NovelToon NovelToon
Godaan Pelakor

Godaan Pelakor

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bollyn

Aini adalah seorang istri setia yang harus menerima kenyataan pahit: suaminya, Varo, berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri, Cilla. Puncaknya, Aini memergoki Varo dan Cilla sedang menjalin hubungan terlarang di dalam rumahnya.

Rasa sakit Aini semakin dalam ketika ia menyadari bahwa perselingkuhan ini ternyata diketahui dan direstui oleh ibunya, Ibu Dewi.

Dikhianati oleh tiga orang terdekatnya sekaligus, Aini menolak hancur. Ia bertekad bangkit dan menyusun rencana balas dendam untuk menghancurkan mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Saksikan bagaimana Aini membalaskan dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bollyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Di Usir

Sore itu, langit di atas kediaman mewah itu tampak mendung, seolah-olah ikut merasakan ketegangan yang mulai memuncak di dalam rumah. Ibu Laras berdiri di teras dengan senyum miring yang tak lepas dari wajahnya. Di sampingnya, Cilla dengan setia mendampingi, mengelus perutnya dengan gerakan yang disengaja agar semua orang tahu bahwa dia adalah pemenang yang sesungguhnya.

"Sudah saatnya benalu itu dibuang, Cilla. Setelah ini, rumah ini akan tenang. Tidak akan ada lagi wajah kaku Aini yang merusak suasana hati Ibu setiap pagi," bisik Ibu Sarah dengan nada penuh kebencian yang kental.

Cilla terkekeh pelan.

"Benar, Bu. Kasihan Mas Varo kalau harus terus-terusan melihat wajah Mbak Aini. Apalagi sekarang Mas Varo sudah punya calon anak dari aku. Mbak Aini itu cuma masa lalu yang gagal."

Tepat pukul lima sore, deru mesin mobil putih mutiara yang gagah memasuki halaman. Mobil itu berkilau tertimpa cahaya sore, memancarkan aura kemewahan yang kontras dengan suasana hati penghuni rumah. Ibu Sarah dan Cilla langsung menajamkan pandangan. Meski mobil itu sudah terparkir di sana selama beberapa hari, Ibu Sarah tetap merasa dongkol setiap kali melihat Aini yang memegang kuncinya.

"Lihat itu, Cilla. Ibu masih tidak habis pikir. Berani-beraninya Aini merasa memiliki mobil semahal itu sendirian. Padahal Varo yang banting tulang sebagai manajer, tapi si Aini yang malah menikmati fasilitas mewah. Benar-benar istri yang tidak tahu diri," gerutu Ibu Sarah.

"Iya, Bu. Mas Varo pasti terlalu memanjakan dia. Padahal kalau mobil itu atas nama Mas Varo, kan bisa buat antar Ibu arisan atau jalan-jalan ke mal dengan lebih bergengsi. Malu-maluin saja punya menantu pelit begitu," timpal Cilla, terus mengompori mertuanya.

Pintu mobil terbuka. Aini keluar dengan langkah yang sangat tenang dan berwibawa. Ia mengenakan setelan kerja yang elegan dan kacamata hitam yang menutupi lelah di matanya. Tanpa menoleh ke arah dua wanita di teras, ia melangkah maju.

"Baru pulang kamu? Hebat ya, jam segini baru ingat rumah! Puas-puasin kamu pakai mobil itu hari ini, karena sebentar lagi kamu tidak akan punya hak lagi menyentuh barang-barang hasil keringat anak saya!" bentak Ibu Sarah begitu Aini menginjakkan kaki di anak tangga pertama.

Aini berhenti, melepas kacamata hitamnya, dan menatap Ibu Sarah datar.

"Mobil ini hasil keringat saya sendiri, Bu. Saya membelinya dengan uang saya sendiri. Tidak ada satu rupiah pun uang Mas Varo di dalam ban mobil ini."

"Halah! Jangan membual kamu! Ibu bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi!" teriak Ibu Sarah dengan suara melengking yang memekakkan telinga.

"Mana mungkin penjual nasi seperti kamu bisa beli mobil seharga ratusan tanpa mencuri uang Varo? Kamu pasti diam-diam menguras rekening bersama atau memakai uang bonus jabatan Varo yang dia titipkan ke kamu, kan?! Varo itu manajer! Jelas itu uang dia! Sini kasih kuncinya ke Ibu! Ibu mau Varo yang pegang kunci ini mulai sekarang!"

Ibu Sarah merangsek maju, mencoba merampas kunci dari jemari Aini. Namun dengan sigap, Aini menarik tangannya menjauh.

