannya. Mereka calon-calon model sukses di masa depan nanti."

Saga mengangguk setuju dengan pikiran yang sudah melanglang buana. "Iya, mereka pasti sukses suatu hari nanti. Yang rambut hitam panjang sampai ke pinggang itu siapa, Pak?"

"Oh itu, Bianca namanya, Pak Saga. Ada apa anda bertanya tentang dia?"

"Gak apa-apa, Pak," elak Saga.

"Baik kalau begitu, Pak Saga. Silahkan ke ruang guru dan tempati meja yang sudah saya tunjukkan tadi dan anda langsung bisa mengikuti jadwal yang tersedia. Selamat bekerja." Kemudian beliau pun pamit.

Saga belum ingin kembali ke ruang guru. Ia masih menikmati pemandangan di sekelilingnya. Awalnya ia sangat jengkel karena harus melakukan syarat yang sang paman ajukan, tapi sekarang ia begitu menyukainya. Sekolah ini sangat berbeda, pikir Saga. Sejauh mata memandang, wajah cantik yang ia lihat di sana.

"Gue bakal betah di sini," ujarnya dengan senyum nakal.

Namun satu yang paling menarik perhatian Saga, gadis berambut panjang bernama Bianca itu. Saga terus saja memerhatikannya. Hingga gadis itu menyadari ada yang memperhatikannya dan ia pun balas menatap ke arah Saga.

Wajah Bianca terlihat heran, lalu Saga pun tersenyum padanya seraya melambaikan tangan. Nampak Bianca berbicara sesuatu pada teman-temannya dan mereka menatap ke arah Saga dengan tatapan herannya seperti Bianca tadi.

Lalu seorang siswa menghampiri Bianca dan meraih tangannya. Keduanya pun pergi dari sana menuju bagian belakang sekolah. Karena penasaran Saga mengikuti mereka. Keduanya pun berhenti berjalan saat tiba di belakang sebuah pohon besar dekat taman bunga. Saga cukup dekat hingga bisa mendengar percakapan keduanya.

"Yang, maafin aku tentang yang kemarin ya," ujar siswa tersebut, tangannya masih menggenggam tangan Bianca.

'Jadi Bianca udah punya cowok,' gumam Saga dalam hati. Ia sedikit kecewa.

"Kemarin sempet kelihatan sama Daddy dan Mommy," terang Bianca dengan cemberut.

"Serius? Terus kamu dimarahin?"

Bianca menggeleng. "Daddy gak marah. Mommy marah dikit sih. Pesen Daddy, kita harus bisa jaga diri. Belum saatnya kita melangkah ke sana. Kalau kamu sayang aku, terus kamu hargain Daddy aku, kamu jangan pernah kayak kemarin lagi. Kita harus tahu batasan dan batasan kita itu sampai sini." Bianca menempelkan telunjuknya pada bibir sang pacar.

Siswa itu menghela nafas kecewa. "Ya udah, iya. Aku minta maaf. Aku akan nyoba buat jaga batasan kita."

"Beneran?" tanya Bianca terharu.

"Beneran, Yang. Aku sayang sama kamu. Kalau gini doang mah aku bisa nahan. Nanti juga ada saatnya buat milikin kamu seutuhnya kayak yang Daddy kamu bilang."

Bianca sontak memeluk siswa itu. "Bener kata Daddy kamu itu baik banget. Makasih, Sayang."

"Kalau gitu boleh gak minta cium sebelum masuk kelas?"

"Boleh, dong."

Bianca menjauhkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di sekeliling leher siswa itu. Bibir mereka pun bertemu dan bercumbu mesra.

'Cowok baik?' cibir Saga. 'Cowok ya cowok, mau baik atau enggak, siapa yang bakal tahan kalau jadi cowok lo, Bianca.'

...Kayra...

...Regina...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!