Aurora terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di dunia asing yang begitu indah, penuh dengan keajaiban dan dikelilingi oleh pria-pria tampan yang bukan manusia biasa. Saat berjalan menelusuri tempat itu, ia menemukan sehelai bulu yang begitu indah dan berkilauan.
Keinginannya untuk menemukan pemilik bulu tersebut membawanya pada seorang siluman burung tampan yang penuh misteri. Namun, pertemuan itu bukan sekadar kebetulan—bulu tersebut ternyata adalah kunci dari takdir yang akan mengubah kehidupan Aurora di dunia siluman, membuatnya terlibat dalam rahasia besar yang menghubungkan dirinya dengan dunia yang baru saja ia masuki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran Melawan Raja Kegelapan
Langit bumi menghitam sepenuhnya saat Azarel mengangkat tangannya. Bayangan menyebar seperti gelombang, menelan reruntuhan desa yang tersisa. Puluhan siluman dengan mata merah menyala menggeram, bergerak mendekati Aurora dan Raviel.
Aurora mencengkeram pedangnya erat, cahaya suci berpendar di sekeliling bilahnya. “Raviel, kita harus menghancurkan sumber kekuatannya!”
Raviel mengangguk, sayap emasnya berkibar kuat. “Aku akan menghadapi Azarel. Lindungi gadis itu!”
Dalam sekejap, Raviel melesat ke arah Azarel, sementara Aurora menangkis serangan siluman yang mencoba mendekat. Pedangnya menebas dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan jejak cahaya di udara.
Azarel tersenyum dingin melihat Raviel mendekat. “Datanglah, Garuda Emas. Tunjukkan apakah kau layak menjadi raja.”
Raviel mengayunkan pedangnya, namun Azarel menghilang dalam bayangan dan muncul di belakangnya, melepaskan serangan bayangan yang menghantam Raviel ke tanah.
Raviel terbatuk, merasakan rasa sakit menusuk di tubuhnya. Namun, ia tidak menyerah. Dengan cepat, ia mengepakkan sayapnya dan bangkit kembali. “Kau cepat, tapi bukan satu-satunya yang bisa bergerak dalam kecepatan cahaya.”
Dalam sekejap, Raviel mengaktifkan Permata Bersayap, dan tubuhnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Ia melesat, kali ini lebih cepat dari bayangan Azarel.
Sementara itu, Aurora menghadapi puluhan siluman yang terus berdatangan. Gadis kecil yang mereka selamatkan bersembunyi di balik reruntuhan, menangis ketakutan. Aurora harus melindunginya.
Dengan napas dalam, Aurora mengangkat pedangnya ke langit. “Cahaya Aetheroin, dengarkan aku!”
Dari ujung pedangnya, cahaya putih suci menyebar seperti gelombang, menghancurkan siluman yang mendekat.
Namun, Azarel melihat itu dan tersenyum tipis. “Jantung Cahaya, aku ingin tahu seberapa kuat jantung itu bisa bertahan.”
Dengan satu gerakan tangannya, bayangan panjang melesat ke arah Aurora.
Raviel melihat itu dan langsung bergerak. “TIDAK!”
Dalam sekejap, ia muncul di depan Aurora dan menebas bayangan itu dengan cahaya emasnya. Namun, energi Azarel terlalu kuat. Ledakan terjadi, menghantam mereka berdua ke belakang.
Aurora terhuyung, namun Raviel tetap berdiri. Napasnya berat, tapi matanya tetap penuh tekad.
“Azarel!” suaranya menggema. “Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan dunia ini.”
Azarel terkekeh. “Coba saja.”
Raviel mengangkat permata bersayapnya ke langit. Cahaya emasnya menyelimuti seluruh area, melenyapkan bayangan di sekitarnya.
Aurora ikut mengangkat pedangnya, menggabungkan kekuatannya dengan Raviel. Cahaya mereka menyatu, membentuk simbol Garuda Emas raksasa yang bersinar di langit.
Azarel menyipitkan matanya. “Tidak! Ini tidak mungkin—”
“HANCURKAN KEGELAPAN!”
