NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Awal Pengenalan

Matahari mulai bersinar di ufuk timur, mengganggu tidur seorang pria yang masih pening akibat mabuk semalam. Langkahnya masih lunglai, meraba ke setiap benda yang lebih kuat untuk menompang dirinya. Ia berjalan menuju nakas yang ada di samping ranjang, ia raih ponsel yang tergeletak di sana. Ia tekan beberapa nomor dan tak perlu menunggu lama sambungan telepon terhubung ke seseorang di seberang sana.

"Dan, lu backup kerjaan ya selama satu Minggu ini. Gue ingin rehat. Gue mau bersepeda."

"Mendadak? Gila lu, Yan." Ryan menjauhkan ponsel dari telingannya karena seseorang di seberang sana berteriak kencang.

"Gue naikin gaji lu 15%." Bujuk Ryan.

"Gue menolak. Kerjasama kali ini sama pemerintah kota, Yan, masa lu serahin ke gue. Kalo gagal gimana? Kita bisa rugi."

"5 hari, beri gue waktu 5 hari, cuma 5 hari."

"Pak Ryan Adinata Varatanu ..."

"3 hari, cukup tiga hari saja. Semua akan gue beresin. Lu atur ulang jadwal gue." Pinta Ryan langsung memotong ucapan Dani.

"Baiklah, gue pegang janji lu."

Sambungan pun terputus. Ryan mengurut dahinya yang semakin pening. Baru saja Ryan hendak pergi ke kamar mandi ponselnya kembali berdering, dan tertulis nama Dani di layar ponsel.

"Apa lagi?" Gerutu Ryan kesal.

"Kemana kali ini rute yang lu ambil?"

"Gunung Gede."

"Gila! Itu trek bukan untuk bersepeda! Gue gak izinin lu." Pungkas Dani seolah mewakili orangtua Ryan menolak kebiasaan aneh anaknya.

"Gue gak sendirian, gue pergi bareng rombongan, tenang aja." Jawab Ryan enggan.

"Tetep saja, kan,"

"Bawel." Ryan langsung memutuskan sambungan telepon itu, dan mematikan daya ponselnya.

Olahraga MTB atau biasa di sebut bersepeda dengan rute yang menantang, sudah Ryan lakukan sejak ia masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Biasanya Ryan melakukan trek ini karena ada hal yang menggangu pikirannya.

Ya, beberapa hari lalu, tepatnya saat ada penolakan dari seorang wanita yang amat ia cintai. Dia sudah menunggu 5 tahun untuk menunggu cintanya itu.

Maeta Rinjani Swandari, gadis cantik dan anggun, sekaligus cinta pertama Ryan. Sudah beberapa tahun ini Ryan menuruti keinginan gadis itu, namun kali ini permintaan gadis itu telah melanggar perjanjian pra-tunangan mereka.

Ya, meski mereka di jodohkan dengan dalih memperkuat bisnis orangtua mereka, tapi Ryan tak keberatan karena memang Ryan amat mencintai Maeta. Namun tidak dengan Maeta, ia tak memiliki rasa apapun kepada Ryan.

Malam itu, perjamuan 2 keluarga sekaligus membahas soal pesta pernikahan. Namun hal itu di bantah oleh Maeta. Ia menolak menikah dengan Ryan dalam waktu dekat. Dengan kata lain, Maeta menunda pernikahan itu dengan alasan ia akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri.

Maeta yang memiliki bakat di bidang Fashion, akhirnya memutuskan pergi ke Prancis untuk mengasah kemampuan dan bakat fashionnya. Awalnya pihak keluarga Ryan tak setuju dengan keputusan keluarga Swandari, setidaknya pernikahan tetap berlangsung sebelum Maeta pergi ke luar negeri.

"Pak Arif Varatanu, jika anda keberatan maka kita batalkan saja perjodohan ini." Ujar Maeta dengan nada arogan.

