Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Koin Curian
Malam mencapai puncaknya. Rembulan menggantung rendah di atas Distrik Zamrud, menyinari atap-atap melengkung yang dijaga oleh patung singa batu.
Di dalam kamarnya, mata Jian Yi terbuka perlahan. Tidak ada kantuk di sana, hanya kilatan tajam yang tidak selaras dengan wajahnya.
Ia melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan para pelayan telah terlelap. "Oke, aman," bisiknya sangat pelan.
Dengan gerakan seringan bulu, Jian Yi turun dari ranjang besarnya.
Tubuh kecilnya bergerak mengendap-endap, memanfaatkan bayangan perabotan untuk menghindari cahaya lilin yang masih menyala di koridor.
Namun, langkahnya terhenti saat ia mendekati jendela besar di ruang tengah.
Sayup-sayup, suara percakapan rendah terdengar dari balik pintu kamar utama yang sedikit terbuka.
"Sayang, hentikan ... Nanti anak-anak mendengarnya," suara ibunya, Su Lin, terdengar tertahan di antara tawa kecil.
Jian Yi mengintip sedikit melalui celah. Ia melihat ayahnya, Jian Hong, sedang mencoba menggoda ibunya yang tengah memangku adiknya yang baru berusia dua tahun.
Pemandangan itu begitu hangat—sebuah keharmonisan keluarga yang tidak pernah ia rasakan sepenuhnya di kehidupan sebelumnya.
"Momen kasih sayang suami istri, ya? Bukan urusanku," batin Jian Yi.
Ia berbalik dan melesat keluar jendela dengan teknik meringankan tubuh yang meski masih mentah, sudah cukup untuk membuatnya tak terlihat.
Jian Yi sebenarnya sadar, ayahnya yang memiliki sedikit dasar bela diri kemungkinan besar merasakan kehadirannya.
Namun, Jian Hong adalah tipe pria yang menghargai kebebasan; selama anaknya tidak membakar rumah, ia jarang melarang.
"Aku benar-benar beruntung memiliki ayah sepertimu di kehidupan ini," gumam Jian Yi dengan senyum tulus yang jarang ia perlihatkan.
Wush!
Jian Yi mendarat di dahan pohon persik besar yang menjadi pembatas wilayah.
Di sana, ia sudah disambut oleh sosok mungil yang duduk santai sambil mengunyah bakpao hangat yang uapnya masih mengepul.
"Oi, kau lama sekali. Aku hampir lumukan menunggu di sini," ujar Lu Feng dengan mulut penuh.
Ekspresi kesalnya terlihat menggemaskan karena pipinya menggembung seperti tupai.
Tanpa banyak bicara, Jian Yi menyambar bakpao kedua dari tangan Lu Feng.
"Hei! Bakpaoku!" protes Lu Feng.
"Diamlah. Anggap saja ini pajak karena membuatku menunggu," balas Jian Yi tenang. "Tadi aku harus melewati adegan romantis orang tuaku. Benar-benar membuang waktu."
Lu Feng menelan bakpaonya, lalu menyeringai lebar. "Hubungan intim? Ah, aku jadi teringat masa lalu. Ingat tidak, saat kau dan Ling'er baru saja akan masuk ke momen serius, tapi aku mendobrak pintu karena ada musuh menyerang?"
Wajah Jian Yi mendadak masam. Ingatan itu adalah salah satu momen paling menjengkelkan dalam hidupnya. "Itu murni salahmu, Lu Feng. Kau selalu punya bakat alami untuk merusak suasana, bahkan jika ada seratus prajurit mengejarmu."
Mereka berdua menoleh ke arah gudang bawah tanah keluarga Jian.
Niat awal mereka malam ini adalah menyusup dan mengambil beberapa artefak atau obat-obatan spiritual untuk mempercepat latihan mereka. Namun, nyali mereka ciut seketika.
Di depan pintu besi berat itu, berdiri delapan penjaga dengan zirah lengkap.
Bukan penjaga biasa, mereka memancarkan aura Qi yang stabil—prajurit elit yang disewa khusus untuk menjaga harta keluarga.
"S-sepertinya ... kita urungkan saja niat ini," bisik Jian Yi, menyadari bahwa tubuh tiga tahunnya tidak akan sanggup melewati penjagaan seketat itu tanpa memicu alarm batin mereka.
