NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: tamat
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:75.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasi Box dan nomor yang dinantikan

Pagi itu, Jakarta masih mengantuk. Kabut tipis menyelimuti gang sempit di mana Dapur Kirana berada, dan aroma bawang merah goreng mulai menari-nari di udara. Kirana sudah di dapur sejak jam tiga, seperti biasa—menyaring kaldu ayam, meremas daun salam, dan sesekali melirik ponsel yang diam-diam diletakkan di atas toples gula.

Belum ada notifikasi baru dari Instagram.

“Masih nungguin DM-nya, ya?” suara Siska tiba-tiba muncul dari balik tirai kain pembatas dapur.

Kirana langsung menarik tangannya dari panci dan pura-pura sibuk mengaduk kuah opor. “Apaan? Nggak! Aku cuma… cek pesanan hari ini.”

Siska mendekat sambil membawa dua gelas kopi tubruk. “Bohong. Kamu lihat HP tiap lima menit. Aku hitung, lho.”

Kirana mendengus. “Kamu ngintipin aku dari jam berapa?”

“Dari kamu bilang ‘semoga hari ini Jakarta baik sama kita berdua’ semalam.” Siska nyengir, lalu menyerahkan satu gelas kopi. “Tapi tenang, aku nggak cerita ke siapa-siapa. Bahkan ke Mbak Yuni yang suka nguping.”

Kirana menyesap kopinya, hangat dan pahit—persis seperti harapannya: manisnya masih samar, tapi cukup buat bikin jantung deg-degan.

Sejak kemarin, dia belum membalas apa pun. Arka Wijaya memang follow akun Dapur Kirana dan berkomentar manis, tapi Kirana bingung harus balas apa. Kalau terlalu formal, kayak customer biasa. Kalau terlalu santai, takut kelihatan… terlalu tertarik.

“Kenapa nggak kamu DM aja? Bilang, ‘Terima kasih, Mas. Makanannya habis semua, ya?’” usul Siska sambil mengupas bawang.

“Trus? Terus dia bakal jawab, ‘Iya, enak banget.’ Trus aku jawab apa? ‘Makasih, Mas’ lagi? Kayak robot!”

“Nah, makanya tambahin bumbu!” Siska menepuk bahu Kirana. “Misalnya: ‘Kalau suka, nanti aku masak yang lebih pedas,biar Mas nggak lupa deadline naskah lagi.’ Gitu! Lucu, manis, tapi tetap profesional.”

Kirana menghela napas. “Aku takut… salah langkah. Aku udah lama nggak begini, Sis. Rasanya kayak remaja lagi, padahal umur udah lewat tiga puluh.”

“Justru itu bagus! Artinya hatimu masih hidup,” Siska tersenyum lembut. “Dan kalau dia serius, dia bakal nunggu. Bukan cuma nge-like terus kabur.”

***

Siang harinya, pesanan datang lagi—kali ini dari kantor startup di Senopati. Tapi yang bikin Kirana terkejut, di kolom catatan tertulis:

# “Mohon dikirim ke alamat yang sama seperti minggu lalu. Terima kasih, Mas Arka.”_

Kirana hampir menjatuhkan hp-nya.

“Dia pesan lagi?!” Siska langsung melompat dari meja potong. “Ini tanda! Ini undangan! Ini… call to action!”

“Siska, itu cuma pesan catering…”

“Tapi dia minta alamat yang sama! Artinya dia ingat! Dia perhatian! Dia—”

“—lapar,” potong Kirana, tapi senyumnya sulit disembunyikan.

Mereka pun menyiapkan pesanan dengan ekstra hati-hati. Ayam rica-rica dibuat sedikit lebih pedas (tapi nggak sampai level neraka), sambal terasi ditambah teri kacang biar gurih, dan nasi dikukus pakai daun pandan. Bahkan Gio ikut membantu—menggambar kartu kecil dan terlihat lucu

“Kamu beneran mau kirim ini?” tanya Kirana ragu.

“Pasti! Biar dia tau, kamu nggak cuma jago masak, tapi juga punya anak yang imut dan peduli,” jawab Siska mantap.

***

Pengiriman dilakukan oleh ojek langganan, Pak Rudi, yang selalu ramah dan bisa dipercaya. Tapi sore harinya, Pak Rudi kembali dengan wajah cemberut.

“Bu Kirana… maaf, saya nggak ketemu Mas Arka. Katanya dia lagi meeting darurat, jadi kotak nasinya diterima sama asistennya.”

Kirana merasa dadanya sesak. “Oh… ya udah, nggak apa-apa.”

Tapi Siska langsung menimpali, “Asistennya cowok atau cewek?”

Pak Rudi garuk-garuk kepala. “Cewek. Cantik, pake blazer merah.”

