*
"Tidak ada asap jika tidak ada api."
Elena Putri Angelica, gadis biasa yang ingin sekali memberi keadilan bagi Bundanya. Cacian, hinaan, makian dari semua orang terhadap Sang Bunda akan ia lemparkan pada orang yang pantas mendapatkannya.
"Aku tidak seperti Bunda yang bermurah hati memaafkan dia. Aku bukan orang baik." Tegas Elena.
"Katakan, aku Villain!"
=-=-=-=-=
Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE yaaa Gengss...
Love You~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villain Chapter 30
*
Seperti yang sudah di janjikan kemarin, kini Keyra mengajak Elena untuk bermain ke rumahnya. Sejujurnya Elena sempat ragu dan meminta Keyra membatalkan rencananya, namun Keyra tetap kekeh mengajak Elena untuk main ke rumahnya.
"Bagaimana jika papah dan mamahmu tidak suka aku main kesana?" Tanya Elena lagi dan lagi. Bahkan hingga dia kini berada di dalam mobil Keyra yang sedang di perjalanan menuju ke rumah Keyra.
Keyra menghela nafa "Berapa kali harus ku katakan El? Itu tidak akan jadi masalah." Tuturnya memberi penjelasan "Lagipula mungkin mereka juga tidak tahu aku membawa teman ke rumah. Mana peduli mereka tentangku." Lanjutnya, namun lirih di kalimat akhir.
Elena diam, dia mendengar lirihan Keyra di akhir. Bisa ia simpulkan, jika orangtua Keyra sangat tidak mempedulikannya dan tidak mau tahu apa saja aktifitas anaknya.
Perjalanan mereka cukup lancar karena tidak terjebak macet. Dari kampus menuju rumah Keyra membutuhkan waktu sekitar tiga puluh lima menit. Mereka mengisi waktu kosong dalam perjalanan dengan berbincang ringan dan sesekali bercanda. Mereka juga sempat mengajak Satya untuk ikut bermain, namun Satya menolak karena menganggap itu urusan cewek.
Mobil hitam milik Keyra memasuki pagar rumah yang menjulang tinggi setelah di bukakan oleh satpam. Menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk, Keyra dan Elena segera keluar.
Mewah dan Besar. Itulah dua kata yang terlintas dalam benak Elena saat menilai bangunan megah dengan tiga lantai di depannya.
"Ayo masuk." Ajak Keyra lalu melangkah masuk dan diikuti Elena di belakang.
"Rumahmu besar Key." Ucap Elena memperhatikan sekeliling.
"Dan sunyi. Iyakan?" Lanjut Keyra menyambung ucapan Elena sambil tersenyum miris.
Elena sontak menatap Keyra, pikirannya seakan tahu bagaimana kesepian Keyra saat berada di mansion namun jarang berkumpul bareng keluarganya.
"Nona sudah pulang?" Seorang pembantu menghampiri Keyra yang tengah berdiri bersama Elena.
"Iya bi. Ah ya kenalkan dia Elena temanku, dan Elena ini Bi Nani. Bi Nani orang yang selalu menemaniku." Ucap Keyra memperkenalkan mereka.
"Saya Elena." Ujar Elena mengulurkan tangan sopan.
"Bi Nani." Jawabnya membalas uluran tangan Elena "Nona sangat mirip dengan Nona muda."
Elena melirik Keyra sambil terkekeh, Keyra pun ikut terkekeh "Iya kita mirip, sama-sama cantik kan?" Ujar Keyra menampilkan senyuman termanisnya.
"Iya cantik Non." Ucap Bi Nani, senyuman Keyra makin mengembang "Senang rasanya melihat Non Keyra memiliki teman baik." Lanjutnya tersenyum ramah.
"Bi, apa bibi pikir aku tidak punya teman?" Tukas Keyra sedikit cemberut.
Bi Nani terkekeh pelan "Bibi tidak bermaksud seperti itu Nona."
"Aku bercanda Bi." Ucap Keyra juga ikut terkekeh "Bi, tolong bawakan minuman sama cemilan buat El ke kamarku." Sambungnya.
"Baik Non."
Setelah mengatakan itu, Keyra segera mengajak Elena menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Dalam ruangan yang cukup luas terdapat satu kasur King size, satu televisi besar, banyak foto berjejer rapi, satu buah laptop di atas meja belajar, lalu meja rias dengan banyak kosmetik dan parfum. Tak hanya itu, dapat Elena lihat kamar itu memiliki kamar mandi sendiri, juga satu ruangan yang bisa Elena pastikan adalah walk in closet yang berisi banyak pakaian, sepatu, koleksi tas serta aksesoris lain milik Keyra. Selain melihat semua itu, pandangan Elena justru tertuju pada beberapa lukisan yang terpajang di ujung kamar.
Kaki Elena melangkah mendekati lukisan, ada tiga lukisan yang keduanya sudah jadi dan sedangkan satunya seperti masih dalam pengerjaan, namun tak terlihat karena tertutup kain di atas alat lukis. Satu lukisan sederhana bergambar buah apel, satunya lagi seseorang yang terlihat sendiri sedang berada di ruang makan dengan banyak hidangan makanan tersaji. Tangan Elena terulur mengambil lukisan itu, menatapnya dalam lalu beralih melirik Keyra.
"Ini dirimu?" Tanyanya untuk memastikan.
