NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — Kurir

“Target sudah tiba.”

Suara Gray merayap masuk ke gendang telinga Leon melalui earpiece kecil yang tersembunyi di balik telinga kanannya. Suara itu dingin, jernih, dan sama sekali tidak memiliki emosi, sebuah frekuensi yang sudah sangat akrab bagi Leon selama bertahun-tahun.

Leon berdiri tegak di tepi atap gudang tua yang sudah berkarat, menghadap langsung ke dermaga Distrik 4 yang temaram. Angin laut malam itu berhembus kencang, menyapu jaket hitam teknisnya yang tahan air, membawa aroma khas pelabuhan yang memuakkan: campuran garam, solar yang bocor, dan besi yang membusuk dari kapal-kapal kargo yang baru saja merapat dari perairan internasional.

Di bawah sana, sebuah sedan hitam dengan kaca film pekat meluncur pelan, lalu berhenti tepat di bawah lingkaran cahaya lampu merkuri yang berkedip-kedip.

Empat orang pria keluar dari mobil. Gerakan mereka terkoordinasi, namun ada sedikit kecanggungan dalam cara mereka memegang senjata di balik jas.

Pria terakhir yang keluar, sosok yang tampak paling rapi di antara mereka memegang sebuah koper logam hitam dengan erat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, ekspresinya gelisah.

“Empat pengawal,” lanjut Gray, memecah kesunyian di saluran komunikasi mereka. “Pria yang membawa koper adalah pengantarnya. Identitas terkonfirmasi.”

Leon tidak menjawab. Ia berjongkok di balik langkan beton, memicingkan mata untuk mengamati pola langkah mereka. Pengalamannya mengatakan bahwa pria-pria ini adalah profesional, tapi bukan tentara terlatih. Mereka adalah tentara bayaran kelas menengah yang lebih banyak menghabiskan waktu di sasana tinju daripada di medan tempur.

“Klien ingin barang itu sampai ke gudang kanal barat dalam kondisi utuh,” suara Gray kembali terdengar, kali ini dengan nada yang sedikit lebih rendah. “Dan ada satu detail tambahan yang baru saja masuk ke dalam kontrak.”

Leon mulai menuruni tangga darurat besi di sisi gudang. Gerakannya seringan kucing, tanpa menimbulkan denting logam sedikit pun.

“Aku mendengar,” sahut Leon pendek. Suaranya serak, jarang digunakan untuk berbicara panjang lebar.

“Pengantarnya tidak boleh hidup.”

Langkah Leon terhenti sejenak di tengah tangga. Matanya menatap bayangan hitam di atas beton dermaga. “Salinan kontrak sudah kau lihat,” sambung Gray seolah bisa membaca keraguan yang sebenarnya tidak ada. “Pembayaran penuh hanya akan cair jika koper berpindah tangan dan target dipastikan mati. Tidak ada saksi dari pihak pengantar.”

Leon meluncur turun dari anak tangga terakhir, mendarat dengan senyap di atas aspal basah. Ia melangkah keluar dari bayangan pekat gudang, berjalan dengan langkah santai namun pasti menuju pusat dermaga.

Lampu jalanan di atas mereka berkedip sekali lagi, menciptakan efek stroboskopik yang membuat sosok Leon tampak seperti hantu yang muncul tiba-tiba dari kegelapan.

Keempat pengawal itu bereaksi seketika. Mereka mencabut senjata dari balik jas, moncong pistol mereka mengarah tepat ke dada Leon.

“Berhenti di situ!” bentak salah satu dari mereka, pria dengan bekas luka di pelipis.

Leon berhenti tepat di batas lingkaran cahaya. Tangannya menggantung lemas di samping tubuh, namun otot-ototnya sudah menegang, siap untuk meledak dalam aksi.

Si Pengantar barang, pria yang memegang koper, melangkah maju sedikit. Matanya menyipit, mencoba menembus bayangan topi jaket yang menutupi wajah Leon. “Kau siapa?”

Leon hanya mengangkat satu tangannya, menunjuk lurus ke arah koper logam itu. “Kurir.”

Pria itu mendengus, tawa meremehkan terselip di sela napasnya. “Kurir? Kau datang sendirian ke tempat seperti ini?”

“Itu sudah cukup,” jawab Leon singkat.

Pengawal di sebelah kiri, seorang pria bertubuh besar dengan napas berat, mengokang senjatanya. Bunyi klik logam itu bergema tajam di kesunyian malam. “Kami tidak diberi tahu soal ini. Kesepakatannya bukan begini.”

Si Pengantar mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar anak buahnya tetap tenang. Ia menatap Leon sekali lagi, mencoba mencari tanda-tanda ketakutan, namun ia tidak menemukan apa pun kecuali kehampaan.

“Kau yang dikirim untuk mengambil barang?” tanya si Pengantar.

“Ya.”

Pria itu menaruh koper di atas kap mobil, lalu mengetuk permukaannya dengan kaki. “Barangnya ada di sini. Kode akses akan diberikan setelah kami menerima konfirmasi transfer.”

