Ketika cinta telah menemukan tempatnya untuk berlabuh, tak ada siapapun yang mampu mengurai tautan yang terjalin antara dua insan manusia. Sesakit apapun hati yang tersayat karena luka, takdir tetap menjalankan kuasanya.
~Jangan melihatku dari apa yang nampak, karena tak semua yang indah memiliki kesempurnaan. Aku sangat mencintaimu, namun aku harus membangun benteng yang tinggi karena sakit yang telah kau ciptakan~ Aaliya
~Meski kau bukan yang pertama di hatiku, tapi aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku takkan pernah melepasmu dan membiarkanmu terbang begitu saja, karena hati ini telah kau genggam dan kaulah satu-satunya yang memiliki. Maaf maaf dan maaf yang mampu ku ucap~ Abian
Apa yang sesungguhnya terjadi antara Aaliya dan Abian? Silahkan baca dan nikmati karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega.ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide
.
Saat Aaliya pulang ke rumah, ia terkejut melihat banyak aneka makanan yang tersaji di atas meja makan.
"Kau sudah pulang, Aaliya?" Tanya Abian sembari merapikan hidangan di atas meja.
"Kau ingin membuatku gemuk dengan semua makanan ini?" Tanyanya.
Abian hanya terkekeh, "Untuk siapa lagi?" Ledeknya.
"Aku tahu makananmu selalu lezat, tapi tidak perlu berlebihan seperti ini. Apa kau akan bertanggung jawab jika ukuran bajuku berubah?" Aliya mengangkat alisnya.
Abian kembali terkekeh, "Bukankah selendang bidadari tak memiliki ukuran?" Abian terus saja meledeknya.
"Kau ini!" Aaliya berlalu sambil menggerutu kesal.
Entah kenapa Abian suka sekali mengganggu Aaliya, dia seperti memiliki kebiasaan baru sekarang. Jangan ditanya sejak kapan, Abian sendiri tak tahu. Ia hanya tahu, dirinya gemas saat Aaliya menampilkan wajah kesalnya.
Tak lama setelah Aaliya berlalu menuju ke kamar untuk mandi, kini ia telah duduk di meja makan.
"Mari makan," Ucap Aaliya begitu saja.
"Tunggu," Abian menahan tangan Aaliya yang hendak menyendok nasi ke piringnya.
"Apa yang kita tunggu?" Tanyanya.
"Kita harus menunggu seseorang."
"Siapa?"
"Tunggu saja, sebentar lagi akan ada yang datang."
Abian sengaja tak memberi tahu Aaliya jika bu Fatma akan makan malam bersama mereka, dia pasti senang melihat bu Fatma ternyata telah kembali, begitu pikirnya.
Dan tak lama setelah mereka menunggu, terdengar suara pintu diketuk ringan. Abian mempersilahkan Aaliya yang membuka pintunya, agar ia tahu siapa yang datang malam ini.
"Ibu?" Seru Aaliya saat membuka pintu.
Mereka langsung berpelukan, pelukan yang hangat.
"Aku sangat merindukanmu beberapa hari ini, bu," ucap Aaliya sembari melepas pelukannya.
"Aku juga sangat merindukanmu, nak. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja,"
"Ya, aku tahu itu. Aku tidak berjumpa denganmu beberapa hari tapi ada banyak hal yang berubah," ucap bu Fatma sembari melirik Abian yang berdiri di belakang Aaliya.
"Ehm," Abian berdehem, "Aku sudah menyajikan banyak makanan, bu. Aku yakin kau pasti menyukainya, mari masuk."
Mereka semua tersenyum, berjalan menuju meja makan sederhana yang ada di rumah itu. Melihat banyaknya jenis makanan yang dimasak Abian, bu Fatma terperangah.
Saat mereka mulai menyantap hidangan yang tersaji, beliau merasakan lidahnya sedang dimanjakan oleh rasa yang tercipta dari setiap masakan Abian. Dia begitu berbakat dalam memasak.
Mereka makan malam dengan tenang, menikmati setiap rasa yang keluar dari setiap sendok yang mereka masukkan ke dalam mulut.
Tak lama setelah makan malam selesai.
"Aku senang ibu bisa makan malam di sini," ucap Aaliya dengan bahagia, mengingat ia yang selalu makan di rumah bu Fatma.
"Sore tadi aku kesini untuk menemuimu, tapi yang aku dapatkan justru Abian. Kami berbincang cukup banyak, dan ibu sudah mengetahui semuanya, Aaliya," ucap bu Fatma.
"Aku senang mendengarnya, jadi aku tidak perlu menjelaskan lagi," Aaliya tersenyum.
"Ibu, bagaimana dengan masakanku?" Tanya Abian mengalihkan pembicaraan, "Kau sudah berjanji akan memberi penilaianmu, bukan?"
Bu Fatma mengingat rasa yang telah masuk ke dalam pencernaannya, ia kembali mengecap karena masakan Abian begitu lezat, meski ia sendiri tak tahu apa nama makanannya, karena Abian memasak makanan-makanan Indonesia.
"Abian, aku sungguh tak habis pikir. Bagaimana kau bisa membuat makanan dengan cita rasa yang sangat enak seperti itu," ucap bu Fatma jujur.
Sementara Abian tersenyum menunduk, "Aku hanya sering melihat Ibu dan kakak-kakakku memasak, itu saja."
"Itu artinya kamu memiliki bakat memasak," timpal bu Fatma.
"Makanan Indonesia memang terkenal dengan kelezatannya, bu," ucap Aaliya.
Tanpa menghiraukan ucapan Aaliya, bu Fatma nampak memikirkan sesuatu, ada hal yang mengusik pikirannya.
"Abian," panggil bu Fatma tiba-tiba.
"Bagaimana dengan usahamu mencari pekerjaan, apakah sudah ada yang berhasil?" Tanya bu Fatma kemudian.
Abian menggeleng, "Aku sudah berusaha dengan maksimal, tapi belum ada satupun yang berhasil."
"Aku memiliki ide."
Seketika Aaliya dan Abian menoleh ke arah bu Fatma, menatapnya tajam.
"Ide apa, bu?" Tanya Aaliya penasaran.
Bu Fatma diam sejenak, "Tapi aku tidak yakin, kau akan menyetujuinya atau tidak."
"Aku pasti akan mempertimbangkan nasehatmu, ibu. Jadi katakan saja," ucap Abian dengan tersenyum.
"Kau memiliki bakat yang luar biasa dalam memasak, Abian. Sayang sekali jika itu tidak kau manfaatkan," Bu Fatma menghirup udara di sekitarnya, dia berucap dengan sangat hati-hati.
.
.
.