Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Rumah Papa
Tok/tok/tok
"Masuklah" ucap seorang wanita dari dalam ruangan itu.
Mendengar hal itu seorang wanita berpakaian rapi dengan rambut yang terikat masuk kedalam sembari membawakan segelas teh hangat untuk nya.
"Saya membawakan segelas teh dan juga camilan untuk anda Nyonya." Ucapnya sembari menyajikan barang bawaannya itu di atas meja.
"Bagaimana dengan tugas yang ku berikan tadi?" Tanya Luna pada sekretaris nya itu.
"Saya sudah mengurusnya nyonya, tuan Leo juga sudah menyelesaikan masalah itu, jadi nyonya jangan khawatir."
"Leo?" Tanyanya lagi dan sekretaris nya itu pun mengangguk.
"Apa dia masuk kerja hari ini?"
"Umm sebenarnya saya menelepon nya beberapa jam yang lalu nyonya."
Luna menghela nafas berat sembari menatap sekretaris nya itu. "Kemana dia sebenarnya, sudah tiga Minggu ia tidak datang ke kantor, apa anak itu sudah lelah bekerja?"
"Menurut surat, tuan Leo saat ini sedang bekerja dari rumah sambil menjaga istri nya yang sakit, tapi meskipun begitu semua pekerjaannya tetap berjalan dengan begitu baik." Ucapnya dan tidak lama Kemudian pintu ruangan itu terbuka kembali oleh seorang pria yang begitu tidak asing.
"Ohhh maafkan saya karena mengganggu waktunya nyonya, apa nyonya memanggil saya kemari tadi."ucap Luca yang sungkan sebab ia datang disaat yang kurang tepat.
"Iya Luca kemarilah."
"Aku ingin menanyakan Leo padamu, dimana ia sebenarnya kenapa ia jarang sekali ke kantor, aku juga tidak sempat memastikannya langsung ke rumah karena aku sangat sibuk." Tanyanya.
"Yang saya tahu, tuan Leo sedang ada di rumah nyonya, beliau bilang Noona Yoona sedang sakit, jadi dia memutuskan untuk bekerja dirumah."
"Sakit apa sampai 3 Minggu lamanya, apa dia sekarat hmm, aku hanya bisa bertanya padamu Luca sebab aku tahu kau yang sering bertemu dengannya." Ucap Luna.
"Umm sebenarnya, saya juga sudah lama sekali tidak mengunjungi tuan Leo nyonya, kurang lebih juga hampir 3 Minggu, sebab tuan melarang saya untuk datang ke rumah sebelum ia sendiri yang menyuruh saya datang.
Luna menghela nafas panjang. "Kalau dia bukan putraku sudah ku bakar dia hidup hidup dindalam rumahnya." Celotehnya.
"Kalau kau sudah kesana tolong beritahu aku Luca, sebenarnya apa yang ia lakukan di rumah selama hampir 3 Mingguan ini."
"Baik nyonya." Jawabnya sementara Luna hanya diam kesal sebab disisi lain ia berasa seperti di tipu oleh anaknya sendiri.
Sebab pada dasarnya meskipun leo bekerja di rumah, semua pekerjaannya terselesaikan dengan begitu baik hingga membuat Luna tidak bisa menegurnya.
***
Pukul 8 malam.
"Sepertinya aku harus pulang cepat, kenapa dia tidak pernah keluar rumah eoh" batin Yoona yang saat ini sedang mengendap endap menuruni anak tangga, ia terus melihat ke sekelilingnya yang benar benar sepi, seakan akan di rumah itu hanya ada dia seorang.
Dengan menggunakan jaket bulu tebalnya, ia berusaha semaksimal mungkin agar tidak menimbulkan suara sehingga membuat rencananya gagal total.
Setelah merasa aman ia sedikit mempercepat langkahnya menuju pintu keluar, bermaksud untuk keluar dari penjara dunianya itu.
"Ekhemm,"
Terdengar seseorang yang begitu tidak asing baginya dan seketika memberhentikan langkah kaki nya begitu saja.
Yoona menoleh menatap ke arah sumber suara dan melihat seorang pria yang kini sedang duduk menyilangkan kedua kakinya di sofa yang ada di ujung ruangan itu.
"Kau mau kemana hmm"
"Bukan urusanmu" ucap Yoona.
"Sudah ku katakan, jika kau ingin pergi kau harus bilang dulu padaku, sekarang katakan kau mau kemana hmm."