Siska dan Kirana saling pandang.

“Oh no,” desis Siska.

“Jangan langsung negatif,” kata Kirana, mencoba tenang. Tapi malam itu, dia nggak nge-cek Instagram. Bahkan saat notifikasi muncul,Arka Wijaya meninggalkan komentar di foto baru Dapur Kirana: (“Ayam rica-ricanya bikin saya nangis bahagia. Terima kasih, Bu Kirana.”) dia cuma baca sekilas, lalu mematikan layar.

***

Beberapa hari berlalu. Pesanan dari Mas Arka tidak datang lagi. Kirana mulai sibuk dengan acara ulang tahun anak pejabat daerah, lalu catering untuk pelatihan guru. Tapi setiap kali ada notifikasi Instagram, jantungnya berdebar—dan setiap kali ternyata cuma promo GoFood atau tag dari pelanggan.

Siska mencoba menghibur. “Mungkin dia lagi deadline. Penulis kan kadang ilang seminggu, muncul pas naskah selesai.”

Tapi Kirana mulai meragukan diri sendiri. Apa dia terlalu berharap? Apa dia salah baca situasi? Mungkin bagi Arka, Dapur Kirana cuma tempat makan enak—bukan awal dari sesuatu yang lebih.

Lalu, suatu pagi, saat Kirana sedang menghitung stok beras, telepon berdering.

“Halo, Dapur Kirana, bisa bicara dengan Ibu Kirana?”

“Ini saya. Ada yang bisa dibantu?”

“Saya Rani, asisten Mas Arka Wijaya. Maaf mengganggu pagi-pagi. Mas Arka ingin memesan catering lagi, tapi kali ini… dia minta diantar langsung oleh Ibu Kirana sendiri.”

Kirana terdiam. “Langsung? Kenapa?”

“Katanya… ada resep rahasia yang mau dia tanyakan langsung. Dan dia janji, nggak akan ganggu waktu lama. Cuma sepuluh menit.”

Siska, yang kebetulan berdiri di sebelah, langsung menarik tangan Kirana dan berbisik, “INI MOMENNYA! JANGAN TOLAK!”

Kirana menelan ludah. “Baik… saya antar. Jam berapa?”

“Jam dua siang. Alamatnya…” Rani menyebutkan lokasi—sebuah co-working space di Kemang.

***

Jam dua siang, Kirana tiba dengan gerobak mini-nya yang sudah dicat ulang warna kuning cerah (ide Siska, tentu saja). Dia pakai kebaya sederhana, rambut diikat rapi, dan parfum mawar kesukaannya—yang jarang dipakai sejak cerai.

Arka Wijaya menunggu di depan gedung. Tinggi, rambut agak acak-acakan, kacamata bulat, dan senyum yang… hangat. Bukan senyum selebriti, tapi senyum orang yang benar-benar senang melihatmu.

“Bu Kirana… terima kasih sudah mau datang,” katanya, suaranya rendah tapi jelas.

“Sama-sama, Mas. Ini pesanannya.” Kirana menyerahkan kotak nasi, tangan sedikit gemetar.

Arka menerima, lalu diam sejenak. “Sebenarnya… saya bohong. Saya nggak butuh resep rahasia.”

Kirana terkejut. “Lalu…?”

“Saya cuma pengin ketemu Ibu. Soalnya… saya merasa kita belum selesai bicara. Padahal baru ketemu lima detik waktu itu.”

Kirana menatap matanya. Tidak ada sandiwara. Tidak ada nada menggoda. Hanya kejujuran yang membuat napasnya tertahan.

“Kenapa harus saya?” tanyanya pelan.

Arka tersenyum. “Karena dari semua masakan yang pernah saya coba, cuma masakan Ibu yang bikin saya pengin… pulang.”

Kirana diam. Kata-kata itu sederhana, tapi menusuk tepat di tempat yang selama ini kosong.

Sebelum dia sempat menjawab, ponsel Arka berdering. Dia melihat layar, lalu wajahnya berubah.

“Maaf… ini editor saya. Deadline naskah mundur, tapi saya harus rapat darurat.” Dia terlihat benar-benar menyesal. “Boleh saya… minta nomor HP Ibu? Biar lain kali nggak repot lewat catering.”

Kirana ragu. Tapi lalu teringat ucapan Siska: (“Kamu nggak sendirian.”)

Perlahan, dia mengangguk. “Boleh.”

Mereka bertukar nomor. Arka menatapnya sekali lagi, lalu berkata, “Terima kasih… bukan cuma atas nasinya. Tapi juga karena Ibu mau datang.”

Lalu dia pergi, meninggalkan Kirana berdiri di tengah trotoar Kemang, dengan angin sore yang bermain di ujung kebayanya.

