Diawali dengan kisah percintaan Anggita Nindya sejak duduk di bangku SMA, yang sangat amat menyukai kakak kelasnya yang bernama Rama. Cintanya tak terbalaskan dan terlupakan ketika Rama lulus sekolah. Rama adalah cinta pertama Gita.
Mereka di pertemukan lagi di perusahaan tempat Gita bekerja. Perusahaan itu adalah milik keluarga Rama. Hingga akhirnya, mereka pun bertemu lagi. Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya? Akankah cinta mereka bisa bersatu? Sedangkan, Rama telah memiliki tunangan. Namun, perasaan Gita pada Rama tak berubah sedikitpun.
Akankah cinta pertama itu bisa terwujud? Atau malah sebaliknya?
Staytune terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dekat denganmu & kegilaan Siska
Hari-hari Gita semakin berwarna karena kehadiran Gilvan disisinya. Gilvan orang baik dan pengertian. Lambat laun, kesedihan Gita berkurang karena kehadiran Gilvan. Tetapi, tidak untuk cintanya.
Gilvan menelepon Gita.
"Hallo, Gita?" Sapa Gilvan
"Iya, Van. Ada apa?" Tanya Gita
"Besok sepulang kerja kita jalan-jalan dulu yuk. Itung-itung ku ajak kamu berkeliling di Kuala lumpur. Agar kamu mengetahui daerah ini." Ajak Gilvan
"Boleh, Van. Memangnya kita mau kemana?" Tanya Gita penasaran
"Kita liat aja besok, OK?" Ucap Gilvan
"Oke Van" Gita menutup teleponnya.
Sebenarnya Gita malu untuk berteman dengan Gilvan. Gita takut ketahuan kalau sebenarnya Gita sedang mengandung. Kalau Gilvan tahu ternyata Gita sedang hamil, sepertinya Gilvan akan menjauhi Gita.
Biarkan berjalan seperti air yang mengalir, Gita harus menegakkan kepalanya. Ia tak seharusnya malu, biarkan janin ini hidup. Siapapun yang tulus berteman dengannya, tak akan memandangnya sebelah mata.
Hari-hari Gita disibukkan dengan pekerjaan menjahit. Ia memang bisa menjahit sejak dulu. Kini, jurusan kuliahnya tak sepadan dengan pekerjaan yang ia lakukan. Gita anak yang ramah, meskipun ia anak baru dipabrik ini, teman-temannya sangat baik padanya. Meskipun mereka berbeda suku dan negara, Gita diterima sangat baik.
Sepulang kerja, Gita bergegas menuju parkiran. Gita takut kalau Gilvan menunggunya lagi seperti kemarin. Ternyata benar saja, Gilvan sudah menunggu Gita diparkiran dengan motornya.
"Kamu nunggu aku lagi, maaf ya" ucap Gita
"Tidak apa-apa Git, aku senang kok!" Gilvan senyum
Mereka mengitari indahnya Kuala lumpur dengan motor. Gita senang, memiliki teman yang berasal dari negara yang sama dengannya. Gita dan Gilvan makan di restoran junkfood *FC. Kenapa Gita memilih itu? Karena chicken dan burger tak membuat perut Gita mual. Gita takut kalau sampai ketahuan mual dan muntah untuk yang kedua kalinya. Mereka memesan makanan sambil mengobrol ringan.
"Gita, aku belum mendengar cerita kamu. Kamu kenapa bisa kerja di Kuala? Kamu jadi TKI?" Tanya Gilvan
"Tidak, aku hanya pindah kesini mengikuti Ibu dan Ayahku. Mereka menetap sementara disini, karena Ayahku seorang pelayar." Gita berbohong
"Tapi mengapa kau harus menyewa rumah? Tak tinggal dengan kedua orang tuamu?" Tanya Gilvan lagi
"Itu.. Aku, Karena orang tua ku tinggal di Johor bahru. Jauh kalau ketempat kerja baruku, jadi aku menyewa saja." Gita berkilah lagi.
"Oh begitu. Kamu sudah punya pacar?" Tanya Gilvan membuat Gita tersedak
"Uhukk..Uhuk.. Aku, baru putus dengan pacarku." Jawab Gita asal
"Syukurlah." Jawab Gilvan santai
"Eh, maksudmu?" Gita tak mengerti.
