Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Mawar Plastik dan Luka yang Nyata
Pagi itu di kamar 1018, suasana lebih canggung daripada ruang tunggu poli gigi.
Setelah insiden "genggaman tangan tidur", Rania dan Adrian melakukan senam akrobatik mental untuk berpura-pura tidak ada yang terjadi. Adrian sibuk menyetrika kemejanya (yang sudah rapi) untuk ketiga kalinya, sementara Rania sibuk menyisir rambutnya di kamar mandi selama 30 menit.
"Kita terlambat, Rania," panggil Adrian dari luar pintu kamar mandi. Suaranya datar, kembali ke mode robot profesional.
Rania keluar. Dia mengenakan kemeja batik lengan panjang (untuk menutupi perban) dan celana bahan hitam. Dia berusaha terlihat rapi, meski tanpa makeup.
Adrian menatapnya sekilas, lalu berjalan mendekat.
"Apa?" Rania mundur selangkah, waspada.
Tanpa bicara, Adrian merapikan kerah kemeja Rania yang terlipat ke dalam. Gerakannya cepat dan efisien, tidak ada sentuhan kulit yang tidak perlu.
"Presentasi jam 9. Kamu duduk di baris depan. Jangan tidur, jangan ngiler, dan kalau ada sesi tanya jawab, kamu yang handle pertanyaan soal manajemen nyeri pasca-operasi," instruksi Adrian.
"Siap, Bos," jawab Rania, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang kembali tidak sopan.
Grand Ballroom Hotel.
Seminar Nasional "Estetika dan Rekonstruksi Masa Depan" itu dipenuhi dokter-dokter perlente. Wangi parfum mahal menyerbak di mana-mana. Rania merasa seperti itik buruk rupa yang nyasar ke pesta angsa.
Adrian langsung menjadi pusat perhatian. Rekan-rekan sejawat menyapanya, menjabat tangannya, memuji artikel jurnal terbarunya. Rania hanya mengekor di belakang seperti asisten yang membawa tas laptop.
"Adrian!"
Sebuah suara wanita yang merdu dan renyah memanggil.
Rania menoleh dan seketika itu juga, rasa percaya dirinya anjlok ke lantai dasar.
Seorang wanita berjalan mendekat. Dia cantik. Tidak, dia sempurna. Kulitnya seputih porselen, rambutnya digelung elegan tanpa satu helai pun keluar jalur. Dia mengenakan dress kerja warna cream yang membalut tubuh rampingnya. Wajahnya adalah definisi golden ratio estetika.
"Clarissa?" Adrian tampak terkejut. Ada ketegangan instan di bahunya.
Wanita itu, Clarissa, langsung memeluk Adrian akrab, cipika-cipiki tanpa menyentuh pipi (khas sosialita).
"Ya ampun, Ad! Sudah berapa tahun? Kamu makin ganteng aja," puji Clarissa, matanya berbinar menatap Adrian. Lalu matanya beralih ke Rania.
Tatapan itu berubah. Dari hangat menjadi... analitis. Clarissa memindai Rania dari ujung rambut yang agak kaku (kebanyakan hair spray murah) sampai sepatu pantofel Rania yang agak lecet.
"Oh, ini asisten baru kamu ya, Ad? Atau sekretaris?" tanya Clarissa polos. Terlalu polos.
Rania merasakan darah naik ke kepalanya. "Saya—"
"Ini Dr. Rania Wijaya," potong Adrian cepat dan tegas. "Rekan sejawat saya. Spesialis Bedah Umum di RS Citra Harapan. Partner saya dalam membangun klinik baru."
Clarissa mengangkat alisnya yang terlukis sempurna. "Bedah Umum? Oh... how rugged. Pantas gayanya agak... tomboy ya." Dia mengulurkan tangan yang lentik dengan manicure sempurna. "Dr. Clarissa. Spesialis Kulit & Kelamin (Dermatovenereologist). Saya teman seangkatan Adrian waktu koas dulu. Dan... yah, teman dekat."
Rania menjabat tangan halus itu dengan tangan kirinya (karena tangan kanannya diperban di balik lengan panjang). "Rania. Teman berantem Adrian."
Clarissa tertawa kecil, suara yang terdengar seperti lonceng. "Lucu. Adrian memang butuh hiburan. Dulu waktu kami pacaran, dia terlalu serius. Kaku banget."
Dulu waktu kami pacaran.
Kalimat itu mendarat telak di telinga Rania. Jadi ini mantannya. Tentu saja. Mereka serasi. Sama-sama glowing, sama-sama mahal, sama-sama wangi uang. Mereka seperti pasangan boneka Barbie dan Ken edisi terbatas.
"Clarissa, kami harus persiapan presentasi," kata Adrian, memutus reuni itu. Dia tidak terlihat antusias bertemu mantannya.
"Tentu. Good luck, Ad. Aku duduk di depan, menatapmu," Clarissa mengedipkan mata, lalu berlalu dengan anggun.
Rania mendengus pelan. "Teman dekat, huh? Pantes selera lo tinggi. Dia kayak abis keluar dari majalah Vogue."
Adrian tidak menjawab. Rahangnya mengeras. "Fokus, Rania. Ayo ke podium."
Presentasi berjalan lancar. Adrian memukau audiens dengan materi tentang teknik bedah mikro terbaru. Rania, sesuai instruksi, menjawab pertanyaan teknis soal perawatan luka dengan lugas dan cerdas.
Kolaborasi mereka di panggung ternyata solid. Adrian teoritis dan visioner, Rania praktis dan realistis.
