NovelToon NovelToon
Fragmen Yang Tertinggal

Fragmen Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Cintapertama / Cinta Murni / Berbaikan / Tamat
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

​Di antara debu masa lalu dan dinginnya Jakarta, ada satu bangunan yang paling sulit direnovasi: Hati yang pernah patah.
​Lima tahun lalu, Kaluna Ayunindya melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: meninggalkan Bara Adhitama—pria yang memujanya—dan cincin janji mereka di atas meja nakas tanpa sepatah kata pun penjelasan. Ia lari ke London, membawa rasa bersalah karena merasa tak pantas bersanding dengan pewaris tunggal Adhitama Group.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Retakan Halus di Dinding Sempurna

​"Arka! Jangan lari-lari bawa krayon! Nanti temboknya kotor lagi!"

​Teriakan Kaluna menggema di ruang tengah Penthouse yang luas itu. Pagi di kediaman Adhitama selalu dimulai dengan kekacauan yang indah.

​Kaluna, yang kini berusia 32 tahun dan tampak lebih matang namun tetap cantik, sedang berusaha memakaikan sepatu pada Luna, putri bungsunya yang rewel, sambil mengawasi Arka yang berlarian seperti gasing.

​"Bara!" panggil Kaluna setengah berteriak. "Bisa tolong pegang Arka sebentar? Aku harus meeting jam 9!"

​Pintu kamar utama terbuka. Bara keluar sambil mengancingkan manset kemejanya. Wajahnya terlihat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Ponsel menempel di telinganya.

​"Iya, saya tahu Pak Hamengku minta laporan hari ini. Tapi data tanah di Ubud itu masih sengketa..." Bara berbicara serius di telepon, mengabaikan keributan di sekitarnya.

​Bara berjalan melewati Arka, mengusap kepala anaknya sekilas tanpa benar-benar melihat, lalu mengambil iPad-nya di meja makan.

​"Bara," panggil Kaluna lagi, kali ini nadanya lebih tajam.

​Bara menurunkan ponselnya, menutup mikrofon dengan tangan. "Sebentar, Sayang. Ini urusan lahan Bali. Masalahnya rumit."

​"Luna belum mau pakai sepatu, Arka belum sarapan, dan Mbok Nah lagi sakit gigi. Aku butuh bantuanmu, bukan cuma usap kepala," omel Kaluna, rambutnya sedikit berantakan.

​Bara menghela napas panjang. "Kal, aku ada video conference dengan investor Jepang sepuluh menit lagi di ruang kerja. Kamu bisa handle anak-anak dulu kan? Nanti siang aku gantiin."

​"Kamu bilang begitu kemarin, tapi nyatanya kamu pulang jam 11 malam," balas Kaluna.

​Suasana menegang. Arka yang merasakan aura tidak enak dari orang tuanya berhenti berlari dan duduk diam.

​Bara menatap istrinya. Ia mencintai Kaluna, sangat. Tapi proyek Bali ini benar-benar menguras energinya. Targetnya gila-gilaan, dan ada kompetitor bernama Elang Group yang main kotor.

​"Maaf," ucap Bara pendek. Ia mencium kening Kaluna sekilas—ciuman yang terasa seperti formalitas. "Aku janji malam ini kita dinner. Cuma berdua. Oke?"

​Tanpa menunggu jawaban, Bara kembali menempelkan ponsel ke telinga dan berjalan cepat masuk ke ruang kerjanya, mengunci pintu.

​Kaluna terpaku di tempatnya. Ia menatap pintu tertutup itu dengan perasaan hampa.

​Lima tahun lalu, mereka berjanji untuk saling melengkapi. Tapi belakangan ini, rasanya mereka seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama dan mengurus anak yang sama.

​"Mama... susu..." rengek Luna.

​Kaluna tersentak kembali ke realitas. Ia memaksakan senyum untuk anaknya. "Iya, Sayang. Mama buatkan."

​Pukul 11.00 siang, di Kantor Pusat Adhitama Group.

​Kaluna masuk ke ruang rapat dengan langkah terburu-buru. Ia terlambat 15 menit karena drama pagi hari.

​Di dalam ruangan, tim arsitek dan konsultan F&B sudah menunggu.

​"Maaf saya terlambat," ucap Kaluna, meletakkan tasnya.

​"Santai saja, Bu Bos. Kami juga baru mulai ngopi," sahut suara pria yang familiar.

​Julian duduk di ujung meja, tersenyum hangat. Ia kini terlihat lebih matang dengan kemeja flanel yang digulung dan kacamata berbingkai tebal. Julian sekarang adalah Direktur F&B untuk seluruh jaringan hotel Adhitama.

​"Thanks, Jul," Kaluna duduk, memijat pelipisnya.

​"Muka kusut amat? Bara bikin ulah lagi?" tebak Julian tepat sasaran.