"Apa kau sekarang lebih suka mengurusi urusan ku dari pada hidupmu sendiri."
"Karena itu yang terpenting." Sahut leo.
"Leo, dari pada kau terus dirumah tidak jelas dan terus mengomel tidak jelas sebaiknya kau pergi ke kantor, kau tahu kau akhir akhir ini lebih terlihat seperti orang gila pengangguran."
"Aku tidak pengangguran Yoona, pekerjaan ku juga banyak."
"Pekerjaan mengurusi urusanku? Itulah kerjaan mu."
"Kalau berkaitan denganmu memang tidak ada habisnya, apa kau tahu aku lebih pusing mengurus mu dari pada mengerjakan pekerjaan kantorku." Ucapnya sembari berjalan mendekatinya.
"Kau mau pergi ke club bukan?" Tebaknya saat melihat penampilan Yoona yang serba tertutup.
"Kalau iya kenapa? Dengar sejak kau dirumah aku sama sekali tidak bisa keluar, jadi sekarang kali ini saja biarkan aku keluar dengan tenang."
"Dari pada kau bersenang senang tidak jelas diluar, bagaimana jika kau bersenang senang dengan ku, lagi pula Minggu ini aku belum mendapatkan asupan darimu." Ucapnya sembari melepas jaket tebal milik Yoona.
"Benarkah, lalu yang kemarin apa tidak terhitung? " Protesnya yang lelah dengan sikap suaminya itu.
"Kemarin masuk Minggu kemarin Yoona sekarang sudah hari Senin."
"Dasar gila."
"Tapi meskipun hari ini aku menginginkan nya, aku akan menundanya sebab aku ingin membawamu ke suatu tempat." Lanjutnya.
"Membawaku? Kemana?"
"Ke Italia, ayo kita pergi jenguk mama papa mu, sekalian aku ingin menemui adik perempuan ku"
"Apa?" Tanya Yoona yang terkejut dengan rencana Leo yang begitu dadakan itu.
"Ayo kita berangkat." Lanjutnya sembari meraih tangan kanan Yoona dan menariknya keluar dari rumah itu.
"Sekarang? Tunggu seharusnya kau bilang padaku sebelumnya, aku bahkan tidak mengemas apapun." Protesnya.
"Tidak perlu masalah pakaian aku akan membelikan mu disana."
"Tunggu lalu bagaimana dengan skincare, make up dan semacamnya, aku akan mengemasnya dulu."
"Sudah ku bereskan itu Yoona, sudah ayo pergi semuanya ada di koper." Sahutnya yang langsung menarik tangan Yoona kembali keluar rumah.
Mobil Leo mulai pergi meninggalkan kediamannya itu setelah sekian lama terparkir di dalam bagasi. Tanpa adanya rencana dan persiapan merekapun pergi menuju bandara dan terbang untuk menjenguk orang tua nya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil itu sampai di tempat tujuan mereka, disana mereka sudah disambut oleh asisten setianya Leo yaitu Luca yang sudah standby disana dengan membawa satu koper disampingnya.
"Semuanya sudah siap bukan?"
Luca mengangguk "semuanya sudah siap tuan, ini tiketnya, pesawat tuan akan berangkat 20 menit lagi." Jawabnya sementara Leo menerima tiket yang Luca berikan itu padanya.
Beda halnya dengan Yoona yang entah kenapa tiba tiba diam, ia sama sekali tidak bergeming ataupun protes seperti sebelumnya.
"Saya akan menyusul tuan besok, sebab ada beberapa hal yang ingin saya selesai Disini." Ucap Luca dan Leo mengangguki nya begitu saja.
'tunggu kenapa penglihatan ku tiba tiba pudar dan pusing.' gumamnya yang merasakan sesuatu yang aneh darinya.
Yoona yang sedari tadi terus menatap dua orang yang sedang asik berbincang itu tiba tiba pandangannya seketika buram dan membuat tubuhnya seketika melemas begitu saja tanpa adanya aba aba darinya.
Menyadari hal itu dengan tangkas nya Leo langsung meraih tubuh istrinya yang hampir terjatuh itu, "astaga Nyonya baik baik saja?" Tanya luca yang terkejut dan khawatir dengan keadaan majikannya itu.
"Ada apa denganmu, kenapa kau tiba tiba lemas, apa kau belum makan?" Tanya Leo dan Yoona mengangguki nya.
