NovelToon NovelToon
Elementalist

Elementalist

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Dunia Lain / Elf / Iblis / Perperangan / Light Novel / Tamat
Popularitas:7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Arya Frost

Kisah ini berawal mula dulu sekali saat dimana semua dimensi di dunia ini masih menjadi satu, saat itu dunia ini mengenal 5 ras besar makhluk hidup yaitu, Elf, Witch, Demon ,Demi-Human, dan tentu saja Manusia. Etsss tapi tunggu sebentar, prolog diatas itu hanya sebuah pengantar cerita biasa saja. Kisah sebenarnya dari cerita ini dimulai dari SEKARANG!!!

Apa kalian pernah mendengar tentang para Elementalist? Es & Api? Petir & Alam? Besi & Tanah? Pasir & Air? Cahaya & Kegelapan? Menurut kalian apa yang akan terjadi ketika sepuluh pengendali setiap Elemen ini dipertemukan? Dengan latar belakang yang berbeda-beda serta ego mereka masing-masing. Apakah mereka akan bisa bekerja sama? Atau.....akan saling menjatuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Frost, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 - Pride Sins

"Kau masih terlihat cantik seperti dulu, Diana" sapa Vampir itu antusias.

"Kris, apa yang dilakukan petinggi ras Demon seperti dirimu disini?" balas Diana dengan dingin.

"Hanya menyapa teman lama, apa tidak boleh?"

"Ini yang kau sebut menyapa?" tanya Diana lagi sambil melemparkan pandangan kepada para Vampir yang mengepung dirinya.

"Hahaha pada awalnya aku hanya ingin melihat akhir dari hidupmu lalu menyerahkan sisanya kepada Daemord" jawab Vampir bernama Kris itu sambil berjalan diantara para Elf yang tidak bisa bergerak,"Tapi tidak kusangka akan ada gangguan kecil yang merusak segalanya" dia lalu menatap tepat ke arah Arya yang sedang dikepung oleh pasukannya.

Arya bergidik pelan setelah mendapatkan tatapan itu, dia bisa merasakan aura yang sangat pekat dari Kris. Bahkan Arya menduga auranya setara atau bahkan lebih tinggi dari Eudart, kemudian Kris kembali menoleh ke arah Daemord dan berkata.

"Apakah dia Elf dari luar hutan yang kau ceritakan itu Daemord?"

"Benar, Tuanku" sahut Daemord sambil tersenyum jahat.

"Hmm...menarik sekali, aku tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya. Ya....tapi mau bagaimana lagi? Kalian para Elf memang penuh dengan misteri"

"Lihat siapa yang berbicara" sindir Diana sambil menyipitkan matanya.

Kris hanya tersenyum lalu melanjutkan "Baiklah, tidak perlu berbasa-basi lagi. Kau seharusnya sudah tau maksud kedatanganku bukan? Situasi sedang memanas, jadi bisakah kau memutuskan ke pihak mana kau akan berpihak Yang Mulia?"

"Ah....sekarang semuanya masuk akal" celetuk Arya tiba-tiba.

Mendengar itu semua orang mengalihkan perhatiannya kepada Arya, mereka menatapnya dengan tatapan bertanya. Terutama para Elf yang sepertinya tidak memahami situasi yang terjadi, Arya dengan tenang melanjutkan.

"Alasan mengapa Alalea bisa muncul di perbatasan malam itu, dan mengapa terjadi konflik di perbatasan wilayah yang menyebabkan para Ksatria Pentagram meninggalkan Mediopolis semuanya hanya untuk hal ini ya? Dan kalau tebakanku tidak salah, pasti kau yang mengajak Alalea ke perbatasankan? Daemord?"

Senyum Daemord semakin melebar mendengar hal itu, suasana menjadi hening karena beberapa orang diantara mereka masih belum memahami maksud perkataan Arya.

"Hebat sekali, kau memang benar. Waktu itu aku sedang mencari cara untuk meyelundupkan Tuan Kris dan yang lainnya ke tempat ini, aku bahkan tidak tau kau juga berada disana. Takdir sepertinya sedang mempermainkan kita"

"Terkutuk kau Daemord! Apa yang sebenarnya kau pikirkan! Sadarlah sialan!" umpat Audax yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk menggerakan bagian tubuhnya.

