NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata...

Nadira menatap papan pengumuman di lobi rumah sakit dengan tatapan kosong. Tulisan besar di sana tercetak jelas: Dr. Sinta Amalia - Tidak Praktik Hari Ini.

Tangannya yang memegang buku kontrol kandungan terasa lemas. Ia sudah datang sejauh ini, mengendarai mobil sendirian dengan perut sebesar ini, hanya untuk menemukan bahwa dokter langganannya tidak ada.

"Maaf, Bu," ucap petugas administrasi dengan ramah. "Dokter Sinta ada keperluan mendadak. Tapi kami bisa buatkan jadwal dengan dokter lain kalau Ibu mau."

Nadira menggeleng pelan. "Tidak, terima kasih. Saya... saya mau sama Dokter Sinta saja."

"Baik, Bu. Kapan Ibu mau reschedule?"

"Nanti saya hubungi lagi."

Nadira berbalik dan berjalan keluar dari rumah sakit. Langkahnya pelan, sedikit terseret. Kekecewaan demi kekecewaan hari ini terasa menumpuk di dadanya seperti batu besar yang menekan.

Ia masuk ke mobilnya, duduk di balik kemudi dengan napas tertahan. Tangannya mencengkeram setir erat.

"Kenapa sih hari ini..." bisiknya pelan, suaranya bergetar.

Tapi ia tidak menangis. Tidak lagi. Ia sudah lelah menangis.

Nadira menyalakan mesin mobil dan keluar dari area parkir rumah sakit. Ia tidak langsung pulang. Entah kenapa, ia tidak ingin kembali ke apartemen, kembali ke tempat di mana Raka mungkin masih berbaring dengan ponselnya, tidak peduli bahwa Nadira baru saja pergi sendiri untuk kontrol kandungan.

Mobilnya melaju perlahan di jalanan kota. Matanya menatap kosong ke depan, mengikuti arus lalu lintas tanpa tujuan yang jelas.

Hingga pandangannya tertangkap oleh sesuatu.

Seorang pria tua dengan gerobak kayu kecil di pinggir jalan. Di atas gerobak itu ada tulisan: Rujak Buah - Mangga Muda Tersedia.

Mangga muda.

Nadira merasakan sesuatu bergerak di dadanya. Ia sudah ngidam mangga muda sejak seminggu lalu, tapi tidak pernah kesampaian. Raka tidak pernah membelikannya... bahkan saat Nadira minta, pria itu hanya bilang "Beli sendiri aja, kan ada uang."

Nadira memutar setir dan menepi di pinggir jalan, tidak jauh dari gerobak itu. Ia keluar dari mobil dengan hati-hati, satu tangannya menopang punggung bawahnya yang pegal.

Beberapa orang sudah mengantri di depan gerobak. Nadira berdiri di belakang mereka, menunggu gilirannya sambil menatap mangga muda segar yang tersusun rapi di atas gerobak.

"Pak, ada mangga muda?" tanya seorang pria muda di depan Nadira. Suaranya terdengar sedikit lelah tapi penuh harap.

"Ada, Mas. Masih segar kok," jawab penjual rujak dengan senyuman ramah.

Pria itu tersenyum lega, senyuman yang begitu tulus, begitu lega. "Wah, syukurlah. Saya sudah cari dari tengah malam tadi, Pak. Istri saya lagi hamil, ngidam mangga muda. Kalau nggak dikasih, nanti dia nangis terus."

Penjual rujak tertawa hangat. "Wah, suami yang baik, Mas. Jarang lho ada suami yang sampai cari tengah malam gini."

"Namanya juga istri lagi hamil, Pak," ucap pria itu dengan senyuman. "Apa sih yang nggak dilakukan buat dia. Pokoknya dia senang, saya juga senang."

Nadira berdiri di sana, mendengar percakapan itu.

Dan tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Ia menatap punggung pria itu... pria yang rela mencari mangga muda sejak tengah malam demi memenuhi ngidam istrinya. Pria yang tersenyum lega hanya karena berhasil menemukannya. Pria yang bilang "apa sih yang nggak dilakukan buat dia."

Nadira merasakan matanya memanas.

Ia iri.

Sangat iri.

Iri pada wanita yang memiliki suami seperti itu. Wanita yang dicintai, yang dipedulikan, yang ngidamnya dipenuhi bahkan di tengah malam.

Sedangkan dia?

Bahkan untuk sekedar jagung bakar pun, Nadira harus pergi sendiri. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mau tahu.

Tanpa disadari, air mata mulai menetes di pipinya... jatuh perlahan, tanpa suara.