"Aku memang belum makan sejak kemarin sore, seharusnya kau tahu itu." Jawabnya.
"Apa kau gila, lalu sekarang bagaimana, pesawatnya akan terbang 15 menit lagi lalu dimana kau ingin cari makan." Marahnya namun Yoona hanya diam sebab ia sendiri juga tidak tahu kenapa ia tiba tiba melemas seperti itu.
Kini kepala pria itu mulai berpikir keras sembari menatap ke sekelilingnya, hingga beberapa saat kemudian pandangannya teralihkan pada paper bag yang Luca bawa
"Apa yang kau bawa itu Luca?"
Luca membuka paper bag nya, "ahh ini roti isi yang ku beli tadi tuan, "
"Kau sudah memakan nya?"
"Saya baru menggigit nya sekali lalu mobil tuan datang tadi." Jawabnya.
"Berikan padaku?"
"Apa? Tapi tuan saya sudah memakan nya."
"Berikan saja padaku Luca." Ucapnya yang membuat asistennya itu langsung memberikan roti isinya itu pada tuannya.
Leo menyodorkan roti itu pada Yoona. "Makanlah."
"Apa? Apa kau tidak waras, kau menyuruhku makan makanan sisa orang, lebih baik aku kelaparan dari pada memakan nya." Bantahnya dan membuat Leo langsung membuka plastik roti itu dan menggigit bekas roti Luca dan memakannya.
" Sudah ini makanlah, ini bukan sisa orang lain, ahh apa mungkin kau ingin aku memasukkan nya langsung ke mulut mu hmm." Ucapnya sembari menyodorkan roti isi itu pada istrinya.
"Ayo makanlah." Paksa leo hingga mau tidak mau membuat Yoona terpaksa mengambil roti isi itu dan memakannya.
"Umm tuan, biar saya belikan yang baru sebentar saja."
"Tidak usah Luca, itu akan menyita banyak waktu, lagi pula kenapa harus beli kalau kita punya makanannya." Sahutnya yang kemudian menarik koper yang Luca berikan tadi meninggalkan Yoona dengan asisten nya.
"Lihatlah si anak setan itu bertindak seenak jidatnya lagi." Ucapnya sembari menatap Leo yang perlahan meninggalkan dirinya.
"Semoga perjalanan anda menyenangkan nyonya." Ucapnya ketika melihat majikannya itu mulai pergi menyusul tuan nya yang sudah berada jauh di depan.
***
*Italia*
Setelah menempuh hampir 12 jam terbang di udara, akhirnya nyawa mereka kini sampai di tanah Italia, sesampainya disana Leo dan Yoona melanjutkan destinasi mereka yang tak berujung itu menggunakan taksi yang ada di sekitar bandara. Hingga pada akhirnya mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan mereka yaitu di kediaman tuan Vigor yang ada di Napoli Italia.
"Papa!" Panggil nya ketika turun dari taksinya dan melihat mama papanya sedang berdiri menunggu kedatangannya. Yoona berlari kecil menuju papanya itu dan memeluknya seperti seorang putri kecil yang begitu merindukan orang tuanya.
Vigor membalas pelukan putri nya itu "Astaga sayang, papa senang kau kemari, bagaimana kabarmu hmm, baru 3 bulan papa tinggal kau sudah bertambah gemuk." Ucapnya.
"Papa sedang meledekku, berat badanku sama sekali tidak bertambah pa..." Elaknya.
"Yoona apa kau hanya ingin memeluk papamu, kau lupa dengan mamamu ini?"
Yoona melepaskan pelukan papanya dan menatap ke arah wanita yang ada di sampingnya itu. "Bagaimana mungkin aku lupa dengan mama, aku juga merindukanmu ma." Jawabnya sembari memeluk tipis mamanya itu.
"Leo.... Astaga menantu kesayangan ku akhirnya datang mengunjungi mertuanya ini, Bagaimana kabarmu hmm."
"Seperti yang paman lihat aku baik baik saja."
"Paman? Leo dengar sebelum kau menjadi menantu ku, aku sudah menganggap mu sebagai putraku sendiri, jadi kenapa kau masih memanggil ku paman, coba panggil pamanmu ini papa hmm."
"Ehh i Iya pa,"
Vigor menepuk keras pundak kanan Leo, " lah ini baru putraku." Ucapnya sementara dua wanita yang ada disana hanya diam menatap dua interaksi pria itu.
