Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
David kembali ke kamarnya. Membawa segenap rasa marahnya pada Juan. Meski sudah tahu kartu AS Juan tentang bayi rahasia itu, nyatanya David masih tak berkutik saat berhadapan langsung dengan adik iparnya.
"Kau kenapa?" tanya Paula yang melihat raut kesal di wajah suaminya.
David tak menjawab, ia hanya menatap Paula tanpa bicara. Meski demikian Paula tahu apa yang membuat suaminya kesal.
"Apa ini tentang Juan?"
"Siapa lagi kalau bukan dia!"
Paula mendekat. Ia mengusap dada David, berharap meredakan amarah sang suami. "Sabarlah, sebentar lagi semua yang kita inginkan akan terwujud. Jangan mengotori tangan kita lagi dengan darah. Kali ini kita harus bermain lembut."
Mendengar ucapan Paula, David menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Mencoba menetralisir amarah yang tadi sempat akan memuncak.
Mungkin benar kata Paula kalau ia harus hati-hati mulai sekarang ini. Tidak boleh gegabah seperti dulu. Yang ia hadapi kini hanya Juan seorang, tidak ada lagi anak kandung lelaki itu, yang dulu sempat membuatnya ketakutan hingga ia berpikir melenyapkan bayi yang baru lahir dari dunia ini. Keinginan itu terwujud, tapi setelahnya ia dibayangi ketakutan akan tertangkap polisi.
Paula memeluk David. Ia juga memberikan ciuman pada sang suami. Awalnya David tak merespon, tapi lama-lama ia balas juga ciuman Paula.
"Ngomong-ngomong sudah lama kita tidak berlibur berdua. Kita terlalu sibuk dengan Louisa setahun ini sampai lupa dengan keharmonisan hubungan kita sendiri. Bagaimana kalau kita agendakan untuk berlibur. Aku ingin menikmati waktu berdua denganmu," ujar Paula usai ciuman mereka berakhir.
Ide Paula membuat David sontak mendorong pelan tubuh istrinya untuk sedikit menjauh. Ia memang jarang sekali berduaan dengan Paula setahun terakhir. Entahlah, David mulai kehilangan hasrat pada wanita yang ia nikahi sejak sepuluh tahun lalu itu. Atau memang ia sebenarnya tak pernah mencintai Paula dengan sungguh-sungguh. Wanita ini hanya sebuah pion untuk ia bisa mencapai puncak status sosial dan kekayaan yang sangat ia impikan sejak lama.
Paula merasa heran dengan sikap David. Tanpa bertanya, sorot mata Paula sudah menyiratkan hal tersebut.
Menyadari itu, David buru-buru mencari alasan. "Paula, aku masih sibuk saat ini. Kau tahu aku baru saj dipecat oleh Juan, aku harus mencari pekerjaan sekarang. Apa lagi semua rekeningmu sudah diblokir oleh Juan. Kita harus berhemat mulai hari ini."
"Apa? Berhemat?" Tentu Paula syok mendengar kata itu. Bagaimana bisa ia yang seorang sosialita harus berhemat. Lalu, ia juga punya janji pada pelayan—Celeste—akan membayar wanita itu untuk informasi yang ia berikan kemarin.
Tidak, ini tidak boleh terjadi!
Semua karena Juan!
Paula pergi begitu saja meninggalkan David. Ia keluar sembari berteriak, "Juan ... Juan, di mana, kau?"
Paula mendatangi ruang kerja Juan, tapi tak menemukan adiknya itu di sana. Paula pun kembali berteriak, "Juan ...."
Maria yang melihat Paula seperti itu langsung menegur, "Paula apa kau sudah kehilangan sopan santunmu?"
Paula berhenti. Menatap neneknya yang duduk di kursi roda.
"Ini bukan urusan Nenek!" Setelah kalimat itu meluncur dari bibir Paula, ia pun meninggalkan Maria dengan tidak sopan.
Mulutnya kembali meneriakkan nama sang adik.
"Di mana, Juan?" tanya Paul saat berpapasan dengan Magdalena yang sedang bersih-bersih.
"Tadi saya melihat ada di kamar Nyonya Alea," jawab Magdalena jujur.
Dengan langkah tak sabar, Paula mendatangi kamar Alea. Benar saja, Juan baru saja keluar dari kamar wanita bayaran itu.
"Juan, apa mau mu sebenarnya?"
Juan yang tak mengerti arah pembicaraan kakaknya hanya mengangkat kedua bahu.
"Jangan berpura-pura lupa. Sebenarnya apa yang kau inginkan dari aku dan David? Awalnya kau memblokir semua rekeningku, lalu kau memecat David. Apa mau mu sebenarnya? Apa kau ingi membuat kami miskin?"
Juan menjawab dengan santai. "Sekarang belum, tapi sebentar lagi aku akan lakukan itu."
Paula semakin geram mendengar jawaban Juan. "Juan, aku ini saudaramu. Aku juga berhak atas harta keluarga Fernandez. Kenapa kau lakukan ini padaku?"
Masih dengan santainya Juan menanggapi. "Aku masih ingat kalau kita bersaudara, karena itu aku tidak mengusirmu dari rumah ini."
"Kau ...!" Tangan Paula terangkat, akan menampar Juan.
Namun, Juan dengan sigap menahan tangan Kakaknya. "Aku bukan anak kecil lagi, yang bisa kau pukul sesukamu. Aku bisa lakukan apa pun yang aku mau sekarang. Termasuk membuatmu tinggal di jalanan."
Juan nampak geram pada apa yang baru saja Paula katakan. Masa kecilnya kembali teringat. Hari-hari di mana Paula sering memukulnya. Juan tidak akan pernah lupa hal itu.
"Kalau kau ingin tahu tentang hakmu atas harta keluarga ini, tanyakan pada suami penipu mu itu!" imbuh Juan.
Setelahnya ia menghempaskan tangan Paula. Meninggalkan Paula dengan banyak tanya akan ucapan Juan.