"Tidak apa-apa. Apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan tentangku, Git?" Gilvan tersenyum
"Oh iya, tentu ada. Sejak kapan kamu tinggal di Malaysia?" Tanya Gita sambil menyantap Beef burger.
"Sudah 7 tahun. Aku disini menjadi TKI. Tapi, aku sangat betah tinggal disini. Sudah 5 tahun lamanya aku belum pulang ke Indonesia." Jawab Gilvan
"Wow. Kamu hebat. Bisa bertahan selama itu." Gita memuji
"Aku belum bisa meninggalkan tempat ini. Terlalu banyak kenangan yang membuatku tak bisa pergi begitu saja." Gilvan terdengar pilu
"Kenapa? Karena seseorang?" Tanya Gita
"Ya. Seseorang yang membuatku bertahan. Tetapi, dia sudah tak ada disisiku lagi."
"Kau putus dengannya?" Gita menebak
"Putus dari dunia ini." Gilvan melamun
"Innalillahi. Maksudmu dia meninggal?" Tanya Gita
"Iya, ketika aku akan membawanya ke negaraku dia sakit, lalu pergi meninggalkanku selamanya."
"Kamu yang sabar ya. Aku yakin, kamu bisa mendapatkan wanita sebaik dia. Jangan bersedih, Van." Gita menguatkan
"Terimakasih Git." Gilvan tersenyum
Mereka terdiam. Melanjutkan kembali menghabiskan makanannya. Setelah selesai makan, Gilvan mengajak Gita pergi ke festival Rainforest world music yang diselenggarakan Malaysia satu tahun sekali.
Mereka mulai dekat dan akrab. Kedekatan mereka membuat Gita sedikit demi sedikit melupakan kisahnya dengan Rama. Gita sadari bahwa dia dan Rama takkan bisa bersatu selamanya. Mungkin, dengan membuka hati kepada pria lain bisa membuatnya lebih bahagia. Tapi, rasa takut itu tetap ada. Mengingat, ada bayi kecil di perutnya yang tak mungkin orang akan menerimanya.
Gita amat takjub melihat festival yang sedang berlangsung. Ia memotret dan mengabadikan acara tersebut.
"Kamu seneng, Git?" Tanya Gilvan
"Seneng banget, Kak. Ehhhhh, maaf, maaf Van." Gita keceplosan.
"Tak apa, Git." Gilvan mengerti
Kenapa kata "Kak" bisa keluar dari mulutku? Kenapa kata-kata Gilvan selalu mengingatkanku pada kak Rama? Perkataannya benar-benar mirip. Aku tak mengerti mengapa bayangannya selalu saja muncul di kepalaku? Aku harus bisa melupakannya. Anehnya, perkataan Gilvan selalu mirip dengan ucapan Kak Rama. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau temanku pun mengingatkan ku padanya? -Gita dalam hati-
"Kalau kamu senang, nanti kita bisa ketempat ini lagi." Ucap Gilvan
"Eh, iya. Tentu van."
Tuh kan, itu perkataan Kak Rama. Gilvan selalu saja membuatku menyebut nama itu lagi. Huftt.
Setelah selesai menonton, Gita pun pulang. Ia lelah dan segera membersihkan diri ingin segera beristirahat. Setelah selesai, Gita merebahkan dirinya di kasur rumah kontrakannya. Sungguh nyaman, pikirnya. Ia memainkan handphonenya sebelum tidur.
***
-Rumah besar Kakek Prima-
Siska mengamuk. Siska membanting semua barang-barang di rumah itu. Maya sangat kaget dan segera masuk ke kamar Siska.
"Kamu kenapa HAH? Mengapa merusak barang-barangku seenaknya begini?" Maya ikut marah
Kakek Rama, Papi Rama, dan Raina pun mengikuti Maya. Mereka sudah berada di pintu kamar Siska.