"Jangan lancang, Bu. Ini mobil saya. STNK dan BPKB-nya atas nama saya. Mas Varo bahkan tidak tahu berapa pajak tahunan mobil ini karena memang dia tidak berkontribusi apa-apa dalam pembeliannya," ucap Aini dengan nada dingin yang menusuk.

"KURANG AJAR! Kamu sudah berani bilang Ibu lancang?! Varo! Varo! Cepat keluar! Lihat istrimu ini sudah mulai gila! Dia sudah berani melawan Ibu dan mau menguasai mobil yang kamu beli!" teriak Ibu Sarah memanggil anaknya dengan suara yang mengguncang rumah.

Varo keluar dari kamar dengan langkah gontai. Wajahnya masih pucat karena kondisinya yang kurang fit, namun emosinya langsung tersulut begitu mendengar teriakan ibunya. Ia menatap mobil SUV itu, lalu menatap Aini dengan pandangan penuh kecurigaan.

"Aini, sudah Mas katakan berkali-kali, jelaskan pada Mas dari mana kamu dapat uang sebanyak itu untuk beli mobil ini? Mas saja yang manajer senior di kantor tidak berani ambil cicilan semahal itu sekarang. Mas curiga, apa kamu diam-diam memakai uang perusahaan yang Mas titipkan ke rekening pribadimu tempo hari? Jujur sama Mas!" tuntut Varo dengan nada menuduh.

Aini menatap suaminya dengan tatapan muak yang tak lagi disembunyikan. Kecewa yang teramat dalam kini berubah menjadi api kemarahan yang tenang.

"Uang perusahaan? Mas Varo, tolong buka mata dan ingatanmu. Uang yang kamu titipkan itu bahkan sering kamu ambil kembali sedikit demi sedikit untuk menutupi hutang kartu kreditmu yang membengkak karena gaya hidup Ibumu. Tabungan di rekening bersama itu juga sudah kosong melompong sejak setahun lalu karena dipakai Ibu Laras belanja barang-barang mewah KW demi gengsi di depan teman-temannya. Kamu pikir aku tidak tahu?"

"Lalu dari mana uangnya kalau bukan dari aku?!" bentak Varo, merasa harga dirinya sebagai kepala keluarga diinjak-injak.

"Dari rumah makan saya, Mas. Usaha yang selama ini kalian hina, kalian bilang warung kumuh, dan kalian ramalkan akan segera bangkrut. Kenyataannya, rumah makan itu memiliki omzet lebih daru cukup per bulan. Saya sudah membuka 2 cabang baru di kota sebelah yang kalian bahkan tidak tahu lokasinya di mana karena kalian terlalu sibuk menghina saya di rumah ini. Tabungan saya jauh lebih dari cukup untuk membeli sepuluh mobil seperti ini secara tunai tanpa perlu mengandalkan gajimu yang tidak seberapa itu," ucap Aini dengan sangat tenang.

Suasana seketika hening mencekam. Varo, Ibu Sarah, dan Cilla terdiam membatu. Mereka saling berpandangan, mencoba mencari celah kebohongan di mata Aini, namun yang mereka temukan hanyalah keyakinan yang absolut.

"Punya banyak uang tapi pelit luar biasa sama mertua! Kamu benar-benar menantu yang licik dan berhati busuk, Aini!" maki Ibu Sarah setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya.

"Kalau memang kamu punya banyak uang, harusnya kamu belikan Ibu perhiasan emas, bukannya malah pamer mobil baru untuk dirimu sendiri! Sekarang sudah jelas kamu bukan istri yang berbakti. Cepat kemas barang-barang busukmu dan pergi dari rumah ini! Silakan bawa mobil itu, tapi rumah ini tetap milik anak saya! Kamu tidak punya hak atas bangunan ini!"

Aini menghela napas panjang, menatap rumah yang telah ia tempati selama lima tahun itu. "Saya yang harus pergi? Ibu yakin sekali dengan ucapan Ibu? Bukannya terbalik, ya? Harusnya Ibu, Mas Varo, dan istri barunya ini yang mulai berkemas dan angkat kaki dari sini."

Wajah Ibu Sarah memerah padam sampai ke telinga.

"Enak saja kamu bicara! Ini rumah dibeli pakai keringat Varo! Dia yang menandatangani semua berkas pembayarannya! Dia yang datang ke kantor pemasaran!"

"Maaf, Bu. Saya tidak akan pindah satu langkah pun. Karena ini rumah saya. Atas nama saya," ucap Aini tegas.

Ibu Sarah sudah benar-benar gelap mata. Ia merasa dipermalukan di depan Cilla yang selama ini ia bangga-banggakan.