"Ibu... Ibu, pesanan Ibu sudah siap."

Nadira tersentak. Ia buru-buru mengusap air matanya dengan punggung tangan dan tersenyum... senyuman tipis yang dipaksakan.

"Terima kasih, Pak," ucapnya sambil menerima bungkusan rujak mangga muda. Ia membayar, lalu kembali ke mobilnya dengan langkah cepat sebelum air matanya jatuh lagi.

Nadira duduk di dalam mobil, menatap bungkusan rujak di pangkuannya. Aroma asam dan manis tercium dari sana. Ia membukanya perlahan, mengambil sepotong mangga muda yang sudah disiram bumbu rujak.

Ia memasukkannya ke mulut.

Rasanya... persis seperti yang ia bayangkan. Asam, manis, segar. Pas.

Tapi entah kenapa, ada yang kurang.

Nadira mengunyah perlahan, merasakan rasa itu di lidahnya. Tapi hatinya tetap kosong.

Karena yang ia inginkan bukan hanya rujak mangga muda ini.

Yang ia inginkan adalah Raka yang membelikannya. Raka yang datang dengan senyuman dan bilang, "Ini, aku beliin. Kamu kan ngidam."

Tapi itu hanya mimpi.

Mimpi yang tidak akan pernah jadi kenyataan.

Nadira menutup matanya, menelan mangga muda itu dengan susah payah karena tenggorokannya terasa tercekik.

"Sabar, Dira," bisiknya pada dirinya sendiri. "Sabar. Kesabaran pasti akan berbuah manis."

Ia terus mengulang kalimat itu seperti mantra. Seperti doa. Seperti janji pada dirinya sendiri.

Tapi di dalam dadanya, sesuatu mulai retak.

Nadira menyalakan mesin mobil dan kembali ke apartemen. Sepanjang jalan, ia menghabiskan rujak mangga muda itu perlahan. Setiap suapan terasa hambar meski rasanya enak.

Sampai di gedung apartemen, Nadira parkir di tempat biasa. Ia turun dari mobil dengan hati-hati, membawa tas dan sisa rujak yang belum habis.

Langkahnya pelan menuju pintu apartemen di lantai tiga. Saat sampai di depan pintu, Nadira mengerutkan dahi.

Pintunya tidak terkunci.

Ia mendorong pintu itu perlahan, membukanya sedikit.

Suara percakapan terdengar dari dalam, suara Raka dan suara lain yang asing. Suara pria.

Nadira berhenti di ambang pintu, tidak langsung masuk. Ada sesuatu dalam instingnya yang membuatnya diam di sana, mendengarkan.

"Jadi gimana hubungan lo sama Nadira sekarang?" tanya suara asing itu, teman Raka, sepertinya.

Raka tertawa ringan. "Ya gitu-gitu aja. Nggak ada yang spesial."

Nadira menegang.

"Serius lo nggak berniat nikah sama dia? Dia kan udah hamil delapan bulan, Rak. Kasihan juga."

Raka tertawa lagi... kali ini lebih keras. "Nikah? Sejak kapan gue bilang mau nikah sama dia?"

Nadira merasakan dadanya berhenti bernapas.

"Lo serius?" Suara teman Raka terdengar tidak percaya.

"Serius banget. Dari awal gue nggak pernah berniat nikah sama dia, bro. Gue cuma... ya lo tau lah. Daripada gue bayar pelacur, mending sama Nadira. Gratis. Gampang. Dan dia nurut."

Mereka tertawa bersama.

Tawa itu bergema di telinga Nadira seperti pisau yang menusuk berkali-kali.

"Lo jahat, Rak," ucap teman Raka sambil tertawa.

"Emang kenapa?" Raka terdengar santai. "Gue juga manusia. Punya nafsu."

Nadira merasakan lututnya gemetar. Tas yang ia pegang terasa berat. Ia ingin bergerak, ingin pergi dari sana, tapi kakinya tidak bisa melangkah.

"Tapi... anaknya gimana? Maksud gue, meskipun lo nggak cinta sama Nadira, anaknya nggak salah, kan?"

Tawa Raka berhenti.

Ada keheningan sejenak sebelum ia menjawab.

"Gue nggak pernah pengen anak itu."

Suaranya datar. Dingin. Tanpa emosi.

"Dari awal gue udah bilang ke Nadira suruh aborsi. Tapi dia nggak mau. Dia maksa mau tetep ngelahirin. Ya udah, terserah dia. Tapi jangan berharap gue bakal jadi bapak yang baik."

