NovelToon NovelToon
Ayah Anakku, Ceo Amnesia

Ayah Anakku, Ceo Amnesia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO Amnesia / Bertani / Romansa pedesaan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.

Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.

Namun Wijaya bukan lelaki biasa.

Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.

Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cibiran Tetangga

Malam sudah turun ketika mereka melewati pematang dan suara jangkrik kembali terdengar akrab di telinga. Lia menuruni mobil Natan pelan-pelan, menatap rumah sederhana itu—tempat semua cerita bermula, dan mungkin harus berakhir.

Pintu rumah terbuka tergesa.

“Lia!”

Suara Bu Surti tercekat, setengah menangis setengah lega. Perempuan tua itu langsung memeluknya erat-erat, seolah takut Lia menghilang lagi.

“Alhamdulillah kamu pulang, Nak… Ibu khawatir sekali…”

Pak Wiryo berdiri di belakang, kedua tangannya bertaut. Sorot matanya lembut, tetapi juga penuh tanya. “Bagaimana kabar Wijaya, Nak?”

Lia tersenyum kecil. Senyum yang berusaha tegar meski matanya basah. “Sudah sadar, Pak. Sudah ditangani dokter… tapi….” Kalimat itu menggantung.

Bu Surti menatapnya cemas. “Tapi apa, Lia?”

Lia menggeleng pelan. “Besok saja, Bu… Lia capek. Boleh Lia istirahat?”

Mereka saling pandang, lalu hanya mengangguk. Tidak memaksa. Tidak mendesak. Orang kampung memang jarang memaksa takdir untuk bicara lebih cepat.

Malam itu rumah kecil itu terasa hangat, tetapi hati Lia tetap dingin. Ia menatap langit-langit kamarnya yang dulu disapunya tiap pagi. Di dadanya ada ruang kosong yang tidak bisa ia beri nama.

Dia hidup… tapi bukan untukku lagi, batinnya.

Air mata jatuh tanpa suara.

.

Pagi di desa datang bersama suara ayam dan embusan angin sawah. Matahari baru naik, tapi rasa lelah jelas masih menggantung di wajah Lia. Ia keluar dari kamar pelan-pelan, Bu Surti sudah menyiapkan teh hangat di meja kayu.

Bu Surti menoleh cepat.

“Lia… kamu sudah bangun. Bagaimana keadaan Wijaya?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi menekan dada Lia.

Lia menunduk, kedua tangannya meremas ujung kainnya.

“Sudah sadar… tapi… belum benar-benar pulih.”

Pak Wiryo yang sejak tadi duduk di kursi panjang mengangguk pelan, wajahnya sendu.

“Yang penting dia selamat dulu. Soal ingatan… pelan-pelan, Nduk. Gusti sing nggawa, Gusti sing mbalekke.”

Lia mengangguk, tetapi dadanya perih—bukan hanya karena ingatan Krisna yang hilang tentangnya, melainkan juga karena ia menyembunyikan kehamilannya dari Wijaya.

Bu Surti menatap perut Lia sekilas, penuh iba.

“Kamu juga jangan terlalu capek. Kamu itu baru saja dari perjalanan jauh. Jaga kandunganmu.”

Lia tersenyum tipis.

“Iya, Bu.”

Namun senyum itu terasa seperti kain tipis yang menutup luka besar.

.

Kabar di desa selalu lebih cepat dari angin.

Pagi itu, saat Lia menjemur pakaian, dua ibu-ibu berjalan pelan di depan rumah. Suara mereka dibuat lirih—tapi cukup keras untuk melukai.

“Katanya suaminya orang kota… tapi kok pulang sendirian?”

“Ah, siapa tahu cuma numpang nama. Sekarang pulang, nggak dibawa, nggak dijemput.”

Yang lain terkekeh.

“Ya mungkin memang tidak diakui. Wong nikahnya diam-diam.”

Lia mematung.

Tangannya masih memegang jemuran, matanya panas. Ia menggigit bibirnya, memilih diam, tetapi kata-kata itu menempel seperti duri.

Di ujung gang, seorang pemuda berbisik pada temannya,

“Kasihan, ya. Sudah ditinggal… hamil pula katanya.”

Lia menunduk makin dalam.

Bukan hanya tentang Krisna—tetapi tentang namanya, tentang martabatnya sebagai perempuan, tentang anak yang sedang ia kandung.

Dari dalam rumah, Bu Surti keluar sambil mengibas sapu.

Tatapannya tajam.

“Wes, Bu, kalau cuma bisa ngomong jelek soal orang, mending pulang. Rumah sendiri masih banyak kerjaan.”

Bisik-bisik itu bubar.

Lia menoleh pelan. Bu Surti menepuk bahunya lembut.

“Biar saja, Nduk. Wong cangkem wong kuwi ora iso ditutup. Sing penting kamu tahu kebenarannya.”

Lia mengangguk pelan—tetapi air mata akhirnya jatuh juga.

.

Keesokan paginya.

Lia keluar rumah, melangkah ke pematang—tempat Wijaya dulu sering berjalan sambil bercanda bahwa lumpur adalah saksi cinta mereka.

Namun langkahnya terhenti.