Leon tetap berdiri tegak, tak bergeming. Matanya tidak menatap koper, melainkan memindai keempat pengawal tersebut, menghitung jarak dan sudut tembak.

“Ada masalah?” tanya si Pengantar, mulai merasa risih dengan kebisuan Leon.

Leon menatap mata pria itu untuk pertama kalinya. “Ada saksi.”

Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Sunyi menyelimuti dermaga selama beberapa detik yang terasa abadi. Si Pengantar barang tertegun, lalu tawa kecil keluar dari mulutnya.

“Fuck. Klien itu benar-benar paranoid,” gumamnya sambil menggelengkan kepala. Ia mengira Leon hanya sedang menjalankan prosedur keamanan yang berlebihan. “Baiklah, terserah. Ambil koper itu dan segera pergi dari sini. Aku juga ingin segera pulang.”

Leon tidak bergerak.

Gray berbicara lagi di earpiece, suaranya seperti bisikan iblis. “Leon.”

“Aku dengar.”

“Pengantar belum sadar akan situasinya.”

“Ya.”

Si Pengantar mengernyitkan dahi. “Apa? Kau bicara dengan siapa?”

Leon melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya.

Salah satu pengawal, yang merasa terancam oleh aura predator Leon, kehilangan kesabarannya. Ia menarik pelatuk.

BANG!

Tembakan pertama meledak, memecah keheningan malam dan memantul di dinding-dinding kontainer. Namun, Leon sudah tidak ada di posisi semula.

Dalam satu gerakan yang hampir mustahil diikuti mata telanjang, Leon menyamping, menarik pistol Glock-17 dari balik jaketnya.

Dua tembakan dilepaskan. Dua kilatan api muncul dari moncong senjatanya.

Dua pengawal di barisan depan jatuh seketika dengan lubang tepat di tengah dahi mereka. Mereka mati bahkan sebelum tubuh mereka menyentuh tanah.

“Kontak! Kontak!” teriak salah satu pengawal yang tersisa dengan panik.

Pengawal ketiga menembak membabi buta. Peluru-pelurunya menghantam kontainer logam di belakang Leon, menciptakan percikan api dan suara nyaring tring-tring yang memekakkan telinga.

Leon berguling di balik peti kayu tua berisi suku cadang kapal. Ia bisa merasakan debu dan serpihan kayu beterbangan di atas kepalanya.

“Empat lawan satu,” kata Gray dengan nada klinis. “Statistik masih sangat menguntungkan, Leon.”

Leon menarik napas pendek, menenangkan detak jantungnya. Ia menyembul sedikit dari balik peti dan melepaskan satu tembakan presisi. Peluru itu menembus lutut pengawal ketiga yang sedang mencoba mengisi ulang peluru.

Pria itu roboh ke aspal sambil melolong kesakitan, memegangi kakinya yang hancur.

Pengawal terakhir mencoba berlindung di balik pintu mobil yang terbuka, tangannya gemetar hebat. Leon berdiri sepenuhnya, mengabaikan tembakan asal-asalan yang lewat di samping telinganya.

Satu tembakan lagi.

Kaca mobil pecah berkeping-keping. Peluru itu menembus celah pintu dan bersarang di leher si pengawal. Pria itu jatuh tanpa suara, darahnya merembes di atas aspal yang basah oleh sisa hujan.

Sunyi kembali menguasai dermaga. Hanya suara ombak yang memukul-mukul tiang kayu dermaga dan isak tangis tertahan dari pengawal yang terluka di tanah.

Si Pengantar barang berdiri kaku di samping koper logamnya. Seluruh keberaniannya telah menguap. Wajahnya sepucat kertas.

“Holy hell...” bisiknya. Ia menatap tubuh empat orang kepercayaannya yang kini hanya menjadi tumpukan daging tak bernyawa. “Kau... kau gila.”

Leon berjalan mendekat dengan langkah yang tenang, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas administrasi biasa.

Pengantar itu mengangkat tangan yang gemetar hebat. “Dengar... dengar. Kita bisa bicara. Ambil kopernya. Aku tidak akan bilang apa-apa.”

Leon berhenti tepat dua langkah di hadapannya. “Kau tahu kontraknya.”

“Bullshit!” teriak pria itu, suaranya pecah karena panik. “Tidak ada bagian itu dalam kesepakatan awal! Klien menjanjikan keamanan!”

Leon menatapnya tanpa emosi. Di matanya, pria ini bukan lagi manusia, melainkan sekadar baris dalam daftar tugas yang harus dicentang.

Gray berbicara lagi. “Target mulai panik. Selesaikan sekarang sebelum patroli pelabuhan mendekat.”

“Ya.”

Si Pengantar mundur selangkah, menabrak badan mobil. “Aku bisa bayar lebih! Dua kali lipat! Tiga kali—”

Leon tidak menjawab.

Secara tiba-tiba, pria itu mencoba peruntungan terakhirnya. Ia mencabut pistol kecil dari saku dalam jasnya.