Dunia Nadira runtuh.

Semua suara menghilang. Semua warna memudar.

Yang tersisa hanya kalimat itu, bergema berkali-kali di kepalanya:

"Gue nggak pernah pengen anak itu."

Tas di tangannya jatuh.

BRAK!

Kunci mobil yang ada di dalam tas berbunyi nyaring saat jatuh ke lantai keramik.

Suara itu memecah percakapan di dalam.

Raka dan temannya langsung menoleh ke arah pintu.

Mata Raka membelalak.

"Nadira..."

Nadira berdiri di sana dengan wajah pucat pasi. Matanya kosong, menatap Raka dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan antara shock, sakit hati, dan kehancuran total.

Air matanya mengalir tanpa suara.

"Kamu..." Suara Nadira tercekat. "Kamu jahat."

Hanya itu yang bisa ia ucapkan.

Karena kata-kata lain terlalu menyakitkan untuk dikeluarkan.

Raka bangkit dari sofa. Wajahnya panik, benar-benar panik.

"Nadira, tunggu..."

Tapi Nadira sudah berbalik. Ia berlari, berlari sekencang yang ia bisa dengan perut sebesar itu.

"NADIRA!" Raka berteriak, berlari mengejarnya.

Nadira tidak peduli. Ia tidak peduli dengan rasa sakit di perutnya. Ia tidak peduli dengan napasnya yang tersengal. Ia hanya ingin pergi. Pergi sejauh mungkin dari pria itu.

Dari kebohongan itu.

Dari tiga tahun penantian yang ternyata hanya ilusi.

Ia sampai di depan lift, menekan tombol dengan tangan gemetar.

"Nadira! NADIRA, TUNGGU!"

Suara Raka semakin dekat.

Pintu lift terbuka.

Nadira masuk dan langsung menekan tombol tutup pintu berkali-kali.

Raka berlari, tangannya terulur mencoba menahan pintu.

Tapi terlambat.

Pintu lift tertutup.

Nadira melihat wajah Raka dari balik kaca lift, wajah yang penuh panik, wajah yang akhirnya menunjukkan emosi setelah sekian lama terlihat datar.

Tapi sudah terlambat.

Semuanya sudah terlambat.

Lift bergerak turun, membawa Nadira menjauh dari pria yang sudah menghancurkan hidupnya.

Dan di dalam lift yang sempit itu, Nadira akhirnya roboh.

Ia jatuh berlutut, tangannya menutupi wajahnya, dan tangisnya pecah... keras, memilukan, penuh kepedihan yang sudah ia tahan terlalu lama.

"Kenapa..." isak Nadira di antara tangisnya. "Kenapa kamu lakukan ini padaku..."

Tapi tidak ada yang menjawab.

Hanya suara tangisannya sendiri yang bergema di ruang sempit itu.

1
Elin
jujur menurutku cerita ini cerita yg paling sedih dari awal sampe akhir sampe aku ikut nangis saking menghayati ceritanya,dari segi cerita bagus tapi endingnya aku gak puas...di awal cerita aku kasian sama Dira karna cintanya sendirian,hargadirinya di injak2,di anggap LC gratisan,semua pengorbanannya sia2....,tp tapi di akhir cerita aku juga kasian sama Raka karna dia tau salah dan mau berubah,dia berjuang buat dapatin maaf dari dira,dia dah kerja keras buat dapat uang lebih selama Dira di rawat sampe dia sendiri gak lupa sama kesehatannya sendiri,dia bertahan di samping Dira meski dia diperlakukan orang asing,dia berusaha jalin komunikasi meski pada akhirnya didiamkan,dan menurutku 3thn cukup buat Raka di beri kesempatan kedua...tapi terserah Thor ajalah.
JiDHan Bolu Bakar
gitu doang...pasti ada lanjutannya, beberapa tahun kemudian....😄
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
mbuh
biarkan Raka menangis darah dlu. itu tak sbrpa skitnya KRNA pengkhianatan dan khlngan anak
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
mbuh
la njuttttt
kalea rizuky
ujungnya balikan halah
Anonymous
Raka goblok
Denni Siahaan
bangun Nadira kasih kesempatan
Dew666
💥💥💥💥💥
Denni Siahaan
gak guna penyesalan mu Raka
Denni Siahaan
dasar Raka egois mau enaknya aja
Denni Siahaan
tingal kan Nadira jangan tolol
Soraya
yang nabrak Nadira kok gak ada kabarin
Soraya
mampir thor
Bunda SB: terima kasih kakak 🫰
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!