Namun, di sesi Q&A terakhir, Clarissa mengangkat tangan.
Panitia memberikan mikrofon. Clarissa berdiri, tersenyum manis tapi matanya tajam.
"Presentasi yang menarik, Dr. Adrian. Tapi saya mau tanya ke rekan Anda, Dr. Rania," kata Clarissa. "Anda bicara soal efisiensi biaya dalam penanganan luka bedah plastik. Bukankah motong biaya (cost-cutting) dengan menggunakan bahan standar—seperti yang biasa dilakukan dokter bedah umum—justru berisiko merusak hasil estetika? Pasien estetika bayar mahal untuk perfeksionisme, bukan untuk 'yang penting sembuh' ala rumah sakit pinggiran."
Suasana hening. Itu bukan pertanyaan. Itu serangan terbuka. Clarissa sedang mempermalukan kompetensi Rania dan status RS mereka di depan ratusan dokter elit.
Rania menggenggam erat podium. Tangannya yang luka berdenyut nyeri karena stress. Dia tahu dia diremehkan. Dia tahu dia dianggap "dokter kampung".
Rania menarik napas, siap membalas dengan sarkasme pedas, tapi Adrian mendahuluinya.
Adrian melangkah maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Rania, seolah menjadi tameng.
"Terima kasih pertanyaannya, Dr. Clarissa," suara Adrian dingin, bergema di sound system. "Ada miskonsepsi besar di sini. Estetika bukan hanya soal benang mahal atau lem kulit impor."
Adrian menoleh ke Rania, menatapnya dengan bangga.
"Estetika dimulai dari tissue handling—penanganan jaringan yang penuh hormat. Dan Dr. Rania..." Adrian memberi jeda dramatis. "...memiliki tangan yang paling menghargai nyawa yang pernah saya lihat. Dia bisa menjahit luka kotor di UGD dengan keterbatasan alat, namun pasiennya sembuh tanpa infeksi. Itu seni yang lebih tinggi daripada sekadar menyuntik botox di klinik ber-AC."
Penonton terdiam, lalu beberapa mulai bertepuk tangan pelan.
"Jadi," lanjut Adrian tegas. "Kombinasi efisiensi Dr. Rania dan standar presisi saya adalah apa yang kami tawarkan. Kami tidak menjual kemewahan kosong. Kami menjual care (kepedulian). Dan itu tidak bisa dibeli dengan uang."
Tepuk tangan membahana. Jawaban yang elegan, mematikan, dan romantis (bagi yang peka).
Wajah Clarissa merah padam. Dia duduk kembali dengan kaku.
Rania menatap punggung Adrian. Matanya terasa panas. Dia tidak menyangka Adrian akan membelanya sekeras itu di depan mantannya yang sempurna.
Selesai acara, mereka berjalan menuju parkiran. Rania diam saja sejak tadi.
"Kenapa diam? Marah karena saya ambil jatah jawab kamu?" tanya Adrian saat mereka sampai di mobil.
"Nggak," jawab Rania pelan. Dia bersandar di pintu mobil. "Makasih, Ad. Tadi itu... keren."
Adrian melonggarkan dasinya, terlihat lega. "Clarissa memang suka begitu. Dia agresif. Dia pikir semua orang di bawah standarnya."
"Dia cantik banget tapi," gumam Rania jujur. "Kalian cocok."
Adrian berhenti membuka pintu mobil. Dia berbalik, menatap Rania intens.
"Dia cantik, benar. Dia pintar, benar. Tapi dia tidak pernah mau makan mie instan sama saya di pantry gelap," kata Adrian.
Rania mendongak.
"Dia tidak pernah peduli apakah tangan saya melepuh kena kopi atau tidak. Dia cuma peduli apakah jas saya rusak atau tidak," lanjut Adrian. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak. "Dan dia tidak pernah punya keberanian untuk mendobrak pintu saya demi pasien BPJS."
Adrian mengangkat tangan kanannya, ragu-ragu sejenak, lalu menyentuh ujung kepala Rania, mengacak rambutnya pelan.
"Jangan bandingkan diri kamu sama dia. Kamu beda kelas. Kamu... lebih real."
Jantung Rania rasanya mau copot dan menggelinding ke aspal parkiran.
"Ad..."
"Ayo pulang. Saya lapar," potong Adrian cepat, menarik tangannya kembali dan masuk ke mobil, menyembunyikan wajahnya yang mungkin memerah. "Saya mau makan batagor Bandung sebelum balik ke Jakarta."
Rania tersenyum lebar. Senyum yang paling cerah hari itu.
"Siap, Pangeran Batagor!"
Saat mobil melaju meninggalkan hotel, Rania melihat Clarissa berdiri di lobi, menatap mereka dengan pandangan tidak suka. Tapi Rania tidak peduli lagi.
Dia punya supir pribadi ganteng yang baru saja menyebutnya "lebih real" daripada boneka Barbie. Itu kemenangan mutlak.
Tapi Rania belum tahu, Clarissa bukan tipe wanita yang menerima kekalahan begitu saja. Ponsel Clarissa menyala, menghubungi seseorang.
"Halo, Om Wijaya? Ayahnya Adrian? Iya, ini Clarissa. Saya baru ketemu Adrian. Sepertinya dia sedang salah gaul dengan dokter rendahan di RS kumuh itu. Om harus bertindak sebelum reputasi keluarga rusak."
Perang baru saja naik level.
...****************...
bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
betewe ini cerita bagus napa masih sepi ya?
ceritanya bagus banget