Terlambat.

Leon menembak lebih dulu. Peluru itu menembus bahu kanan si Pengantar, membuatnya terjatuh dengan keras ke tanah. Pistol kecilnya terlempar jauh ke dalam air.

Pria itu masih hidup, terengah-engah, matanya membelalak menatap langit malam. Ia masih mencoba merangkak, meraih sesuatu yang tidak ada.

Leon berjalan mendekat, berdiri tepat di atas pria itu, menutupi cahaya lampu merkuri sehingga bayangannya jatuh menelan si target.

Pria itu terengah, darah mulai mengalir dari mulutnya. “Siapa... siapa kau sebenarnya?”

Leon menekan moncong pistol yang masih panas ke dahi pria itu.

“Kurir.”

SATU TEMBAKAN.

Kali ini, sunyi yang turun benar-benar mutlak.

Gray menarik napas kecil di earpiece, suara yang menandakan kepuasan teknis. “Target netral. Area bersih.”

Leon membungkuk, mengangkat koper logam itu dengan tangan kirinya. Beratnya mantap, isinya terasa aman di dalam perlindungan baja. “Barang aman.”

“Bagus,” kata Gray. “Pergi ke titik pertemuan kedua. Klien menunggu.”

Leon memasukkan koper ke dalam kompartemen motor sport hitamnya yang tersembunyi di balik gudang. Mesin motor itu menderu halus, membelah kesunyian malam saat Leon meninggalkan dermaga yang kini telah berubah menjadi kuburan massal.

Gudang di kanal barat berdiri sendirian di tepi air yang tenang namun kotor. Bangunan itu tampak seperti sisa-sisa kejayaan industri masa lalu yang terlupakan. Di dalamnya, sebuah lampu neon berpendar pucat, berkedip-kedip dengan suara berdengung yang mengganggu.

Seorang pria tua dengan rambut putih yang tipis berdiri di dekat meja logam panjang. Ia mengenakan setelan wol mahal yang tampak kontras dengan lingkungan sekitarnya. Asap rokok dari cerutunya mengepul ke langit-langit rendah.

Leon mematikan mesin motor. Suara raungan mesin berganti dengan tetesan air dari atap yang bocor.

“Lambat,” kata pria tua itu tanpa menoleh.

Leon berjalan mendekat dan meletakkan koper di atas meja logam dengan denting yang berat. “Periksa.”

Pria tua itu meletakkan cerutunya di asbak perak, lalu membuka koper dengan kode rahasia. Di dalamnya, tertata rapi dalam busa pelindung, sebuah tabung kaca berisi cairan biru bercahaya yang tampak hidup.

Pria tua itu tersenyum kecil, memperlihatkan gigi-giginya yang menguning. “Bagus. Utuh tanpa cacat.”

Ia menutup kembali koper itu. “Aku dengar dari Gray bahwa kau bekerja sangat cepat. Sangat bersih.”

Leon tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menunggu bagian terakhir dari transaksinya.

Pria tua itu menatap Leon dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, seolah-olah ia sedang meneliti artefak langka. “Pengantarnya?”

“Mati.”

Pria tua itu mengangguk puas. “Sangat bagus. Efisiensi adalah kualitas yang langka akhir-akhir ini.”

Ia menggeser sebuah amplop cokelat yang sangat tebal di atas meja. “Bayaranmu. Sesuai kesepakatan, ditambah bonus untuk 'detail tambahan' tadi.”

Leon mengambil amplop itu tanpa menghitungnya. Ia tahu Gray sudah memastikan jumlahnya tepat melalui jalur belakang.

Pria tua itu menyalakan rokok baru, menghembuskan asapnya ke arah Leon. “Kau tahu sesuatu, Nak?”

Leon diam, helmnya masih terpasang, mencerminkan cahaya neon yang pucat.

Pria tua itu menunjuk ke arah dermaga yang jauh di belakang mereka. “Empat pengawal terlatih. Satu pengantar berpengalaman. Senjata otomatis. Dan kau datang sendirian.”

Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung rasa hormat sekaligus peringatan. “Orang-orang di pelabuhan pasti akan membicarakan kejadian ini besok pagi. Mereka akan menyebutnya sebagai pembantaian hantu.”

Leon mulai mengenakan helmnya kembali, tidak tertarik pada pujian atau reputasi.

Pria tua itu menatapnya lebih lama, mencoba mencari celah di balik topeng dingin sang kurir. “Jika seseorang bertanya siapa yang mengambil barang ini malam ini... siapa yang melakukan semua ini...”

Leon berhenti di ambang pintu gudang, mesin motornya kembali menyalak, suaranya menggema hebat di dalam ruangan beton tersebut.

Pria tua itu menghembuskan asap rokok terakhirnya. “Harus ku panggil siapa?”

Leon tidak menoleh. Ia memacu motornya keluar dari gudang, menghilang ke dalam kegelapan kota, meninggalkan pertanyaan itu menggantung bersama asap cerutu yang perlahan memudar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!