"Wah....kau seharusnya tidak berkata seperti itu pada Daemord, dia ini murid kesayanganku lho" kata Kris sambil menyentuh pundak Daemord.

"Daemord apa yang---" sebelum Alalea menyelesaikan kata-katanya, Kris langsung memotongnya dengan santai "Bahkan sepertinya Tuan Putri ini belum menyadarinya, kau memang pandai berperan Daemord. Dia ini memiliki darah Vampir dalam dirinya"

Mendengar hal itu mata Alalea melebar karena tidak percaya, Daemord dengan perlahan menunjukan gigi taringnya kepada mereka semua. "Dia sama sepertiku, dia memiliki setengah darah Elf" ujar Arya dalam hati.

"Jadi...apa jawabanmu Yang Mulia?" tanya Kris sekali lagi.

"Apa aku terlihat akan berpihak kepada orang-orang yang masuk ke wilayahku tanpa izin dan merusak acaraku?" Diana balik bertanya dengan sinis.

"Wah....sayang sekali, itulah mengapa kami pada awalnya ingin meracunimu. Tapi, kau seharusnya tau konsekuensinya bukan? Kami, Facum pasti mendapatkan apa yang kami inginkan. Daemord?"

Hanya dengan satu kata itu Daemord langsung menggores pipi Alalea dengan belati hitam miliknya, semua orang menarik nafas terkejut. Segera saja Diana berdiri dari singgasananya.

"Kris...kau...!"

"Setelah mengatakan hal itu, bukankah seharusnya kau sudah bersiap kehilangan penerus? Belati itu mengandung racun yang penawarnya hanya ada padaku" ucap Kris sambil meengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna kuning.

"Alalea!" panggil Azalea dengan raut wajah panik.

Wajah Alalea memucat, pandangannya mulai kabur. Dia terlihat berusaha sekuat tenaga agar kesadarannya tidak hilang.

"Kalian harus cepat. Karena kalau tidak, yang tertinggal dari Tuan Putri kalian hanya tinggal nama saja" kata Kris dengan riang.

-----------------------------<<>>-----------------------------

"Nak, sebaiknya kau menghentikan apapun yang sedang kau rencanakan. Kau pikir aku tidak menyadarinya?" ujar Kris sambil mengalihkan perhatiannya ke arah Arya.

Arya segera menghentikan apa yang dia lakukan, dia menatap langsung ke mata Kris tanpa rasa takut sedikitpun. Membuat Kris semakin tersenyum senang dan mulai melangkah mendekatinya.

"Hmm...menarik sekali, entah mengapa wajahmu terasa familiar bagiku. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Kris sambil mengelus dagunya.

"Sepertinya kau salah orang, seingatku aku tidak pernah bertemu Demon busuk sepertimu" jawab Arya sinis.

"Wah wah wah lisan kalian para Elf ternyata masih tetap tajam seperti dulu" balas Kris sambil mengeluarkan aura yang sangat pekat dari tubuhnya.

"Begitukah menurutmu? Kalau begitu cobalah kemari dan lihat mana yang lebih tajam antara lisanku atau pedangku" sahut Arya sambil tersenyum.

Para Vampir yang mengepung Arya segera mengarahkan pedang mereka ke arah lehernya, mereka siap kapan saja menebas leher Arya atas perlakuan tidak sopan yang ia tunjukkan.

"Jangan berani-berani kau sentuh dia" kata Diana dengan nada suara bergetar.

Kris menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Diana dengan sebelah alis terangkat "Ada apa ini? Apa kau memiliki hubungan khusus dengannya?"

"Sudah cukup, kalian sudah dengar sendiri bukan mereka berasal dari mana" desis Arya pelan sambil menggeser telapak kakinya dengan pelan.

Dengan sangat cepat es merampat dari pijakan kaki Arya ke seluruh penjuru, es itu membekukan kaki para Vampir. Mereka sangat terkejut karena tiba-tiba kaki mereka diselimuti oleh es, Arya segera menganalisis sekelilingnya. Kemudian ia menemukan Vampir yang paling lengah diantara para pengepungnya.