Garuda Emas melesat ke arah Azarel, menerjangnya dengan kekuatan suci. Azarel menjerit saat tubuhnya terkoyak oleh cahaya yang membakar segala kegelapan yang ada dalam dirinya.
Ledakan besar terjadi, membuat seluruh langit bersinar.
Saat debu mengendap, hanya Raviel dan Aurora yang masih berdiri. Azarel telah lenyap.
Hening menyelimuti. Gadis kecil itu keluar dari persembunyiannya, matanya penuh harapan.
“Kalian ... kalian berhasil?” suaranya bergetar.
Aurora menoleh pada Raviel, yang tersenyum kecil. “Ya. Kita berhasil.”
Namun, di kejauhan, angin berbisik.
Kegelapan mungkin telah dikalahkan, tapi apakah ini benar-benar akhir?
Angin malam berhembus pelan, membawa keheningan setelah pertempuran yang dahsyat. Aurora dan Raviel berdiri di tengah reruntuhan desa, cahaya dari pedang dan permata mereka mulai meredup. Gadis kecil yang mereka selamatkan mendekat dengan langkah ragu, matanya masih dipenuhi ketakutan, namun kini ada harapan di dalamnya.
“Apakah, semuanya sudah selesai?” tanyanya pelan.
Raviel mengangguk, menyimpan pedangnya. “Azarel sudah dihancurkan. Kegelapan yang menyelimuti desa ini telah hilang.”
Aurora menatap langit yang mulai kembali cerah. “Tapi aku masih merasakan sesuatu,”
Tiba-tiba, sebuah suara berbisik dari angin. “Kalian mungkin telah mengalahkan satu bayangan, tapi bayangan sejati belum sepenuhnya lenyap.”
Raviel dan Aurora langsung bersiaga. Mereka menoleh ke arah hutan, di mana sisa-sisa kabut hitam masih berputar. Cahaya rembulan mengungkap sesuatu yang baru—sebuah simbol kuno yang terpahat di tanah, berkilauan samar dengan warna merah gelap.
Aurora berlutut, menyentuh simbol itu. Jantungnya berdetak cepat. “Ini ... bukan milik Azarel.”
Raviel merasakan hal yang sama. Permata bersayapnya berdenyut lebih cepat dari sebelumnya. “Ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang bahkan Azarel hanya sebagian kecil darinya.”
Gadis kecil itu menelan ludah, lalu berkata dengan suara lirih, “Legenda di desa kami mengatakan bahwa Azarel bukanlah penguasa kegelapan yang sesungguhnya. Ia hanya penjaga gerbang.”
Aurora dan Raviel saling berpandangan.
Gerbang?
Sebelum mereka sempat bereaksi, tanah di bawah simbol mulai retak. Cahaya merah menyala keluar dari celah-celahnya, dan suara tawa rendah terdengar dari dalamnya.
“Kalian telah membebaskan sesuatu yang lebih tua ... lebih kuat dan lebih lapar dari Azarel.”
Aurora berdiri dengan cepat. “Raviel, kita harus pergi sekarang!”
Namun, sebelum mereka bisa melangkah, bayangan mulai merayap dari dalam retakan. Angin berputar lebih kencang, dan langit yang baru saja cerah kembali menghitam.
Dari dalam kegelapan, muncul dua pasang mata emas—bukan merah seperti siluman lainnya, tetapi emas yang bersinar menyeramkan, seolah mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih kuno, lebih kuat, dan lebih berbahaya.
Raviel mengepalkan tangannya. “Aurora, aku rasa pertempuran kita baru saja dimulai.”
Dan dari dalam retakan yang terbuka, kegelapan sejati bangkit.
Retakan di tanah semakin melebar, mengeluarkan pusaran energi gelap yang membuat bumi bergetar. Dari dalamnya, muncul sosok raksasa berselubung bayangan, dengan dua pasang mata emas yang menyala seperti api abadi. Bentuknya tidak sepenuhnya terlihat, seolah ia masih berusaha memasuki dunia ini.
Aurora dan Raviel mundur beberapa langkah, bersiap menghadapi ancaman yang bahkan lebih besar dari Azarel.
“Kalian telah membangunkanku dari tidurku yang panjang,” suara itu bergema, dalam dan mengguncang udara. “Sang Garuda Emas dan Jantung Cahaya. Aku telah menunggumu.”