Ryan terbelalak tak percaya, ia tak ingin melepaskan kesempatan untuk bersama gadis pujaan hatinya. "Saya akan menunggu,"

Maeta tersenyum dan meneguk air dalam gelas cantik yang sedari tadi ia pegang.

"Berapa lama pendidikan kamu di sana?" Tanya Ryan terkesan seperti orang bodoh.

"Paling cepat 2 atau 3 tahun. Kemungkinan juga 7 tahun baru pulang." Maeta menatap Ryan sinis.

"Baik, aku akan menunggumu."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya rombongan Ryan sampai di posko pertama di Gunung Gede. Semuanya berkumpul dengan peralatan lengkap dan bekal seadanya.

Ryan menyimak pemandu itu membacakan rute dan trek terjal nya akan di tempuhnya. Sambil menunggu instruksi selanjutnya, Ryan memasang alat keamanan pada tubuhnya, guna menghindari cedera serius.

Semuanya mulai bersiap-siap, dan mulai mengayuh sepeda gunung mereka. Awalnya pelan, lambat laun kecepatan mulai di naikkan, sehingga Ryan mulai kewalahan mengimbangi teman-temannya.

Bebatuan terjal dan akar besar bukan suatu halangan bagi Ryan, ia dapat melewatinya dengan mudah. Namun tanpa Ryan sadari, ia telah keluar dari jalur yang telah di tetapkan. Ryan terus mengayuh sepedanya tanpa melihat sekitar. Tak ada seorangpun yang mengikutinya dan tak ada seorangpun yang ia ikuti.

"Sial,," gerutu Ryan kesal.

Ryan mencoba balik arah dan mengingat kembali rute yang seharunya ia lewati. Dalam hati ia mengutuk kebodohannya karena seorang wanita yang membuatnya gila.

Kalau di pikir-pikir lagi, ia bukanlah pria buruk rupa. Ia memiliki wajah yang tegas dan tampan, dengan alis tebal mata tajam. Badannya pun tinggi, tegap dan berotot. Ryan bukan pria biasa, sejak SMA dia adalah kapten basket dan juga berprestasi. Siapa yang tak kenal Ryan, anak dari keluarga terpandang dan juga keponakan wali kota, membuat Ryan mudah di kenal.

Tapi kini Ryan telah menjadi pria bodoh dengan menggilai satu wanita, dan mempertahankan cintanya yang bertepuk sebelah tangan selama lebih dari 5 tahun. Bahkan jika Ryan masih kekeh ingin menunggu Maeta pulang, kemungkinan dia akan menunggu sampai 10 tahun demi bersama cintanya.

Pikiran Ryan semakin kalut, sepeda yang ia kendarai tergelincir dari bebatuan yang berlumut. Ryan terjungkal dan terjun ke dasar jurang. Berkali-kali tubuhnya menghantam akar dan pepohonan, sampai pada akhirnya Ryan terperosok di dasar dan terkulai tak sadarkan diri. Badannya penuh dengan luka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi itu Naina bersiap mencari kayu bakar untuk persediaannya. Ia menyusuri hutan yang selalu ia lewati. Sesekali Naina mengamati jamur bulan, yang biasa hidup dan tumbuh di akar pohon yang lembab.

Naina semakin masuk ke dalam hutan, meski gelap, namun Naina paham betul dengan hutan yang selalu ia lalui.

Naina menyibak daun lempuyang  yang menggunduk dan berjajar menghalangi jalannya.

"Jamur bulan," teriak Naina girang.

Naina asik memetik jamur liar itu dengan bahagia. Akhirnya malam ini dia bisa makan dengan lauk pauk, tidak hanya dengan nasi saja.

"Tolong..." Terdengar suara lirih membuyarkan pikiran Naina.

Naina terhenti dari aktivitasnya, hatinya berdetak hebat, pikirannya tak karuan. "Tak mungkin ada hantukan?" Lirih Naina.

"Siapa pun, tolong aku..."

Naina bangkit dan mencari sumber suara, ia memutarkan badannya namun tak mendapati siapapun. Naina menanggalkan bakul kecilnya yang ia gunakan untuk mengumpulkan jamur.

"Siapa di sana?" Naina berteriak.

"Tolong...." Lirihnya semakin melemah.

"Apakah kamu manusia?" Teriak Naina masih ragu melangkah.

Tak ada suara lagi, tak ada yang meminta tolong, Naina kembali mengambil bakul kecilnya yang sudah cukup terisi jamur. Ia mundur perlahan, hatinya mulai kalut dengan pikiran negatif yang terus bersarang di benaknya.

Saat Naina berjalan mundur beberapa langkah tak sengaja ia menginjak kaki seseorang, "Aarrgghhh...." Desis Naina terjatuh.

"Gusti, ini siapa??" Naina mendekat dan memeriksa nadi pria yang terkulai lemah.

Seketika Naina panik dan berusaha untuk membawa pria itu pulang, namun sayang, tubuh Naina sangat kecil dan kurus, sedangkan pria di depannya bertubuh tinggi dan berisi.

Naina terus memutar otaknya, ia mencari pelapah pinang yang besar dan menggeretnya sampai ke gubuknya. Tak sedikit Naina tersandung dan terjatuh karena menarik tubuh Ryan yang berbadan cukup berisi dan berotot.

Sesampainya di rumah Naina menggelar kasur kapuknya di lantai rumah yang terbuat hanya dari adukan semen yang telah lama di rawat sehingga lantai semen itu terlihat mengkilap dan sedikit licin.

Dengan sangat hati-hati, Naina menidurkan pria berotot itu dan membuka pakaian pria itu. "Lukanya cukup parah, apa dia masih bisa hidup?" Gumam Naina melihat badan Ryan penuh dengan luka dan memar.

Naina pun menarik celana Ryan, dan menggulungnya sampai betis, tercium bau amis yang sangat menyengat. Ternyata darah terus mengalir dari betis kirinya. Naina langsung berlari menuju sumur dan menimba air untuk membersihkan luka Ryan.

"Masih belum sadar juga."

Dengan telaten Naina membersihkan luka itu, selagi pemilik tubuh itu tertidur. Naina dengan hati-hati membawa batu-batu kecil yang menempel di daging, betisnya sedikit robek.

"Aarrgghhh..." Desis Ryan mulai merasakan perih.

Perlahan Ryan membuka matanya, dan sedikit lingkung karena tempat yang begitu asing baginya. "Siapa kamu?" Tanya Ryan waspada.

"Anda tidur saja, biar saya obati."

Ryan terdiam, menatap wajah cantik gadis di depannya. Sesekali Ryan mengamati gubuk yang sebenarnya tak layak huni. Semua dindingnya ini terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Bahkan gubuk ini atapnya yang terbuat dari daun dahon itu mulai bolong. "Dia benar manusia, kan?" Gumam Ryan dalam hati.

"Tunggu sebentar ya, biar aku bersihkan luka di badan anda." Naina berdiri dan bergeser posisi.

Ia mulai mengelap tubuh Ryan, ada rasa kagum dan juga malu. Baru kali ini Naina melihat tubuh seorang pria secara langsung, terlebih tubuh yang atletis dan juga berkulit putih, sangat berbeda jauh dengan tubuh bapak-bapak yang bertani di sawah dan di ladang.

Berkali-kali Naina menelan ludahnya, dan menyingkirkan pikiran aneh yang terus bersayang di otaknya. Sepolos apapun Naina tetaplah gadis yang telah tumbuh dewasa. Usianya yang baru menginjak 21 tahun itu, wajar bila tergoda oleh tubuh atletis pria di dekatnya.

"Anda tunggu di sini ya, saya carikan siput untuk luka anda."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!