Arya lalu melangkah ke hadapanya, kemudian dengan cepat menggunakan teknik Kamaitachi kepada Vampir teresebut. Potongan badan dan bau darah dari Vampir itu segera memenuhi udara, melihat kesempatan ini Reiss, Rena, serta Eridan juga berhasil menaklukkan para Vampir yang mengepung mereka dan segera melesat untuk melindungi Diana dan Azalea.

Mereka bertiga berhasil memukul mundur para Vampir yang mengelilingi Diana dan Azalea, sementara itu Arya. Yang baru saja keluar dari kepungan musuh langsung bergegas ke arah Kris yang masih belum pulih dari keterkejutannya atas apa yang terjadi. Dia melihat Arya yang sudah berada dihadapannya dengan mata melebar.

"Kamaitachi"

Segera saja teknik Kamaitachi itu menghantam Kris dengan telak, Aryapun dengan cepat menyeret Kris menjauh dari tempat itu. Dia terpental cukup jauh sehingga menyebabkan debu bertebaran dimana-mana.

"Sekarang!"

Mendengar teriakan Arya, Rena segera menghantamkan tongkat miliknya ke tanah yang menyebabkan munculnya tanaman merambat yang mengelilingi lokasi tempat Arya dan Kris berada. Tanaman itu terus tumbuh sampai membentuk sebuah kubah raksasa berwarna hijau, Eridan juga menyusul Rena dengan menggambar sebuah formasi sihir dihadapanya. Formasi itu mengeluarkan cahaya kebiruan yang mengarah tepat kearah kubah tersebut.

Kubah itu langsung berubah menjadi transparan seakan-akan tidak pernah ada disana, walaupun begitu. Arya bisa melihat sekilas kubah itu berubah menjadi sebuah dinding yang tak kasat mata, sehingga orang-orang yang berada diluar bisa melihat ke dalam, para Vampir yang sudah mulai pulih dari keterkejutan mereka segera mengelilingi tempat itu.

Mereka berusaha menerobos masuk kedalam, tapi apapun yang mereka lakukan tidak bisa menggores kurungan transparan tersebut. Arya segera mengambil posisi bersiap sambil menghadap tepat ke arah Kris terpental. Debu-debu yang bertebaran di udara masih menutupi jarak pandangnya, beberapa saat kemudian muncullah wujud Kris yang sedang memberisihkan pakaiannya dari debu.

"Wah wah apakah yang tadi itu adalah sihir es? Aku tidak menyangka Elf muda sepertimu menguasai teknik seperti itu. Dan aku sangat mengagumi rencana cerdasmu untuk mengurungku disini, kau memang harus menjauhkan orang yang ingin kau lindungi dari bahaya utama seperti diriku ini" komentar Kris sambil masih menepuk-nepuk pundaknya yang dipenuhi debu.

"Kau terlihat baik-baik saja" balas Arya dengan sedikit kesal karena Kamaitachi sepertinya tidak melukai Kris sedikitpun.

"Tentu saja, permainan anak kecil seperti itu mana mungkin melukaiku" jawab Kris santai sambil berjalan ke pinggiran kurungan itu lalu mengetuknya tiga kali, "Mmm....ini sihir yang bagus, sihir ini hanya bisa dihilangkan jika orang yang merapalkannya membatalkan sihir ini. Jadi berhentilah menghabiskan tenaga kalian untuk berusaha menerobosnya"

Mendengar hal itu para Vampir segera mengalihkan pandangan mereka ke arah Eridan, Eridan yang menyadari pandangan membunuh itu segera menelan ludah. Untungnya dia dan Rena bersama dengan Reiss, yang bisa dibilang memiliki kemampuan bertarung yang cukup tinggi. Sehingga para Vampir itu tidak akan mudah menyentuhnya.

"Baiklah, sepertinya kau sengaja mengurung dirimu juga disini untuk menahanku. Harusku akui kau memang cerdas dan bernyali besar, aku memang bisa saja menghancurkan sihir ini dari dalam setelah mempelajarinya sebentar" ucap Kris sambil kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Arya.

"Terimakasih atas pujiannya" sahut Arya sambil menguatkan genggaman pada pedangnya.

"Kau bocah yang menarik, aku tidak pernah melihat seorang Elf mengeluarkan sihir es seperti itu" ujar Kris sambil mengelus dagunya dengan tertarik.

