Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Mulai Jengah
Ketidaksenangan Cakra mulai mencapai puncaknya seiring dengan frekuensi kehadiran Satria yang semakin sering terlihat di sekitar joglo. Bagi Cakra, Satria bukan lagi sekadar perwira pindahan yang berbakat, melainkan gangguan nyata bagi kedamaian pangkalan kecilnya. Setiap kali ia melihat Satria membawakan camilan atau hanya duduk sambil tertawa bersama Alisa, rahang Cakra mengeras secara otomatis. Ia mulai sering mondar-mandir di depan jendela kantornya, jam tangannya sering ia lirik seolah sedang menghitung mundur waktu kunjungan Satria yang dianggapnya sudah melewati batas toleransi militer. Perasaan jengah ini aneh; ia bisa menghadapi pemberontak di hutan tanpa kedip, tapi melihat seorang pemuda memberikan perhatian lebih pada putrinya membuat nyalinya sedikit goyah oleh rasa cemburu seorang ayah.
Damar, yang sudah mengenal Cakra sejak zaman pendidikan, menyadari gelagat aneh sahabatnya itu. Suatu sore, Damar sengaja mampir ke kantor Cakra sambil membawa dua gelas kopi instan, mendapati Cakra sedang berdiri kaku menatap ke arah joglo. "Sudahlah, Cra. Berhenti berdiri di sana seperti patung penjaga. Satria itu anak baik, dia tidak akan membawa kabur Alisa ke tengah hutan," goda Damar sambil terkekeh pelan. Cakra mendengus, tidak berniat mengalihkan pandangannya. "Dia terlalu banyak bicara, Damar. Dan sejak kapan Alisa jadi tertarik dengan teori gelombang elektromagnetik? Itu cuma alasan dia saja supaya bisa berlama-lama di sana. Aku tidak suka caramu membiarkan keponakanmu itu berkeliaran bebas di sini."
Damar menggelengkan kepala, menyeruput kopinya dengan santai. "Kamu itu cuma ayah yang sedang ketakutan, bukan Komandan yang sedang marah. Akui saja, kamu tidak rela posisi 'pahlawan utama' di hati Alisa mulai digeser oleh anak muda itu. Ingat tidak dulu waktu kita muda? Kamu juga sama agresifnya saat mendekati Shifa." Mendengar nama istrinya disebut, pertahanan Cakra sedikit melunak, namun egonya sebagai ayah tetap bertahan. "Itu beda. Aku dulu tahu batasan. Satria ini... dia terlalu luwes. Aku tidak mau Alisa kehilangan fokus hanya karena rayuan gombal soal sastra dan antena." Damar tertawa terbahak-bahak mendengar alasan Cakra. "Rayuan antena? Kamu ini memang kaku sekali. Biarkan mereka berteman, Cra. Alisa butuh orang sebayanya untuk bicara hal-hal yang tidak bisa dia bicarakan denganmu."
Malamnya, Cakra mencoba menerapkan strategi baru yang ia sebut sebagai 'patroli mendadak'. Ia muncul di joglo saat Alisa dan Satria sedang asyik mendiskusikan plot novel terbaru Alisa. Cakra tidak membawa perintah, ia hanya membawa sebuah senter besar dan wajah yang ditekuk sedalam mungkin. "Sudah jam delapan malam. Satria, bukannya kamu ada jadwal pengecekan berkala di ruang server?" tanya Cakra dengan nada dingin. Satria yang merasa aura ketegangan mulai naik, segera berdiri tegak. "Siap, Mayor. Tugas itu sudah saya selesaikan tadi sore, tapi saya izin kembali ke barak sekarang jika memang sudah waktunya." Alisa hanya bisa memutar bola matanya melihat tingkah laku Ayahnya yang sangat transparan. "Yah, Satria baru saja mau membantuku mengirimkan email draf ke penerbit karena sinyal di rumah dinas sedang buruk."
Cakra tetap tidak bergeming, ia berdiri di tangga joglo seperti penghalang jalan yang kokoh. "Besok pagi masih bisa dikirim. Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu, Alisa. Satria, kembali ke barak. Sekarang." Setelah Satria pamit dengan langkah seribu, Alisa berdiri dan menatap Ayahnya dengan tangan di pinggang. "Ayah keterlaluan. Satria itu cuma teman, dan dia sangat membantuku. Kenapa Ayah harus bersikap seperti sedang menjaga tahanan perang?" Cakra berjalan masuk ke joglo, mencoba merapikan kursi-kursi yang sebenarnya sudah rapi hanya untuk menghindari kontak mata langsung. "Ayah cuma menjalankan disiplin pangkalan. Kamu itu masih sekolah, urusan seperti ini bisa menunggu."
"Ini bukan soal disiplin, ini soal Ayah yang tidak terima kalau aku punya teman laki-laki," balas Alisa dengan suara yang lebih lembut namun tajam. Cakra akhirnya berhenti bergerak, ia menatap Alisa dengan tatapan yang campur aduk antara tegas dan rapuh. "Ayah cuma mau yang terbaik buat kamu, Lis. Dunia di luar sana tidak sesederhana tulisanmu. Ayah tidak mau kamu salah langkah." Alisa menghela napas, ia mendekati Ayahnya dan memegang lengannya. "Aku tahu, Yah. Tapi Ayah harus percaya padaku. Ayah yang mendidikku menjadi ksatria, kan? Ksatria tidak akan mudah goyah cuma karena obrolan di joglo. Ayah jangan jadi seperti ayah-ayah di sinetron yang galak tanpa alasan."
Cakra terdiam sebentar, lalu dengan canggung ia mengusap rambut Alisa. "Ayah memang tidak suka ada pria lain yang lebih sering membuatmu tertawa daripada Ayah sendiri. Mungkin Damar benar, Ayah cuma ayah pada umumnya yang belum siap melihat anaknya tumbuh besar." Alisa tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu Ayahnya. "Ayah akan selalu jadi pahlawan nomor satu di bukuku, Yah. Tidak ada yang bisa menggantikan itu, bahkan Satria dengan semua teori antenanya." Cakra sedikit terkekeh mendengar itu, rasa gerahnya perlahan memudar meski rasa protektifnya tetap ada di sana, siap untuk kembali siaga kapan saja. Ia menyadari bahwa membesarkan Alisa adalah operasi militer terlama dan tersulit yang pernah ia jalani, sebuah tugas yang tidak akan pernah selesai meski ia sudah pensiun nantinya.
Meskipun malam itu berakhir dengan damai, Cakra tetap saja tidak bisa menahan diri untuk memberikan tugas tambahan bagi Satria keesokan harinya—sekadar untuk memastikan pemuda itu tetap sibuk dan tidak terlalu sering mampir ke joglo. Damar yang melihat daftar tugas baru Satria hanya bisa menepuk pundak keponakannya itu sambil berkata, "Sabar ya, Sat. Kamu sedang menghadapi lawan paling tangguh di pangkalan ini: seorang ayah yang belum siap melepaskan putrinya." Satria hanya tersenyum maklum, ia mengerti bahwa memenangkan hati Alisa berarti ia juga harus mampu menaklukkan benteng pertahanan yang dibangun oleh Mayor Cakra. Bagi Alisa, drama kecil ini justru menjadi bumbu baru dalam tulisannya, sebuah bab tentang bagaimana seorang ksatria tua mencoba menjaga harta karunnya dari ksatria muda yang membawa kabar masa depan.