***

Malam itu, di dapur, Siska menunggu dengan mata berbinar.

“Gimana? Dia cakep nggak langsung? Ngomong apa? Pegang tangan nggak?”

Kirana tertawa. “Nggak pegang tangan. Tapi… dia minta nomor HP.”

Siska berteriak kecil, lalu memeluk Kirana erat. “YES! Ini awalnya, Kir! Awal yang beneran!”

Kirana membalas pelukannya, lalu berbisik, “Aku masih takut, Sis.”

“Takut boleh. Tapi jangan biarkan takut mengunci hatimu lagi.”

Di sudut dapur, Gio tidur pulas, memeluk pisau plastiknya. Di atas meja, ponsel Kirana bergetar pelan.

Notifikasi baru.

# Arka Wijaya#

# “Hari ini, saya pulang bawa nasi box. Tapi rasanya kurang enak.

# Ternyata… bukan nasinya. Tapi karena Ibu nggak di sini.”

Kirana membaca pesan itu berulang kali. Lalu, untuk pertama kalinya sejak lama, dia membalas,tanpa diedit berkali-kali, tanpa takut salah

1
Omah Tien
petgi aja gapain bertahan sdh di hn gt
MayAyunda: masih sabar kak😁
total 1 replies
Maryani Maryani
gmn nasib dapur kirana..gmn nasin mantan mertua sombongnya
MayAyunda: dapur Kirana off dulu kak ..meretua sombong buang kelaut kak😁😁🙏
total 1 replies
Anonim
Aneh tadi katanya punya uang 3 juta lah sekarang g punya uang kek mana sih thor cerita nya
MayAyunda: he he
total 1 replies
ceuceu
Ini kirana udah ga dapet orderan catering?
bukan nya rame ya cateringnya tiap hari ada orderan,kenapa jadi ke jahit catering ngilang
MayAyunda: sudah menikah kak suruh jadi ibu rumah tangga aja 🤭😁😁
total 1 replies
ceuceu
Pas pergi di tas ada uang 3jt sama 800,kenapa di ruko sisa uang cuma buat makan 2 hati?
MayAyunda: he..he
total 1 replies
ceuceu
Gaji pembantu aj ga 500.
iini buat masak beli susu mana cukup,ibunya aris ga pernah belanja kebutuhan dapur apa
MayAyunda: iya kak😄
total 1 replies
Wiwik Susilowati
usaha cateringny kirana gmn?
MayAyunda: sudah off kak😁
total 1 replies
Nanik Arifin
kapok loe Wid.... sukanya nyolot Mulu. udah tua nek, perbanyak ibadah, bukan perbanyak nyari kekurangan orang lain. nyari aj tuh kekurangan Tante, perbaiki biar hasilnya prima kayak tampilan nenek Widya 🤭
MayAyunda: he he ..betul kak
total 1 replies
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
buang aja kelaut suami model gini. lima ratus ribu sebulan dapat apa?
MayAyunda: he he 😁🙏
total 1 replies
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
cih suami macam ini yang bikin naik darah. di pikir kita pembantu
MayAyunda: iya kak ..😁
total 1 replies
Nanik Arifin
gaji buta ?? klo gaji pembantu yg ngerjain semua pekerjaan berapa ? gaji pengasuh anak kamu berapa ? ganti materiil & non materiil karena hamilin anak gadis orang berapa ? punya otak dipakai dong.... jangan ky binatang, sekedar punya otak doang, g bisa mikir
fatmiatun sahono: terlalu extrim ya...sebulan 500 rb...
total 2 replies
Nanik Arifin
500 RB buat makan ayam goreng bareng teman dirumah kan, Ris ? katamu bayar 500 rb buat bayar makan ayam yg kurang gurih dirumah. berarti buat belanja sebulan blm ada duitnya. kan yg 500 kemarin. kasih buat belanja sebulan SDH buat jamu teman ?
MayAyunda: he he
total 2 replies
Wanita Aries
aw aw mulai menggombal si arka
MayAyunda: he he 😁
total 1 replies
Wanita Aries
makin seru
MayAyunda: terimkasih kak baca ceritaku yang lain kak 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
ya ampun 3thn menghadapi toxic
MayAyunda: sangat sabar ya kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
mantap
akhirnya keluar jg dari rmh tangga neraka
Wanita Aries
nah gtu dong jgn jd bodoh trus
Wanita Aries
suka karyamu thor gk ngebosenin
MayAyunda: terimkasih kak🙏
total 1 replies
Wanita Aries
ya ampun ngasih istri cm 500rb aja bangga bgt
Wanita Aries
dasar laki bajigur
MayAyunda: he he
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!