"Tentu saja kau tidak pernah melihatnya, karena itu memang bukan sihir" jawab Arya tenang, dan dengan seketika suhu udara disekelilingnya menurun drastis.

Mata Kris melebar, sebuah senyuman lebar juga merekah pada wajahnya, saking lebarnya terlihat ekspresi gila pada wajah itu. "Jangan bilang kalau kau---"

"Benar, aku adalah Elementalist es generasi saat ini. Namaku adalah Arya Frost"

-----------------------------<<>>-----------------------------

Semua orang yang ada disana terdiam, mereka menatap dengan tatapan terkejut. Orang yang merespon hal ini secara biasa saja hanyalah Rena, Eridan, Diana, dan Azalea yang memang sudah mengetahui jati diri Arya sejak awal. Salah satu orang yang paling terkejut adalah Alalea, ditengah-tengah tarikan nafasnya yang semakin berat. Munculah sekilas ingatanya di masa lalu, gambaran seorang perempuan berambut putih yang sering menemaninya bermain.

"Arya....Frost" bisiknya

"Anda sudah mengetahui hal ini dari awal Yang Mulia?" tanya Reiss yang sama terkejutnya dengan Alalea.

Diana menghela nafas panjang lalu berkata "Bagaimana mungkin aku tidak mengenali cucuku sendiri"

Keheningan itupun dipecahkan oleh tawa yang berasal dari orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kris, dia tertawa lepas seperti orang gila. Sampai-sampai air mata muncul disudut matanya.

"Aduh....maafkan aku, aku benar-benar tidak menyangka hal ini benar-benar terjadi. Betapa beruntungnya diriku ini, pasti takdir memang suka bermain-main denganku" seru Kris dengan antusias.

Arya hanya mengangkat sebelah alisnya sambil melemparkan tatapan bertanya pada Kris, dia tidak mengerti bagian apa yang sangat lucu dari perkataanya yang membuat Kris tertawa terbahak-bahak seperti itu.

"Kau pasti heran ya? Aku benar-benar minta maaf, aku merasa sangat senang. Karena dengan pertemuan kita saat ini, berarti aku telah bertarung dengan tiga generasi Elementalist es. Betapa beruntungnya diriku ini memiliki umur panjang hahaha" lanjut Kris sambil masih tertawa.

Kali ini Arya yang balik terkejut mendengar perkataan Kris, dia dengan hati-hati berkata "Kau....pernah bertarung dengan Kakek dan Ibuku?"

"Tentu saja, pantas saja aku merasa familiar dengan wajahmu. Kau benar-benar mirip sekali dengan Kakekmu"

Kemudian Kris memberitahukan kepadanya bahwa dia dengan kakek Arya berada pada generasi yang sama, dan mereka berdua beberapa kali sempat bertarung satu sama lain. Kemudian secara mengejutkan dia juga pernah bertarung dengan Ibu Arya, saat Ibu Arya berada dipuncak kemampuannya sebagai Elementalist.

"Mmm pantas saja aku tidak bisa mengenalimu secara langsung, kau belum menjadi Elementalist sempurna. Bahkan kau belum memiliki ketiga atribut Elementalist, kau benar-benar bernyali" celetuk Kris lagi sambil tersenyum.

Arya segera melesat sambil mengarahkan pedangnya ke arah Kris sambil berteriak "Cukup bicara---" belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, hantaman lutut Kris tepat masuk mengenai perutnya. Serangan itu sangat kuat sampai dia memuntahkan darah dari mulutnya kemudian terpental ke udara.

Dia terpental sangat tinggi sampai menabrak kurungan tidak terlihat, dia mendengar teriakan cemas dari Rena, Diana, serta Azalea yang melihat kejadian itu dari luar. Arya kemudian terjatuh kembali ke tanah dengan keras, lalu kemudian ia merasakan injakan keras pada kepalanya.

"Kris! Berani-beraninya kau....!" teriak Diana dengan berang.

"Ahh....maafkan aku, apa kau sudah mati hanya dengan serangan itu? Aku bahkan belum memperkenalkan diriku padamu, perkenalkan aku adalah salah satu dari Tujuh Dosa Besar ras Demon. Pride Sins, Kris Tepes" bisik Kris sambil terus menambah kekuatan injakan pada kepala Arya.

"Tujuh Dosa Besar?" ulang Rena sambil menatap Eridan dengan penuh tanda tanya diwajahnya.