"Jangan percaya dia, Varo! Dia itu perempuan mandul yang sedang halusinasi karena terlalu banyak berkhayal! Uang itu pasti hasil dari hal yang tidak benar!"

"CUKUP! Jangan pernah sekali lagi Ibu berani menyebut saya mandul!" Aini merogoh tasnya dan melemparkan selembar kertas hasil laboratorium ke atas meja kayu di hadapan mereka.

"Lihat itu! Baca baik-baik dengan mata kepala Ibu sendiri! Saya subur! Organ reproduksi saya sangat sehat! Justru Mas Varo yang bermasalah, tapi selama lima tahun ini saya diam karena ingin menjaga harga dirinya sebagai laki-laki! Tapi apa balasannya? Kalian selalu menjadikan saya kambing hitam dan menghina saya setiap hari!"

Cilla dengan tangan gemetar mengambil kertas itu dan membacanya. Wajahnya seketika pucat. "Bu... ini... ini asli dari rumah sakit pusat. Mbak Aini benar-benar sehat dan sangat subur..."

"Pasti itu kertas palsu! Kamu sengaja kan memalsukan hasil medis itu supaya Varo tidak menceraikanmu?!" Ibu Sarah masih berusaha membela diri, lalu tiba-tiba ia merangsek maju dan menarik jilbab Aini dengan sangat kasar.

"Keluar kamu! Keluar dari rumah anakku, dasar perempuan pembawa sial!"

"Aww! Lepas, Bu! Sakit! Jangan kasar!" teriak Aini. Rambutnya ikut tertarik kuat, rasa perih menjalar di kulit kepalanya.

"TIDAK AKAN! SEKARANG JUGA KAMU KELUAR!" Ibu Sarah terus menjambak dengan beringas.

"LEPAS! BRAKK!"

Karena rasa sakit yang tak tertahankan, Aini memberikan dorongan kuat untuk melindungi dirinya. Ibu Sarah yang tidak siap kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Kepalanya menghantam sudut meja kayu hingga terdengar suara benturan yang sangat keras.

"IBU!" Varo berteriak histeris, langsung berlari membantu ibunya yang meringis kesakitan.

"Dia menyerangku duluan, Mas! Lihat jilbabku sampai hampir lepas dan robek! Aku hanya membela diri!" bela Aini dengan napas yang memburu.

"Nggak, Varo... hiks... bohong dia... dia yang mulai duluan menyerang Ibu karena tidak terima ibu bilang wanita mandul, padahal memang benarkan..." rintih Ibu Sarah dengan drama yang sangat licik, meski kepalanya terasa berdenyut.

Varo, yang sudah dikuasai amarah terutama karena merasa harga dirinya hancur melihat istrinya jauh lebih sukses darinya langsung meledak.

PLAKKK!

Tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kiri Aini. Wajah Aini terlempar ke samping. "Mas sudah cukup sabar menghadapimu selama ini, Aini! Kamu sudah benar-benar terlewat batas! Kamu berani memukul Ibu kandung Mas hanya karena kamu merasa punya banyak uang sekarang?! Sombong kamu!"

Aini memegang pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Ia menatap Varo dengan tatapan yang sudah benar-benar mati rasa. Tidak ada lagi cinta, yang ada hanyalah rasa muak yang mendalam.

"Kamu menamparku demi membela kebohongan Ibumu? Setelah lima tahun aku mengabdi dan sabar menghadapi hinaan kalian di rumah ini? Setelah semua pengorbananku?!"

"Mbak kok kamu berubah sih sekarang. Apa kamu punya pria lain di luar sana? Ujar Cilla mencoba mengompori.

"Benar itu Aini? Siapa pria itu, hah?! Pasti Dia yang kasih kamu modal usaha kan? Dia yang belikan kamu mobil itu supaya kamu bisa sombong di depan suamimu?! Jawab!" tuduh Varo membabi buta, melampiaskan rasa irinya.

"Dasar tidak waras kamu, Mas. Aku bukan seperti kamu yang suka berselingkuh".

"Sudahlah Varo, jangan banyak bicara lagi dengan perempuan ular ini! Ceraikan saja dia sekarang juga! Biar dia tahu rasa hidup sendirian tanpa perlindungan suami sehebat kamu! Biar dia jadi gelandangan dengan semua uang haramnya itu!" kompor Ibu Sarah sambil memegangi kepalanya yang sedikit memar.

Varo menatap Aini dengan penuh kebencian yang murni.

"Baiklah, Aini! Jika itu yang kamu inginkan, jika kamu merasa sudah sangat hebat... MULAI DETIK INI, AKU JATUHKAN TALAK KEPADAMU! KITA CERAI! HUBUNGAN KITA SELESAI!"