​Kaluna menghela napas. "Proyek Bali ini bikin dia berubah jadi zombie, Jul. Dia tidur 3 jam sehari, sensian, dan lupa kalau dia punya istri dan anak."

​Julian tertawa kecil. "Ya, namanya juga ambisi. Dia mau buktikan ke Pak Hamengku kalau dia bisa ekspansi tanpa bantuan dana orang tua."

​"Tapi nggak dengan mengorbankan keluarga, kan?" gumam Kaluna.

​Pintu ruang rapat terbuka lagi. Sekretaris Bara masuk dengan wajah pucat.

​"Bu Kaluna, Pak Julian... Maaf mengganggu. Pak Bara minta kalian ke ruangannya sekarang. Darurat."

​Kaluna dan Julian saling pandang. Kata "darurat" di kamus Bara biasanya berarti bencana.

​Mereka bergegas ke ruangan CEO.

​Di sana, Bara sedang berdiri menghadap jendela, membelakangi mereka. Jasnya sudah dilempar ke sofa.

​"Ada apa, Bar?" tanya Julian.

​Bara berbalik. Wajahnya merah padam menahan marah. Ia melemparkan sebuah dokumen tebal ke meja.

​"Baca," perintah Bara.

​Kaluna mengambil dokumen itu. Itu adalah surat somasi hukum.

​PENGADILAN NEGERI DENPASAR

Perihal: Gugatan Sengketa Lahan Adhitama Resort Ubud

Penggugat: Elang Pradipta

​"Elang?" Kaluna mengernyit. "Siapa Elang Pradipta?"

​"Saingan lamaku waktu S2 di Amerika," jawab Bara dingin. "Dia licik. Dia baru saja membeli akses jalan utama menuju tanah kita di Ubud. Dia menutup akses itu dengan tembok beton pagi ini. Truk material kita nggak bisa masuk."

​"Itu ilegal kalau jalannya fasilitas umum!" seru Julian.

​"Dia punya sertifikat tanahnya. Entah bagaimana caranya, dia berhasil membelinya dari kepala desa korup," Bara mengepalkan tangan. "Dia memblokir kita. Proyek berhenti total."

​"Kita harus lawan secara hukum," kata Kaluna.

​"Masalahnya, pengacara kita bilang posisi kita lemah karena sertifikat dia asli," Bara memijat pangkal hidungnya. "Kita butuh pengacara gila yang berani main kotor untuk melawan Elang."

​Tiba-tiba, Julian menjentikkan jarinya.

​"Aku kenal satu orang," kata Julian.

​Bara menoleh. "Siapa?"

​"Zara," jawab Julian.

​Bara melotot. "Zara? Sepupuku yang rebel itu? Yang kabur ke New York karena nggak mau dijodohkan?"

​"Dia baru pulang minggu lalu. Dia sekarang jadi Corporate Lawyer spesialis sengketa tanah. Rekor kemenangannya 100 persen," jelas Julian. "Tapi..."

​"Tapi apa?"

​"Tapi dia benci banget sama kamu, Bara," Julian nyengir. "Karena dulu kamu yang laporin ke Tante Ratna kalau dia ngerokok di belakang sekolah."

​Bara mengerang frustrasi. "Sial."

​"Panggil dia," putus Kaluna tegas. "Kita nggak punya pilihan. Kalau proyek Bali gagal, investasi Pak Hamengku hangus, dan reputasi kita hancur lagi."

​Bara menatap Kaluna. Ia melihat determinasi di mata istrinya. Mata yang sama yang dulu menyelamatkannya dari kehancuran.

​"Baik," Bara mengangguk. "Julian, hubungi Zara. Bilang aku mau sewa jasanya. Bayarannya open check."

​"Oke," Julian mengeluarkan ponselnya. "Tapi siap-siap ya. Dia lebih galak dari Tante Ratna versi muda."

​Saat Julian menelepon, Bara berjalan mendekati Kaluna. Ia meraih tangan istrinya.

​"Maaf soal tadi pagi," bisik Bara. "Aku stres."

​"Aku tahu," Kaluna meremas tangan suaminya. "Kita selesaikan ini sama-sama. Seperti biasa."

​Namun, Kaluna tidak tahu bahwa kedatangan Zara dan serangan Elang hanyalah awal dari ujian yang akan mengguncang pondasi pernikahan mereka lebih keras dari sebelumnya.

​Di layar ponsel Julian, panggilan tersambung.

​"Halo? Siapa nih?" suara wanita yang ketus dan serak-serak basah terdengar.

​"Zara? Ini Julian. Bara butuh bantuanmu."

​Hening sejenak. Lalu terdengar tawa sinis.

​"Bilang sama sepupu kesayanganku itu... aku mau bayarannya bukan uang. Tapi saham Adhitama."

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!