Kemudian Eridan menjelaskan pada Rena bahwa Tujuh Dosa Besar adalah para pemimpin Elite dari ras Demon, yang memiliki kemampuan yang paling hebat diantara demon-demon lainnya. Mereka bertujuh sama seperti Lima Ksatria Pentagram milik ras Elf, mendengar hal itu wajah Rena segera memucat. Ia segera melemparkan pandangan cemas ke arah Arya.

Arya merasakan seluruh tubuhnya remuk akibat serangan Kris sebelumnya, dengan sekuat tenaga dia melepaskan diri dari injakan kaki Kris. Lalu dengan cekatan dia meliuk-liuk pada tubuh Kris seperti ular, kemudian dengan satu gerakan cepat. Ia memelintir tangan Kris hingga patah. Aryapun segera menjauh sambil terus memuntahkan darah dari mulutnya.

Dengan santai Kris menatap tanganya yang berhasil dipatahkan oleh Arya, kemudian Kris berbalik menghadap ke arah Arya dan secara perlahan tangan yang sudah dipelintir itu berputar arah serta kembali seperti sedia kala. "Kau memang pantang menyerah ya?"

"He..he..hehehehe" Arya kemudian tertawa geli dengan tubuh bergetar hebat.

Melihat hal itu Kris mengehentikan langkahnya sambil mengangkat sebelah alis miliknya, dia merasa ada yang aneh dengan bocah itu. Arya tersenyum, tapi bukan senyuman yang biasa dia lakukan. Itu adalah senyuman yang belum pernah dilihat siapapun sebelumnya, bahkan Renapun belum pernah melihatnya tersenyum seperti itu.

"Kau benar-benar makhluk yang berbahaya, kalau dibiarkan. Kau bisa mengancam keberlangsungan hidup Manusia. Sepertinya aku harus melepas sedikit kekuatanku" kata Arya sambil terkekeh.

"Apa yang kau---"

Belum selesai Kris berbicara. Arya sudah menghilang dari hadapanya, ia segera melihat kesana kemari untuk mencari keberadaan Arya. Hatinya mencelos saat menyadari Arya sudah berada dibelakangnya dengan pedang yang sudah siap terangkat.

"Kau melihat kemana? Áfxisi Kamaitachi"

Kris menahan serangan itu dengan tangannya, tapi gabungan antara sihir Reinforcement dan teknik Kamaitachi itu terlalu kuat hingga membuat tanah tempat Kris berpijak lebur dan berhampuran ke udara. Seketika didalam kurungan itu depenuhi oleh debu dan membuat orang-orang yang berada diluar tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi.

Kris juga terlempar ke udara akibat serangan itu, tetapi serangan Arya belum berhenti. Dia segera melompat kesana kemari dengan menjadikan bongkahan-bongkahan tanah yang melayang diudara sebagai pijakan, dia terus menyerang Kris tanpa henti dan membuat Kris sedikit kewalahan karena perubahan gerakan Arya yang semakin tajam.

Saat akhirnya debu-debu menghilang dari pandangan, semua orang bisa melihat bekas sayatan pedang pada pipi kanan Kris. Dia menyentuh darah miliknya dengan jempol lalu menjilatnya sambil tersenyum. "Hebat juga kau bisa melukaiku, kau memang sangat menghibur. Aku harus memberikan hadiah padamu karena telah menghiburku"

Kris mengangkat tangan kanannya, kemudian sebuah petir berwarna hitam tiba-tiba menyambar tangan tersebut. Muncul sebuah aksesoris berbentuk cakar berwarna perak dengan permata berwarna merah pada jari kelingking Kris, semua orang yang melihat benda itu melebarkan matanya dengan takjub.

"Grimoire" desis Diana pelan.

"Apa itu Grimoire?" tanya Rena dan Eridan bersamaan.

"Grimoire adalah pusaka para Vampir, semua Vampir memilikinya. Aku tidak menyangka dia mengeluarkan Grimoire untuk melawan Arya, ini berbahaya" seru Azalea cemas.

"Dia hanya memanggil sebagian kecil dari Grimoire miliknya, seperti yang kalian lihat. Grimoire itu hanya menyelimuti jari kelingkingnya saja" tambah Diana.