"Kenapa kalian semua tak menganggapku ada disini HAH? Kenapa aku seperti sampah yang tak berguna tinggal disini? Aku ini sedang hamil, aku butuh perhatian dan kasih sayang dari kalian sebagai keluarga. Tapi, kenapa? Kenapa kalian seenaknya begini kepadaku? Kenapa kalian sejahat ini padaku hah?" Siska mengamuk dan menangis
"Tenangkan dirimu. Apa mau mu?" Kakek mencoba untuk menenangkan Siska
"Kuingin sekali saja kalian melihatku. Kuingin kalian anggap aku. Aku ini sedang hamil keturunan kalian. Apa kalian tak mengerti apa keinginanku HAH?" Siska meraung-raung
"Kami tak bisa gegabah. Kami harus membuktikannya dulu." Papi Rama angkat suara.
Siska emosi mendengar perkataan Papi Rama. Siska segera mengambil pisau buah yang ada di mejanya.
"Kalian masih tak percaya padaku? Kalian masih mengira aku berbohong? Baiklah. Aku akan membunuh diriku dan janin ini didepan mata kepala kalian semua." Siska mengarahkan pisau itu ke perutnya.
Ia terlalu menghayati peran tersebut. Sehingga tak sadar ia benar-benar melakukan tindakan pura-pura bunuh diri itu. Maya dan yang lainnya kaget. Tak menyangka Siska bisa senekat itu. Kemudian Rama muncul.
"Siska, hentikan. Aku tak suka melihat wanita melakukan hal bodoh seperti itu." Rama membentak.
Siska yang melihat Rama langsung menghambur memeluk Rama. Siska tak tahu malu. Ia benar-benar pintar memainkan perannya.
"Aku tak ingin hidup kalau kalian tak mempercayaiku. Untuk apa aku ada disini kalau kalian tak peduli padaku HAH?" Siska masih menangis
"Baiklah, Siska. Maafkan kami. Kami telah memperlakukanmu seperti itu. Aku akan lebih perhatian dengan kehamilanku. Maafkan aku." Maya mengalah
"Maafkan aku juga, Kak!" Raina pun berkata, tetapi seperti masih tak Ikhlas.
"Kalau kau ingin diterima di keluarga ini, tunggu sampai kau melahirkan. Sekarang kami hanya baik padamu. Kau harus mematuhi aturan rumah ini. Aku tak mau ada keributan." Angga kesal
"Kau tak perlu membuang energi mu seperti ini. Baiklah, aku akan mengalah dan sedikit bersikap baik padamu sampai kau melahirkan anakmu. Malam ini dan seterusnya kau tidur di kamarku. Dengan satu syarat, kau tak boleh bertanya padaku." Pinta Rama langsung keluar meninggalkan Siska.
Kenapa Rama malah begitu? Harusnya ia tak boleh memberikan Siska celah. Bagaimana kalau ia terbuai lagi oleh Siska? Aku sungguh tak tahan. Rasanya ingin segera melihat Siska melahirkan dan langsung melakukan test DNA. -Maya dalam hati-
"Bawa Siska ke kamar Rama. Biar Rama yang mengurusnya. Aku tak mau mendengar keributan seperti ini lagi." Kakek Prima berlalu.
Semuanya berlalu kembali ke kamarnya masing-masing. Siska kegirangan. Rencananya berhasil. Ia sangat senang bisa sekamar dengan Rama. Kenapa tak dari dulu ia melakukan hal itu? Mungkin mereka sudah dari kemarin baik padanya.
Mungkin karena kepergian wanita ***** itu, Rama kesepian. Jadi dia menyuruhku tidur sekamar dengannya. Baiklah. Ini sangat bagus untukku. Kesempatan datang setelah aku berusaha. Kau mudah terbuai, Rama. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi denganku. Kau memang lelaki yang tak tahan melihat wanita terluka. Aku harus sesering mungkin melakukan hal yang membuat Rama memperhatikanku. Ini baru awal, aku akan membuatmu takluk padaku. Sampai kapanpun kau akan jadi boneka ku. Lihat saja nanti.
*Bersambung*
Ini Visual Siska ya. Gilvannya menyusul. Aku sedang mencari yang cocok. 💋💋💋*
liburan apa cari Gita .. heran aku .. mau diam kok lama lama ga tahan juga ya