"Mereka bahkan mengatakan aku ini jantung Cahaya." Ia bergumam. Aurora mencengkeram pedangnya erat. “Siapa kau sebenarnya?”
Bayangan itu tertawa rendah, suaranya menggema di seluruh tempat. “Aku adalah akar dari kegelapan yang kalian pikir telah kalian hancurkan. Azarel hanyalah bidak kecil dalam permainanku.”
Raviel merasakan hawa dingin menjalari tubuhnya. “Jadi kau, dalang di balik semua ini?”
Sosok itu perlahan mulai mengungkap wujudnya—seorang pria bertubuh tinggi, mengenakan jubah hitam yang berlapis emas, dengan tanduk melengkung di kepalanya dan simbol kuno menyala di dahinya. Ia memandang mereka dengan senyum penuh kemenangan.
“Namaku adalah Noctyros, Penguasa Kegelapan Sejati.”
Aurora merasakan jantungnya berdegup kencang. Nama itu pernah disebut dalam legenda Aetheroin. Noctyros adalah entitas kegelapan pertama, makhluk yang bahkan para dewa takutkan. Ia dikurung di dalam bumi oleh leluhur kerajaan langit. Namun sekarang, mereka telah tanpa sengaja membebaskannya.
Raviel mengepalkan tangannya. “Kalau kau adalah sumber dari semua kegelapan, maka aku akan mengakhirimu di sini dan sekarang!”
Ia mengepakkan sayap emasnya, melesat ke arah Noctyros dengan kecepatan kilat. Pedangnya bersinar terang, siap menebas musuh baru mereka.
Namun, sebelum ia bisa mendekat, Noctyros hanya mengangkat satu jari—dan dalam sekejap, Raviel terpental jauh ke belakang, menghantam tanah dengan keras.
Aurora terkejut. Raviel tidak pernah dikalahkan secepat ini.
Noctyros menghela napas, seolah kecewa. “Kekuatanmu masih terlalu lemah, Raja Garuda. Apa kau pikir sayap emas itu cukup untuk melawanku?”
Raviel mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa berat, seolah diselimuti bayangan yang menekan setiap gerakannya.
Aurora mengangkat pedangnya, bersiap menyerang, tetapi Noctyros menoleh padanya dengan tatapan tajam.
“Dan kau ... Jantung Cahaya.” Ia mengulurkan tangannya, dan seketika Aurora merasakan sesuatu menarik jiwanya.
Ia menjerit, cahaya di tubuhnya berkedip-kedip lemah. Kegelapan Noctyros langsung menyerang inti kekuatannya.
Raviel melihat Aurora dalam bahaya, dan amarahnya memuncak. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, ia bangkit dan berteriak, “JANGAN SENTUH DIA!”
Permata Bersayap di dadanya bersinar terang, melepaskan gelombang energi yang cukup kuat untuk mendorong Noctyros mundur beberapa langkah. Aurora jatuh berlutut, terengah-engah, tetapi berhasil lolos dari cengkeraman kegelapan.
Noctyros tertawa kecil. “Menarik! Kalian memang pantas disebut sebagai raja dan ratu Aetheroin.” Ia memutar tubuhnya, seolah tidak tertarik untuk melanjutkan pertarungan. “Tapi kalian masih terlalu lemah. Aku akan menunggu, sampai kalian cukup kuat untuk memberi perlawanan yang layak.”
Dalam sekejap, ia menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan jejak kegelapan yang masih berputar di udara.
Aurora dan Raviel saling berpandangan, terengah-engah. Mereka menang melawan Azarel, tetapi kali ini, mereka tidak cukup kuat.
“Aurora,” Raviel menggenggam tangannya. “Kita harus kembali ke Aetheroin. Kita perlu lebih banyak kekuatan.”
Aurora mengangguk. “Ya, sebelum Noctyros benar-benar bangkit sepenuhnya.”
Dengan sisa tenaga, mereka mengepakkan sayap dan terbang ke langit. Pertempuran baru akan segera dimulai—dan kali ini, mereka harus lebih siap dari sebelumnya.