Setelah memanggil Grimoire miliknya, Kris memberi isyarat kepada Arya dengan jari untuk maju menyerangnya. Tanpa membuang waktu Arya segera melesat dan menyerang Kris dengan kecepatan penuh, tapi sayangnya semua serangan itu berhasil dihentikan dengan jari kelingkingnya oleh Kris. Kris bahkan tidak bergerak satu incipun dari tempat ia berdiri, dia bahkan terlihat menguap karena bosan.

Setelah puas ia segera menangkap Arya dengan tangan kirinya tanpa bersusah payah, ia mencekik leher Arya dan bersiap menusuk Arya dengan jari kelingking tangan kanannya.

"Selesai sudah" ucapnya sambil tersenyum dengan penuh kemenangan.

Arya yang kesadarannya hampir hilang karena cekikan Kris mulai berpikir "Sepertinya hanya sampai disini" tapi kemudian matanya melebar setelah melihat seekor burung hantu coklat yang sangat ia kenal bertengger pada salah satu pohon didekatnya, ia lalu tersenyum sambil berkata.

"Kalian lama sekali, aku sudah hampir mati disini"

Sebuah cahaya berwarna kebiruan muncul membelah langit dan langsung mengarah ke arah mereka, cahaya itu menghancurkan kurungan transparan tanpa hambatan yang berarti. Kris yang telah menyadari hal itu segera berusaha menahan serangan tersebut dengan Grimoire miliknya, tetapi percuma. Dia terpental jauh akibat menahan serangan tersebut.

Semua orang terkejut akibat serangan dahsyat tersebut, cahaya kebiruan itu mulai meredup dan menunjukan sesosok Elf dengan mata tertutup. Dia mengelus bilah pedangnya yang baru saja dia gunakan untuk menebas lawannya.

"Kau sudah melakukan yang terbaik nak"

"Terimakasih....Master" balas Arya sambil meludahkan darah dari mulutnya.

1
Echahahaha
Goooddddd, i love the story, membangkitkann jiwa dan pikiran untuk berimajinasiii(emottt nangiss bahagia)
⑅⃝Lirae_StarInSky~
dan aku tidak sabar menanti
meski aku tau cerita ini sudah tidak up disini
⑅⃝Lirae_StarInSky~: lanjutannya di k4ry4k4rs4 kak
total 2 replies
⑅⃝Lirae_StarInSky~
ke tujuh putri Gretaz itu, si payung itu kan
Arni KM
Sangat luar biasa
Morvath
akhirnya nemu ni book lagi setelah akun mt yang dulu ilang entah kemana, btw dulu seingat ku masih sekitar 100 bab, sekarang udah banyak aja... ketauan nih kalau aku kelamaan hiatusnya. so saatnya baca ulang sambil nostalgia wkwkwkw🤣🤣
Faizi
nyesek banget ceritanya Cok😭😭
Zainu Hakim
"masak-masak" dan "matang-matang" sama saja.
Zainu Hakim
Astaga Arya jadi mata keranjang 🤣🤣
Zainu Hakim
jadi keinget anime Seven deadly sins

Dragon sins
Goath sins
Lion sins
Boar sins
Fox sins
Serpent sins
Grizzly sins
Zainu Hakim
Loli barbar penggila morning star 😂
Zainu Hakim
bertarung untuk memperebutkan hati nenek moyang Arya 🗿
Zainu Hakim
Membutuhkan Asuna karena dia elementalis api,yang mudah tersulut emosi😂
Zainu Hakim
pemandangan indah yang gratis 😂
Risa(。•̀ᴗ-)✧
bagus bangett
Mr Vicenzo
masih menunggu season 2
Red~Cherry
sebuah detail kecil yg perlu diperhatikan:)
Red~Cherry
haloo author:)
udah 2025 nihhh, ada info update lagii kahh? akuu nungguinn dari 2022/Frown//Sob/udah 5 kali selesai bacaa jugaa:)
Nur Syifa: sama lagi😭
total 3 replies
RiellCh
Karya ini sangat bagus, saya sebagai novelis jadi terinspirasi dari cerita ini, tapi sayangnya belum ada Season 2, aku tunggu yah season 2 nya
RiellCh
Season 2 nya mana 😭😭
Gratcia Toron
mind blowing
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!