Evie menghela nafas panjang "apa kau tidak ingin membawa menantumu itu ke dalam hmm, ayo sayang mama sudah menyuruh bibi memasak makanan kesukaan mu." Ucapnya sembari menatap ke arah Yoona.
"Bibi mu benar, ayo masuk, anggap saja rumahmu sendiri Leo." Sahutnya sembari mempersilahkan putra kesayangannya itu masuk, sementara dua wanita tadi sudah masuk kedalam terlebih dahulu.
Mereka masuk kedalam sebuah ruangan bercat kuning keemasan dengan di dominasi oleh warna putih dan tersedia sebuah meja berukuran besar dengan sepuluh kursi disana, dihiasi sebuah lampu gantung simpel yang menambah suasana mewahnya rumah itu.
Satu persatu hidangan mulai tertata rapi di atas meja, seperti nasi, sayur daging buah dan juga minuman yang mayoritas adalah makanan kesukaan Yoona.
"Kita hanya berempat kenapa banyak sekali ma." Ucap Yoona yang memang dari awal sama sekali tidak nafsu untuk makan dan sekarang melihat makanan yang banyak di depannya.
"Kapan kapan lagi kau akan kesini sayang, ini semua makanan kesukaan mu, ayo makanlah." Jawabnya namun hanya diam sembari menatap ke arah semua hidangan itu.
Leo mengambil sepiring nasi dan meletakkan rata semua lauk di piringnya itu lalu menyodorkannya pada Yoona.
"Apa yang kau katakan, seharusnya kau senang karena mereka berusaha membuatmu senang, ini makanlah." Bisiknya sembari menjauhkan semua buah buahan yang ada di depannya, sebab ia tahu wanita itu hanya akan terus memakan buah saat dirinya tidak nafsu makan, sementara ia juga tahu kalau istrinya itu sama sekali belum makan setelah memakan kebab milik Luca.
"Papa senang kalian kesini, seharusnya kalian mengabari papamu ini tiga hari sebelumnya, untung saja hari ini kita tidak kemana-mana." Ucap Vigor.
"Justru itu, kita ingin buat kejutan untuk kalian." Sahut leo sementara Yoona mulai memakan makanan miliknya itu.
"Ngomong ngomong apa yang membuat kalian datang kemari hmm, apa kalian membawakan kabar baik untuk kita?" Tanyanya yang penuh harapan.
"Bukan apa apa pa, aku kemari hanya ingin mengunjungi kalian dan juga adik perempuan, sekaligus ingin berlibur dan berbulan madu disini."
"Kalian sudah hampir tiga bulan menikah baru ingin berbulan madu?"
Leo tersenyum sembari menatap Yoona yang saat ini tidak peduli dengan topik yang mereka bicarakan. "Aku begitu sibuk pa, hingga tidak sempat meluangkan waktu untuk putri mu itu, aku selalu pergi pagi pulang malam, hingga tidak sempat memperhatikan nya."
'dasar pria bermulut bisa, ingin sekali ku congkel lidahnya keluar, lalu kemarin siapa yang rela bekerja dirumah hanya untuk ingin menggenjot ku setiap hari.' batinnya mengingat pria itu hampir satu bulan tidak keluar dari rumah karena nafsu birahinya.
"Astaga, kau pasti sangat lelah Yoona, sepertinya kau harus sedikit lebih peka terhadap suamimu sayang, papa kira kalian kemari ingin memberi kabar tentang anggota keluarga baru."
"Apa yang papa katakan hmm, lagi pula tidak baik memperbanyak anggota keluarga, itu sangat merepotkan." Ujarnya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu Yoona, apa papa tidak boleh meminta cucu dari putri papa yang sudah menikah, papa juga ingin menggendong cucu seperti teman papa."
"Kalau papa ingin sekali, kenapa papa tidak buat sendiri saja dengan mama, anggap saja biar Yoona punya adik iya kan." Sahut nya hingga sontak membuat makanan yang baru saja masuk kedalam mulut Evie kembali keluar.
"Uhuk uhuk, yyak,,,,kalian ini sebenarnya membicarakan apa sih." Ucapnya sementara Leo hanya geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.
"Pa, papa jangan pedulikan kata Yoona, papa masih punya Leo bukan, Leo akan mewujudkan impian papa itu." Sahut leo.
Vigor mengangguki perkataan Leo, " kau benar, kau memang harus mewujudkan impian ku itu Leo." Ucapnya yang seakan akan sedang membuat perjanjian khusus dengan menantunya itu.