Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan tak biasa
Di ruang yang entah berada di mana, Hawa berdiri sendirian. Kabut putih mengambang di sekelilingnya, sunyi, namun terasa hangat. Jantungnya berdetak cepat ketika samar-samar ia melihat sosok tua dengan sorot mata yang begitu ia kenal. Sosok yang bahkan tak mungkin ia lupakan seumur hidupnya.
“Kakek…?” suaranya bergetar.
“Kakek!”
Hawa berlari sekuat tenaga, gaunnya berkibar mengikuti langkah panik itu. Begitu jarak mereka menyempit, pria tua itu tersenyum, senyum yang selalu membuat Hawa merasa aman sejak kecil.
Air mata Hawa langsung tumpah.
“Kenapa, Kek?” teriaknya frustasi. “Kenapa Kakek menjodohkanku dengan pria yang tidak mencintaiku? Aku benci dia, Kek! Aku benci pernikahan ini! Tidak bisakah wasiat itu dibatalkan saja?”
Kakek Surip menghela napas panjang, lalu mengangkat tangannya, mengusap kepala Hawa seperti dulu.
“Hawa…” suaranya lembut, penuh kebijaksanaan. “Tidak semua pernikahan berawal dari cinta. Pernikahan bukan hanya tentang bahagia, tapi tentang bagaimana dua hati dan dua pikiran yang berbeda bisa belajar berjalan ke satu tujuan yang sama.”
“Tidak!” Hawa menjerit. “Aku tidak mau! Dia itu playboy, Kek! Aku tidak mau hidupku seperti ini!”
Tangannya gemetar, dadanya sesak.
“Aku tidak siap… aku takut…kek”
Kakek Surip tersenyum lagi, kali ini lebih dalam, lebih penuh makna.
“Kamu cucuku yang paling cantik dan paling cerdas. Kamu jauh lebih kuat dari yang kamu kira. Jalani saja, sayang… kamu pasti bisa.”
Cahaya putih tiba-tiba menyilaukan. Sosok itu perlahan memudar.
“Kakeeeek!!!” Hawa tersentak keras. Ia terduduk di ranjang pengantin, napasnya terengah, keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya. Dadanya naik turun tak beraturan, tenggorokannya terasa kering seakan benar-benar habis berteriak.
“Hah… hah…”
“Hanya… mimpi…” gumamnya lirih.
Matanya melirik jam dinding, pukul tiga sore.
“Kenapa, sayang?” suara Adam terdengar panik. Pria itu langsung bangkit, wajahnya penuh kekhawatiran.
“Enggak apa-apa,” jawab Hawa cepat, memalingkan wajah. Ia tidak sanggup menceritakan mimpi itu. Terlalu nyata. Terlalu menusuk.
Adam menarik Hawa pelan, menyandarkannya ke dada bidangnya yang kekar.
“Tidur lagi ya…”
Pelukan Adam menghangatkan punggung Hawa. Pria itu mengecup lembut ubun-ubun Hawa, penuh kepemilikan sekaligus rasa puas yang belum pudar.
“I love you,” bisik Adam. “Makasih ya, sayang. Kamu hebat banget…” Jantung Adam masih berdebar, ingatannya kembali pada adegan panjang yang baru saja mereka lewati bersama, panas, intens, dan penuh gairah.
Namun Hawa tetap diam.
“Mas…” Hawa berbalik, menatap wajah Adam dari jarak dekat. “Sudah berapa banyak wanita yang pernah kamu ucapkan kata I love you?”
Adam refleks tersenyum, senyum lelaki yang terbiasa bermain kata.
“Kalau lambang love itu bisa terlihat, pasti sudah isinya penuh buat kamu,” ujarnya ringan. “Karen untuk istri, tentu beda. Tidak bisa disamakan dengan selir.” Ucapan itu membuat perut Hawa terasa mual.
Hawa terdiam, menatap kosong.
Dasar kadal… batinnya kesal.
Tapi santai saja, Hawa. Permainan belum dimulai.
“I love you,” ulang Adam sambil mengecup dahi Hawa, menatapnya bucin seakan dunia hanya milik mereka berdua.
“Enggak ada balasannya nih?” celetuk Adam penasaran, seperti biasa dengan para kekasihnya, selalu mendapatkan balasan.
Hawa tersenyum kecil, senyum yang manis, tapi menyimpan jarak.
“Aku belum bisa membalasnya,” jawabnya jujur. “Lambang love itu… bahkan belum terisi sama sekali untuk kamu, maaf!"
Entah mengapa, jawaban Hawa tiba-tiba terasa menusuk jantung Adam, meski pria itu tetap tersenyum.
“Oke, enggak masalah,” katanya tenang. “Aku yakin, perlahan waktu berlalu… lambang love kamu untuk aku akan penuh.”
Waktu bergulir hingga senja hampir tiba.
Hawa menelpon ibunya;
“Bu, bagaimana kondisi Bapak?” tanyanya cemas.
“Alhamdulillah, Wa. Bapakmu sudah jauh lebih baik, sudah mau makan.”
“Alhamdulillah… beneran, Bu?” mata Hawa berkaca-kaca.
“Iya, Nak,” suara Ningsih terdengar ceria. “Kamu yang baik-baik ya menjalani rumah tangga dengan Adam. Ibu rasa kamu memang sudah ditakdirkan berjodoh dengannya. Rukun ya, Nak. Masalah kecil dihilangkan, masalah besar dikecilkan.”