Keyra mendekat, melihat lukisan hasil karyanya lalu menatap Elena "Menurutmu bagaimana? Aku rasa lukisannya tidak terlalu bagus, wajahnya tidak mirip denganku kan?"
Elena terdiam sejenak, ia tahu betul Keyra berkata hanya untuk mengatakan seolah dia baik-saja yang padahal tidak. Keyra kesepian.
"Yeah, tidak mirip. Ini bukan kamu." Ucap Elena, ia meletakkan lukisan itu lalu kembali menatap Keyra "Karena kamu tidak sendiri, aku bersamamu." Ujarnya tersenyum.
Tak bisa menahan senyum, ia tidak salah mengajak Elena main ke rumahnya. Hanya Elena yang mampu mengetahui isi hatinya, hanya Elena yang bisa mengerti, hanya Elena yang bisa membuat hatinya merasa hangat dan tak merasa kesepian.
Elena menatap lukisan yang tertutup kain putih "Apa ini belum selesai?"
"Belum. Aku baru membuatnya satu minggu lalu, tapi waktu ku tidak banyak karena tugas kuliahku menumpuk." Ujar Keyra.
"Boleh aku lihat?" Tanya Elena berharap.
"Silahkan."
Mendapat ijinnya, Elena segera membuka kain penutup lukisan. Mulutnya seketika menganga melihat dengan apa yang di lukis Keyra. Walaupun itu belum selesai, namun bisa ia tebak apa yang Keyra lukis. Matanya sontak menatap Keyra yang kini tengah tersenyum.
"Aku baru membuat sketsanya, aku juga mengkhayal saja." Ujar Keyra sebelum Elena berkomentar "Kita bahkan belum pernah berfoto bersama, jadi wajar aku ingat-ingat lupa dengan wajahmu." Lanjut Keyra menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Elena menetralkan keterkejutannya, bagaimana bisa Keyra melukis dia bersama dengannya. Ya itu lukisan wajah Keyra dan Elena. Bisa ia lihat, dalam lukisan itu tangan Elena sedang menghapus sesuatu di dahi Keyra. Elena mengingat, saat dia mengelap keringat Keyra setelah bekerja seharian. Dia sangat tidak menyangka dan sangat terkejut mengetahui Keyra mengabadikan momen itu menjadi sebuah lukisan.
Saat ini bibir Elena seolah kaku dan semua kata hilang begitu saja. Tak dapat lagi berkomentar, hanya satu kata yang mewakili... Terpukau.
"Bagiku itu momen berharga, kamu orang pertama yang memberi perhatian kecil padaku. Terlihat sepele, tapi aku terkesan." Ucap Keyra menatap Elena intens, namun Elena masih diam menatap lukisan "Heii... Kamu tidak beranggapan aku menyukaimu kan? Aku masih normal loh." Lanjut Keyra bercanda untuk mencairkan suasana.
Sontak saja Elena melotot, tak pernah terlintas pikiran seperti itu "Kamu pikir aku tidak normal?"
Bukannya takut di pelototi, Keyra justru tertawa puas.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar "Non, ini Bibi mau antar makanan." Seru Bi Nani dari luar.
Klek!
Suara pintu terbuka, Keyra mempersilahkan Bi Nani agar menyajikan makanan di atas meja dekat kasur. Bi Nani pun melakukannya sesuai arahan.
"Bibi keluar dulu." Ijinnya setelah meletakkan nampan yang terdapat dua gelas minuman serta beberapa cemilan ringan.
"Terimakasih Bi." Ucap Keyra tulus, Bi Nani mengangguk lalu melangkah pergi keluar dan tak lupa kembali menutup pintu.
Keyra meraih gelas minuman lalu menyodorkan pada Elena "Minum dulu El, kamu pasti haus."
Tak banyak kata, Elena langsung menerima dan meminumnya "Terimakasih."
Mereka berdua berbincang ringan sambil menikmati hidangan. Keyra meminta Elena agar ikut duduk di kasur, awalnya Elena menolak merasa tak enak hati dan tak sopan namun Keyra memaksanya.
"Kamu tahu, ini udang crispy cemilan kesukaanku. Bi Nani memang the best menyajikan cemilan ini." Ujar Keyra sesekali memasukkan makanan ke mulutnya "Ayo makan."
Elena mengangguk lalu mengunyah "Ya enak." Ia menatap lekat mata Keyra. Mengamati, menilai, merasakan apa yang tengah Keyra rasakan "Apa kamu menyayangi keluargamu?" Tanya Elena tiba-tiba saja.
Keyra diam beberapa saat, tak ada jawaban. Dia sendiri tidak tahu kenapa tidak bisa menjawabnya dengan cepat "Tentu saja."
"Kenapa harus berpikir dulu?" Elena bertanya namun terkekeh, Keyra diam "Kamu tidak bahagia?" Tanyanya lagi.
"Aku bahagia." Balas Keyra tanpa menatap mata Elena.
"Key," Panggil Elena, sedikit menjeda waktu sebelum berkata kembali "Jika kamu tidak bahagia dengan kehidupanmu sekarang, apa kamu mau ikut denganku?"
Keyra mengernyit, ia tak mengerti "Apa maksudmu?"
"Tinggalkan keluarga ini dan jadilah saudaraku." Ucap Elena dengan sorot mata penuh arti, Keyra pun merasa bibirnya kaku dan tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun.
.
~Bersambung~
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Jangan lupa LIKE, COMMENT dan VOTE yaaa Gengss...
Love You~