Lu Feng mengangguk cepat, setuju sepenuhnya. Ia menepuk pundak Jian Yi, lalu merogoh kantong kecil di pinggangnya dan mengeluarkan sesuatu yang berkilau di bawah cahaya bulan.
"Kau benar, kawan. Lebih baik kita mencari kesenangan lain. Ayo, aku yang traktir makan di restoran pusat kota!"
Jian Yi menyipitkan mata, menatap koin emas murni di tangan Lu Feng. "Tunggu dulu ... kau dapat satu koin emas dari mana? Jangan-jangan ..."
Sambil menyeringai nakal, Lu Feng menjawab, "Tepat seperti yang kau pikirkan. Aku 'meminjamnya' dari kantong ibuku saat dia sedang sibuk memilih perhiasan tadi siang."
"Dasar kau ini. Bagaimana kalau nanti kita dihukum?"
"Kau saja yang dihukum. Kalau ketahuan, aku akan lari duluan! Hahaha!"
PLAK!
Jian Yi menjitak kepala botak Lu Feng dengan gemas. "Aku hukum kau duluan, dasar pencuri!"
"Aduh! Ini balasannya, kawan!" Lu Feng membalas menjitak Jian Yi, dan dalam sekejap, dua "legenda" itu terlibat perkelahian bocah di atas pohon sebelum akhirnya tertawa bersama dan melompat turun menuju keramaian kota.
Sesampainya di sebuah restoran mewah yang masih buka, mereka masuk dengan langkah penuh percaya diri.
Tanpa peduli pada pandangan orang-orang, mereka melompat ke atas kursi kayu yang tinggi.
Bisik-bisik mulai terdengar dari meja sebelah.
"Anak siapa itu? Masih kecil begitu sudah keluyuran malam-malam ..."
"Apa mereka anak hilang? Tapi lihat pakaiannya, mereka anak bangsawan."
Dua bocah itu menutup telinga. Lu Feng menggebrak meja dengan tangan mungilnya. "Tuan! Tolong berikan kami dua porsi ayam panggang madu dan dua gelas teh bunga krisan terbaik. Ini uangnya!"
Lu Feng meletakkan koin emasnya. Pemilik restoran yang awalnya hendak mengusir mereka, langsung melotot. Ia hampir tidak percaya melihat koin emas murni dipegang oleh anak berusia tiga tahun.
"B-baik, Tuan Muda! Segera disiapkan!" Pemilik restoran itu langsung membungkuk dan berlari ke dapur. Uang bicara lebih keras daripada usia.
Sambil menunggu, Jian Yi tiba-tiba mendengar keributan di dekat pintu samping.
"Dasar anak gelandangan! Sudah kubilang jangan datang ke sini lagi! Kau membuat pelanggan jijik dan enggan datang!" Teriak seorang pria paruh baya, pelayan restoran, kepada seorang bocah kecil yang berdiri di luar.
Bocah itu tampak kotor, pakaiannya compang-camping, dan tubuhnya sangat kurus. Ia hanya bisa menunduk, gemetar menahan takut dan lapar.
Melihat pemandangan itu, Jian Yi terdiam. Ingatan masa lalu menghantamnya—saat ia masih menjadi yatim piatu yang berjuang di jalanan sebelum menjadi pendekar hebat.
Rasa pahit itu masih ia kenali. Saat pria paruh baya itu mengangkat tangannya untuk memukul si bocah, Jian Yi berdiri.
"Hei, kau yang di sana!" Teriak Jian Yi. Suaranya kecil, namun memiliki wibawa yang membuat seisi ruangan mendadak sunyi.
Pelayan itu menoleh, bingung. Anak gelandangan itu juga menatap Jian Yi dengan mata berkaca-kaca. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ragu. "A-aku ...?"
"Iya, kau! Ayo masuk dan makan bersama kami!" Jian Yi tersenyum lebar, lalu menunjuk Lu Feng. "Tenang saja, si botak ini yang bayar!"
Lu Feng, meski menggerutu karena dipanggil botak, memberikan jempol besar dengan gaya bos kecil.
Anak gelandangan itu ragu sejenak, namun perutnya yang keroncongan mengalahkan rasa takutnya.
Saat ia mendekat, Jian Yi turun dari kursinya, menarik tangan kecil bocah itu yang kasar karena kerja paksa, dan membantunya duduk di kursi mewah di sampingnya.
"Malam ini, kau makan sepuasnya," ucap Jian Yi tenang. Di matanya, terpantul sebuah janji: di kehidupan ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun merasa sendirian seperti dirinya yang dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