Ibu Sarah dan Cilla seketika tersenyum puas. Akhirnya, kata-kata sakral yang mereka tunggu-tunggu itu terucap dari mulut Varo. Mereka merasa telah memenangkan perang ini.

Namun, di luar dugaan, Aini justru tertawa. Sebuah tawa yang keras, lepas, dan penuh dengan nada kelegaan yang luar biasa. "Hahaha! Akhirnya... akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutmu! Terima kasih, Mas Varo. Kamu baru saja memberikan kado kebebasan terindah dalam hidupku!"

"Dasar gila! Sudah ditalak malah tertawa! Sekarang silakan kamu ANGKAT KAKI DARI RUMAH INI! Sekarang juga!" usir Ibu Sarah dengan nada angkuh.

"Ya jelas bahagia dong. Lagipula bukankah surat dari pengadilan sudah kamu terima, Mas? Walaupun kamu tidak mengucapkan talak langsung, aku juga sudah mengajukan cerai." ucap Aini sinis.

"Oh ya kalian jangan bermimpi di sore hari!" Aini menghapus air mata tawanya dan mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kerjanya.

"Mas Varo, silakan kamu lihat ini dengan teliti. Baca setiap hurufnya."

Aini membentangkan Sertifikat Hak Milik (SHM) rumah tersebut di depan wajah Varo. "Sertifikat Hak Milik atas nama AINI. Bukan namamu, Mas. Dan bukan nama Ibumu."

Varo merampas kertas itu dengan tangan gemetar. Wajahnya seketika pucat pasi, lebih pucat dari saat dia sedang demam tadi. "Ti-tidak mungkin... ini tidak mungkin terjadi... Mas yang datang ke notaris, Mas yang membayar cicilannya setiap bulan ke bank!"

"Pakai uang dari mana kamu bayar cicilan itu, Mas? Pakai uang dari rekening bersama yang sumber utamanya adalah keuntungan bersih dari rumah makan saya setiap bulan! Kamu hanya petugas administrasi yang saya suruh tanda tangan karena saat itu saya terlalu sibuk mengurus pembukaan cabang baru, tapi uangnya seratus persen milik saya! Dan karena kamu terlalu malas membaca detail dokumen dokumen itu akibat terlalu sombong dengan jabatan manajermu, kamu tidak sadar kalau kamu telah menandatangani surat pernyataan bahwa kepemilikan rumah ini sepenuhnya atas namaku!"

Aini berdiri dengan tegak, membusungkan dada dengan penuh kebanggaan. Kunci mobil mewah di satu tangan dan sertifikat rumah di tangan lainnya.

"Rumah ini milik saya. Mobil di depan itu milik saya. Dan kalian... kalian hanyalah benalu yang sudah habis masa kontraknya di dalam hidup saya."

"Jadi sekarang, saya tanya sekali lagi... siapa yang harus pergi? Keluar dari rumah saya sekarang juga, atau saya akan menelepon polisi dan security komplek untuk menyeret kalian keluar dengan paksa sebagai penyusup!"

Varo, Ibu Sarah, dan Cilla terdiam seribu bahasa. Kebahagiaan semu yang mereka rasakan beberapa menit lalu kini hancur berkeping-keping, berubah menjadi mimpi buruk yang paling nyata. Tahta kebohongan yang mereka bangun selama ini telah runtuh total.

BERSAMBUNG...

1
aku
gk jd nonton layar tancep dah pengunjung nya... 🤧🤧
Anonymous
awokawok diem kan lu tua bangka
Dede Azwa
bagussss Aini dasar manusia serakah...kok ada manusia kaya mereka..bukan ny nyadar atas kesalahan..malah berlaku kaya orang terzolimi 😏😡
Anonymous
kalau istri yang mengajukan itu namanya cerai gugat, kalau cerai talak itu kalau suami yang memohon
Anonymous
yahh harus nunggu besok 🥹
Sasikarin Sasikarin
drama bgt
Dede Azwa
gereget.. padahal lapor kan ke sekuriti/polisi...usir manusia" tamak Gedeg baget lihat ny...
Ray
jangan lupa komen ya 🙏
rian Away
MAMPUS JALANG
Dede Azwa
kejutan Mulu thorrr..bosen denger ny,,,harus ny langsung ke inti ny....bikin darting liat ny😡
Dede Azwa: iya kak othor sama"🤭semoga kedepannya lebih gacorrr lagi...bagus ceritanya pemeran utama ny gak menye" pertahan kan KK..sukses selalu kak othorr buat novel ny👍💪🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!