Beberapa pria desa berdiri tak jauh. Wajah mereka muram. Di tengah hamparan padi yang masih menguning muda, sebuah papan besar tertancap kokoh:

“Tanah dalam proses pembebasan. Dilarang mengolah.”

Tulisan merahnya menusuk mata.

Lia mendekat perlahan. Di sekitar, orang-orang hanya bisa berdiri mematung. Ada desahan berat, ada umpatan berbisik, ada pasrah yang terlihat terlalu jelas.

“Jadi… benar-benar mau diambil semua, Pak?” tanya seorang bapak tua dengan suara bergetar.

Pak Wiryo hanya menghela napas panjang. “Wong cilik cuma bisa manut, Rek… kalau tanah sudah kena patok begini… artinya sudah ada yang kuat di belakangnya.”

Bu Surti berdiri di sisi Lia, menggenggam tangannya. “Sawah ini… satu-satunya peninggalan orang tua kami…”

Lia menatap papan itu lama sekali.

Yang direnggut darinya bukan hanya kenangan.

Tetapi tempat pulang.

Di dalam perutnya, janinnya bergerak pelan—seolah tahu ibunya sedang berperang dengan dunia yang tak adil.

Lia menarik napas dalam-dalam.

“Kalau memang ini takdir,” ucapnya lirih, “Lia akan bertahan. Untuk anak Wijaya… untuk masa depannya.”

Dan untuk pertama kalinya, meski dunia terasa sempit, matanya tidak hanya berisi air mata.

Melainkan tekad.

Hari-hari setelah operasi berjalan pelan.

Krisna masih harus banyak istirahat. Tubuhnya berangsur pulih, tetapi ingatannya belum sepenuhnya kembali. Ada bagian hidupnya yang terasa kosong—ruang hampa yang ia tidak tahu pernah diisi oleh siapa.

Ana duduk di samping ranjang, menyuapi bubur hangat sedikit demi sedikit.

“Pelan-pelan saja,” ucapnya lembut. “Dokter bilang kamu tidak boleh terlalu dipaksa dulu.”

Krisna menatap wajah ibunya. Ia mengenali senyum itu, rasa hangat itu, tapi tetap ada kebingungan di balik matanya.

“Ma…” ia berbisik, “aku hilang berapa lama?”

Ana terdiam sesaat. “Cukup lama,” jawabnya pelan. “Yang penting sekarang kamu sudah kembali.”

Ia tidak menceritakan Lia.

Karena bahkan ia sendiri tidak tahu tentang pernikahan itu.

Kadang Krisna mengernyit seolah mencoba menggapai sesuatu di kepalanya.

Seorang perempuan… rumah sederhana… tawa kecil… bau tanah setelah hujan…

Tapi setiap kali ingin diingat lebih jauh, kepalanya terasa berdenyut dan semuanya buyar kembali.

Ana tersenyum, menyembunyikan cemasnya.

“Tidak apa-apa kalau belum ingat semuanya. Ingatan itu seperti tamu, akan kembali ketika waktunya tiba.”

Krisna mengangguk pelan.

Di luar pintu kamar, Riri berdiri menunggu, membawa bunga segar. Hampir setiap hari ia datang—dengan make up rapi, pakaian terbaik, dan senyum yang sudah dilatih di depan cermin.

Begitu Ana keluar, Riri masuk.

“Krisna…” suaranya lembut, dibuat setenang mungkin. “Apa kabar ?”

Krisna menatapnya. "Riri, aku baik."

Riri menggenggam tangannya, namun dalam hatinya ia diterkam ketakutan lain, pernah bersama dengan Kevin.

****

Di gedung kaca perusahaan Kusuma Group, suasana berbeda sama sekali.

Ruang rapat dipenuhi jajaran direksi.

Kevin duduk di kursi utama — kursi yang seharusnya milik Krisna.

Ia memimpin rapat dengan suara tegas, berusaha menunjukkan bahwa ia pantas berada di posisi itu.

“Selama Krisna belum benar-benar pulih,” ucap Kevin, “semua proyek tetap berjalan sesuai rencana. Tidak ada keputusan besar sebelum beliau bisa kembali memimpin.”

Beberapa direksi saling pandang; sebagian setuju, sebagian waspada.

Kevin tampak tenang, tetapi hatinya bergejolak.

Jika Krisna benar-benar pulih… ia akan kembali mengambil semuanya— jabatan, warisan, dan Riri.

Sementara di suatu tempat di desa, ada seseorang yang seharusnya menjadi bagian besar dari puzzle itu, tetapi sudah dilupakan semua orang.

Lia.

Yang sedang membawa pulang rahasia paling berharga: anak keluarga Kusuma yang belum diakui siapa pun.

1
Kam1la
nggak janji yah......
Erna Wati
smga smuanya CPT trbongkar . smga Riri gk jdi nikah sama Krisna Riri sama Kevin aja
Eka Yuniar
semngat thor💪
Eka Yuniar
semangat up nya Thor yg banyak ya💪🤭
Kam1la: ok siap ! yang penting dukungannya ya Kak ... 😄😍
total 1 replies
Eka Yuniar
semangat kak up nya💪
Eka Yuniar
ditunggu up nya kak💪
Kam1la
ok, Siap ...!!
Eka Yuniar
cepet up kak eps selanjutnya 🙏😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!