Air mata Hawa jatuh tanpa bisa ia tahan. Banyak yang ingin ia ceritakan, tapi lidahnya kelu.
“Baik, Bu…”
“Besok kalau tidak ada masalah, kami sudah bisa pulang.”
“Syukurlah”
Panggilan terputus. Ponsel masih tergenggam erat di tangan Hawa.
“Ayo, Hawa… kamu harus kuat,” gumamnya pelan.
Saat makan malam tiba,
Hawa melangkah perlahan dan tidak nyaman setelah baru pertama kalinya melakukan hubungan intim, tubuhnya terasa lemas. Adam yang melihat itu langsung menghampiri dan mengangkat Hawa tanpa aba-aba.
“Ah!” Hawa terkejut.
“Maaf,” ucap Adam tulus. “Kalau hal 'itu' membuat kamu tidak nyaman.”
“Enggak apa-apa, Mas,” jawab Hawa lirih. “Sudah jadi risiko wanita…”
Tatapan mereka bertemu. Adam menggendong Hawa hingga ke meja makan, suasana begitu hangat dan romantis.
“Meja makan diganti lagi?” tanya Hawa heran.
“Seiring kamu ganti suami,” jawab Adam sambil tersenyum, “semuanya harus diganti.”
Adam hendak mengambilkan makanan untuk Hawa, tapi Hawa cepat merebut piring dari tangan Adam.
“Ah, aku bisa sendiri. Justru aku yang harus melayanimu.”
Adam duduk sambil tersenyum kagum.
“Kamu itu suamiku,” celoteh Hawa. “Bak raja agung.”
“Heh, berlebihan,” balas Adam tersenyum sampai giginya terlihat.
Mereka makan bersama. Adam lagi-lagi memandangi Hawa tanpa berkedip.
“Jangan lihat aku begitu,” rengek Hawa. “Aku enggak bisa makan.”
“Hahaha!”
“Kayak enggak pernah lihat perempuan aja,” protes Hawa
“Memang enggak pernah."
“Hah?”
“Enggak pernah lihat wanita secantik dan sekuat kamu auramu," kata Adam
“Gombal!”
“Terserah.”
“Ih, gemas banget lihat playboy satu ini,” gumam Hawa.
Setelah makan malam, Hawa sibuk di depan coffee maker pribadi Adam. Tangannya cekatan, matanya berbinar. Adam menghampiri dan memeluknya dari belakang, mengendus tengkuk harum istrinya.
“Emang kamu bisa?” tanyanya lembut.
“Sudah jadi,” Hawa menyerahkan secangkir coffee.
“Coba.” Adam menyesapnya, lalu tersenyum lebar.
“Top.” Adam memberikan jempolnya untuk Hawa.
“Kok kamu bisa, sayang?” pujinya kagum.
Hawa tersenyum penuh percaya diri.
“Bisa dong, buat kamu apa sih yang enggak bisa” tatapan manja Hawa. Tak kalah pinter menggombal Adam.
Sangking groginya Adam, coffe itu mengenai jemari Hawa.
"Ah!" jerit tipis Hawa bukan karena kepanasan melainkan terkejut, namun Adam langsung panik, ia buru-buru meletakkan secangkir kopi hangat itu dan mengembus-embus jemari.
"Aku hanya terkejut!" ucap Hawa mencoba manarik jemarinya dari genggaman Adam namun Adam tetap menahannya, tidak berhenti mendinginkan jemari Hawa.
Enggak tau kenapa, aku belum pernah merasakan rasa sayang dan detak jantung berdebar-debar yang berlebihan seperti ini terhadap wanita, entah mengapa aku begitu takut dan panik melihat Hawa, menangis, kesakitan, ataupun kesulitan seperti aku merasakannya sendiri, dia sungguh berbeda dari wanita lain. Gumam Adam menatap wajah Hawa.
“Bisa dong. Buat kamu, apa sih yang enggak bisa?” ucap Hawa dengan tatapan manja yang membuat Adam salah tingkah. Senyumnya kecil, namun mampu meruntuhkan pertahanan Adam dalam sekejap.
Karena terlalu gugup, tangan Adam sedikit gemetar. Tanpa sengaja, kopi hangat di cangkirnya tumpah dan mengenai jemari Hawa.
“Ah!” Hawa menjerit pelan, bukan karena panasnya, melainkan karena terkejut.
Adam sontak panik. Ia buru-buru meletakkan cangkir itu, lalu meraih tangan Hawa dengan wajah penuh rasa bersalah. Ditiupnya jemari itu berulang kali, seolah takut rasa perih sekecil apa pun akan melukainya.
“Aku cuma kaget,” ujar Hawa lembut sambil mencoba menarik tangannya. Namun Adam tetap menahannya, tak berhenti meniup dengan penuh perhatian, seakan dunia hanya menyisakan mereka berdua saja.
Adam menatap wajah Hawa, hatinya bergetar oleh perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Entah kenapa…aku belum pernah merasakan rasa sayang dan debaran jantung sekuat ini pada seorang wanita, gumamnya dalam hati. Setelah bercinta dengannya, aku merasakan takut saat dia terluka, panik saat dia menangis, dan gelisah saat dia kesakitan, seolah semua itu terjadi padaku.
Tatapan Adam melembut.
Aku juga bingung perasaan apa ini?
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
bodoh kamu Runn
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau