Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Ina dan Nisa akhirnya pergi meninggalkan kediaman Adam dan Kiandra, pintu rumah itu menutup dengan bunyi pelan tapi rasanya kayak nutup babak panjang penuh keributan. Suasana langsung berubah jadi canggung. Adam berdiri gelisah di ruang tamu, sementara Kiandra duduk santai di sofa, kaki disilang, fokus ke layar ponselnya seolah dunia cuma berisi chat dan notifikasi.
Sejak tadi Adam nggak berhenti nyoba. Dari nada suara lembut, sampai muka pasang ekspresi paling memelas yang bisa dia keluarin.
“Sayang, aku minta maaf,” ucap Adam lagi, suaranya agak serak. Kali ini dia duduk di ujung sofa, jaraknya nggak jauh dari Kiandra, tapi rasanya kayak dipisahin samudra.
Kiandra cuma melirik sekilas. Itu pun cuma sepersekian detik. Setelah itu matanya balik lagi ke ponsel. Jarinya geser layar naik turun, entah baca apa, kepalanya masih teringat dengan semua foto suaminya. Foto Adam senyum manis sama perempuan itu. Foto yang bikin dadanya sesak dan emosinya naik turun nggak karuan.
“Sayang, dengerin aku dulu, Aku janji, aku nggak bakal berhubungan lagi sama dia. Aku akan mengganti nomor ponselku supaya dia tidak bisa menghubungiku lagi. Besok aku akan menyuruh Pandu untuk segera mengurusnya" ucap Adam.
"Maafkan aku sayang, aku benar-benar menyesal." lanjutnya dengan tatapan sendu.
Kiandra tetap diam. Tidak ada anggukan, tidak ada jawaban. Hanya ada helaan napas pelan yang keluar dari hidungnya. Adam semakin panik. Diamnya Kiandra jauh lebih menyakitkan daripada bentakan atau makian.
Zayyan yang duduk di lantai sambil main mobil-mobilan sejak tadi akhirnya berhenti. Dia ngelirik ke mamanya, lalu ke papanya. Keningnya berkerut, ekspresinya polos menampakan kebingungan. Dunia orang dewasa memang kadang nggak masuk logika anak kecil.
“Mommy…” Zayyan berdiri, nyamperin Kiandra. “Itu kacihan, anaknya Ina lagi minta maaf.”
Begitu kalimat itu keluar, Kiandra langsung menunduk. Bibirnya bergetar. Dia berusaha keras nahan tawa biar tidak meledak di depan suaminya. Dadanya naik turun, bahunya sampai sedikit gemetar. Asbun banget, ya ampun. Dalam hati Kiandra cuma bisa ngakak. Anak siapa sih ini, bisa-bisanya Adam dibilang anaknya Ina.
Adam yang dengar itu langsung melotot. Matanya melirik tajam ke arah Zayyan, campur aduk antara kesal dan malu.
“Kamu ini…” Adam ngusap wajahnya kasar.
“Kamu anaknya Kiandra, diam aja!”
Zayyan manyun. “Lah, kok malah cih”
Kiandra akhirnya tidak kuat lagi. Dia menurunkan ponselnya, menutup wajahnya pakai satu tangan, bahunya naik turun karena tertawa yang akhirnya lolos juga. Putranya itu sangat merusak semuanya.
“Ya Allah, Zay… Kamu itu ya” Kiandra geleng-geleng kepala.
Adam terbengong melihat istrinya yang tertawa. Meski bukan respon yang dia harapkan, setidaknya bukan diam dingin.
“Sayang..Aku serius. Aku salah, kamu boleh marah, boleh benci aku, tapi jangan seperti ini. Aku tidak tahan kamu diamkan terus menerus” ucap Adam sambil mendekatkan tubuhnya ke istrinya.
Kiandra berhenti ketawa. Wajahnya langsung berubah datar lagi. Dia menatap Adam cukup lama, tatapan yang bikin Adam refleks menelan ludahnya.
“Kamu pikir ganti nomor itu cukup, Adam? Kamu pikir janji doang bisa ngapus semua foto itu dari kepala aku? Kamu pikir dengan maaf bisa membuatku melupakan perselingkuhanmu?” ucap Kiandra akhirnya. Suaranya pelan tapi tajam.
"Tidak Adam, apalagi kamu pasti sudah melakukannya dengan dia" imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.
Adam terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
"Mommy kenapa? Daddy nakal ya?" tanya Zayyan sambil mengusap pipi ibunya.
Pertanyaan Zayyan membuat hati Kiandra nyeri sekaligus hangat. Dia mengusap kepala putranya, lalu memeluknya erat.
“Mommy tidak apa-apa, sayang, mommy hanya sedikit lelah” bisik Kiandra.
Adam hanya diam melihat interaksi keduanya. Untuk pertama kalinya dia sadar, minta maaf itu ternyata tidak segampang yang dia kira. Dan diamnya Kiandra, tawa kecil yang pahit itu, justru jadi hukuman paling berat baginya.
Kiandra sakit sendirian tp si laki adem ayem. gk pernh ngerasa sakit atau nyesel nya cm kamuflase.